<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2694238822227158407</id><updated>2012-02-17T03:20:20.879+07:00</updated><category term='E-zine FPKM edisi 36'/><category term='E-zine FPKM edisi 12'/><category term='E-zine FPKM edisi 13'/><category term='E-zine FPKM edisi 32'/><category term='E-zine FPKM edisi 15'/><category term='E-zine FPKM edisi 22'/><category term='E-zine FPKM edisi 4'/><category term='E-zine FPKM edisi 10'/><category term='E-zine FPKM edisi 20'/><category term='E-zine FPKM edisi 19'/><category term='E-zine FPKM edisi 25'/><category term='E-zine FPKM edisi 30'/><category term='E-zine FPKM edisi 1'/><category term='E-zine FPKM edisi 38'/><category term='E-zine FPKM edisi 17'/><category term='E-zine FPKM edisi 6'/><category term='E-zine FPKM edisi 28'/><category term='E-zine FPKM edisi 37'/><category term='E-zine FPKM edisi 14'/><category term='E-zine FPKM edisi 3'/><category term='E-zine FPKM edisi 35'/><category term='E-zine FPKM edisi 23'/><category term='E-zine FPKM edisi 5'/><category term='E-zine FPKM edisi 11'/><category term='E-zine FPKM edisi 9'/><category term='E-zine FPKM edisi 33'/><category term='E-zine FPKM edisi 21'/><category term='E-zine FPKM edisi 31'/><category term='E-zine FPKM edisi 16'/><category term='E-zine FPKM edisi 8'/><category term='E-zine FPKM edisi 24'/><category term='E-zine FPKM edisi 18'/><category term='E-zine FPKM edisi 29'/><category term='E-zine FPKM edisi 7'/><category term='E-zine FPKM edisi 39'/><category term='E-zine FPKM edisi 27'/><category term='E-zine FPKM edisi 26'/><category term='E-zine FPKM edisi 34'/><category term='E-zine FPKM edisi 2'/><title type='text'>Majalah Digital FPKM</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://e-zine-fpkm.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2694238822227158407/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-zine-fpkm.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>forumpenuliskotamalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2694238822227158407.post-7176113754696652337</id><published>2010-01-07T10:50:00.001+07:00</published><updated>2010-01-07T10:50:54.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='E-zine FPKM edisi 39'/><title type='text'>Majalah Digital FPKM Edisi Januari 2010</title><content type='html'>Assalamualaikum. Wr. Wb. dan Salam Sejahtera selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah dan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, edisi bulan Januari 2010 majalah digital FPKM akhirnya selesai juga dikerjakan.  Dalam edisi kali ini, ditampilkan esai maupun resensi buku yang menarik untuk dibaca. Juga beberapa karya cerpen hasil tulisan para anggota FPKM. Bagi yang berniat unjuk kemahiran menulis dengan menyumbang tulisan untuk bisa tampil di majalah digital ini, silakan Anda mengirim artikel Anda langsung ke milis FPKM atau lebih baik lagi Anda mengirimkannya langsung ke kotak pos elektronik editor majalah ini di  haryobagushandoko.penulis@gmail.com Paling tidak, nama kalian akan dengan mudah terdeteksi oleh search engine seperti google dan juga nampang dan dibaca begitu banyak orang, karena majalah ini tidak hanya didownload oleh para pembaca dari Indonesia saja, namun juga para penggemar sastra di seluruh dunia.  Dalam edisi ini, majalah digital FPKM mengetengahkan beberapa cerita pendek maupun esai dari teman-teman yang patut untuk disimak. Situs FPKM  berganti domain yaitu menggunakan url: http://www.fpkm.co.cc . Semoga tulisan-tulisan dalam majalah ini dapat memberikan inspirasi dan memunculkan ide kreatif dari teman-teman untuk tetap berkarya. Akhir kata, selamat membaca dan Selamat Tahun Baru 2010.  Terus berkarya dan berkreasi di jagat penulisan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Tim Editor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;:&gt;  Suka menulis ?&lt;br /&gt;Silakan kunjungi blog FPKM yang baru&lt;br /&gt;&gt;&gt; FPKM   http://www.fpkm.co.cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Redaksi&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Redaksi&lt;br /&gt;David Ardy&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Vita Priyambada&lt;br /&gt;Etty Hentihu&lt;br /&gt;Gusti Aisyah Putri&lt;br /&gt;Lutfi Fadila&lt;br /&gt;Wahyu Indah R&lt;br /&gt;Trias Pratiwi&lt;br /&gt;Sismanto&lt;br /&gt;Mukhlis&lt;br /&gt;Carolina Neolen D.F.&lt;br /&gt;Eko Martina Sriwulaningsih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain Grafis &amp; Lay Out&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Photo Editor&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat Redaksi&lt;br /&gt;Carolina Neolen&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuangan&lt;br /&gt;Vita Priyambada&lt;br /&gt;Trias Pratiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang (organisasi profesi non-profit)&lt;br /&gt;Alamat Redaksi&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Gedung Perpustakaan Kota Malang&lt;br /&gt;Jl. Raya Ijen 30 A -  Malang 65100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat E-mail&lt;br /&gt;forum_penulis_kota_malang@yahoo.com &lt;br /&gt;forumpenuliskotamalang@gmail.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Admin website / Webmaster&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;haryobagushandoko.penulis@gmail.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaksi menerima sumbangan artikel, naskah dan tulisan, serta informasi penting lainnya.  Bisa dikirim lewat e-mail atau langsung datang ke Sekretariat Forum Penulis Kota Malang di Gedung Perpustakaan Kota Malang. Saran, gagasan dan dukungan serta sponsorship dari Anda sangat kami butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Sambutan Ketua &lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum.wr.wb. dan salam sejahtera untuk kita semua,&lt;br /&gt;Sebelum takdir terjadi dan diketahui, hidup ini adalah sebuah pilihan dan pilihannya hanya ada dua yaitu “to be or not to be”, menjadi kalah atau menang, menjadi ada atau tidak ada.  Marilah kita bersama-sama menjadi pemenang, menjadi ada bagi orang lain.  Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki potensi dalam dunia tulis menulis, tetapi tidak diimbangi dengan adanya wadah yang membantu penulis untuk mengekspresikan karyanya.  Berdasarkan realitas di atas, kami merasa perlu untuk membentuk suatu wadah bagi para penulis. Denganwadah tersebut kita bangun jaringan intelektual melalui tulisan. Kita bangun pola pikir-pola pikir yang mendobrak dan tak biasa karena lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik ! Biarlah kita “hidup” selama kita hidup. Rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis.&lt;br /&gt;Dengan adanya publikasi dalam bentuk majalah digital Forum Penulis Kota Malang ini, saya berharap rekan-rekan penulis baik di Malang maupun rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis !  &lt;br /&gt;Saran, sumbangan ide, gagasan, serta sumbangan tulisan sangat kami harapkan demi semakin berkembangnya pengetahuan kita akan dunia kepenulisan.  Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas segala kerjasama yang baik dari rekan-rekan semua dan sukses selalu Forum Penulis Kota Malang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;David Ardy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal berdirinya Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang. Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang. Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang – Jl. Raya Ijen 30A – Malang, forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini. Saran dan juga sumbangan serta bantuan baik moril maupun materiil sangat kami harapkan.&lt;br /&gt;Susunan Pengurus Organisasi Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Ketua      :  David Ardy&lt;br /&gt;Sekretaris     :  Carolina Neolen&lt;br /&gt;Bendahara     :  Vita Priyambada&lt;br /&gt;Seksi Acara     :  Liga Alam, Mukhlis, Trias Pratiwi, Eko Martina Sriwulaningsih&lt;br /&gt;Seksi Informasi dan Dokumentasi         :  Haryo Bagus Handoko, Wahyu Indah R, Wawan Eko Yulianto, Sidik Nugroho, Sismanto &lt;br /&gt;Penelitian dan Pengembangan          :  Vita Priyambada, Gusti Aisyah Putri, Lutfi Fadila &lt;br /&gt;Pelindung     : Bpk. Drs. H. M. Jemianto, SH (Kepala Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang)&lt;br /&gt;Penasehat     : Bpk. Johan Budi Sava (Toko buku “TOGAMAS”), Bpk. Bambang A.W.  (Pengamat seni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi dan Misi Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi &lt;br /&gt;Membentuk insan yang memiliki kesadaran intelektual aktif kreatif berguna dalam masyarakat melalui tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Pendek&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Pembentukan tim yang solid, kreatif dan bermanfaat.&lt;br /&gt;3. Membangun jaringan dengan penulis lain, penerbit dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;4. Memberi motivasi seluruh anggota untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Menengah&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Mengadakan acara-acara bedah buku dengan mengundang penulis-penulis yang telah konsisten dan berkompeten dalam dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;3. Memperkuat jaringan penulis dengan penerbit.&lt;br /&gt;4. Membaca wacana-wacana yang berhubungan dengan kesenian, kebudayaan, dan sebagainya yang berhubungan dengan pengembangan dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;5. Menghidupkan dunia kepenulisan di Kota Malang.&lt;br /&gt;6. Mendorong seluruh anggota agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan bersifat membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Panjang&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Memperluas jangkauan Forum dan jaringan antara penulis dan penerbit.&lt;br /&gt;3. Menjadikan Forum ini sebagai pendobrak dan melakukan perubahan yang baik dalam dunia kepenulisan Indonesia.&lt;br /&gt;4. Menjadikan Forum ini sebagai tolok ukur perkembangan dunia kepenulisan Indonesia.&lt;br /&gt;5. Mencetak penulis-penulis yang berkualitas dan membangun serta menjadikan penulis sebagai sebuah profesi yang dapat ‘menghidupi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita Terbaru&lt;br /&gt;Januari 2009&lt;br /&gt;Bulan Januari 2009  ini diwarnai oleh cuaca yang tidak bersahabat. Di Malang, hampir tiada hari tanpa hujan dan mendung. Namun demikian, toh, acara pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang tetap digelar di ruang lobi gedung perpustakaan Malang. Tidak ada kesan formal, suasana berlangsung santai, penuh kekeluargaan.  Pada tanggal 11 Januari 2009, pertemuan rutin FPKM membedah cerita pendek yang berjudul “Gayung” karya dari salah satu anggota FPKM yaitu Mas Muchlis yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai seorang pengajar/guru. Cerita pendek berjudul “Gayung” ini cukup unik karena mengupas fenomena sosial anak-anak jalanan yang sering kali kita jumpai meminta-minta di perempatan jalan, di lampu-lampu merah.  Mereka sering kali termarjinalkan dan terpinggirkan, belum ada satu pun penyelesaian yang bijaksana yang bisa dilakukan baik oleh lembaga sosial maupun pemerintah khususnya dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan anak-anak jalanan ini. Yang terjadi, mereka seringkali justru kena razia dan dihalau atau bahkan diangkut oleh satpol PP.  Kisah cerita pendek yang cukup mengharukan ini cukup mendapat respon yang baik dari teman-teman FPKM. Apresiasi karya tulis seperti ini memang selalu menjadi agenda rutin komunitas ini sejak pertama kali berdiri.  Berbagai pendapat dan saran pun bermunculan sehubungan dengan cara bercerita serta setting yang ditampilkan dalam cerpen bertema sosial ini.  Yang jelas semua orang merasa senang bahwa kepedulian sosial paling tidak bisa kita cetuskan lewat sebuah karya cerita pendek.  Pada tanggal 25 Januari 2009, kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini juga tetap membedah cerita pendek karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul “Ekspedisi”. Sebuah cerita unik mengenai ekspedisi para ilmuwan botani ke tanah Papua yang bertema thriller yang lumayan menegangkan. Kisahnya dikemas secara apik dalam tutur kata dan alur bercerita yang cukup sederhana namun sedikit membutuhkan perenungan dan pemikiran lebih dari para pembacanya.  Respon yang didapat dari bedah karya cerita pendek ini cukup apresiatif. Beberapa anggota FPKM yang hadir dalam pertemuan rutin ini satu per satu menyumbangkan saran serta ide demi penyempurnaan kisah dramatis dalam cerita pendek yang satu ini. Walau diakui oleh penulisnya masih banya kekurangan di sana-sini, namun kisah yang satu ini dianggap cukup menarik dan sedikit unik karena lain daripada yang lain. Yang diketengahkan dalam cerita pendek ini adalah fenomena kejadian-kejadian unik yang berbau science fiction. Suatu tema yang sedikit jarang diketengahkan dalam jagat sastra Indonesia. FPKM memang beda...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2009&lt;br /&gt;Bulan Februari 2009 sarat acara kegiatan baik yang diselenggarakan oleh FPKM sendiri, maupun yang hasil kerja bareng FPKM dengan komunitas lain. Pendek kata tiada hari tanpa berkarya dan berbagi ilmu, karena itu adalah semboyan FPKM. Pada tanggal 8 Februari 2009, berlangsung pertemuan rutin FPKM di bulan Februari kali ini cukup semarak. Kali ini tema yang dibedah adalah cerpen tulisan Mbak Trias Pratiwi yang berjudul "Mencari Langit". Sebuah cerita pendek yang cukup menarik, walau sedikit tragis dan mengupas kegetiran hidup yang dialami tokoh utama dalam cerita pendek ini. Walau diakui masih banyak kekurangan di sana-sini, namun penulis cerpen ini cukup punya nyali untuk mengangkat fenomena sosial yang sering kali dipandang sebelah mata. Dalam kesempatan ini, teman-teman FPKM banyak memberikan saran dan masukan bagi penyempurnaan kisah cerita pendek ini. Diskusi pun berjalan cukup akrab dengan semangat kekeluargaan dan canda tawa khas FPKM. Tak berselang lama, pada tanggal 15 Februari 2009, FPKM diundang sebagai pembicara dalam acara workshop pelatihan menulis tingkat pelajar SMP/SMA se-kota Malang periode 2009. Acara yang berlangsung di Aula kantor Dinas Pendidikan Kota Malang di Jalan Veteran ini berjalan cukup semarak dan mendapat sambutan positif dari kalangan pelajar yang tergabung dalam kelompok sastra pelajar kota Malang. Perhatian para pelajar kota Malang pada dunia sastra dan kepenulisan terbukti cukup tinggi. Hal ini dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti acara workshop yang diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum ini. Beberapa pembicara yang berasal dari kalangan penulis maupun kolumnis media surat kabar, seperti Mas Ahmad Makki Hasan (kolumnis dan penulis esai surat kabar dan media massa), Liga Alam (novelis, esais dan penulis buku biografi), Mas David Aryanto (penulis, penyair dan ketua FPKM), serta Haryo Bagus Handoko (jurnalis dan penulis buku) turut andil dalam keberhasilan acara ini. Walau berlangsung secara sederhana, acara workshop/pelatihan yang sarat keilmuwan dan aneka tips dan trik praktis memulai karir sebagai penulis serta aneka jurus untuk menulis, sempat diliput oleh berbagai surat kabar di Jawa Timur maupun televisi lokal di kota Malang. Menurut ketua organisasi Kelompok Sastra Pelajar, Mas Liga Alam, acara tahunan workshop seperti ini seharusnya terus digalang agar dapat menumbuhkan bakat menulis di kalangan pelajar kota Malang. Acara workshop gratis ini adalah hasil kerja bareng antara komunitas penulis "Kelompok Sastra Pelajar", "Forum Penulis Kota Malang" dan Dinas Pendidikan Kota Malang. Semoga untuk ke depannya, acara yang sarat keilmuwan ini terus dapat diselenggarakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2009&lt;br /&gt;Bulan Maret 2009 ini cukup padat dengan kegiatan berbau sastra. Dimulai pada hari Minggu, 1 Maret 2009 yang bertepatan dengan jadwal pertemuan rutin FPKM, agenda pertemuan kali ini adalah acara pembacaan puisi dan bedah puisi yang diselenggarakan secara outdoor (di luar ruangan). Tempat pertemuan kali ini adalah berlangsung di tengah taman bunga dan air mancur yang berada di depan museum Brawijaya - di Jalan Raya Ijen. Pembicara acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang mengetengahkan puluhan puisi-puisinya untuk dibacakan bergantian dan dibedah serta dibahas beramai-ramai. Antusiasme para anggota dan pengurus FPKM cukup tinggi dalam hubungannya dengan dunia sastra, kepenulisan dan puisi. Tak heran, walau diselingi gelak tawa dan senda gurau, acara pembacaan puisi secara bergantian ini berlangsung cukup semarak. Mbak Vita yang rajin menulis aneka artikel untuk berbagai media massa ini, ternyata juga jago menulis puisi dan membacakan puisi. Walau beberapa kosa kata yang digunakan tergolong aneh karena merupakan bahasa-bahasa kamus, namun acara seperti ini justru dapat menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia bagi teman-teman FPKM. Dalam acara pertemuan ini dicetuskan ide untuk memunculkan catatan dan kliping sastra dalam arti sebenarnya yang dikenal dengan istilah "Majalah TengTop - Ditenteng terus makin ngeTop". Memang rencananya, kliping aneka tulisan dan corat-coret teman-teman FPKM setiap kali pertemuan akan menjadi sebuah bank data sastra Malangan yang harus dibawa setiap ada pertemuan FPKM. Selain setiap anggota dan pengurus bisa berkreasi dan berimajinasi secara bebas dalam menuliskan setiap ide dan kreativitasnya, keberadaan kliping sastra "Majalah TengTop" ini bakal menjadi daya tarik tersendiri bagi eksistensi komunitas penulis FPKM. Model serupa telah berjalan cukup baik di dunia maya dengan keberadaan blog "http://klipingfpkm.multiply.com". Selanjutnya, pada hari Minggu, 15 Maret 2009, pertemuan rutin dua mingguan FPKM kembali digelar. Kali ini tetap dengan tema membedah cerpen karya para anggotanya. Yang kebagian jadi pemateri minggu ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang mengetengahkan cerpen tulisannya yang berjudul "Kereta Yang Membawaku Kembali" sebuah cerita pendek dengan model bercerita layaknya catatan perjalanan sekaligus memoar yang memunculkan isyu jender dan emansipasi wanita. Cerita pendek ini cukup mendapatkan tanggapan, apresiasi sekaligus kritik dan saran dari para peserta diskusi yang hadir saat itu. Seperti biasanya, acara diskusi ini berlangsung secara santai dan penuh kekeluargaan dengan diselingi guyonan di sela pembahasan dan apresiasi terhadap tulisan cerpen yang sedang dibahas. Sebagai penutup acara, segenap anggota dan pengurus FPKM kembali menuliskan coretan-coretan pada lembaran-lembaran kertas yang akan menjadi halaman bersejarah dari pemunculan ide majalah tengtop yang pernah dibahas sebelumnya. Berbagai tulisan mulai dari puisi, celoteh, sajak hingga narasi pendek tentang suasana hati masing-masing kemudian dibacakan dan banyak menimbulkan gelak tawa serta komentar-komentar dari sesama anggota yang saat itu hadir. Bagaimanapun ide menuliskan suasana hati untuk mengisi halaman-halaman majalah tengtop (baca: diary FPKM) cukup mengena dan dapat menghidupkan suasana serta meningkatkan keakraban dan silaturahmi sesama anggota. Akhirnya, acara pertemuan rutin FPKM di minggu terakhir di bulan Maret ini pun kembali berlangsung cukup istimewa, karena bertepatan dengan hari ulang tahun si pemateri, yaitu ulang tahunnya Mbak Wulan (Martina Sriwulaningsih) yang jatuh pada hari Minggu, 29 Maret 2009. Tak heran, acara belum dimulai, semua makanan camilan sudah digelar layaknya bazaar makanan. Para anggota dan pengurus FPKM yang hadir saat itu beramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun pada si pemateri yang hari itu sedang berulang tahun. Sambil menunggu yang lain datang, acara makan camilan pun dimulai sambil mengobrol akrab sesama anggota. Di saat sedang asyik mengobrol, muncullah Mbak Etty Hentihu, salah satu anggota lama FPKM yang kebetulan sedang mudik ke kota Malang. Karena profesinya sebagai seorang pengajar yang kini bekerja di kota lain, Mbak Etty, hanya bisa aktif bersilaturahmi di dunia maya. Maklum saja karena cukup lama tidak bertemu, karena selama ini hanya bisa saling menyapa lewat facebook, maka secara spontan, teman-teman merasa sangat surprise, dan obrolan pun berlangsung lebih meriah dengan Mbak yang satu ini. Setelah semua anggota dan pengurus FPKM telah hadir, maka acara bedah cerpennya Mbak Wulan dimulai. Kali ini cerpen yang dibahas bertajuk "Ku-pu-ku-pu-ku (Aku punya, aku punya aku), sebuah cerpen  unik dengan genre psikologi dan perangkaian kata serta kalimat yang tidak biasa. Cerpen ini mendapat tanggapan dan kritik serta apreasiasi yang bermacam-macam dari para anggota FPKM. Berbagai penafsiran yang berbeda dalam mengartikan nilai rasa dalam cerpen ini telah membuat suasana diskusi lebih hidup. Akhirnya, untuk menyamakan persepsi dari pembaca, si penulis cerpen ini pun urun bicara dan menjelaskan maksud serta jalan cerita dari cerpen ini. Memang daya imajinasi antara penulis dan pembaca seringkali berbeda, dan itulah keunikan yang muncul dari cerpen yang satu ini, karena bisa memunculkan berbagai pendapat dan tanggapan yang berbeda dari para pembacanya.  Akhir-akhir ini para anggota maupun pengurus FPKM semakin giat dalam menghasilkan karya tulisan yang dimuat di berbagai media cetak tanah air, baik cerpen, resensi buku, esai hingga terbitnya buku tulisan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Kegiatan di bulan April ini diawali dengan acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu pada hari Jumat siang (sehabis sholat Jumat), 3 April 2009. Acara seminar gratis yang cukup spektakuler ini mengangkat tema tentang bagaimana memunculkan inisiatif menulis dan membentuk corak dan gaya tulisan kita - "FINDING SHAPES OF OUR STORIES".  Sebagai pembicara dalam acara ini adalah Professor Valerie Miner, seorang penulis, jurnalis, novelis sekaligus dosen sastra di Stanford University, Amerika Serikat. Jauh-jauh datang dari Amerika untuk berbagi cerita dan berbagi pengalaman seputar kegiatan menulis dan mencari ide-ide segar kepenulisan, Ibu Valerie Miner banyak berbicara mengenai pengalamannya seputar kegiatan menulis dan jurnalisme yang telah dilakoninya selama puluhan tahun. Acara tanya jawab pun berlangsung semarak dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Beberapa penanya aktif mengutarakan pertanyaan dan pendapat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dengan ditemani oleh Pak John, staf konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya dan juga seorang penerjemah, acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu hasil kerja sama antara Perpustakaan Kota Malang, Forum Penulis Kota Malang, Komunitas Sastra Pelajar, Malang Fun English Club dan kantor konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya ini pun berjalan cukup sukses. Acara ini sempat diliput oleh beberapa saluran televisi lokal di kota Malang, serta berbagai media surat kabar dan majalah. Di akhir acara, Ibu Valerie Miner dan Pak John dari kantor konsulat jendral Amerika di Surabaya, menyerahkan sumbangan puluhan buku sastra, novel, jurnal sastra Amerika dan berbagai buku seputar sastra dan pengetahuan kepada pihak Perpustakaan Kota Malang, yang diwakili secara simbolis oleh Bpk. Drs. H.M. Jemianto, S.H. Dalam acara ini, tampaknya Ibu Valerie Miner berusaha menumbuhkan dan memotivasi semangat menulis dan membaca dari para penulis kota Malang agar senantiasa aktif dalam menghasilkan karya-karya tulisan yang berbobot dan berguna bagi masyarakat. Acara seminar ini berlangsung sangat semarak dan dipadati begitu banyak pengunjung, terutama para penulis, wartawan media, seniman, pengamat sastra, dan juga para seniman film indie di kota Malang. Berselang kurang lebih seminggu, Forum Penulis Kota Malang kembali mengadakan acara pertemuan rutin yang jatuh pada hari Minggu, 12 April 2009. Pertemuan kali ini menghadirkan pembicara dari anggota FPKM sendiri yang juga seorang pengamat sastra, pecinta buku dan penulis resensi buku - Mas Sidik Nugroho. Karya tulisan yang dibedah dan sempat dibahas bersama pada kesempatan tersebut adalah tulisan Mas Sidik yang dimuat di rubrik Ruang Baca di Koran Tempo, 29 Maret 2009, dengan judul "SEGERA MEMULAI, LALU MENATA". Tulisan tersebut merupakan sebuah esai singkat berisikan motivasi untuk segera memulai menulis apa saja yang terlintas dalam benak kita, dan baru menata ulang tulisan kita setelah semua ide tersebut dituliskan. Mas Sidik juga  membahas berbagai cara dan metode menulis yang biasa dilakukan oleh para penulis besar seperti Nadine Gordimer (peraih nobel sastra), John Steinbeck (peraih penghargaan Pulitzer), Stephen King (penulis novel-novel horor), Kate Di Camillo (peraih penghargaan Newbery Medal untuk bukunya yang berjudul The Tale of Desperaux), Leo Tolstoy (penulis novel Anna Karenina), Harper Lee (peraih penghargaan Pulitzer untuk bukunya yang berjudul To Kill a Mockingbird), hingga penulis nasional, Akmal Nasery Basral (penulis novel dan jurnalis). Setiap penulis mempunyai kebiasaan dan cara menulis serta pemilihan waktu yang dianggap paling tepat untuk mulai berkarya. Hendaknya metode dan cara mereka dapat dijadikan contoh dan disesuaikan dengan kebiasaan menulis yang menurut kita paling nyaman. Acara diskusi ini pun berlangsung semarak dan penuh pertanyaan seputar kiat dan trik untuk menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas. Acara baru diakhiri menjelang sore hari setelah semua peserta diskusi merasa puas dengan jawaban yang diterima. Dua minggu kemudian, yaitu tepatnya pada hari Minggu, 26 April 2009, Forum Penulis Kota Malang kembali menggelar acara pertemuan rutin dua mingguannya. Kali ini bertindak sebagai pemateri adalah Mbak Vita Priyambada, seorang penulis dan kolumnis untuk berbagai media surat kabar dan majalah yang ternyata juga pandai menulis puisi. Acara pun berlangsung meriah, dengan lesehan di rumput, tepat di depan museum Brawijaya. Kebetulan saat itu matahari bersinar cerah dan langit kota Malang tampak begitu biru dan indah. Suasana lesehan di halaman depan museum Brawijaya yang berumput hijau memang sengaja dipilih agar terasa lebih menyatu dengan alam dan suasananya lebih mengena. Mbak Vita pun membacakan beberapa karya puisinya yang mendapat tanggapan dari para peserta diskusi.  Seperti biasa, acara tanya jawab, kritik, dan guyonan santai pun terlontar saat acara pertemuan FPKM kali ini. Acara baru berakhir menjelang sore hari, setelah seluruh peserta mengisi lembaran-lembaran halaman majalah Tengtop (Ditenteng Makin Ngetop) dengan esai seputar ide dan pengalaman menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2009&lt;br /&gt;Bulan Mei ini diawali dengan kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah Retnowati, karena sinetron FTV karya terbarunya yang berjudul "Cinta Monyet Ala Kingkong" berhasil tayang di SCTV pada awal bulan Mei 2009. Sinetron ini adalah sinetron ketiganya yang diusung oleh rumah produksi Frameritz yang ditayangkan di SCTV.  Teman-teman FPKM pun ramai-ramai memberikan selamat dan dukungan kepada Mbak Wahyu Indah yang senantiasa produktif dalam menghasilkan naskah-naskah skenario untuk sinetron FTV di SCTV. Di bulan Mei ini, kegiatan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang pun kembali digelar seperti biasa, pada hari Minggu, 10 Mei 2009. Bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang, pertemuan FPKM kali ini mengangkat topik bedah cerpen karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul Rona Kehidupan. Cerpen bertema humanisme sosial ini menyoroti kehidupan kaum miskin pinggiran yang hanya bisa bermimpi untuk mengenyam kehidupan yang layak. Cerpen ini mengungkap betapa masih begitu banyak masyarakat di luar sana yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Diskusi dan tanya jawab seputar isi cerpen dan proses kreatif penulisan cerpen ini pun cukup semarak. Seperti biasa acara diakhiri dengan sharing aneka informasi peluang kepenulisan di antara sesama anggota dan pengurus FPKM. Pada tanggal 19 Mei 2009, Mbak Wahyu Indah kembali membawa kabar gembira sehubungan dengan sinetron keempatnya yang tayang di SCTV. Masih dengan dukungan rumah produksi Frameritz, sinetron FTV berjudul "Ramuan Cinta yang Bikin Pusing" berhasil tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV khas karya Mbak Wahyu Indah senantiasa mengusung kisah-kisah unik dengan sisipan humor segar nan jenaka. Sambutan dan dukungan dari teman-teman FPKM kembali disampaikan pada Mbak Wahyu Indah atas kreativitasnya dalam berkarya. Tak berapa lama berselang, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini sebagai pembicara adalah Rio Al Imran (Trio), seorang mahasiswa sekaligus penulis yang membawakan cerpen tulisannya yang berjudul Surat. Cerpen ini cukup unik karena menggunakan diksi yang tidak biasa, serta dengan gaya bercerita layaknya buku harian (diary). Karena cukup unik, maka diskusi pun berlangsung cukup seru. Mas Trio pun berbagi cerita seputar proses kreatif penulisan cerpen yang satu ini. Kritik dan saran pun terlontar dari para peserta diskusi. Pertemuan rutin ini baru diakhiri sore hari setelah diakhiri dengan sharing aneka informasi tips dan tutorial menulis serta berbagai peluang kepenulisan di antara para anggota dan pengurus FPKM.  Pada tanggal 21 – 24 Mei 2009, kota Malang kembali disemarakkan oleh Festival Malang Kembali yang merupakan festival seni budaya tempo dulu kota Malang. Berbagai atraksi budaya, sendra tari, festival musik tempo dulu, hingga berbagai konser musik pun digelar dalam memeriahkan acara ini. Festival pasar rakyat dan makanan tradisional serta jajanan khas tempo dulu ala Malang pun dijajakan berderet dalam kios-kios dan stand pameran. Aneka kios pun menjual berbagai cinderamata dan juga mainan anak-anak khas tempo dulu, aneka permen dan gulali tempo dulu, serta aneka jenis kerajinan tangan dan obral busana berbahan batik. Tak lupa digelar pula festival wisata kuliner Malang khas tempo dulu yang menggelar berbagai macam makanan dan jajanan khas Malang tempo dulu, baik yang tradisional, kontemporer hingga yang “east meet west”.  Bahkan ada juga kios dan stand buku yang mengobral aneka buku jaman baheula dengan harga cukup terjangkau. Para anggota dan pengurus FPKM pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berbelanja buku dan mencicipi aneka kue dan makanan khas Malang tempo dulu yang dijual dalam festival khas rakyat ini. Bertempat di sepanjang Jalan Raya Ijen, kota Malang, acara festival Malang Tempo Doeloe dipadati oleh ribuan pengunjung yang terus mengalir mulai dari pagi hari hingga malam hari. Tentu saja, dengan mengenakan beragam kostum unik khas tempo dulu, maka ajang festival ini tak ubahnya seperti pesta kostum di hari Helloween atau Valentine, bedanya, para pengunjung yang hadir di sini mengenakan beragam busana tradisional maupun pakaian-pakaian jaman kolonial tempo dulu.  Selang beberapa hari setelah berakhirnya festival Malang Tempo Doeloe, pada tanggal 29 Mei 2009, Forum Penulis Kota Malang dengan bekerja sama dengan Perpustakaan Kota Malang, toko buku Toga Mas, Penerbit Kanisius dan radio Mas FM kembali menggelar acara pameran buku Malang Membaca 2009. Bertempat di halaman gedung Perpustakaan Kota Malang, acara pameran dan obral buku ini berlangsung semarak. Dalam sehari pengunjung pameran bisa mencapai lebih dari 1500 pengunjung, karena pameran dibuka sejak pagi hingga malam hari. Untuk memeriahkan acara pameran, digelar pula beberapa event launching buku dan bedah buku, seperti peluncuran buku "Simply Amazing - inspirasi menyentuh bergelimang makna" karya J. Sumardianta pada tanggal 31 Mei 2009, dan juga peluncuran buku berjudul "Negeri Kong Draman - Cerita-Cerita Puisi Kampung Halaman untuk Indonesia" bersama pembicara Ahmad Fikri dan Nanang Suryadi pada hari yang sama. Seperti biasa, acara pameran buku ini pun juga dimeriahkan oleh obral buku super diskon yang diselenggarakan oleh Yusuf Agency yang menawarkan buku-buku bermutu dengan harga sangat miring di bawah harga pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni 2009&lt;br /&gt;Bulan Juni 2009 diawali dengan acara pertemuan rutin FPKM yang kali ini diselenggarakan pada minggu pertama bulan ini, yaitu pada hari Minggu siang, tanggal 7 Juni 2009. Acara pertemuan ini berlangsung santai secara lesehan di halaman depan museum Brawijaya Malang yang berumput hijau. Di bawah teduhnya pohon palem, maka acara pertemuan ini pun berlangsung penuh kekeluargaan dengan disemarakkan oleh berbagai camilan dan kudapan. Pembicara dalam acara kali ini adalah Mas Kukuh Widyatmoko, seorang guru pengajar di sebuah sekolah menengah di Malang yang juga anggota FPKM. Materi yang dibawakan cukup menarik, yaitu "Kekerasan di Sekolah - Sebuah Anti Tesis Sistem Pendidikan." Ungkapan rasa keprihatinan akan maraknya tingkat kekerasan yang muncul di dunia pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pelajar maupun yang dilakukan oleh pendidik telah menginspirasi Pak Guru yang satu ini untuk menuangkannya dalam sebuah esai yang lebih merupakan tinjauan akademis, psikologi dan juga tinjauan sosial yang patut mendapat sorotan dan perhatian lebih dalam coreng morengnya dunia pendidikan di tanah air.  Esai yang menarik ini bisa menjadi kaca benggala bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada agar hasil yang dicapai tidak hanya dilihat dari aspek intelejensia (kecerdasan) tetapi juga menyangkut keseimbangan dan kesehatan mental, akal pikiran dan kecerdasan emosi, sehingga berbagai masalah yang ada tidak dilampiaskan dalam bentuk tindak kekerasan yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia pendidikan. Tampaknya itulah yang ingin disampaikan dalam esai singkat bertema dunia pendidikan yang dibahas kali ini. Berselang dua hari sejak pertemuan FPKM pada hari Minggu, komunitas ini kembali disemarakkan oleh kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah yang berhasil melaunching karya sinetron FTV terbarunya yang berhasil tayang di SCTV pada tanggal 8 Juni 2009, Pkl. 23.00 WIB. Sinetron FTV bertajuk "Di Hatiku Ada Emakmu" ini berhasil tayang berkat dukungan dari rumah produksi Frameritz - Jakarta. Sebagai seorang penulis buku religi, penulis novel dan juga penulis skenario sinetron, Mbak Wahyu Indah yang juga merupakan salah satu pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang ini memang sudah beberapa waktu bekerja pada rumah produksi sinetron Frameritz. Bolak balik Malang - Jakarta demi beraktivitas di dunia sastra dan kepenulisan, Mbak yang satu ini cukup produktif dengan berbagai karya sinetronnya. Di Bulan Mei 2009 saja, sudah tercatat 3 buah sinetron FTV karyanya yang tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV karyanya lebih banyak bercerita mengenai dunia remaja, dengan gaya bahasa yang ringan, alur cerita yang menarik serta dialog-dialognya yang jenaka sehingga cukup menarik untuk ditonton. Mbak Wahyu Indah yang gemar makan roti bakar khas Malang ini, rencananya juga akan melaunching sinetron FTV terbarunya yang berjudul "Roti Bakarku Sayang" yang juga akan segera tayang di SCTV. Makanya rajin-rajin mampir ke mailing listnya FPKM, facebooknya FPKM dan juga ke facebooknya Mbak Wahyu Indah, supaya bisa tahu sinetron apa saja yang akan segera tayang, buah karya Mbak yang satu ini.  Pada hari Minggu, 28 Juni 2009, kembali FPKM mengadakan pertemuan rutinnya, kali ini tampil sebagai pembicara adalah Mas Jemmy Sugianto, anggota baru FPKM yang juga adalah seorang penulis, sekaligus seorang trainer. Ia aktif memberikan bimbingan belajar (les privat) kepada para pelajar di berbagai sekolah di kota Malang, selain aktif juga mengurus buletin cetak "Obor Media" yang dibagikannya secara gratis ke berbagai sekolah, perpustakaan, maupun majalah-majalah dinding yang tersebar di kota Malang. Obor Media sendiri adalah koran dinding yang diterbitkan dan diedarkan secara cuma-cuma oleh Komunitas Anak Panah, salah satu komunitas penulis yang juga bekerja sama dengan FPKM dalam membangkitkan minat baca tulis bagi generasi muda di kota Malang. Pada kesempatan kali ini, Mas Jemmy membahas tulisannya yang ada di buletin "Obor Media" yaitu sebuah esai yang berjudul "Tidak Perlu Diketahui". Dalam esai yang menarik ini, dimunculkan sebuah motivasi dan juga pelajaran moral yang menarik, yaitu bahwa sebagai seorang pekerja kreatif, kita tidak perlu pamer akan apa saja karya yang sudah kita hasilkan, yang penting terus berkarya, terus berkreasi dan tidak lupa selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala limpahan karunia, rejeki dan ide-ide kreatif yang melintas di kepala kita. Biarlah dunia yang menilai akan apa saja yang sudah kita hasilkan. Kita tidak membutuhkan kata-kata sanjungan, pujian atau apa pun. Biarlah apa yang kita hasilkan supaya bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau ada kelebihan ilmu, jangan terlalu pelit untuk berbagi, bila ada kelebihan rejeki, ingatlah selalu pada orang lain sesuai kemampuan kita, maka Tuhan pasti akan memudahkan segala langkah dan upaya kita demi meraih kesuksesan yang lebih besar. Bila menolong orang lain dan memudahkan jalan bagi orang lain, maka Tuhan akan semakin memudahkan jalan kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Itulah pelajaran moral yang dapat dipetik dalam tulisan esai singkat yang dicetuskan oleh Mas Jemmy Sugianto. Ya, memang. Ilmu memang ada untuk dibagi-bagi, agar setiap orang bisa memperoleh manfaat, jadi sebaiknya ilmu tidak dipendam saja untuk diri sendiri namun disebarluaskan untuk masyarakat luas sehingga akan lebih bermanfaat - sejalan dengan misi dan visi FPKM dalam mencerdaskan bangsa melalui tulisan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 2009&lt;br /&gt;Bulan Juli 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 12 Juli 2009. Kali ini pemateri pertemuan adalah Mbak Trias Pratiwi yang memunculkan suatu permainan untuk memotivasi ide kreatif menulis dan merangsang imajinasi para anggota FPKM untuk menuliskan sebuah esai maupun tulisan singkat setelah ditunjukkan sebuah gambar pemandangan. Para peserta diberi waktu sekitar 15 menit untuk menuliskan serta menceritakan apa yang dilihatnya. Kemudian masing-masing tulisan peserta dibacakan dan didiskusikan. Ternyata persepsi dan cara pandang masing-masing anggota FPKM bisa berbeda dengan gaya cerita yang unik, walau yang dilihat dan diamati adalah gambar foto pemandangan yang sama. Jadi intinya, setiap pribadi adalah unik, dan setiap penulis adalah unik, dengan ciri khas dan gaya bahasa serta cara bercerita yang bisa berbeda antara satu sama lain dalam menceritakan suatu kejadian atau suatu obyek yang sama. Ketrampilan berolah kata dan berimajinasi itulah yang merupakan sebuah harta karun yang patut terus digali dalam menghasilkan penulis-penulis berbakat asal kota Malang. Acara pertemuan baru diakhiri menjelang sore hari setelah berdiskusi panjang lebar seputar dunia tulis menulis dan juga berbagai tips dan trik seputar menulis. Pada tanggal 26 Juli 2009, pertemuan rutin FPKM kembali digelar. Kali ini sebagai pemateri adalah Haryo Bagus Handoko, yang membeberkan panjang lebar tentang berbagai tips menulis, serta berbagai informasi seputar dunia kepenulisan mulai dari media surat kabar, majalah hingga peluang menerbitkan buku baik secara indie maupun melalui kerjasama dengan berbagai penerbit buku ternama di Indonesia. Acara ini mendapat respon yang cukup baik dari para peserta yang hadir. Pendek kata, banyak anggota FPKM yang kemudian semakin termotivasi untuk menghasilkan karya dan eksis di jagat tulis menulis nusantara. Bahkan beberapa diantaranya sudah mengambil ancang-ancang hendak menulis berbagai tema untuk kemudian diajukan kepada para editor penerbit buku ternama di Indonesia. Yang penting semangat! Dan sebagian besar anggota FPKM mempunyai semangat besar dalam menghasilkan tulisan, kemauan keras ala arek Malang dan juga semangat pantang menyerah! Pendek kata, arek Malang tidak boleh kalah dengan arek-arek Jogja maupun arek Jakarta dalam jagat tulis menulis. Harus semakin banyak lagi para penulis yang berasal dari kota Malang yang akan mewarnai jagat tulis menulis tanah air. Tak berselang berapa lama dari kegiatan motivasi menulis ini, salah satu cerpen anggota FPKM, yaitu Mbak Lutfi Fadila, yang berjudul “The Hunter”, berhasil dimuat di media The Jakarta Post, salah satu media cetak yang cukup ternama di tanah air. Tidak tanggung-tanggung, cerpen berbahasa Inggris yang dikirimkan ke editor The Jakarta Post telah berhasil dimuat di media tersebut dan ditayangkan pula di situs internet/website mereka. Salut buat Mbak Lutfi Fadila yang jago berbahasa Inggris ini. Terus semangat buat para anggota FPKM yang lain, agar segera menyusul mengukir prestasi di jagat menulis tanah air, seperti misalnya Mbak Wahyu Indah yang secara kontinyu menghasilkan karya-karya sinetron FTV yang tayang di SCTV serta novelnya yang diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Ike Puspita Sari yang novel-novelnya diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Etty Hentihu yang novelnya diterbitkan oleh Penerbit PuspaSwara, Mas Sidik Nugroho dan Mas Arie Saptaji yang kumpulan cerpennya berhasil diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dan juga Mas Haryo Bagus Handoko yang bakal segera merilis buku non fiksi keempatnya, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang juga menjadi salah satu kontributor untuk Healthy Life Magazine, Majalah Noor, dan Majalah Clara. Semangat menulis harus terus ditumbuhkan dan dibumbui dengan berbagai keterampilan serta ide kreatif agar tulisan kita senantiasa menarik untuk dibaca, serta bisa dijadikan sebagai sebuah profesi yang tidak boleh dipandang remeh. Berkat bakat tulis menulis ini pulalah, salah satu anggota FPKM, Mas Wawan Eko Yulianto, memperoleh beasiswa Fullbright oleh Pemerintah Amerika Serikat dan saat ini sedang menuntut ilmu gelar S2 di Arkansas, Amerika Serikat, serta Mas Yusli yang seorang dosen memperoleh beasiswa S2 di Universitas Oxford Inggris mendalami bidangnya dalam hal ilmu hubungan internasional. Jadi, ternyata arek Malang tidak kalah dengan arek-arek Jogja ataupun arek Jakarta dalam hal keilmuwan, tulis-menulis dan intelektual!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2009&lt;br /&gt;Bulan Agustus 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 9 Agustus 2009. Pembicara dalam acara pertemuan rutin ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang membawakan cerita pendeknya berjudul “Sang Pemburu”.  Versi bahasa Inggris dari cerita pendek ini berjudul “The Hunter” yang berhasil dimuat di media “The Jakarta Post”.  Namun dalam pertemuan tersebut yang dibahas adalah cerpen versi bahasa Indonesianya yang berjudul “Sang Pemburu”. Cerita pendek ini bercerita tentang kisah malang seorang gadis lulusan universitas yang karena keputusasaannya berniat berburu nasib yang lebih baik dengan menjadi seorang TKW di Malaysia. Namun sialnya ia justru ditipu mentah-mentah oleh perusahaan jasa PJTKI fiktif. Karena frustasi, maka si gadis dalam cerita ini pun akhirnya memilih menikah saja dengan pria yang ia cintai, walau pun ia hanyalah berstatus sebagai istri simpanan.  Cerita pendek yang ditulis oleh Mbak Lutfi Fadila ini mencoba mengupas kenyataan pahit dan realitas yang banyak dialami oleh kaum wanita Indonesia yang karena ambisinya untuk mengejar dan memburu mimpi dan nasib yang lebih baik, malah justru berakhir dengan kenyataan pahit.  Diskusi mengenai cerpen ini pun berlangsung seru. Para anggota dan pengurus FPKM pun menyoroti dan mengupas cerpen ini dari berbagai aspek. Mulai dari aspek emansipasi wanita dan kesetaraan jender, sempitnya peluang kerja, masalah maraknya outsourcing hingga aspek sosial kemasyarakatan lainnya. Salah satu pengurus FPKM, Mas Yusli yang baru saja pulang dari Inggris menyelesaikan studi S2 di Universitas Exeter juga turut antusias menyoroti kasus cerpen ini dari sudut pandangnya sebagai dosen pengajar hubungan internasional. Wah seru deh pokoknya. Analisisnya sampai ke mana-mana. Diskusi cerpen, jadi mirip debat terbuka dan analisis ilmiah masalah sosial, karena hadir juga di sini salah satu pengurus FPKM yang juga adalah guru pengajar ilmu sosiologi, yaitu Mas Kukuh Widyatmoko. Pokoknya cerpen ini dikupas dari berbagai segi. Benar-benar asyik.   Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2009, pertemuan FPKM kembali diadakan. Kali ini yang dibahas adalah masalah peluang menulis dan juga diskusi seputar berbagai event lomba menulis yang diinformasikan kepada para anggota FPKM. Informasinya sendiri berasal dari internet, dan seperti biasa, teman-teman pun saling bertukar informasi mengenai hal ini, serta berbagai informasi lainnya mengenai dunia tulis menulis dan jurnalistik.  Pertemuan kali ini jauh lebih santai dengan materi ringan karena bertepatan dengan permulaan bulan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 2009&lt;br /&gt;Bulan September 2009 yang masuk bulan puasa Romadlon, tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Teman-teman FPKM lebih banyak berkonsentrasi untuk menulis karya-karya artikel maupun naskah buku di rumah, ketimbang beraktivitas di luar rumah. Sebagian besar bahkan ada yang sejak awal bulan berlibur ke luar kota mengunjungi sanak saudara, takut tidak kebagian tiket perjalanan bila bepergian dekat dengan hari raya Idul Fitri. Namun demikian pertemuan rutin FPKM tetap digelar, walau sekedar merupakan obrolan santai sesama teman. Maklum saja, energi dan stamina tubuh di bulan puasa agak sedikit menurun dan kita harus pandai-pandai berhemat tenaga. Tapi toh, pertemuan rutin FPKM tetap tidak kehilangan makna dan semangat kekeluargaan. Pertemuan rutin yang digelar pada tanggal 6 September 2009 berlangsung seperti biasa dengan materi seputar dunia kepenulisan dan informasi terkini mengenai peluang-peluang menulis.  Walau sedikit yang bisa hadir dalam pertemuan kali ini (karena banyak yang berlibur ke luar kota, dan sebagian lagi sedang asyik dengan proyek penulisan buku dan artikel), namun teman-teman yang datang saat itu tetap semangat dalam berkiprah di dunia tulis menulis dan jurnalisme.  Walau dalam kondisi bulan puasa, namun suasana perpustakaan kota Malang tetap ramai dan hiruk pikuk seperti biasa. Tampaknya semangat membaca dan menulis masyarakat kota Malang tidak pernah surut walau di bulan puasa sekali pun. Sebagian teman FPKM bahkan ada yang ikut berbagai lomba dan kompetisi tingkat nasional, mulai dari lomba blog hingga lomba menulis cerita bersambung.  Teman-teman FPKM pun mulai sibuk mengumpulkan berbagai materi pendukung baik melalui riset hingga studi pustaka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibuat sebagai materi penulisan blog maupun dalam kompetisi menulis cerita bersambung yang pengumumannya mereka temukan tersebar di internet. Lumayan, untuk ngabuburit mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka puasa. Waktu menulis jadi lebih banyak selama di bulan puasa ini. Jadi bukannya semakin malas, teman-teman malah semakin produktif dalam berkarya. Hitung-hitung, lebih baik menulis untuk melupakan rasa lapar daripada tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Sebagian dari teman-teman FPKM juga mulai mengupdate blog mereka dan menulis berbagai artikel untuk mengisi majalah digital FPKM. Sebagian yang lain memang telah terjadwal untuk menulis mengejar tenggat waktu penulisan artikel yang bakal dimuat di berbagai media majalah dan surat kabar. Namanya juga penulis, maka menulis adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Benar, nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2009&lt;br /&gt;Bulan Oktober 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM sekaligus acara halal bihalal yang diselenggarakan pada tanggal 11 Oktober 2009. Dalam pertemuan rutin kali ini dibahas tentang seluk beluk dunia kepenulisan, berbagai tips dan informasi seputar peluang menulis dan banyak lagi sharing pengalaman sesama anggota dan pengurus komunitas ini dalam hal tulis menulis dan jurnalisme. Sebagai pemateri dalam acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang berbagi ilmu seputar trik menulis artikel dan mencari peluang menulis.  Sebagai seorang penulis harus ulet dan gigih dalam mencari peluang agar karya-karya tulisan kita bisa diterbitkan baik di berbagai media surat kabar atau pun majalah dan bahkan bisa jadi diterbitkan menjadi sebuah buku oleh penerbit buku. Jaringan dan networking seorang penulis harus kuat, harus mempunyai banyak kenalan dan relasi, khususnya menjalin silaturahmi yang baik dengan para editor media sehingga tahu lebih banyak corak tulisan yang bagaimana yang diinginkan oleh suatu media tertentu. Networking bisa dijalin dengan cara ngobrol langsung atau pun melalui dunia maya. Ada banyak cara untuk menjalin networking penulis secara luas. Networking tidak hanya dilakukan secara regional saja tapi juga bisa dilakukan secara nasional atau bahkan internasional, misalnya dengan menjalin silaturahmi yang baik dengan komunitas-komunitas penulis baik di dalam dan luar negeri. Acara sharing dan berbagi pengetahuan dan pengalaman pun mendapat respon dan tanggapan yang cukup baik di antara para penulis yang hadir dalam pertemuan rutin FPKM kali ini. Acara pertemuan sekaligus halal bihalal ini baru berakhir menjelang sore hari, karena begitu banyak hal yang diobrolkan seputar dunia tulis menulis.  Pada tanggal 25 Oktober 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini yang berperan sebagai pemateri adalah Mas Sidik Nugroho,  seorang guru pengajar, cerpenis, esais, sekaligus pengamat buku dan penulis resensi. Wah banyak benar keahlian Mas yang satu ini. Resensi tulisan Mas Sidik banyak dimuat di berbagai media cetak di Indonesia, demikian pula dengan cerpen karyanya yang sudah terbit dalam bentuk antologi cerpen. Dalam pertemuan kali ini, Mas Sidik membahas mengenai tips dan trik serta tutorial menulis resensi secara mudah namun berkualitas. Berbagai pengalaman dan pengetahuannya seputar menulis resensi buku dituangkan dalam bentuk teori-teorinya yang mudah dipahami. Kontan saja hal ini membangkitkan antusiasme di kalangan para anggota dan pengurus FPKM yang akhir-akhir ini semakin eksis berkarya di jagat kepenulisan tanah air.  Pengetahuan tentang menulis resensi yang baik dan obyektif merupakan hal penting yang perlu digali lebih banyak sebagai wujud apresiasi penulis di jagad kepenulisan dan perbukuan tanah air.  Salut buat Mas Sidik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2009&lt;br /&gt;Bulan November 2009 diawali dengan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang yang berlangsung pada hari Minggu, 8 November 2009, bertempat di teras Perpustakaan Kota Malang. Acara lesehan santai kali ini membahas dan mendiskusikan tentang puisi-puisi karya Mas  Imam Mukhlis yang mengusung metafora-metafora unik dalam mengekspresikan suasana batin saat proses kreatif menulis puisi. Pertemuan dan diskusi seputar dunia puisi ini diwarnai oleh pertanyaan-pertanyaan maupun kritik seputar isi dari puisi yang dibawakan oleh penulisnya.  Dunia sastra dan puisi memang seakan tiada habisnya untuk dikupas dan dibahas. Selalu muncul karya-karya dan ide-ide baru yang unik dalam proses berpuisi. Sementara itu ekspresi masing-masing seniman puisi juga memiliki corak warna yang berbeda-beda yang turut menganekaragamkan dunia sastra puisi di Indonesia. Tiap seniman puisi seakan memiliki ciri khas unik dan trademark tertentu yang menjadi label pada puisi karya-karya mereka. Ciri khas unik itulah yang mencoba selalu dimunculkan oleh sang penulis puisi untuk membedakan karya-karyanya dari corak karya puisi seniman lain. Acara pertemuan FPKM kali ini tidak hanya berbicara mengenai masalah puisi saja namun juga membahas berbagai aspek kepenulisan lain seperti aneka peluang menulis yang seolah tiada habisnya yang merupakan tambang emas bagi penulis untuk memperoleh penghasilan dari menulis.  Berbagai media masa membuka peluang selebar-lebarnya untuk menerima tulisan dari para penulis, namun seringkali kita sebagai penulis kurang memanfaatkan peluang yang ada, padahal prospek di dunia tulis menulis masih sangat luas. Indonesia masih membutuhkan begitu banyak penulis, jadi memang prospeknya masih bagus untuk menjadi penulis maupun wartawan.  Pada tanggal 22 November 2009 kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini sebagai pemateri adalah Mas Jemmy Sugianto, yang mengetengahkan tutorial menulis seputar penulisan naskah berita untuk media massa.  Mas Jemmy menjelaskan panjang lebar berbagai hal berhubungan dengan teknik dan trik menulis naskah berita agar kelihatan menarik dan bernilai jual.  Tulisan berita yang hambar dan cenderung membosankan perlu disulap menjadi sebuah artikel tulisan yang menarik. Untuk ini ada trik-trik khusus yang bisa dilakukan yaitu misalnya menampilkan judul berita (head news) yang bombastis tapi tetap jujur dan tidak mengada-ada.  Awal berita (lead news) dengan diksi atau pilihan kata yang tepat juga merupakan daya tarik bagi berhasil tidaknya sebuah tulisan berita menarik perhatian pembacanya. Demikian pula tentang tubuh berita (body news) dan bagian penutup (ending) harus tetap bersifat obyektif, jujur dan tidak memihak, namun tetap mengetengahkan poin-poin penting yang menjadi intisari dari berita atau tulisan yang hendak disampaikan.  Dalam menulis suatu berita atau artikel hasil peliputan, sebenarnya ada 5 hal yang harus selalu diperhatikan, yaitu bahwa jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada, jangan menipu pembaca, berusaha selalu transparan mengenai metode yang dilakukan dan motif penulisan berita tersebut, sebagai penulis berita harus percaya pada keaslian reportase sendiri dan hindarkan kebiasaan copy paste dari hasil peliputan jurnalis lain, serta berusahalah selalu rendah hati dalam menulis maupun dalam proses wawancara dan peliputan agar narasumber dengan senang hati memberikan keterangan sehubungan dengan berita yang hendak ditulis.  Mas Jemmy Sugianto dengan telaten dan detil menjelaskan bagian demi bagian dari materi yang disampaikannya, lengkap dengan contoh-contoh penulisan berita yang mudah diikuti dan dipahami oleh teman-teman penulis.  Pengetahuan singkat mengenai jurnalistik ini setidaknya cukup berharga dan dapat menjadi bekal bagi teman-teman penulis dalam menghasilkan tulisan maupun artikel yang berkualitas, obyektif dan cukup valid serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di tengah persaingan media yang cukup ketat dewasa ini, ujung tombak penentu oplah dan rating berita terletak pada penulis-penulis handal maupun jurnalis yang menentukan corak dan warna dari sebuah media massa sehingga tampil menarik dan mendapat kepercayaan masyarakat.   Agaknya hal ini pulalah, yang menjadikan Forum Penulis Kota Malang memperoleh kepercayaan dari penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama - Jakarta, untuk menjadi saluran penampungan naskah para penulis di Jawa Timur.  Berbekal profesionalitas dan kerja keras, Forum Penulis Kota Malang berusaha mengangkat potensi para penulis di daerah, khususnya di area Malang Raya dan Propinsi Jawa Timur untuk dapat menghasilkan naskah-naskah tulisan yang bermutu, dan layak tampil di jagat perbukuan dan kepenulisan tanah air.  Bila Anda mengaku sebagai seorang penulis, mahir menulis, dan mempunyai karya karya tulisan yang berbobot, mengapa tidak langsung saja bergabung bersama FPKM, di mana Anda bisa berdiskusi langsung, tanya jawab dan memperoleh informasi-informasi terkini seputar peluang menulis dan juga berbagai panduan gratis untuk memulai karir sebagai seorang penulis profesional, baik berprofesi sebagai wartawan, kolumnis, penulis buku, novelis, atau bahkan penulis naskah skenario sinetron televisi. Semua pengetahuan bisa diperoleh gratis di sini, hanya berbekal semangat, ketekunan, ketelatenan, dan tentu saja semangat saling berbagi dan belajar bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember 2009&lt;br /&gt;Bulan Desember 2009 ini acara dunia perbukuan cukup meriah. Pertemuan FPKM kembali digelar pada hari Minggu, tanggal 13 Desember 2009. Pertemuan rutin FPKM kali ini mengemukakan topik yang cukup hangat yaitu sharing mengenai suka duka dan pengalaman menulis artikel dan menulis buku. Sebagai pembicara adalah Mbak Etty Hentihu. Acara pertemuan yang berlangsung santai  ini bertempat di halaman samping museum Brawijaya Malang, di Jalan Raya Ijen. Diskusi dan sharing pengetahuan dan pengalaman seputar menulis ini dimeriahkan oleh aneka camilan dan es yang menyegarkan. Berbagai tema dan ide menarik bisa dituangkan menjadi sebuah artikel ataupun novel. Mbak Etty yang sudah berpengalaman menulis novel maupun antologi cerpen membagi pengalamannya secara detil pada teman-teman penulis di komunitas FPKM ini. Seperti biasa acara baru berakhir menjelang sore hari yang diwarnai oleh gelak tawa dan obrolan akrab sesama penulis. Pada Jumat siang sehabis sholat Jumat, tepatnya pukul tiga sore, tanggal 18 Desember 2009, berlangsung acara bedah buku Soe Hok Gie, bersama sutradara ternama Riri Reza dan Mira Lesmana, bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang. FPKM kebagian jadi panitia. Acara bedah buku dan juga diskusi mengenai film Soe Hok Gie berlangsung meriah. Acara ditutup dengan penjualan buku Soe Hok Gie dan tentu saja mendapat sambutan yang cukup meriah dari para pengunjung perpustakaan kota Malang.  Tak terasa dua  minggu berselang sejak pertemuan FPKM yang lalu. Pada hari Minggu, 27 Desember 2009, kembali  berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini membicarakan tentang rencana peluncuran buku antologi cerpen FPKM di tahun 2010. Mas David Ardyanto selaku ketua komunitas FPKM angkat bicara. Rencananya buku antologi cerpen ini akan diterbitkan secara indie. Ide peluncuran buku antologi cerpen FPKM sebenarnya sudah merupakan agenda lama yang selalu tertunda karena kesibukan masing-masing anggota. Nah, kali ini rencana peluncuran buku antologi FPKM harus benar-benar dapat direalisasikan pada 2010. Sebagai editor buku antologi cerpen, Mbak Etty menyatakan kesanggupannya. Untuk desain sampul, sudah ada beberapa teman yang menyatakan kesanggupannya untuk melayout dan merancang desain sampul yang eye catching, diantaranya adalah Mas Jemmy Sugianto seorang blogger dan penulis kota Malang yang mempunyai jam terbang cukup tinggi karena bekerja di salah satu media web content situs internet di kota Malang. Untuk publikasinya rencana juga akan melalui website-website dan dari mulut ke mulut. Sederhana saja, sekedar untuk menghimpun karya teman-teman penulis yang jumlahnya cukup banyak, selain tentunya sebagai wujud eksistensi komunitas penulis FPKM yang sudah berdiri tiga tahun lamanya dan sekarang telah menginjak tahun keempat. Acara pertemuan dan diskusi ini berlangsung cukup seru dan meriah diwarnai oleh acara foto-fotoan super narsis ala anggota dan pengurus FPKM. Mas Dwi Kristianto, salah seorang anggota FPKM yang kebetulan sedang cuti akhir tahun dari pekerjaannya di salah satu media cetak di Jakarta, turut hadir dalam acara ini. Akhirnya acara temu kangen dengan para anggota pun berlanjut dengan acara jalan-jalan sore ke Mall Malang Olimpic Garden, sekedar untuk window shopping (cuci mata tanpa shopping), foto bersama, sambil menonton acara fashion show yang kebetulan digelar di mall favorit warga Malang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FPKM NEWS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISKUSI DAN BERBAGI PENGALAMAN SEPUTAR DUNIA KEPENULISAN&lt;br /&gt;Pertemuan FPKM kembali digelar pada hari Minggu, tanggal 13 Desember 2009. Pertemuan rutin FPKM kali ini mengemukakan topik yang cukup hangat yaitu sharing mengenai suka duka dan pengalaman menulis artikel dan menulis buku. Sebagai pembicara adalah Mbak Etty Hentihu. Acara pertemuan yang berlangsung santai  ini bertempat di halaman samping museum Brawijaya Malang, di Jalan Raya Ijen. Diskusi dan sharing pengetahuan dan pengalaman seputar menulis ini dimeriahkan oleh aneka camilan dan es yang menyegarkan. Berbagai tema dan ide menarik bisa dituangkan menjadi sebuah artikel ataupun novel. Mbak Etty yang sudah berpengalaman menulis novel maupun antologi cerpen membagi pengalamannya secara detil pada teman-teman penulis di komunitas FPKM ini. Seperti biasa acara baru berakhir menjelang sore hari yang diwarnai oleh gelak tawa dan obrolan akrab sesama penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU DAN FILM SOE HOK GIE DI MALANG&lt;br /&gt;Pada Jumat siang sehabis sholat Jumat, tepatnya pukul tiga sore, tanggal 18 Desember 2009, berlangsung acara bedah buku Soe Hok Gie, bersama sutradara ternama Riri Reza dan Mira Lesmana, bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang. FPKM kebagian jadi panitia. Acara bedah buku dan juga diskusi mengenai film Soe Hok Gie berlangsung meriah. Acara ditutup dengan penjualan buku Soe Hok Gie dan tentu saja mendapat sambutan yang cukup meriah dari para pengunjung perpustakaan kota Malang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISKUSI RENCANA PENYUSUNAN BUKU ANTOLOGI CERPEN FPKM&lt;br /&gt;Tak terasa dua  minggu berselang sejak pertemuan FPKM yang lalu. Pada hari Minggu, 27 Desember 2009, kembali  berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini membicarakan tentang rencana peluncuran buku antologi cerpen FPKM di tahun 2010. Mas David Ardyanto selaku ketua komunitas FPKM angkat bicara. Rencananya buku antologi cerpen ini akan diterbitkan secara indie. Ide peluncuran buku antologi cerpen FPKM sebenarnya sudah merupakan agenda lama yang selalu tertunda karena kesibukan masing-masing anggota. Nah, kali ini rencana peluncuran buku antologi FPKM harus benar-benar dapat direalisasikan pada 2010. Sebagai editor buku antologi cerpen, Mbak Etty menyatakan kesanggupannya. Untuk desain sampul, sudah ada beberapa teman yang menyatakan kesanggupannya untuk melayout dan merancang desain sampul yang eye catching, diantaranya adalah Mas Jemmy Sugianto seorang blogger dan penulis kota Malang yang mempunyai jam terbang cukup tinggi karena bekerja di salah satu media web content situs internet di kota Malang. Untuk publikasinya rencana juga akan melalui website-website dan dari mulut ke mulut. Sederhana saja, sekedar untuk menghimpun karya teman-teman penulis yang jumlahnya cukup banyak, selain tentunya sebagai wujud eksistensi komunitas penulis FPKM yang sudah berdiri tiga tahun lamanya dan sekarang telah menginjak tahun keempat. Acara pertemuan dan diskusi ini berlangsung cukup seru dan meriah diwarnai oleh acara foto-fotoan super narsis ala anggota dan pengurus FPKM. Mas Dwi Kristianto, salah seorang anggota FPKM yang kebetulan sedang cuti akhir tahun dari pekerjaannya di salah satu media cetak di Jakarta, turut hadir dalam acara ini. Akhirnya acara temu kangen dengan para anggota pun berlanjut dengan acara jalan-jalan sore ke Mall Malang Olimpic Garden, sekedar untuk window shopping (cuci mata tanpa shopping) sambil menonton acara fashion show yang kebetulan digelar di mall favorit warga Malang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku: Sukses Wirausaha Laundry di Rumah&lt;br /&gt;Penulis: Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal: xi + 138 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, September 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Oktober 2009 ditandai dengan maraknya pemberitaan seputar penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) seantero Nusantara. Tak ayal, pemberitaan ini memancing ratusan ribu, bahkan jutaan orang, untuk berlomba-lomba mengejar status CPNS. Sebuah pola hidup yang bagi kebanyakan orang aman -- bahkan identik nyaman -- melekat pada status ini. Namun, berapa banyak orang yang nantinya gagal dalam ujian itu? Kita semua tahu: sangat banyak. Persaingan begitu ketat; sebuah posisi atau kebutuhan jabatan bisa diperebutkan oleh ratusan orang.&lt;br /&gt;Nah, tiap orang sebenarnya diberi daya-kreatif agar mampu menghasilkan sesuatu. Dengan imajinasi, kreatifitas, dan kompetensi-kompetensi lainnya, setiap orang dapat berdaya-guna dan berhasil-guna menghidupi hidupnya. Tentunya, hal ini didukung pula dengan rangkaian sumber-daya yang memadai.&lt;br /&gt;Hal inilah yang diuraikan dengan gamblang di bagian awal buku karya Haryo Bagus Handoko ini (dalam bab 1). Buku ini menyingkap dengan jitu di bagian awalnya: bahwa sebuah bisnis -- yang dulu tampaknya dimiliki segelintir orang berduit -- dapat dilakukan dengan manajemen sederhana dan modal kecil. Ya, bisnis laundry kini bertebaran di mana-mana. Semua orang, dengan modal yang tak terlalu besar, dapat memulai bisnis ini, dan berpeluang menemukan suatu kesuksesan finansial dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko adalah penulis telaten. Ia adalah pencatat yang detil sekaligus fotografer yang andal. Dalam bukunya ini ia tak hanya bicara serangkaian kiat atau suntikan motivasi yang penuh buih. Bahasanya lugas, pun deskripsi dan pembahasannya senantiasa menuju poin-poin yang memang patut diberi perhatian oleh sidang pembaca. Ia dengan lihai dan wajar menyampaikan hal-hal yang memang perlu dilakukan dalam mengemas sebuah paket usaha bernama laundry.&lt;br /&gt;Buku ini dibagi menjadi sembilan bab. Setelah bab pertama yang mencelikkan sidang pembaca tentang kemungkinan besar peraihan sukses dari bisnis ini, Haryo kemudian mengurai dengan apik bagaimana dan apa saja persiapan yang perlu dilakukan dalam memulai sebuah usaha laundry; pengelolaan usaha ini; dan kemudian detil pengoperasian usaha ini. Hingga di sini, bahasan yang disampaikan Haryo berbaur dengan beberapa motivasi yang kerap tersirat.&lt;br /&gt;Pada dua bagian berikutnya, Haryo mulai membahas hal yang bersifat teknis dan operasional. Ini berkaitan dengan bagaimana kita menangani bermacam noda yang ada pada sebuah pakaian -- atau produk selain pakaian yang dapat ditangani dengan usaha laundry. Kemudian, dengan gamblang pula ia menguraikan bentuk dan pola administrasi (pembukuan) yang bisa dilakukan dalam usaha laundry. Di dua poin inilah tampak benar kelebihan buku ini: penjabarannya tak hanya motivatif nan inspiratif, namun memuat beragam deskripsi yang perlu dan vital. Haryo bahkan menuliskan beberapa software yang dapat diunduh dari internet untuk kepentingan administratif perusahaan laundry.&lt;br /&gt;Tak berhenti sampai di situ, Haryo menambahkan beberapa bahasan seputar upaya-upaya memperbesar usaha. Dengan teliti dan amat deskriptif ia menguraikan apa saja yang dapat pembaca lakukan agar bisnis ini dapat berkembang dan meluas wilayah pemasarannya. Dan demi menguatkan pembahasannya, Haryo mengusung beberapa kisah inspiratif tentang beberapa wirausahawan laundry yang dapat ditelusuri jejaknya. Kisah-kisah ini tertutur jujur -- mereka yang dikisahkan semuanya memiliki alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.&lt;br /&gt;Di bagian akhir, Haryo menutup bukunya dengan melampirkan analisis usaha yang akan jadi panutan utama bagi para pemula bisnis ini. Dengan lugas ia menyampaikan tentang peran modal, biaya operasional, payback period (waktu pengembalian modal), hingga penghitungan rugi-laba. Semua ini merupakan rangkaian langkah taktis sekaligus teknis bagi pembaca yang memang berniat menekuni bidang usaha ini.&lt;br /&gt;Buku ini terhitung lengkap sebagai sebuah acuan bagi para usahawan yang tertarik menekuni bisnis laundry. Bahkan, buku ini tampak seperti sebuah buku teks. Kita dapat saja membacanya dari awal sampai akhir seperti membaca novel; namun mengingat bentuk pembahasannya yang memuat beraneka poin taktis dan teknis, tak dapat dielakkan: buku ini perlu dibuka lagi -- dan lagi -- oleh para pebisnis laundry yang mengharapkan kemajuan dan perkembangan usaha.&lt;br /&gt;Namun, yang menjadi kelemahan buku ini adalah desain dan lay-out-nya. Gambar di sampul depan buku ini tampak kurang ceria dan kurang menarik. Terlalu minimalis: hanya memuat empat baris judul, gambar setumpuk pakaian di dalam sebuah keranjang, dan nama penulis. Selain itu, foto-foto yang ada di halaman-halaman buku ini, beberapa di antaranya tampil kurang maksimal karena pengecilan yang agak berlebihan. Seharusnya, foto-foto di dalam buku ini bisa menjadi ilustrasi yang lebih hidup bila ditampilkan lebih proporsional.&lt;br /&gt;Terlepas dari kelemahan itu, buku ini sangat patut dikoleksi oleh para wirausahawan muda. Bisnis laundry, dalam pembahasan yang ada di buku ini, tampak menjanjikan prospek bagus. Seperti yang telah disampaikan di bagian depan tulisan ini, banyak orang mungkin akan pupus harapan ketika tidak lolos CPNS -- atau tidak diterima setelah melamar kerja di sebuah perusahaan impian. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Tak ada salahnya pula mencoba usaha laundry. Ya, karena buku petunjuknya kini sudah tersedia bagi Anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku: Cita-cita&lt;br /&gt;Penulis: M. Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Penerbit: Diva Press&lt;br /&gt;Tebal: 234 halaman&lt;br /&gt;Cetakan Pertama, Mei 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keberhasilan adalah hak kita. Datangkanlah keberhasilan dengan cara-cara yang baik; perhatikan penggunaan waktu Anda, lalu lihatlah apa yang terjadi kemudian." -- Mario Teguh&lt;br /&gt;Kata-kata Mario Teguh di atas rasanya tepat benar mewakili hidup komponis besar Beethoven, seorang musisi yang amat terkenal dan melegenda -- utamanya karena ia terus berkreasi ketika tuli total saat dan setelah berusia lima puluh tahun.&lt;br /&gt;Beethoven menjadi komponis besar karena ketekunannya. H.A. Rudall, penulis biografinya, menyatakan, "Pada musim dingin atau musim panas, Beethoven bangun pagi saat matahari terbit. Kemudian, dia duduk di depan meja tulisnya, dan terus menulis sampai waktu makan siang yang biasanya dia lakukan pada pukul dua atau tiga sore. Pekerjaannya tidak pernah terputus kecuali untuk berjalan-jalan mencari udara segar, tapi selalu dengan menuliskan notes untuk menuliskan inspirasi segar yang didapatnya saat berjalan."&lt;br /&gt;Karya-karyanya kemudian bertahan lama, diakui banyak kalangan sebagai karya-karya yang hebat. Tanpa perjuangan yang keras, tidak mungkin ia bisa sehebat itu. Memang ada juga musisi yang sangat cerdas, seperti Mozart "Sang Anak Ajaib". Dalam sebuah buku disebutkan bahwa Mozart adalah orang yang sangat tergesa-gesa, selain suka berfoya-foya. Dibandingkan Beethoven, keteraturan dan kedisiplinannya dalam berkarya rasanya jauh berbeda.&lt;br /&gt;Namun, tak bisa disangkal, musik-musik Mozart yang mewakili ekspresi-ekspresi spontan yang berawal dari kelelahannya, adalah musik-musik yang luar biasa. Sayangnya, Mozart mati muda. Beberapa orang beranggapan ini juga terjadi karena kekurangteraturan hidupnya.&lt;br /&gt;Mozart dan Beethoven. Dua pribadi, dua kebiasaan. Dari keduanya kita dapat bercermin. Tak banyak orang yang lahir seperti Mozart. Ia dianugerahi Tuhan kecerdasan musikal yang sangat tinggi. Anggapan ini bukan berarti bahwa kemahirannya mencipta lagu tak perlu diasah dengan berlatih secara serius, namun lebih berdasarkan kenyataan bahwa dia memahami musik lebih cepat. Berbeda dengan Mozart, Beethoven lebih menyisakan jejak kehidupan yang lebih mungkin ditiru oleh pembaca riwayat hidupnya secara alami.&lt;br /&gt;Ketelitian, kemahiran, dan keapikan sebuah karya lahir dari inspirasi tanpa henti yang terus digali dan dipelajari dalam hidup seseorang yang bercita-cita.&lt;br /&gt;Nah, kali ini, Anda tidak sedang membaca sebuah ulasan atas buku tentang musik. Dalam buku inspirasi dan motivasi karya Iqbal Dawami ini, secuil kisah hidup Beethoven yang sangat menarik ini, rasanya sangat mewakili pesan penulisnya tentang hakikat hidup: kita harus memiliki cita-cita. Iqbal, lewat puspa-ragam kisah, ilustrasi dan pemikiran yang disampaikannya dalam buku ini, secara tegas hendak menggarisbawahi apa yang pernah dinyatakan John C. Maxwell: "Lebih baik Anda memiliki cita-cita dan kemudian tak berhasil meraihnya, daripada tak pernah memilikinya."&lt;br /&gt;Dalam buku ini terdapat 23 renungan yang sarat dengan hikmah dan petuah. Semuanya merupakan artikel lepas pada awalnya, tak saling bersinggungan satu dengan yang lain. Yang menjadi benang merahnya adalah sebuah niat yang muncul dari penulisnya agar pembaca dapat mengubah kelemahan/kegagalan menuju optimisme/kekuatan hidup.&lt;br /&gt;Iqbal adalah penulis yang kaya akan perspektif. Sebagian kisah atau ilustrasi yang ia gunakan di tiap-tiap artikelnya di buku ini mungkin sudah pernah Anda baca di internet. Namun, cara Iqbal mengurai dan menghadirkan penafsiran dari tiap kisah yang diangkatnya, terasa segar dan lain. Kita jadi betah menikmati apa yang disuguhkannya.&lt;br /&gt;Selain itu, Iqbal adalah penulis yang berdimensi luas. Di buku ini kita akan mendapati artikel-artikel dengan beragam latar atau ilustrasi. Ada yang membahas hidup seorang penulis. Ada yang diangkat setelah menyaksikan sebuah film. Ada yang digarap dengan merenungkan dalam-dalam tentang hakikat dan hal-hal seputar cinta dan waktu. Semuanya menuntun kita untuk mengingat lagi -- juga merenungkan, bahkan menemukan -- apa yang harus kita utamakan dalam kehidupan ini, meraih cita-cita dan mengatasi berbagai persoalan hidup.&lt;br /&gt;Sebagai saran penutup, bab-bab dalam buku ini, tak perlulah dibaca terburu-buru. Masing-masing menyediakan renungan yang indah dan tersendiri untuk dihayati. Ibarat meminum teh, kala malam seorang diri -- kita tak buru-buru menghabiskannya. Kita menyeruputnya pelan-pelan, menikmati kehangatan yang dihadirkannya di leher dan perut kita. Dan, meminum teh rasanya bukan hanya tepat menjadi ibarat bagi cara menikmati buku ini. Bila Anda suka meminum teh, rasanya akan nikmat sekali membalik-balik lembaran buku ini dalam kesunyian malam, ditemani secangkir teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku : Mendidik Anak Berjurnalistik&lt;br /&gt;Pengarang : Hendrik J. Teteregoh&lt;br /&gt;Penerbit : Pohon Cahaya&lt;br /&gt;Jumlah halaman : 122 halaman&lt;br /&gt;Peresensi: Lutfi Fadila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia jurnalisme adalah dunia yang sangat menantang, membutuhkan kejelian, keakuratan serta ketepatan dalam bertindak. Manusia-manusia yang terlibat di dalamnya selalu bertindak dengan tangkas dan terampil menangani tugas yang mereka kerjakan. Hasil pekerjaan mereka dengan cepat meluas di berbagai bentuk media massa dalam bentuk reportase yang ditunggu masyarakat luas yang haus berita baik di sekitar maupun di luar daerah mereka.&lt;br /&gt;Dunia elit jurnalisme bukanlah milik orang-orang dewasa semata, siswa-siswa yang duduk di bangku SMA dan SMP tertarik untuk terlibat dalam kegiatan jurnalistik. Kegiatan jurnalistik di bangku sekolah dapat terlihat keantusiasannya dalam berbagai macam kegiatan lomba majalah dinding seperti yang diadakan Deteksi JawaPos selalu ramai peminatnya. Tidak hanya ditempel dalam majalah dinding, reportase kegiatan-kegiatan intra sekolah, di beberapa SMA dan SMP, juga ada yang jadikan majalah yang lebih eksklusif dan diperjual-belikan di antara siswa-siswanya. Bagaimana dengan anak-anak SD?&lt;br /&gt;Tidak sedikit anak-anak yang menjadi penikmat reportase dari beberapa majalah atau yang dikhususkan untuk anak-anak. Tapi bisa dihitung jumlah anak-anak yang ikut menjadi kontributor dalam majalah tersebut. Padahal mengenalkan dunia jurnalisme pada anak-anak sedini mungkin dapat mengurangi beberapa efek negatif yang ditularkan dunia jurnalisme kepada anak-anak yang hanya pasif sebagai konsumen media belaka, terutama media televise yang lebih banyak menjejali konsumennya dengan dunia konsumerisme. Efek positif yang didapat dengan mengajari anak-anak terlibat aktif dalam dunia jurnalisme adalah menanamkan sejak dini kegiatan membaca, menulis, berpendapat, dan yang lebih penting rasa percaya diri.&lt;br /&gt;Dalam menyiapkan bahan berita, anak-anak akan terdorong untuk menyediakan berita-berita yang bermanfaat bagi pembacanya, maka sang reporter cilik tersebut otomatis akan berusaha mencari sumber-sumber berita dari buku, koran, atau majalah. Kegiatan membaca dari rasa ingin tahu tanpa paksaan tersebut akan membuat anak belajar memahami sesuatu secara lebih teratur melalui isi bacaan. Kegiatan menulis akan meningkatkan kreatifitas anak sekaligus mengembangkan keberanian siswa mengeluarkan pendapat secara runut.&lt;br /&gt;Buku Mendidik Anak Berjurnalistik cukup membantu para orang tua dan pendidik untuk membuat anak-anak menggemari dunia jurnalisme karena didalamnya dilampirkan beberapa silabus pembelajaran jurnalistik untuk anak setahap demi setahap. Sejarah jurnalisme, definisi, fungsi dan prinsip jurnalistik terpapar dengan lengkap untuk ditransferkan pendidik kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku: Simply Amazing, Insprasi Menyentuh Bergelimang Makna&lt;br /&gt;Penulis: J. Sumardianta&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal buku: xv + 188 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, April 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Segala yang tidak kita berikan akan lenyap sia-sia," demikian pepatah India yang rasanya tepat benar menjadi roh dari buku Simply Amazing, Insprasi Menyentuh Bergelimang Makna karya J. Sumardianta ini. Penulis yang akrab dipanggil "Pak Guru" ini merangkai puluhan kisah yang sarat makna dan renungan dalam bukunya. Sehari-hari ia mengajar sebagai guru Sosiologi di SMA De Britto Jogja; dan kali ini Pak Guru yang getol membaca dan menulis ini mencoba memberikan hasil kembaranya kepada sidang pembaca.&lt;br /&gt;Kembara Pak Guru dari buku ke buku, tokoh ke tokoh, tersaji dalam esai-esai yang berdaya tarik tersendiri lewat cara Pak Guru bertutur. Esai-esai puspa ragam yang dikumpulkan dalam buku ini telah tersebar di berbagai media massa sebelumnya. Esai-esai ini nyaman disimak, berdiksi mantap, dan memuat refleksi dengan gizi yang tinggi. Seperti Andy F. Noya yang mampu menguak sisi termenarik dari tiap orang yang diundangnya berbincang-bincang, Pak Guru juga menyuguhkan beraneka dimensi kekayaan batin dari tiap tokoh dan buku yang disebutnya -- yang ujung-ujungnya menghadirkan pencerahan belaka.&lt;br /&gt;Di dalam buku ini ada esai dari buku Dominique Lapierre, pengarang novel City of Joy yang mahalaris. Buku Dominique yang di dalamnya mengisahkan seorang penarik angkong (di India disebut ricksaw) bernama Hasari ini sangat mempesona Pak Guru. Dalam bincang-bincang di Perpustakaan Umum kota Malang tanggal 31 Mei 2009 Pak Guru mengaku membaca buku dan menonton film adaptasi City of Joy berkali-kali. Hasari yang hidupnya bersahaja, biasa menanggung penderitaan, bahkan menjual anggota badannya di perusahaan pembuat alat peraga fakultas kedokteran untuk pernikahan Amrita putrinya, menyulut pengamatan Pak Guru yang jeli atas berbagai fenomena kemiskinan di negeri ini.&lt;br /&gt;Kesahajaan, kemiskinan, dan penderitaan tampaknya selalu menjadi hal yang menarik bagi Pak Guru yang mengaku introvert dan menarik diri dari peredaran sosial ini. Dengan lugas dan tanpa tedeng aling-aling ia mengisahkan juga beberapa tokoh yang dalam kemiskinannya tetap hidup bermartabat, lalu mengaitkannya dengan kondisi jiwa rakyat bangsa ini yang makin lama makin hedonis, konsumtif, serba penuh kepalsuan dan tidak pernah puas. Hidup bermartabat dalam kemiskinan kemudian ia jadikan dasar untuk menelanjangi tayangan-tayangan "idiotainment" (olok-oloknya atas infotainment) yang hanya menghadirkan berita kawin-cerai, pesta pora, dan selingkuh para public figure; juga para politisi dan penguasa yang haus kekuasaan, berkedok pamrih dan keserakahan ketika mengatasnamakan berjuang demi rakyat dan keadilan.&lt;br /&gt;Namun, Pak Guru tak berkutat dalam kemiskinan melulu. "Kaya bermanfaat, miskin bermartabat", demikian salah satu judul tulisannya di buku ini. Dalam kembaranya yang lain atas berbagai buku dan tokoh, lahir pula ulasannya atas orang-orang berduit yang dianggapnya mencapai puncak keberhasilan karena menemukan cara-cara kreatif dalam menangani pergumulan hidup. Ia yakin akan kebenaran dari pernyataan Robert Holden: "Hanya jika Anda pernah terhempas di lembah ketiadaan paling kelam, Anda baru akan tahu betapa hebat dan nikmatnya berada di puncak gunung keberhasilan."&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua orang orang sukses yang bisa mewakili kekagumannya akan perjuangan hidup mereka. Pertama adalah Thomas Sugiarto, lewat bukunya berjudul Your Great Success Start from Now. Thomas disebut Pak Guru sebagai seorang yang telah mencapai financial and time freedom. Ia seorang penjual asuransi yang menerapkan cara kerja leveraging system (konsep bekerja dengan seribu tangan) demi mencapai cita-cita tak banyak menguras energi dan pikiran (pensiun) saat berusia 45 tahun, dan berpenghasilan semilyar pada tahun 2012 nanti.&lt;br /&gt;Kedua adalah Dahlan Iskan, CEO grup Jawa Pos yang di kelas 3 SMA hanya mampu memiliki sepatu rombeng dan sepeda butut, dan sering ngiler di masa kecilnya ketika melihat teman-temannya minum dawet karena tidak punya uang untuk membelinya. Membaca buku karya Yu Shi Gan (nama Tiongkok Dahlan Iskan) berjudul Ganti Hati yang laris-manis, Pak Guru dengan jeli mengurai daya tahan hidup Dahlan Iskan, lalu mengaitkannya dengan pemikiran Sindhunata lewat puisinya berjudul Ngelmu Pring. Puisi bahasa Jawa ini, sebuah baitnya berbunyi: "Ora gampang tugel merga melur" (Tidak gampang patah karena lentur). Ya, kelenturan hati tercipta dalam sosok Dahlan Iskan akibat sudah biasa menanggung derita yang mendera jiwa-raganya sejak muda.&lt;br /&gt;Pak Guru, dalam bukunya ini juga merangkai sekelumit kisah hidupnya sendiri. Ia berjuang menjadi seorang guru bermartabat yang selalu menghadirkan informasi terkini bagi murid-muridnya lewat membaca. Itulah alasan mengapa ia terjun untuk menulis sesuatu dari apa yang dibacanya di sela-sela kesibukan mengajar. Ia juga mengisahkan SMA De Britto yang guru-gurunya rajin menulis. Ada St. Kartono pengarang buku Menebus Pendidikan yang Tergadai di sana yang disebutnya sebagai orang yang memulai tradisi menulis di kalangan guru SMA De Britto. Hingga kini, tulisan-tulisan Pak Guru masih menghiasi berbagai media cetak, utamanya tulisan berjenis ulasan buku. Di Indonesia, penulis ulasan buku masih terbilang sedikit. Bagi Anda yang ingin menakar kadar suatu buku dengan lebih dalam dan inspiratif; sehingga menjadikan sebuah esai atau ulasan lebih bernas dan menarik untuk dibanca tuntas, buku ini sangat baik untuk menjadi acuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku : The Leader in Me: Kisah Sukses Sekolah dan Pendidik Menggali Potensi Terbesar Setiap Anak.&lt;br /&gt;Penulis : Steven R. Covey&lt;br /&gt;Tebal : 294 hlm&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Lutfi Fadila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah reformasi di bidang pendidikan tengah gencar melanda dunia saat ini. Bukan mengarahkan pendidikan pada basis modernisasi tetapi mengembalikan pendidikan pada prinsip dasarnya. Berawal dari sinergi keinginan orangtua, pengusaha penyandang dana sekolah, dan juga pendidik, yang prihatin dengan minimnya keahlian hidup generasi muda dalam menghadapi globalisasi, sebuah sekolah di bagian negara North Carolina proaktif mendesain pendidikan sekolah yang berbasis leadership atau kepemimpinan untuk anak SD. Semakin dini sebuah pembelajaran diberlakukan, maka semakin muda ilmu tersebut menempel di benak dan perilaku seseorang.&lt;br /&gt;Adalah Muriel Summers, kepala sekolah A.B.Combs Elementary, yang tergiring hatinya untuk menerapkan prinsip kepemimpinan kepada anak-anak di usia dini setelah merasakan manfaat mengikuti seminar 7 Kebiasaan Orang Efektif. Inti kurikulum sekolah kepemimpinan yang dia canangkan adalah sistem pengajaran yang menciptakan lingkungan sekolah sedemikian hingga mampu membentuk pribadi siswa mandiri, bertanggung jawab atas kehidupan masing-masing, mampu memecahkan masalah dengan ide-ide solutif, berkomunikasi secara lisan dan tertulis, berani bekerjasama dan menghormati individu lain. Beberapa hal positif yang dilaporkan beberapa sekolah yang telah menerapkan tema kepemimpinan adalah: meningkatnya prestasi dan rasa percaya diri siswa serta menurunnya pelanggaran disiplin.&lt;br /&gt;Ada sebuah prinsip dasar yang digunakan sebagai pengajaran di sekolah tersebut yaitu 7 kebiasaan orang-orang efektif. Tujuh kebiasaan itu adalah proaktif, mulai dengan tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, pahami orang lain dahulu baru dipahami, lakukan sinergi, dan asah gergaji. Mengajarkan tujuh kebiasaan tersebut di sekolah bukan berarti menceramahi siswa tentang prinsip tersebut sepanjang pelajaran, tetapi menyatukan prinsip-prinsip tersebut dengan kegiatan mata pelajaran inti. Contohnya di kelas, guru membagi kelas dalam tim-tim kecil. Dalam tim tersebut masing-masing siswa mendapat peran sebagai pemimpin; pemimpin catatan, pengatur waktu, dan pembicara, yang masing-masing bertanggung jawab penuh dengan tugasnya.&lt;br /&gt;Dalam setiap gerak langkah sekolah pun tujuh kebiasaan tersebut diterapkan. Kebiasaan pagi di A.B.Combs ketika masuk kelas, para siswa disambut oleh guru dan tim penyambut yang bertugas memberikan sapaan hangat dan pujian positif kepada teman sekelas. Kegiatan tersebut akan memunculkan budaya menghargai orang lain sehingga akan menumbuhkan rasa percaya diri dan terbuka. Jadi siswa akan betah berada di sekolah dan patuh menerima pelajaran.&lt;br /&gt;Bagaimana membuat siswa berumur 5-12 tahun bisa memahami arti kepemimpinan menjadi agenda utama di A.B.Combs. Tiga perangkat utama yang dipakai di sekolah, selain mengajarkan prinsip 7 kebiasaan yang wajib dikuasai dan diterapkan para staff sekolah dahulu sebelum ditularkan pada murid, adalah alat Baldrige, strategi Ubiquitous, dan buku catatan pribadi.&lt;br /&gt;Alat Baldrige adalah alat kualitas berbentuk diagram dan gambar yang digunakan untuk membantu siswa dalam memperjelas konsep sebuah kejadian, merumuskan masalah, dan mencari solusi dengan cara visual dan menarik. Aplikasinya dalam mata pelajaran sastra, siswa disuguhi sebuah cerita kemudian siswa menuliskannya dalam diagram tentang karakter tokoh, seting, masalah yang timbul, solusi yang hadir, serta koneksi yang bisa dipikirkan siswa dengan kehidupan sehari-harinya.&lt;br /&gt;Strategi Ubiquitous bisa diartikan sebagai sistem penerapan yang menggabungkan pengajaran kepemimpinan dengan pelajaran inti dan juga kegiatan sehari-hari di sekolah. Jadi prinsip kepemimpinan diajarkan setiap hari sejak masuk lingkungan sekolah, bahkan siswa tak sadar mereka sedang mempelajarinya.&lt;br /&gt;Buku catatan bagi siswa A.B.Combs adalah barang pribadi yang wajib dimiliki. Di dalamnya berisi catatan target pribadi sehari-hari, target akademik, dan kemajuan dalam mencapai target. Manfaat buku ini adalah memberi umpan balik yang akan mendorong prestasi siswa. Dengan buku ini siswa akan membandingkan diri dengan target sendiri dan nilai yang mereka peroleh sebelumnya. Bukan membandingkan diri dengan siswa lain.&lt;br /&gt;Dengan berpegang pada 4 perangkat utama tersebut, A.B.Combs pelahan-lahan menjadikan kepemimpinan sebagai budaya sekolah. Sikap kepemimpinan telah menyatu menjadi perilaku, bahasa, tradisi, benda budaya, dan cerita lisan. Untuk membentuk perilaku, setiap awal tahun ajaran selama satu minggu penuh guru dan siswa akan berbicara tentang 7 kebiasaan, sopan santun dan etika kepemimpinan. Bahasa yang dipakai dalam sekolah mencerminkan budaya kepemimpinan mereka, salah satunya, menghormati orang lain: “Kami berfokus pada apa yang mereka bisa lakukan bukan apa yang tidak bisa mereka lakkukan,” atau “Anak-anak, kalian kemarin telah melaksanakan tanggung jawab dengan sangat baik. Kami bangga dengan kalian.” Dengan kata lain, meyakini potensi anak-anak dan mengungkapkannya adalah bahasa sekolah kepemimpinan.&lt;br /&gt;Tradisi yang dikembangkan A.B.Combs bermacam-macam: perayaan hari kepemimpinan, inaugurasi, festival internasional, dan beberapa kegiatan dimana siswa diberi kesempatan memamerkan bakat dan menjadi pemimpin. Tradisi cerita lisan yang berkembang di sekolah ini cukup banyak. Seperti salah satunya kisah proaktif dan kepemimpinan berikut. Suatu hari seorang pemimpin paduan suara terlambat datang, seorang siswa kelas 4 tanpa ditunjuk berinisiatif berdiri di depan kelompok paduan dan melakukan pemanasan.&lt;br /&gt;Hal-hal baik selalu menjadi pandangan positif bagi dunia sekitar dan dijadikan sebagai contoh bagi yang lain. A.B.Combs yang menciptakan kurikulum kepemimpinan sejak tahun 1999 dan mulai dari 0, terlihat gaungnya setelah 5 tahun berjalan. Beberapa sekolah di seluruh negara bagian Amerika mengadakan kunjungan untuk mendapatkan ide pembaharuan dalam mendidik. Beberapa sekolah yang mulai menerapkan kurikulum kepemimpinan tidak hanya dari negara Amerika saja tetapi sudah melintasi benua. Mulai dari Eropa, Australia, dan juga Asia. Di antara negara Asia yang telah menerapkan sistem ini adalah Singapura. Jepang dan Malaysia belum memasukkan sistem ini pada kurikulum sekolah formal tetapi diterapkan dalam beberapa lembaga bimbingan belajar yang terbukti mampu meningkatkan prestasi akademik siswa secara signifikan.&lt;br /&gt;Jika orang tua di Indonesia belum menemukan sekolah seperti itu sebagai tempat pendidikan terbaik anak-anak, tidak perlu kecewa. Stephen Covey menambahkan di bukunya bahwa pendidikan kepemimpinan bisa dilakukan di rumah. Cara penerapannya tidak jauh beda dengan di sekolah-sekolah kepemimpinan, yaitu: menerapkan prinsip 7 kebiasaan dan menggunakan alat-alat kualitas yang bisa diciptakan sesuai kreatifitas orangtua. Yang terpenting, orangtua sebagai pendidik harus sudah memahami dan menerapkan prinsip dasar kepemimpinan sebelum mengajarkannya pada anak. Jadi, anak bisa menyerap langsung contoh yang bisa dilihat dan dirasa. Kemudian si anak akan mendengar segala pengajaran dari orangtua dengan sadar tanpa paksaan.&lt;br /&gt;Penulisan dan penataan bab dalam buku ini sangat bagus. Dikarenakan buku ini ditujukan pada para orang tua sekaligus pendidik maka penulis menggiring orangtua untuk memahami dulu arti kesuksesan dalam diri generasi muda. sebuah kesuksesan yang tidak bisa dilihat melalui kekayaan, jabatan, atau ketenaran. Untuk itu orangtua yang sering kali memaksakan harapannya pada sang buah hati akan dapat mengurangi ambisi mereka menuntut anak memperoleh kesuksesan semu. Setelah itu pembaca akan digiring untuk melihat kisah dan teknik pengajaran bertema kepemimpinan di beberapa sekolah seluruh dunia. Berikutnya ada beberapa tips khusus yang akan menguatkan para guru di seluruh dunia untuk turut serta menerapkan tema kepemimpinan ini di sekolah. Yang terakhir adalah membawa pendidikan berbasis kepemimpinan di rumah bersama orangtua yang peduli.&lt;br /&gt;Orang-orang yang akan menghargai keberadaan buku ini adalah para pendidik dan orang tua yang benar-benar peduli dengan masa depan generasi dalam asuhannya dan mengharap anak-anak mereka benar-benar memiliki keahlian yang mereka butuhkan dalam menghadapi abad yang semakin tidak bisa diduga arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku: “Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima”&lt;br /&gt;Pengarang: Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama (http://www.gramedia.com)&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, Agustus 2008&lt;br /&gt;Jumlah halaman: 126 halaman&lt;br /&gt;Profil buku: http://pachypodium-indonesia.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis&lt;br /&gt;Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an.  Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak.  Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini.  Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh.  Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18.  Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi.  Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia.  Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan.  Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.  &lt;br /&gt;Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium.  Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.&lt;br /&gt;Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem.  Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar.  Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium.  Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.   &lt;br /&gt; Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan.  Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru.  Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium.  Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika.  Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika.   Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos.  Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.  &lt;br /&gt;Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun.  Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut.  Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium =  kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya.   Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif.   Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite).  Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu).  Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik.  Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan.  Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India).  Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah.  Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah.  Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang.  Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar.  Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang.  Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia.  Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana.  Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi.  Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu.  Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia.   Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.&lt;br /&gt;Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium  kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia.  Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika.  Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp).  Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar.  Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii.  Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii.  Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika.  Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen.  Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus.  Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah.  Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri.   Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi. &lt;br /&gt;Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi.   Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air.  Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias.  Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga.  Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain.  Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan.  Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku: Gajah Sang Penyihir (The Magician's Elephant)&lt;br /&gt;Penulis: Kate DiCamillo&lt;br /&gt;Ilustrasi: Yoko Tanaka&lt;br /&gt;Penerjemah: Dini Pandia&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan: September, 2009&lt;br /&gt;Tebal buku: 148 halaman&lt;br /&gt;Peresensi: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Augustus Duchene adalah pria kecil yang malang. Dibesarkan di sebuah apartemen kumuh oleh Vilna Lutz, seorang mantan tentara tua yang suka membentak-bentak dan menyuruh-nyuruh, hidupnya terkesan muram. Sampai suatu ketika ia melihat seorang peramal, dan tertarik membayarkan satu florit untuk mendengar apa kata peramal itu. Padahal, seharusnya ia memakai satu florit itu untuk membeli ikan dan roti, seperti yang disuruhkan Vilna kepadanya.&lt;br /&gt;Peramal itu, oleh Peter ditanyai sebuah hal yang paling meresahkan batinnya: apakah adiknya yang bernama Adele masih hidup? Jawaban yang diberikan sang peramal mengagetkannya: Adele masih hidup. Dan untuk menjumpai Adele, si peramal berkata: "Kau harus mengikuti gajahnya... gajah betina itu akan membawamu ke sana."&lt;br /&gt;Harapan dalam diri Peter tersulut. Ia gembira, sekaligus bimbang dan bingung. Bagaimana tidak? Seekor gajah akan membawanya kepada Adele? Yang benar saja --gajah dari mana? Selain itu, Vilna Lutz tua yang sakit-sakitan itu, yang mengaku sebagai sahabat ayah Peter, menyatakan bahwa ramalan itu palsu. Sejak Peter hidup dengannya, Vilna telah menjejalkan kisah hidupnya yang lain: bahwa ayah Peter dulu adalah tentara yang hebat seperti dirinya, dan ia tak punya saudara lagi. Peter bahkan dilatih tiap hari dengan pelajaran seputar ketentaraan agar dapat menjadi tentara yang baik suatu ketika.&lt;br /&gt;Namun, dengan cara yang ajaib, gajah itu benar-benar muncul, meresahkan segenap penduduk kota Baltese. Datangnya tak terduga pada sebuah acara yang digelar seorang penyihir. Penyihir itu, awalnya hendak membuat kejutan dengan menghadirkan hanya sebuket bunga lili dengan kemampuan sihirnya. Tak dinyana, ketika sihirnya ia mainkan, dari atas atap gedung opera seekor gajah yang besarnya bukan kepalang turun di tengah-tengah hadirin!&lt;br /&gt;Gajah itu membuat remuk kaki seorang bangsawan bernama Madam LaVaughn. Ia harus duduk di kursi roda karena kecelakaan itu. Berita kedatangan gajah pun menyebar di seantero kota Baltese. Peter pun mendengarnya -- harapannya menemukan titik terang.&lt;br /&gt;Dengan bantuan seorang polisi berbadan kecil bernama Leo Mattiene yang murah hati, seorang tukang batu pemberani yang suka tertawa sendiri bernama Bartok Whynn, Madam La Vaughn dan pelayannya yang bernama Hans Ickman, maka pencarian Peter akan Adele pun menjadi kisah yang menarik.&lt;br /&gt;Kisah yang digarap Kate DiCamillo ini agak berbeda dari beberapa bukunya yang sebelumnya. Sebelum ini ia telah menulis beberapa cerita anak (yang juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia): The Tiger Rising, The Miraculous Journey of Edward Toulane, Because of Winn Dixie dan The Tale of Desperaux. Dua yang terakhir disebut sudah difilmkan. Bedanya adalah, baru ini Kate DiCamillo mengangkat hal berbau sihir dalam ceritanya. Ya, tetap juga ada kesamaan: tokoh berupa binatang tetap tampil sebagai tokoh dominan dalam bukunya kali ini. Namun, kisah-kisah di buku-bukunya yang sudah-sudah lebih banyak dibumbui dengan tema persahabatan, keluarga, atau kepahlawanan.&lt;br /&gt;Apa pun tema yang digarap oleh Kate selalu menarik diikuti hingga tuntas, termasuk yang dilakukannya kali ini. Ini tak lain karena ia adalah seorang penulis yang berdedikasi penuh untuk menulis cerita anak-anak. Dalam sebuah wawancara ia mengaku menulis dua halaman dari hari Senin sampai Jumat sebelum bekerja di toko buku. Tulisan-tulisannya senantiasa tertutur rapi dan tak menjemukan. Ia pernah mendapatkan Newbery Medal, sebuah penghargaan untuk buku cerita anak-anak terbaik untuk bukunya The Tale of Desperaux.&lt;br /&gt;Buku The Magician's Elephant merangkum kecerdasan Kate DiCamillo bercerita: runut, imajinatif, dan kaya akan frasa yang disebutkan beberapa kali untuk membentuk imajinasi pembaca agar menyelami situasi yang sedang terjadi di kota Baltese. Baltese adalah sebuah kota yang tak ada di belahan dunia mana pun -- sebuah negeri antah-berantah. Dalam sebuah wawancara lain, Kate menyebutkan setelah ia selesai menggarap bukunya ini, ia menonton sebuah film yang berlatar kota Bruges di Belgia. Ia menyatakan kota itu, Bruges, mirip dengan Baltese yang ia ciptakan.&lt;br /&gt;Untuk melukiskan Baltese, juga para tokoh, dan situasi penting yang terjadi di sepanjang cerita, beruntunglah Kate mendapatkan Yoko Tanaka. Yoko, walau hanya mengandalkan nuansa hitam-putih dalam membuat ilustrasi, mampu mewakili imajinasi yang awalnya ada pada Kate. Gambar-gambar yang dibuatnya hampir semuanya terkesan muram. Ini mewakili situasi kota Baltese yang selalu mendung, namun tak kunjung disiram salju atau hujan.&lt;br /&gt;Salah satu ilustrasi yang menarik adalah gambar yang dibuat Yoko ketika melukiskan sebuah kamar Rumah Yatim-Piatu Susteran Cahaya Abadi (halaman 56). Kamar tidur itu berlangit-langit tinggi dan artistik. Di sana ada 14 tempat tidur yang semuanya ditiduri oleh anak-anak yang sedang lelap, kecuali sebuah tempat tidur. Seorang gadis kecil terjaga di tempat tidur itu, duduk di tepi tempat tidurnya. Rambutnya yang dikepang dua dengan lucu, membuat kita yang mengamatinya ingin memeluknya. Dialah Adele, adik Peter yang di suatu malam resah tak bisa tidur akibat mimpi yang baru saja dialaminya.&lt;br /&gt;Mimpi Adele hadir dalam tidurnya, bagai membawa harapan yang ada di benak Peter, abangnya, untuk bertemu dengannya. Namun, Adele yang masih belum genap tujuh tahun dan tidak tahu dengan lengkap jati-dirinya hanya bisa meraba-raba apakah mimpi itu akan mengubah hidupnya. Ia hanya tahu bahwa mimpi itu aneh, namun menyenangkan dan membahagiakannya.&lt;br /&gt;Nah, akan bertemukah dua kakak beradik ini nantinya? Ke manakah gajah itu nantinya akan dibawa? Buku ini terlalu bagus untuk Anda lewatkan, bila Anda menyukai imajinasi yang sering melintasi benak anak-anak kecil. Yang jelas, Peter dikisahkan tak setengah-setengah berjuang menemukan Adele. Walau tak pernah dilihatnya, Peter menyayangi adiknya itu sepenuh hatinya. Perjuangan Peter ini, pada akhirnya membidikkan pertanyaan yang membongkar kesejatian pengharapan dan keyakinan kita akan sesuatu hal yang hendak kita gapai: Sudah sungguh-sungguhkah kita mengejarnya sejauh ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku      : "Peta 50 Tempat Jajanan &amp; Oleh-Oleh Khas di Malang"&lt;br /&gt;Pengarang       : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal buku      : 116 halaman&lt;br /&gt;Tahun terbit    : Cetakan pertama, Februari 2009&lt;br /&gt;Profil buku     : http://wisatakulinermalang.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. Namun sayangnya, dari sekian banyak liputan yang ada, belum pernah ada yang mengupas secara detil aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang sedemikian lengkap seperti halnya yang bisa Anda baca dalam buku ini. &lt;br /&gt;Ulasan yang Anda jumpai dalam buku ini cukup menarik, lugas, dan detil, mulai dari sejarah berdirinya kota Malang, riwayat asal mula aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang, denah lokasi usaha yang berjualan jajanan dan oleh-oleh khas Malang, harga retail jajanan dan oleh-oleh,  dan bahkan sampai dengan ulasan singkat tentang bahan dan cara pembuatan beberapa jajanan dan oleh-oleh khas Malang. Agar tampil cantik dan menarik, sebuah buku wisata kuliner tentunya harus pula disertai dengan ilustrasi foto apik yang dapat memberikan gambaran bagi para pembacanya, demikian pula dengan buku ini. Anda akan bisa menjumpai begitu banyak foto ilustrasi aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang mengundang selera. Aneka tempat jajanan dan oleh-oleh di Malang bisa Anda baca ulasannya dalam buku ini, mulai dari yang bercitarasa tempo dulu/legendaris, yang tradisional, kontemporer hingga yang bercitarasa modern dan kaya inovasi. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka jajanan, kue-kue, serta camilan nan lezat lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku    : "Peta 50 Tempat Makan Makanan Favorit di Malang"&lt;br /&gt;Pengarang     : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal buku    : 136 halaman&lt;br /&gt;Tahun terbit  : Cetakan pertama, Maret 2009&lt;br /&gt;Profil buku   : http://wisatakulinermalang.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka masakan favorit khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. &lt;br /&gt;Dalam buku ini akan dibahas secara tuntas beragam jenis masakan dan minuman khas kota Malang, tempat-tempat makan makanan favorit di Malang, lengkap dengan alamat dan denah lokasi, harga makanan dan minuman, hingga ulasan singkat tentang bahan dan cara memasak serta penyajian masakan. Diperkaya dengan ilustrasi foto-foto yang cantik dan membangkitkan selera makan, siapa yang tidak ingin mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang terkenal berporsi besar, berharga murah lagi terjangkau. Makan kenyang dengan porsi besar tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena di Malang ada puluhan tempat makan yang menawarkan beragam jenis masakan bercitarasa lezat nan unik, cara penyajian yang menarik serta tempat makan yang nyaman, mulai dari yang legendaris, tradisional, kontemporer, hingga yang modern dan berkelas. Semuanya menawarkan beragam inovasi kuliner yang mengundang selera serta harga makanan yang cukup kompetitif lagi terjangkau. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang lezat, lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku : Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan&lt;br /&gt;Pengarang : Hans J. Daeng&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Pustaka Pelajar Offset&lt;br /&gt;Tebal halaman : 341 + xiii halaman&lt;br /&gt;Peresensi : Sismanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah organisme yang sangat kompleks, dimana secara hirarkisnya didasari oleh latar belakang atau asal usul dari penciptaan manusia itu sendiri. Karena manusia tu mempunyai jiwa fisik, yang mana keduanya mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya.&lt;br /&gt;Menurut Van den Daele pada dasarnya ada dua proses perubahan yang saling bertentangan yang terjadi secara bersamaan selama kehidupan itu berlangsung, yaitu proses perkembangan dan perubahan yang mendasar dari pengaruh internalisasi dan eksternalisasi pada manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tehadap perubahan dalam perkembangan diri manusia itu sendiri antara lain:&lt;br /&gt;1. Penampilan diri&lt;br /&gt;Penampilan diri yang terjadi pada diri manusia terjadi akibat dari pengaruh baik itu dari lingkungan ataupun dalam diri dirinya sendiri, hal ini didasari atas sikap dan perilaku terhadap lawan jenisnya dan juga ingin menunjukkan keindahan, kebolehan dan juga menampilkan apa yang menjadi kelebihan pada dirinya.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan itu akan diterima oleh seseorang bilamana sikap dan perilakunya dipandang baik dan menyenangkan. Sedangkan perubahan-perubahan yang mengurangi penampilannya akan ditolak atau tidak diterima dan secara langsung akan berusaha untuk menutupinya.&lt;br /&gt;2. Perilaku&lt;br /&gt;Manakala perubahan dalam sikap perilaku itu dipandang memalukan atau kurang baik dalam pandangan umum, maka ia harus berusaha untuk merubah sikap tersebut bilamana ia telah dewasa, hal ini akan berpengaruh pada pergaulan dia di masyarakat.&lt;br /&gt;3. Pengalaman pribadi&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi mempunyai pengaruh besar terhadap sikap individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan, karena kewenangan dan kewibawaan pada usia muda itu sangat menurun disaat mereka menjelang pensiun. Sikap mereka terhadap pengalaman yang kurang baik itu akan direspon kurang menyenangkan baik di masyaakat ataupun di tempat-tempat lain.&lt;br /&gt;4. Perubahan peranan&lt;br /&gt;Sikap terhadap orang yang berbeda usia dan umur sangatlah dipengaruhi oleh peran yang mereka mainkan, bila peran mereka itu diubah, maka sikapnya akan kurang baik dan tidak merespon atau kurang senang.&lt;br /&gt;5. Stereotip budaya (budaya meniru)&lt;br /&gt;Dalam stereotip ini dipakai untuk menilai manusia, karena bertambahnya usia seseorang akan berpengaruh pada perubahan dan akan mudah untuk meniru-niru apa yang ia lihat dan ia alami dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;6. Nilai-nilai budaya&lt;br /&gt;Setiap kebudayaan mempunyai nilai tertentu, yang berkaitan dengan usia-usia yang berbeda. Dalam usia ini ini sangat menyenangkan karena jiwa dan kepribadiannya cenderung bebas berdikaridan ingin mengetahui dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Kebudayaan merupakan adalah sebuah konsep yang memiliki varian definisi ditinjau dari sudut pandang apa dan dari mana diintepretasikan. Definisi yang paling menonjol adalah yang dikemukakan oleh Geezt yang menunjuk pada sebuah “sistem simbol” yang berfungsi untuk mengarahkan tingkah laku.&lt;br /&gt;Tulisan Dr. Hans J. Daeng yang merupakan kumpulan tulisan yang ditulis dengan gaya yang mudah dibaca dikelompokkan ke dalam kelompok budaya umum yang melihat kebudayaan pada berbagai masyarakat dan dalam brbeagau bentuk simbol yang menata tingkah laku sosial. Sebagai seorang antropolog Dr. Hans J. Daeng melihat bahwa kebudayaan merupakan faktor yang berpengaruh langsung menata sistem dan struktur sosial.&lt;br /&gt;Persoalan menonjol yang ditunjukkan dalam tulisan Dr. Hans J. Daeng bahwa perubahan itu merupakan hal yang konstan dan memperlihatkan proses dinamis dalam kehidupan suatu masyarakat, misalnya bahwa manusia itu adalah animal historicum yang menyimpan historicumnya sendiri (lihat hlm. 399).&lt;br /&gt;Buku yang ditulis dengan pendekatan antopologis ini mengungkapkan makna yang kompleks dalam variasinya maupun dalam sifatnya yang universal. Dengan kebudayaan tampaknya hidup lebih bermakna dan manusia lebih arif dan bijaksana. Pada akhir tulisan Dr. Hans J. Daeng mengajak pembaca dalam perenungan yang dalam tentang makna hidup manusia dan mangajak untuk menjadi bijak mengikuti dinamika perubahan waktu yang menurut penulis tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;Pada tulisan buku karya Dr. Hans J. Daeng masih belum rinci dalam arti secara konsepsi maupun bahasannya masih bersifat global dan universal. Hal ini dikarenakan terlalu luasnya bahasan dari buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINCANG SASTRA&lt;br /&gt;MENGAPA SEBUAH BUKU PERLU DITERJEMAHKAN ULANG?&lt;br /&gt;Oleh: Wawan Eko Yulianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa perlunya sebuah buku yang pernah diterjemahkan puluhan tahun lalu diterjemahkan lagi oleh penerjemah yang berbeda?&lt;br /&gt;Itulah pertanyaan yang menggantung di benak saya ketika membaca curriculum vitae Breon Mitchell, seorang profesor comparative literature asal Indiana University, Bloomington yang hadir di kampus kami beberapa waktu lalu sebagai penerjemah tamu. Prof. Breon Mitchell telah menerjemah ulang The Trial (Franz Kafka) dan saat itu sedang menyelesaikan penerjemahan The Tin Drum (Günter Grass) dari bahasa Jerman ke bahasa Inggris. Sebenarnya, masing-masing buku itu telah diterjemahkan puluhan tahun sebelumnya. The Trial, dalam edisi bahasa Inggris yang terkenal, diterjemahkan oleh pasangan Muir, dan The Tin Drum diterjemahkan oleh Ralph Manheim.&lt;br /&gt;Mungkin akan terlintas di benak kita pertanyaan-pertanyaan semacam: “Apakah ada kesalahan pada masing-masing edisi terjemahan tersebut, sehingga harus 'dikoreksi'?” Namun, apa yang disampaikan oleh Breon Mitchell sendiri ternyata lebih dari sekedar salah dan benar. Banyak fakta menarik yang layak diambil sebagai pelajaran. Khusus untuk kesempatan ini, saya akan banyak menyoroti hal-hal yang terkait dengan proses penerjemahan The Tin Drum, mengingat tahun 2009 ini adalah peringatan 50 tahun penerbitan novel itu sejak diterbitkan pertama kali dalam bahasa Jerman. Lagipula, masih hangat di benak para pemerhati sastra bagaimana Günter Grass yang telah menjadi otoritas moral di negaranya itu membuat pengakuan mengejutkan dalam sebuah wawancara sebelum peluncuran bukunya Peeling the Onion (2006) bahwa dia terlibat dengan Waffen-SS, sayap militer partai Nazi.&lt;br /&gt;Yang Personal&lt;br /&gt;Di pihak sastrawan, Günter Grass sendiri ternyata telah sekitar 35 tahun menginginkan penerbitnya menerjemah ulang The Tin Drum. Grass menginginkan ada alternatif bagi pembaca, dan dia menunjukkan kesan kekurangpuasan dengan hasil terjemahan Ralph Manheim. Namun, penerbitnya kurang menggubris keinginan Grass tersebut. Ada kesan di pihak penerbit muncul semacam pertanyaan, 'Kenapa harus diterjemahkan ulang, mengeluarkan duit ulang, kalau edisi yang sudah ada di pasaran saja, yang diterjemahkan oleh seorang penerjemah kawakan, sudah bisa menyedot pembaca dan membuat Grass seterkenal ini di kalangan publik pembaca bahasa Inggris?'. Memang, fakta itu tak bisa dipungkiri. Bahkan, menurut Breon, terjemahan Manheim ini punya andil besar mengajak publik melirik sastra Jerman secara umum. Dan sangat besar kemungkinannya edisi Inggris inilah yang akhirnya membuka jalan sehingga banyak orang tertarik kepada Grass dan karya-karyanya selanjutnya hingga akhirnya dia bisa berkesempatan menyampaikan pidato penganugerahan Nobel Kesusastraan yang legendaris itu.&lt;br /&gt;Akhirnya, penerbit pun mengiyakan keinginan Grass tersebut. Itupun karena memang momennya sedang tepat, yaitu peringatan 50 tahun penerbitan edisi pertama novel tersebut.&lt;br /&gt;Di pihak penerjemah, ada kisah menarik sebelum dimulainya proses penerjemahan. Sebagai seorang profesor yang harus membimbing disertasi beberapa calon doktor dan menjadi direktur Lilly Library, salah satu perpustakaan buku langka terbesar di Amerika Serikat yang merupakan bagian dari Indiana University, Breon sendiri sudah lama tidak lagi berminat mencari order menerjemah karya sastra. Namun, dia langsung berminat ketika tawaran yang terakhir datang kepadanya itu adalah tawaran menerjemahkan The Trial dan The Tin Drum.&lt;br /&gt;Namun, muncul dilema karena penerjemah pertama The Tin Drum, Ralph Manheim, adalah seorang sahabat karib Breon selama 7 tahun terakhir masa hidupnya. Dan Breon sendiri terlihat sangat menghargai terjemahan versi Ralph Manheim. Waktu mendapat kabar bahwa The Tin Drum akan diterjemahkan ulang, dan penerjemahnya adalah Breon Mitchell, istri almarhum Manheim langsung menelpon Breon dan bilang, “Kenapa kamu menghianati Ralph?” Mendapat pertanyaan yang tak butuh jawaban itu, Breon segera pesan tiket pesawat dan berangkat ke Cambridge, tempat tinggal Ny. Manheim, dan menjelaskan duduk persoalannya. Alhasil Breon pun bisa mulai mengerjakan penerjemahan buku itu, dan kekagumannya kepada terjemahan versi Manheim terlihat dengan tak henti-hentinya dia gunakan terjemahan Manheim sebagai salah satu sumber utamanya dalam bekerja. Dan Breon pun menulis catatan penyerta di akhir buku yang juga membahas peran karya terjemahan Ralph Manheim dan hal-hal lain yang terkait dengan proses penerjemahannya—mungkin serupa pengantar yang dia buat untuk terjemahan The Trial olehnya yang terbit pada tahun 1999 lalu.&lt;br /&gt;Yang Teknis&lt;br /&gt;Kalau sebelumnya saya menyinggung bahwa banyak detil dari karya Grass yang tak tersampaikan dalam terjemahan Manheim, itu bukan berarti bahwa Manheim adalah penerjemah yang buruk. Terjemahan bahasa Inggris novel The Tin Drum itu bisa dibilang sangat mulus—Breon menyebutnya sebagai 'terjemahan yang indah'. Pembaca sangat bisa menikmati ceritanya novel tersebut dengan membaca terjemahan versi Manheim tersebut. Di sinilah yang menjadi 'masalah'. Dalam bahasa Jerman, novel itu sebenarnya bukan novel yang secara bahasa benar-benar mulus. Ada kalimat-kalimat yang dengan sadar dibuat agak susah. Ada kata-kata yang dibuat dengan pertimbangan bunyi dan ritme. Dan hal-hal yang semacam itu menjadi hilang ketika novel tersebut dihadirkan ke dalam bahasa Inggris yang lancar, yang tentunya menuntut adanya pemenggalan di sana-sini untuk menyingkirkan hal-hal yang dirasa janggal. Padahal, Grass sendiri memendam keinginan pembaca berbahasa Inggris juga merasakan tekstur kebahasaan yang dirasakan para pembaca Jerman.&lt;br /&gt;Uniknya, Breon mensinyalir ada sejumlah faktor di balik hadirnya 'kemulusbacaan' tersebut. Pertama-tama, Günter Grass ketika itu adalah seorang penulis muda yang berusia 30 tahun. Tak bisa dipungkiri, meskipun berusaha bersikap obyektif, pasti ada kecenderungan seorang pembaca—tak terkecuali penerjemah—untuk tidak langsung menggali dalam-dalam karya seorang penulis yang masih muda atau masih pemula. Karena itulah, dalam proses penerjemahan itu penerjemah atau editor cenderung menganggap hal-hal agak ganjil di dalam novel itu sebagai sesuatu yang tidak memiliki signifikansi dan bisa dilewati. Lagipula, pesan yang diusung novel The Tin Drum itu sendiri sudah terasa kuat. Jadi wajar saja penerjemahnya kurang memberi perhatian pada sisi teknis bahasa novel tersebut. Ditambah lagi, sudah bukan rahasia lagi kalau penerbit, yang memberi perhatian besar kepada daya jual sebuah buku—dan ini tidak bisa dibilang salah, karena bagaimanapun ini adalah sebuah bisnis—cenderung menginginkan sebuah novel yang enak dibaca. Maka, jadilah edisi Inggris pertama novel The Tin Drum itu sebuah novel mulus-baca seperti yang bisa kita temui.&lt;br /&gt;Lagipula, Ralph Manheim waktu itu hanya diberi penerbit waktu menerjemahkan selama 6 bulan!&lt;br /&gt;Dengan tujuan menghidupkan detil-detil yang ingin ditampilkan Günter Grass itu, Breon Mitchell pun memulai proses penerjemahan dari awal—dengan kesadaran sepenuhnya bahwa dirinya sedang menerjemahkan sebuah karya pemenang Nobel, karya yang banyak dibahas oleh para sarjana sastra, karya yang tak hanya isi ceritanya tapi juga bentuk bahasaannya juga dibuat dengan pertimbangan masak. Breon mengaku sudah menyukai novel The Tin Drum itu sejak pertama kali dia membaca edisi Jerman-nya ketika novel itu baru diterbitkan. Bahkan, dia menganggap The Tin Drum itu adalah novel berbahasa Jerman paling penting selama paruh kedua abad ke-20. Meski demikian, Breon masih membutuhkan buku-buku referensi untuk membantunya menerjemahkan novel tersebut. Referensi itu mencakup terjemahan karya Ralph Manheim dan buku-buku telaah kritis yang telah ditulis banyak sarjana atas buku tersebut. Di sini Breon mengembalikan lagi kalimat-kalimat panjang Grass yang telah 'dicacah' Manheim menjadi kalimat-kalimat pendek yang lebih akrab bagi pembaca berbahasa Inggris. Grass sendiri agak keberatan kalimat-kalimat panjang yang menurutnya memiliki ritme khusus itu dicacah sedemikian rupa oleh Manheim dengan alasan lebih mengakrabkan bahasanya bagi pembaca berbahasa Inggris. Sebab, menurut dia, bahkan pembaca berbahasa Jerman pun juga merasakan semacam ketidaknyamanan dengan kalimat-kalimat panjang itu. Dan dia juga ingin pembaca bahasa Inggris merasakan hal yang kurang lebih sama dengan yang dirasakan para pembaca Jerman. Dengan bekal cinta dan 'amunisi' semacam itu, Breon menerjemahkan The Tin Drum sambil bisa memperhatikan hal-hal renik yang penting, dan tentunya menghadirkannya kepada pembaca berbahasa Inggris dengan penguasaan seni penerjemahan yang terasah selama puluhan tahun.&lt;br /&gt;Untungnya, Breon mendapat waktu tiga tahun untuk menyelesaikan terjemahan tersebut...&lt;br /&gt;Ada satu pernyataan Breon Mitchell, yang dia sampaikan dalam diskusi dan pembacaan The Tin Drum di Goethe Institute New York pada tahun 2005, yang kiranya perlu dikutip di sini: “Sebagai teks, buku ini sangat kaya. Saya berani bilang tidak akan pernah ada yang bisa menerjemahkannya hingga seratus persen. Namun yang penting menurut saya adalah si penerjemah harus menyadari bahwa di situ ada masalah, dan bertanya 'Terus bagaimana kita menyiasatinya? Apa yang bisa kita lakukan?' Ada kalanya kami tidak bisa mendapatkan jawabannya.”&lt;br /&gt;Yang Unik&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik di balik penerjemahan The Tin Drum ini adalah bentuk kolaborasi antara sastrawan dan penerjemah. Günter Grass dan penerbitnya rupanya ingin 'merayakan' 50 tahun penerbitan The Tin Drum secara besar-besaran, yaitu dengan penerjemahan (termasuk penerjemahan ulang) novel ini ke dalam 10 bahasa untuk diterbitkan pada tahun 2009 lalu. Tidak hanya itu, Günter Grass kali ini tidak mau 'kecolongan' seperti yang terjadi dengan terjemahan karya Manheim. Dia mengundang 10 penerjemah yang sedang menggarap The Tin Drum untuk menyatukan visi di Gdansk, sebuah kota di Polandia.&lt;br /&gt;Dalam pertemuan yang berlangsung selama seminggu itu, menurut Breon sebagai salah satu peserta, para penerjemah menyerahkan pertanyaan/komentar terkait kalimat-kalimat dalam novel yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan di antara mereka. Dari kesepuluh penerjemah itu, terkumpul sekitar 3500 poin pertanyaan/komentar. Selama seminggu itu, Grass dan 10 penerjemah ini mengadakan konferensi yang berlangsung antara pukul 9 pagi sampai 5 sore, persis seperti orang kantoran. Mereka membaca novel itu dan membahas poin-poin pertanyaan dari para penerjemah. Selain itu, Günter Grass sendiri menyoroti bagian-bagian yang menurutnya penting untuk dijadikan perhatian para penerjemah. Pembacaan dengan sumber yang seperti itu semakin diperkuat lagi dengan 'napak tilas' ke tempat-tempat yang menjadi latar novel tersebut dengan dipandu oleh Günter Grass sendiri yang menunjukkan benda-benda, bangunan, dan sebagainya, yang diacu juga dalam novel itu.&lt;br /&gt;Ini mengingatkan kita tentang hubungan erat antara sastrawan Argentina Jorge Louis Borges dengan penerjemah 'resminya', Norman Thomas di Giovanni, yang menghabiskan banyak waktu bersama-sama dan membahas tuntas karya-karya Borges yang sedang diterjemahkan.&lt;br /&gt;Ada proses yang unik di sini. Di satu sisi si penerjemah seolah-olah 'tak lebih dari sekedar' mengantarkan apa yang ingin disampaikan si penulis ke bahasa yang berbeda. Seolah-olah, si penerjemah membiarkan egonya melebur dan menyerahkan diri sepenuhnya mengalihbahasakan apa yang diinginkan si penulis. Si penerjemah benar-benar mengekang dirinya menafsir dengan semaunya sendiri. Sebaliknya, dia sepenuhnya tunduk kepada teks dan si pencipta teks. Seolah mereka bersinergi, kembali ke masa sebelum buku aslinya diterbitkan.&lt;br /&gt;Dengan begini, tidak penting lagi yang namanya 'penghianatan', sebuah tema yang kerap diusung para penerjemah atau pengkritik penerjemahan. Yang ada hanyalah bersama-sama masuk ke dalam pikiran si sastrawan dan mencoba mengikuti apa yang dimaksud si sastrawan ketika dia sedang menciptakan novel itu—meskipun tak bisa diingkari bisa saja yang dia ceritakan kepada para penerjemah ini bisa-bisa berbeda dengan perasaan si penulis ketika menulis karya tersebut.&lt;br /&gt;Namun, demi menyadari kemustahilan mencari padanan untuk setiap hal yang ada dalam bahasa Jerman ke dalam bahasa-bahasa lain dunia, Grass juga memberi kebebasan kepada para penerjemahnya untuk berkreasi terkait dengan hal-hal tersebut. Di sini tampak ada yang perlu diperhatikan, yaitu 'penghianatan' itu hanya bisa terjadi pada tahap pembahasaan, sementara pada tahap pemahaman isi karya, penerjemah dituntut selaras dengan si sastrawan.&lt;br /&gt;Demikianlah, meskipun penerjemahan ulang bukanlah sesuatu yang harus dilakukan atas karya-karya yang terjemahannya sudah usang, ternyata banyak yang bisa dipelajari dari situ. Selain itu, sepertinya para penerjemah Indonesia juga harus mengikuti langkah yang ditempuh Breon, yaitu membaca habis-habisan karya sekunder yang mendukung pemahaman pembaca atas karya sastra yang sedang digarap. Tapi, lagi-lagi muncul pertanyaan, apakah memungkinkan melakukan penerjemahan yang 'doyan' seperti itu dengan upah penerjemahan seperti yang ada di pasaran seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;The Tin Drum edisi peringatan ulang tahun emas ini telah diluncurkan pada bulan Oktober tahun 2009. Breon merampungkan detil terjemahannya tersebut di tengah kesibukannya membimbing para calon doktor dan mengelola Lilly Library. Oh ya, dia juga langsung bergairah ketika tahu bahwa ada dua karya sastra penting Indonesia yang mengambil latar kota tempat tinggalnya, yaitu kumpulan cerpen Orang-orang Bloomington dan novel Olenka, dan otomatis langsung menyatakan keinginannya untuk mendapatkan buku-buku tersebut buat perpustakaan manuskrip dan buku langka yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;MERESENSI DAN MENGOLEKSI BUKU&lt;br /&gt;Oleh: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Resensi Buku&lt;br /&gt;Iqbal Dawami, Nur Mursidi, dan Hernadi Tanzil, menurutku adalah orang-orang yang beruntung karena sering mendapat buku gratis dari penerbit. Aku terhitung jarang. Sejak resensiku atas buku Ma Yan karya Sanie B. Kuncoro dimuat Jawa Pos pada tanggal 22 Maret lalu, aku hanya mendapat satu buku gratis yang dikirim langsung oleh penerbitnya: Mata Keenam, terbitan Gloria Graffa. Aku sudah meminta kiriman buku gratis dari beberapa penerbit, beberapa membalas dan berjanji mengirim. Tapi, ah... manusia kan banyak yang suka lupa. Biasa itu.&lt;br /&gt;Namun, puji Tuhan, resensiku atas buku Mata Keenam nongol di koran Sinar Harapan. Sebelumnya, di Sinar Harapan juga, resensiku atas buku karya Arie Saptaji yang berjudul Pacaran Asyik dan Cerdas yang nongol duluan. Jadi, begitulah perjalananku meresensi buku sepanjang tahun ini. Ada belasan resensi buku yang kubuat, namun baru tiga buah yang menjebol koran.&lt;br /&gt;Semakin sering aku menulis resensi, semakin terasa manfaatnya bagiku, dan juga bagi penulis buku yang kita resensi -- bila ia membaca resensi itu. Menulis resensi bukan semata-mata agar dimuat koran, dan lalu mendapat uang. Ini adalah suatu upaya mengapresiasi secara wajar sebuah karya dengan memberikan pujian, kritik, masukan dan berbagai sudut pandang; sekaligus melatih-mengasah kemampuan menulis, utamanya dalam menganalisa suatu karya.&lt;br /&gt;Di dua bulan terakhir ini (Desember 2009 dan Januari 2010), aku berencana meresensi empat buah buku saja:&lt;br /&gt;1. Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi,&lt;br /&gt;2. I Can (Not) Hear karya Feby Indirani dan San Wirakusuma,&lt;br /&gt;3. Amira and Three Cups of Tea karya Greg Mortenson, dan&lt;br /&gt;4. Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com yang dieditori P. Chusnato Sukiman.&lt;br /&gt;Karena sepanjang Desember pekerjaan di sekolah tempat aku mengajar sangat banyak (Ujian Akhir Semester, pengolahan nilai dan pembagian rapot, dan persiapan acara Natal), hanya satu dari empat buku yang hendak kuresensi tadi yang baru sempat kubaca -- itu pun belum tuntas: I Can (Not) Hear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Koleksi Buku&lt;br /&gt;Sejak dulu, aku merasa bukan seorang kolektor. Aku masih ingat ketika ada di sebuah gereja yang kecil dan tidak punya banyak buku pengajaran dan bacaan. Gereja Anugerah Pembaharuan namanya. Waktu itu aku masih kuliah. Tanpa pikir panjang, kusumbang semua buku dan kaset rohani yang kumiliki untuk gereja yang melas dan mungil itu. Buku yang kusumbangkan lebih dari empat puluh buah dan kaset yang kusumbangkan lebih dari dua puluh buah.&lt;br /&gt;Padahal, buku dan kaset-kaset itu kubeli dari hasil pekerjaanku yang kujalani sambil kuliah. Waktu itu aku bekerja memberi les privat, jualan telur puyuh matang ke beberapa warung kopi, dan sesekali menulis cerpen (beberapa tulisanku nyantol di majalah-majalah keren dan gaul seperti GFresh!, Sahabat Pena dan AnekaYess!).&lt;br /&gt;Saat aku bekerja, hal yang sama terulangi lagi. Aku memiliki bujet 100 sampai 150 ribu per bulan untuk membeli buku. Buku-buku yang kubeli sejak kuliah, ditambah dengan yang kudapat saat bekerja, membuat lemari bukuku yang ada di Malang tidak cukup lagi. Akhirnya beberapa buku kubawa ke Sidoarjo, ke tempat kosku. Teman-teman kos pada heran ketika suatu waktu aku pindah kos dengan sebuah angkot yang penuh berisi barang. Di antara barang-barang itu, yang terbanyak adalah buku. Ada sekitar dua ratus buku yang aku bawa.&lt;br /&gt;Karena hal ini, lemari yang disediakan ibu kos untuk menaruh pakaian, malah jadi lemari buku. Pakaianku beberapa kugantung di dinding pakai hanger dan paku. Bulan demi bulan berlalu, lemariku itu makin penuh dengan buku yang kubeli. Buku pun bertumpuk-tumpuk di lantai kamar kosku. Sampai akhirnya aku membuat keputusan menyumbangkan lebih dari tiga puluh bukuku untuk sekolah tempat aku mengajar, dan memberikan beberapa buku kepada beberapa teman.&lt;br /&gt;Jujur, tidak semua buku yang kubeli kubaca sampai tuntas. Aku pembaca yang malas, bukan pembaca yang tekun. Kalau kuperkirakan, hanya sekitar 70 persen buku yang sudah kubeli yang kubaca tuntas. Kerap kali, aku memutuskan membeli buku -- termasuk yang kemudian lalai kubaca setelah kumiliki -- dengan alasan utama: takut kehabisan.&lt;br /&gt;Kini, ketika melihat lagi buku-buku yang bertumpuk di samping mejaku, aku merenung lagi: perlukah sebenarnya mengoleksi buku? Ini kutanyakan karena buku kadang dapat memberikan sebuah kenangan tersendiri. Contohnya, aku tidak akan lupa ketika membaca dengan penuh penghayatan serial Lord of the Rings hingga tak sadar subuh sudah datang.&lt;br /&gt;Namun, ada kalanya aku juga merasa bersalah kalau mendiamkan sebuah buku yang kuanggap bagus hanya tegak tak bergerak dalam lemariku -- sementara ada teman yang kutahu benar memerlukannya. Dan kadang, ada pula cerita lain: teman yang meminjam bukuku menghilangkannya. Kurasa, cukup banyak masalah bisa datang ketika kita berniat mengoleksi buku, namun juga mempunyai banyak teman yang suka membaca (dan meminjam) buku.&lt;br /&gt;Nah, hingga akhir tahun ini, aku pun masih belum kepikiran membuat sebuah perpustakaan kecil untukku sendiri suatu ketika. Aku bukan perawat buku yang baik. Bila kurasa aku tidak memerlukan lagi sebuah buku, ya kuberikan saja kepada orang yang kuanggap akan menyukai buku itu.&lt;br /&gt;Tapi, mungkin, insya Allah, suatu hari nanti, perpustakaan kecil itu kubangun. Dengan sepenuh cinta... hihihi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;MARI MENABUNG&lt;br /&gt;Oleh: Fikrul Akbar Alamsyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelajaran yang bisa diperoleh dari menabung, karena menabung itu tidak sekedar menyisihkan atau menyimpan sebagian uang, menabung itu :&lt;br /&gt;1. Belajar mengelola uang&lt;br /&gt;2. Belajar menahan diri&lt;br /&gt;3. Berhati-hati dengan uang&lt;br /&gt;4. Membiasakan diri berhemat&lt;br /&gt;5. Menghargai barang&lt;br /&gt;6. Bersikap Mandiri&lt;br /&gt;Pada poin pertama, dituliskan belajar mengelola uang. Seperti yang dikatakan pepatah bahwasanya hidup adalah proses begitu juga dengan perjalanan hidup kita yang tidak hanya berhenti di hari ini atau esok saja, akan tetapi masih berlanjut sampai waktu yang hanya Allah SWT saja yg tau sampai kapan akan berakhir. Sehingga pengelolaan uang dibutuhkan adanya untuk mencukupi kebutuhan yang suatu saat akan datang baik yang terencana atau tidak.&lt;br /&gt;Pada poin kedua, dituliskan belajar menahan diri. "Menahan diri" sebuah perkataan yang sering didengungkan akhir-akhir ini, apalagi saat bulan ramadhan seperti ini. Menahan diri pada hakikatnya bukan menghilangkan kebutuhan diri atau membuang jauh-jauh rasa ingin, akan tetapi menahan diri adalah menahan keinginan yang dirasa tidak terlalu dibutuhkan, menahan kebutuhan tersier dan mendahulukan yang primer.&lt;br /&gt;Pada poin ketiga, dituliskan berhati-hati dengan uang. Berhati-hati dengan uang berarti tidak dengan mudahnya mengeluarkan uang hanya untuk kebutuhan atau keinginan yang belum pasti dan belum jelas fungsi dan gunanya. Karena sesungguhnya masih banyak kaum/golongan yang hidup serba berkekurangan, sehingga layaklah jika qta berhati-hati dengan uang dan menggunakan dengan semestinya.&lt;br /&gt;Pada poin keempat, dituliskan membiasakan diri berhemat. Seperti kata pepatah hemat pangkal kaya, karena keberhasilan seseorang harus diusahakan begitu juga dengan sukses dibdang finansial, perlu diusahakan salah satu caranya dengan berhemat.&lt;br /&gt;Pada poin kelima, dicantumkan menghargai barang. Menghargai barang bukanlah mencintai barang dengan cara berlebih. Menghargai barang mengandung nilai penghargaan terhadap usaha dan proses saat akan meraih barang itu, sehingga tidak tertanam budaya instan yg berorientasi pada hasil.&lt;br /&gt;Pada poin keenam, dituliskan bersikap mandiri. Kemandirian suatu bangsa bukan tergantung pada kebijakan pemerintahnya akan tetapi pada individunya, dalam hal ini qta komponen bangsa terkecil.Oleh sebab itu mandiri merupakan sikap yg dibutuhkan dlm rangka pembentukan karakter bangsa.&lt;br /&gt;Mari menabung..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;PERANG DI MATA ANAK-ANAK - SEBUAH KISAH SENDU DALAM FILM KARYA SINEAS IRAK&lt;br /&gt;Oleh: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengira sedang menyewa sebuah film anak-anak yang lucu. Judulnya menarik: Turtles Can Fly. &lt;br /&gt;Judul Film: Film Lakposhtha Parvaz mikonand (Turtles Can Fly).&lt;br /&gt;Sutradara dan Skenario: Bahman Ghobadi.&lt;br /&gt;Aktor: Soran Ebrahim, Avaz Latif, Saddam Hossein Feysal, Hiresh Feysal Rahman, Abdol Rahman Karim, Ajil Zibari.&lt;br /&gt;Tahun: 2004.&lt;br /&gt;Ketika menontonnya, segera saya menyukai Satellite, tokoh utama di film ini yang sangat ceriwis, penuh semangat, dan ambisius. Dan ketika menyimaknya terus, karakter Satellite yang terkesan kocak itu sangat kontras dengan apa yang hendak disampaikan film ini. Film ini menampilkan simbol-simbol kedukaan yang dalam dan pedih tentang negeri yang tak luput dirundung perang. &lt;br /&gt;Turtles Can Fly adalah sebuah film asal Irak yang berusaha memotret kehidupan anak-anak yang menjadi pengungsi pada masa Saddam Husein ditangkap. Kisahnya fiktif, namun berdaya-gugah luar biasa. Kisahnya berpangkal pada seorang anak yang dijuluki Satellite oleh orang-orang di sekitarnya, yang sehari-harinya bekerja sebagai pengumpul ranjau. Ia dijuluki demikian karena tampak mahir pada hal-hal yang berhubungan dengan teknologi.&lt;br /&gt;Ranjau-ranjau yang dikumpulkan di tempat tinggal anak itu -- yakni di sebuah tempat pengungsian -- sangatlah banyak. Hampir tiap hari Satellite mengerahkan puluhan anak untuk bekerja memungut ranjau-ranjau itu. Ranjau-ranjau itu sangat berbahaya. Bila diinjak bisa meledak -- bisa bikin kaki lumpuh atau buntung.&lt;br /&gt;Sebuah bagian yang menarik dari film ini adalah kisah tentang kehadiran seorang anak kecil yang belum genap berusia tiga tahun. Ia datang bersama dua kakak-beradik. Seorang dari mereka adalah lelaki kecil yang tak punya dua tangan. Yang seorang lain adalah wanita, adik laki-laki buntung itu; ia selalu memasang wajah muram. Sementara anak kecil ini bukan siapa-siapa mereka berdua. Mereka menemukannya sedang merintih perih waktu pasukan Amerika sedang membombardir sebuah perumahan penduduk Irak. Oleh kemurahan hati kedua kakak-beradik itu, akhirnya si anak kecil turut dibawa ke mana-mana.&lt;br /&gt;Suatu ketika si anak kecil terjebak di antara beberapa ranjau di sekitarnya. Adegan yang menegangkan pun disuguhkan: Satellite akan menolong anak itu. Ia berteriak-teriak memohon anak itu agar tak bergerak sedikit pun, karena sebuah ranjau yang ada di dekatnya dapat menghabisi nyawanya, satu kali saja ia salah injak. Saat ia berteriak-teriak, beberapa anak yang lain pun menangis pilu. Ranjau yang membahayakan itu, salah terinjak sedikit saja, meledaklah dia. Dan... darrr! Ranjau itu meledak, lalu menghantam kaki Satellite.&lt;br /&gt;Anak-anak sebenarnya menakuti perang, walau mungkin mereka suka menonton film perang. Turtles Can Fly menyingkapkan dengan telak bagaimana sebuah perang mengubah kehidupan jiwa anak-anak. Penulis naskah (sekaligus sutradara) film ini patut diacungi jempol. Film ini menghadirkan berbagai adegan lucu, yang, namun, di balik semua kelucuan itu tersimpanlah duka yang mendalam akibat kehilangan, kelaparan, dendam dan peperangan.&lt;br /&gt;Satellite yang menyukai Amerika dengan segala atributnya (ia suka sekali berbahasa Amerika, bergaya seperti orang Amerika, dan menyukai tokoh-tokoh film Amerika) suatu ketika harus melepas segala junjungannya terhadap Amerika ketika intervensi Amerika terhadap kondisi politik di Irak semakin besar. Patung Saddam akhirnya ditumbangkan, dan seorang sahabatnya membawakan bagi Satellite sebuah kaki Saddam yang patah. Sahabatnya itu berkata kalau kaki itu akan mahal bila dijual. Satellite memandang wajah sahabatnya dengan aneh. Ya, ia sendiri baru saja nyaris kehilangan kakinya akibat ledakan ranjau!&lt;br /&gt;Karena ini film berlatar suasana dan waktu perang, maka tentu ada kematian di dalamnya. Satellite pada akhirnya harus merelakan hatinya tercabik-cabik ketika melihat beberapa kematian yang mengerikan dalam hidupnya. Emosi yang terpantik dalam benak saya ketika melihat film ini, membuat saya mengingat sebuah film lain yang berjudul Mean Creek, yang mengisahkan tentang beberapa anak remaja yang pada akhirnya harus menemukan sebuah kenyataan pedih ketika mereka dihadapkan pada sebuah kematian teman mereka.&lt;br /&gt;Tunas-tunas muda, jiwa yang selalu ingin merdeka, yang direnggut oleh maut dari kehidupan ini akibat kebengisan para penguasa, itulah salah satu dampak terburuk sebuah perang. Masa yang seharusnya dilalui dengan keceriaan berganti dengan kemuraman. Anak-anak akan tetap menjadi anak-anak, di mana pun mereka berada di dunia ini. Dan inilah wajah anak-anak yang harapannya bisa pupus seketika akibat berbagai ranjau bernama peperangan. Tawa mereka akan jadi sebuah kenangan yang paling dirindukan di seantero negeri, menjadi inspirasi bagi nyanyian-nyanyian perdamaian, dan kiranya menghantui mimpi-mimpi para penguasa haus darah.&lt;br /&gt;Nah, jadi apa makna judul Turtles Can Fly? Jikalau kura-kura dapat terbang di dalam air, melihat matahari ketika mereka ingin menyembul ke permukaan, maka -- duhai para penguasa! -- para anak-anak ini tak bisa selamanya ditenggelamkan dalam danau berdarah akibat ranjau yang selalu terpasang dan senjata yang selalu terangkat! Turunkan senjata, buang semua ranjau, dan biarkan kami -- para anak-anak -- ini terbang, seperti kura-kura menyambut mentari pengharapan.&lt;br /&gt;Yah, kira-kira, mungkin begitu maksud judul film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;MENGAPA MENJADI GURU?&lt;br /&gt;Oleh: Etty Hentihu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hadis mengatakan, semua amalan tergantung dari niatnya. Makna dari hadis ini adalah, bahwa segala apa yang akan kita lakukan itu tergantung dari niat si pelaku. Kelihatannya sepele dan sering dilupakan orang, tapi justru niat ini adalah urusan yang paling vital. Tak ada gunanya anda mengikuti seminar seminar, segala macam pelatihan yang meningkatkan profesionalisme dalam mengajar, semua workshop diikuti, kalau sebenarnya anda tidak memperdulikan yang namanya niat. Niat inilah yang menjadi landasan untuk selalu bisa semakin maju. Namun perlu disadari bahwa memperbaiki niat bukanlah perkara yang mudah. Berikut gambaran niat ketika seseorang memutuskan untuk menjadi guru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Karena kemampuan akademik&lt;br /&gt;Sudah bukan rahasia lagi di negri kita ini, para mahasiswa yang memiliki prestasi akademik lebih memilih universitas dibandingkan dengan kependidikan. Sehingga seolah olah, jalur kependidikan diperuntukkan bagi mereka mereka yang gagal masuk universitas. Dengan kata lain, yang masuk kependidikan didasari oleh keterbatasan kemampuan akademik. Bisa dikatakan kalau seandainya kemampuan akademik mereka bagus tentunya akan lebih memilih universitas karena selain lebih bergengsi dan memang menjanjikan finansial yang lebih baik bagi lulusannya kelak. Tapi tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang memang berkeinginan untuk menjadi guru walaupun sebenarnya kemampuan akademiknya sangat bagus. Hal ini ada tapi bisa dihitung dengan jari jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Karena status&lt;br /&gt;Sampai saat ini status menjadi guru memang masih sangat baik dan terhormat di mata masyarakat terutama guru di daerah pedesaan. Guru dianggap sebagai sosok yang pandai karena guru bukanlah suatu pekerjaan yang membutuhkan otot tapi lebih ke otak. Sehingga profesi guru masih dinggap bergengsi di masyarakat kita.&lt;br /&gt;Meskipun kita semua mengetahui bahwa profesi guru tidaklah memberikan finansial yang besar dan hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari saja, namun begitu masalah status di Indonesia masih sangat diperhatikan orang. Masalah pendapatan guru masih mungkin bisa ditingkatkan karena pekerjaan guru hanya berkisar dari jam tujuh sampai jam satu siang, sehingga masih ada waktu sisa untuk mencari tambahan penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Karena ada jaminan masa depan&lt;br /&gt;Gaji tetap dan pensiun masih dianggap sebagai sesuatu yang menggiurkan bagi masyarakat Indonesia bagi guru pegawai negeri meskipun untuk menjadi pegawai negeri ada yang harus melakukannya dengan membayar mahal.&lt;br /&gt;Kebergantungan masyarakat kepada status pegawai negeri ini tak jarang menjadikan mereka lebih merasa bergantung kepada kepegawaian mereka dari pada kepada Tuhan, maka berhati hatilah jangan sampai profesi kita melupakan Tuhan yang nenberikan rezeki bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Karena butuh pekerjaan&lt;br /&gt;Ada juga orang yang berprofesi sebagai guru karena memang sudah melamar pekerjaan kesana kemari tapi yang didapatkannya adalah sebagai guru sehingga jelaslah bahwa profesi guru bukan merupakan tujuan awal. Istilahnya daripada menanggung malu menjadi pengangguran lebih baik menjadi guru meskipun pendapatannya entah sedikit ataupun banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Karena guru adalah profesi mulia&lt;br /&gt;Ada segelintir manusia yang menjadi guru karena keinginannya untuk berbuat baik kepada sesama, mungkin istilahnya karena panggilan Nurani. Orang seperti ini masih ada di jaman seperti sekarang ini tapi jumlahnya sangat terbatas. Dia tidak memperdulikan berapa gaji yang ditrimanya, karena tujuan utamanya bukan gaji yang dikejar. Baginya menjadi pegawai tetap atau bukan, itu sama saja. Bahkan ada yang tidak menerima gaji sama sekali tapi dia tetap mengajar setiap hari.&lt;br /&gt;Fenomena ini berbeda sekali dengan yang menerima gaji utuh tiap bulannya tapi tidak setiap hari mengajar bahkan mungkin mengajar seminggu hanya dua atau tiga kali saja. Beberapa guru (baca : Dosen) ada yang seperti ini. Gaji tetap diterima penuh sementara mereka sibuk mengurusi proyek luar dan membiarkan waktu mengajarnya kosong tanpa diganti hari lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.Saatnya memperbaiki niat dan tujuan&lt;br /&gt;Kalau membicarakan profesionalisme maka poin terbesarnya adalah masalah motivasi dalam menjalankan profesi tersebut. Semakin kuat dan besar motivasi seseorang maka akan semakin baik dalam menjalankan pekerjaannya.&lt;br /&gt;Tulisan ini bukan hendak mengkritik apalagi mencela mereka yang mencari kedudukan, status dan kesejahteraan untuk berprofesi menjadi guru. Itu adalah hak masing masing untuk menetukan jalan hidup asalkan tidak menganiaya hak hak orang lain. Akan tetapi tulisan ini hanya untuk mengajak memperhatikan mereka yang benar benar mengorbankan sebagianb besar waktunya untuk mendidik dan mengentaskan masyarakat dari kebodohan. Sumbangsih mereka sangat besar bagi dunia pendidikan. So, bagaimana dengan niat anda menjadi guru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;PRODUKTIVITAS DAN PUBLISITAS&lt;br /&gt;Oleh: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stephen King, penulis horor dan thriller tenar itu, saya dapati&lt;br /&gt;menyinggung soal produktivitas dan publisitas dalam dua bukunya. Buku&lt;br /&gt;pertama adalah memoarnya yang berjudul On Writing. Di sana ia berkisah&lt;br /&gt;pernah mengirimkan sebuah karya yang ditolak oleh sebuah majalah&lt;br /&gt;besar. Setelah punya cukup nama dengan menerbitkan beberapa karya&lt;br /&gt;lain, karya yang sama ia coba-coba kirim ke majalah yang sama. Eh, dimuat.&lt;br /&gt;Buku lain yang saya dapati menyinggung hal yang sama adalah novelnya yang berjudul Bag of Bones. Di sini, tokoh utamanya, Michael Noonan, adalah seorang novelis yang diminta oleh sebuah penerbit untuk&lt;br /&gt;menerbitkan karyanya berkala. Nah, suatu ketika Michael kelimpungan&lt;br /&gt;merampungkan novel. Ia lalu mengirimkan novel usang yang sudah&lt;br /&gt;mendekam di laci selama 12 tahun dan belum diterbitkan! Diterima, dan&lt;br /&gt;bahkan karya itu dipuji penerbit!&lt;br /&gt;Penulis muda mana pun saya rasa pernah stres dengan penolakan. Karena profesi penulis sedikit mendapatkan tekanan dan dukungan dari luar,&lt;br /&gt;tak sedikit penulis muda yang akhirnya putus asa dan mundur. &lt;br /&gt;"Berkaryalah terus," kata Pramoedya Ananta Toer, sastrawan tenar itu,&lt;br /&gt;"dan jangan pikirkan karyamu kelak diterbitkan atau tidak." Pramoedya&lt;br /&gt;sendiri semasa hidupnya berpeluang kecil untuk mempublikasikan karyanya. &lt;br /&gt;Bagi kita yang bukan penulis, baiknya juga belajar hal yang penting di&lt;br /&gt;sini bahwa produktivitas adalah sesuatu yang lebih utama dibandingkan&lt;br /&gt;publisitas. Yang terakhir kita dapatkan setelah memiliki yang pertama&lt;br /&gt;dalam kadar tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;GURU ITU SUTRADARA JUGA&lt;br /&gt;Oleh: Lutfi Fadila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang guru harus bisa menjadi seorang sutradara amatir juga. Aku tak pernah berpikir untuk menyatukan dua profesi tersebut menjadi satu, tapi yach, nyatanya aku harus melakukannya juga. Meskipun dengan hati berdebar-debar, antara mau tak mau dan sebuah keharusan, toh, akhirnya aku bberada di penghujung kewajiban itu. Melatih anak-anak didikku untuk bermain drama di hadapan orang tua mereka.&lt;br /&gt;Sejak pertama kali diterima menjadi guru freelance di saec aku dikejutkan dengan jadwal pengajaranku. Diantara empat bulan masa pendidikan mereka satu level, anak-anak harus diajak outing (pergi mengaplikasikan bahasa inggris mereka di luar kelas dan sekolah) dan yang kedua adalah performance atau pertunjukan kemampuan bahasa inggris siswa dihadapan orangtua murid dengan latihan sekitar tiga atau empat kali pertemuan. Awalnya dag-dig dug menerima tugas seperti itu. Bahkan sampai saat ini aku masih berdebar karena selasa besok adalah performance pertama yang akan aku tunjukkan.&lt;br /&gt;Aku merasa tak siap dengan acara performance sampai akhirnya tanggal di jadwal perhitunganku menunjukkan aku harus membuat script pertunjukan dan berlatih dengan anak didikku yang berjumlah 12 anak sekolah dasar. Bayangkan 12 adalah jumlah terbesar di saec. Jumlah tersebut seharus menjadi dua kelas tapi karena guru terdahulu keluar bertepatan aku memasuki minggu-minggu pertama jadi kelasku yang semula berjumlah 6orang bertambah dua kali lipatnya.&lt;br /&gt;Masalah utama mengadakan latihan drama bersama kelas besar adalah kegaduhan yang mereka buat bisa mengganggu kelas yang sedang berlangsung disekitar kami. Masing-masing murid senang berceloteh dan bermain dengan teman kesayangan mereka. Fokus, bagi anak SD mungkin sulit tapi ya bagaimana lagi namanya anak SD juga tidak bisa disalahkan, baligh-pun mereka belum. Mau marah ya tidak bisa kecuali membuat peraturan ketat agar mereka mau berlatih. Alhamdulillah-nya mereka mau berlatih 2x dalam waktu 1,5 jam, meski untuk menghafalkan script mereka sedikit kesulitan karena lebih suka mengobrol bersama teman sebaya daripada diam mengamati teman yang sedang berlatih.&lt;br /&gt;Mengajarkan irama lagu juga menimbulkan kelucuan tersendiri. Masing-masing anak sering juga kelupaan dengan iramanya sehingga menciptakan irama sendiri-sendiri yang terasa lucu ditelinga.&lt;br /&gt;Ada juga yang irama lagunya mudah dihafalkan tetapi mereka membuat iramanya menjadi lebih cepat atau lebih lambat. Wah, wah.. suatu hal yang sungguh membuat latihan pertunjukkan tersebut rada kacau. Tetapi sekali lagi, mereka tahu kapan harus serius, yaitu ketika saya mulai mengancam mereka tidak boleh pulang sebelum latihan drama mereka cukup baik hasilnya.&lt;br /&gt;Anak-anak, mereka belajar sambil berlatih, berlatih sambil bermain, bermain sambil bersenda-gurau, bersenda-gurau sambil sesekali diingatkan untuk bisa serius mencapai tujuan bersama menyukseskan pertunjukan drama dihadapan orangtua masing-masing.&lt;br /&gt;Pas hari H pertunjukan, rasa dag-dig-dug kucoba peram dengan melihat performance anak-anak yang telah siap sedia di hadapan bangku penonton meski mereka hanya melakukan latihan 3 kali dalam 3x pertemuan. Kubandingakan dengan awal pertunjukan tim drama waktu kuliah. Kami takkan pernah berani dan siap menghadapi penonton jika tidak melakukan dua bulan penuh latihan.&lt;br /&gt;Semangat anak-anak memang diluar dugaan. Hasil pertunjukkan pertamaku menjadi sutradara cukup mengesankan. Head teacher skaligus the owner-nya yang paham dengan kerisauan guru baru berkomentar, “Wow, you could handle them well. My last performance was messier than this. Congratulation.”&lt;br /&gt;Hehe.. si bos yang pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;MENERJEMAHKAN DENGAN HATI&lt;br /&gt;Oleh: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu, bahkan mungkin kita semua, tentunya bisa putus harapan ketika dokter memberi vonis: dalam tubuh ada kanker paru-paru stadium IIIB, dan usia hidup tinggal 4-6 bulan lagi.&lt;br /&gt;Vonis itu merupakan hasil dari apa yang dialami wanita itu sejak awal Agustus 2004, bahkan sebelumnya. Di awal Agustus 2004, ia sedang mandi ketika merasakan sakit di bagian dada. Di hari-hari berikutnya ia menjalani serangkaian pemeriksaan medis yang bikin nyali ciut: semua bukti medis tampak memupuskan harapannya untuk terus bertahan hidup. Namun, ia tak kehilangan iman. Ia terus menaruh harapan pada Tuhan, berdoa dan mengharapkan mukjizat. Saat ia mengalami penyakit ini, baik buku dan film serial Harry Potter sedang meraup sukses di banyak negara.&lt;br /&gt;Satu bulan berlalu, sepertiga rambutnya ambrol. Namun, tak lama setelah itu, mukjizat terjadi: ia disembuhkan Tuhan dengan cara ajaib. Wanita itu, Listiana Srisanti namanya, telah mengalami pertolongan Tuhan.&lt;br /&gt;Listiana yang menerjemahkan serial Harry Potter dan beberapa buku terbitan Gramedia, memang dikenal sebagai salah satu penerjemah yang terbaik. Bahkan, ketika Memoar Seorang Geisha karya Arthur Golden diterjemahkan oleh Listiana, Arswendo Atmowiloto menyatakan: "... terjemahan Listiana jauh lebih menyentuh daripada buku aslinya. Mungkin Listiana mampu menghayati roh perempuan yang rapuh secara utuh ..."&lt;br /&gt;Bila kita pernah membaca buku Geisha itu (cetakan pertama tahun 2002), dengan lirih diuraikan penderitaan jiwa seorang wanita yang tak berdaya akibat didera berbagai kesengsaraan hidup. Sebuah keadaan yang tampaknya juga mewakili kondisi jiwa-raga Listiana sebelum ia mengalami sakit yang mengerikan.&lt;br /&gt;Seorang manusia yang rapuh dengan penyakit mengerikan, telah melakukan sesuatu yang tak dilakukan manusia-manusia yang merasa dirinya normal atau bahkan superior. Listiana menerjemahkan dengan hatinya, sehingga apa yang ia lakukan juga menjamah hati orang lain. Ia terus berkarya, namun tetap menjiwai apa yang ia lakukan dengan kepasrahan penuh pada Yang Ilahi.&lt;br /&gt;Dalam ketidakberdayaan dan keterbatasan, acapkali kekuatan Ilahi yang lebih besar menolong kita untuk bisa melakukan sesuatu yang menjadi bagian atau pekerjaan kita. Dan, jikalau kita tetap bertekun, niscaya semua yang kita lakukan berakhir dan berbuah indah.&lt;br /&gt;Catatan: Matur nuwun untuk Pak Sumardianta atas kisah Listiana Srisanti dalam bukunya yang berjudul Simply Amazing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFO&lt;br /&gt;PELUANG MENULIS BUKU ILMIAH NON FIKSI&lt;br /&gt;Oleh: Tim editor Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar gembira bagi teman-teman penulis dan peneliti (khususnya di area Malang raya dan Jawa Timur), Forum Penulis Kota Malang kini dipercaya sebagai agen penampung naskah untuk buku-buku non fiksi yang bakal diterbitkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Bagi teman-teman yang tertarik untuk menulis buku non fiksi dengan tema-tema seputar motivasi, buku hobi, buku-buku how to manajemen dan pengelolaan usaha kecil dan menengah, atau naskah buku yang mengupas peluang-peluang usaha dengan modal kecil tapi untung besar (lengkap dengan perhitungan analisis kelayakan usaha), bisa mengirimkan naskah softcopy dengan ketentuan:&lt;br /&gt;1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;2. Memperhatikan kaidah-kaidah penulisan, tanda baca, dan struktur kalimat yang baik, teratur, dan mudah dipahami, namun tidak meninggalkan unsur kajian ilmiah.&lt;br /&gt;3. Diketik dengan jenis ukuran font 12, times new roman,   1,5 spasi, dengan format A4, dengan format RTF (jangan doc atau odt).&lt;br /&gt;4. Jumlah halaman naskah, minimal 100 halaman.&lt;br /&gt;5. Isi naskah merupakan gabungan antara hasil penelitian dan pengamatan, wawancara, studi pustaka dan ditulis dengan cara penyajian yang ringan, mudah dipahami, namun tetap memperhatikan kaidah ilmiah.&lt;br /&gt;6. Tuliskan pada halaman terakhir naskah Anda riwayat hidup singkat serta riwayat prestasi tulisan Anda yang pernah dimuat di media surat kabar atau majalah. Bila Anda pernah menulis buku sebelumnya dan pernah diterbitkan oleh penerbit tertentu, sebutkan pula judul buku, tahun terbit dan nama penerbitnya. &lt;br /&gt;7. Kirimkan naskah berupa softcopy ke alamat email: naskahgramedia@gmail.com . Jangan lupa sertakan nama lengkap (jangan nama samaran), alamat rumah lengkap, nomor KTP, nomor NPWP, nomor rekening bank dan alamat bank, serta nomor telepon/ponsel yang bisa dihubungi. &lt;br /&gt;Naskah yang masuk akan dinilai oleh tim editor Forum Penulis Kota Malang. Bagi naskah yang layak terbit, namun membutuhkan revisi atau penyempurnaan, akan diberitahukan letak kekurangannya. Akan lebih baik bila setelah Anda mengirimkan naskah, Anda berkonsultasi secara langsung dengan Forum Penulis Kota Malang pada saat pertemuan rutin FPKM yang diselenggarakan setiap 2 minggu sekali (lihat jadwal pertemuan di http://klipingfpkm.multiply.com).  Seleksi naskah berlangsung cukup ketat, dan hanya naskah-naskah yang baik kualitas isi maupun cara penyajian dan penulisannya yang akan dipertimbangkan untuk diajukan kepada editor senior Penerbit Gramedia Pustaka Utama di Jakarta. Bila naskah Anda pada seleksi akhir dinilai cukup layak untuk terbit oleh rapat dewan redaksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama, maka naskah yang terpilih akan dibuatkan surat kontrak penulisan yang akan dikirimkan ke alamat si penulis naskah untuk selanjutnya ditandatangani. Setelah menandatangani surat kontrak penulisan (bila naskah Anda disetujui untuk diterbitkan), selambat-lambatnya 2 bulan setelah penandatanganan surat kontrak penulisan, Anda sudah harus mengirimkan naskah lengkap berupa softcopy, maupun foto-foto pendukung dalam bentuk CD atau DVD ke redaksi non fiksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama di Jakarta. Pengiriman softcopy maupun hardcopy hendaknya dibungkus rapi dalam kemasan plastik dan dimasukkan ke dalam amplop tertutup, kemudian dipaketkan menggunakan jasa kurir TIKI ke alamat Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Prosedur dan aturan serta informasi selanjutnya akan diberitahukan kemudian oleh pihak penerbit di Jakarta.  &lt;br /&gt;Semua konsultasi dan tanya jawab tentang naskah tidak dipungut biaya alias gratis.  Forum Penulis Kota Malang hanya berperan sebagai literary agent (agen penampung dan penyalur naskah), keputusan akhir tetap berada pada hasil keputusan rapat redaksi editor non fiksi dan departemen marketing Penerbit Gramedia Pustaka Utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;EKSPEDISI&lt;br /&gt;Oleh: Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara dahan dan ranting berderak-derak, diiringi suara angin yang mendengung-dengung keras. Petir menggelegar bersahut-sahutan. Bunyinya sungguh memekakkan telinga. Sudah tiga jam hujan badai ini berlangsung. Tubuhku menggigil kedinginan. Basah kuyup. Perjalananku menembus hutan belantara ini tak kunjung berakhir. Hutan ini demikian luas. Untunglah aku menemukan gua ini, walau letaknya agak tersembunyi. Walau sedikit terlambat, karena tubuhku sudah terlanjur basah kuyup, namun setidaknya aku bisa berteduh sejenak sambil melepas lelah di tengah hujan badai ini. Di luar, hari sudah gelap. Sosok-sosok pepohonan hutan tak ubahnya bagaikan sosok-sosok raksasa mengerikan yang tinggi menjulang. Suasana begitu senyap. Yang terdengar hanyalah suara hujan dan sesekali diiringi oleh petir menggelegar yang bersahut-sahutan. Kembali aku menggigil. Malam ini begitu dingin. &lt;br /&gt;Aku berusaha menggosok-gosokkan telapak tanganku ke kedua lenganku agar sedikit lebih hangat. Jaketku yang basah sudah aku lepaskan sejak tadi. Pelan-pelan aku meraba dalam gelap, mencari lampu senter yang kusimpan di dalam tas ranselku. Oh, syukurlah masih bisa hidup walau dalam keadaan basah. Kusorotkan cahaya senterku ke berbagai arah. Gua ini ternyata begitu luas dan besar. Tampak stalagtit-stalagtit berukuran besar di sana-sini. Lantai gua tidaklah datar namun cenderung menurun dan cukup terjal. Pelan-pelan aku melangkahkan kaki menyusuri lorong-lorong gua sambil sesekali menyalakan korek api, siapa tahu cadangan oksigen tidak banyak dalam gua ini. Ternyata nyala api tetap menyala-nyala di ujung pemantik apiku. Jadi kupikir aku aman-aman saja. Lorong ini tak kunjung berakhir dan bahkan kutemui begitu banyak persimpangan ke lorong-lorong yang lebih sempit. Daripada tersesat, kuputuskan untuk kembali saja ke tempat dimana aku tadi duduk-duduk di dekat mulut gua. Dengan sedikit malas, kulangkahkan kakiku kembali menuju tempat yang tadi. &lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil-manggilku. Makin lama suaranya makin keras dan menggaung. Pantulan suaranya terdengar bersahut-sahutan. Aku terhenyak kaget. Buru-buru aku nyalakan lampu senterku dan kusorotkan ke berbagai arah. Tidak ada siapa-siapa. Lalu dari mana arah suara itu. Ataukah semua ini hanyalah sekedar ilusi saja. Bulu kudukku merinding. Mungkinkah suara wanita yang memanggil-manggilku itu adalah suara penunggu gua ini. Langsung saja aku berlari meninggalkan tempat itu, menuju ke dekat pintu masuk gua. Syukurlah aku masih ingat jalan menuju tempat itu dan tidak tersesat. Kuselonjorkan kakiku yang letih saat aku duduk bersandar di dinding gua. Karena capek akhirnya aku terlelap. Entah sudah berapa lama aku tertidur, saat kudengar seseorang memanggil-manggil namaku. Suara itu terdengar sangat jauh dan samar-samar. Kucoba membuka mataku. Rasanya berat sekali. Tidak! Pasti suara itu hanyalah sekedar imajinasiku saja, atau mungkin aku sedang bermimpi. Kucoba untuk tidak menghiraukan suara itu. Aku kembali terlelap untuk beberapa saat. Semuanya serba gelap. Aku seakan mati suri. &lt;br /&gt;Tubuhku memang sangat letih setelah seharian menjelajahi hutan belantara bumi Papua ini. Semuanya diawali oleh proyek penelitian tanaman langka yang sedang aku teliti bersama teman-temanku. Mungkin tanaman itu adalah salah satu dari sekian banyak tanaman purba yang masih hidup lestari hingga sekarang setelah berjuta tahun mengalami evolusi. Akhirnya kami berlima pun berangkat ke Papua. Aku dan keempat temanku yang semuanya peneliti. Berminggu-minggu kami menjelajahi sudut-sudut hutan belantara yang ada di Papua. Rombongan kami ditemani oleh tiga orang pemandu jalan. Sekedar berjaga-jaga agar kami tidak tersesat. Namun belum juga menemukan tanaman langka yang kami cari. Rencananya kami akan mencatat setiap detil morfologi maupun berbagai aspek kajian fisiologi tanaman langka tersebut begitu kami menemukannya.  Kalau saja tadi aku tidak memisahkan diri dari rombonganku, tentu aku tidak akan tersesat seperti ini. Semakin masuk ke dalam hutan, semakin besar kemungkinan untuk tersesat bila tidak tahu jalan. Telepon satelit yang aku bawa dalam tas ranselku tampaknya sudah rusak akibat kemasukan air hujan. Maka lengkaplah penderitaanku. Tersesat tanpa alat komunikasi sebagai satu-satunya penyelamat hidupku. Untunglah aku menemukan gua ini, sehingga aku bisa berteduh. &lt;br /&gt;Tiba-tiba kudengar lagi suara pria yang memanggil-manggil namaku. Kali ini suara itu terdengar lebih dari satu. Mereka memanggil namaku beramai-ramai. Tapi entah suara itu berasal dari mana. Kulihat di sekelilingku. Tidak ada seorang pun di sana. Lalu darimana datangnya suara-suara itu. Tiba-tiba tubuhku dan sekelilingku berguncang. Suara-suara itu semakin keras terdengar. Guncangan itu semakin keras, dan tiba-tiba dadaku serasa sesak seperti dihantam oleh sebuah benda berat dengan kecepatan tinggi. Aku jatuh terlentang. Benda apakah itu, yang menghantam dadaku demikian keras? Belum sempat aku bangkit, dadaku kembali dihantam oleh benda berat itu. Kali ini seluruh tubuhku serasa bergetar dan seperti dialiri listrik yang menjalar ke setiap pembuluh darahku. Kepalaku pening, serasa dipukul oleh sebuah palu godam yang cukup besar. Tiba-tiba terdengar lagi suara-suara itu. Makin lama makin keras. &lt;br /&gt;"Ayo bangun kawan! Bernapaslah!"&lt;br /&gt;"Ya, Tuhan semoga belum terlambat!"&lt;br /&gt;"Kita ulangi lagi. Satu, dua, tiga!"&lt;br /&gt;Tubuhku kembali bergoncang. Sesuatu itu kembali menghantam dadaku demikian keras. Kepalaku pening. Kali ini aku merasakan sesuatu yang aneh di sekujur tubuhku. Darahku serasa bagaikan mengalir kembali ke setiap pembuluh darahku. Kembali terdengar suara-suara itu yang semakin keras terdengar.&lt;br /&gt;"Har, bangun! Ayolah teman, sadarlah!"&lt;br /&gt;"Jangan menyerah, teman. Hidup ini masih indah. Masih banyak yang harus kita lakukan bersama-sama!"&lt;br /&gt;"Sepertinya mulai ada respon!"&lt;br /&gt;"Lihatlah, bola matanya bergerak-gerak!"&lt;br /&gt;Tiba-tiba pipiku terasa panas, seperti ditampar berulang kali.&lt;br /&gt;"Ayo bangun!"&lt;br /&gt;"Har, bangunlah! Jangan seperti ini!"&lt;br /&gt;"Lihat, dia mulai sadar!"&lt;br /&gt;Pelan-pelan kubuka mataku. Kepalaku masih terasa pening. Cahaya lampu yang menyilaukan menyoroti mataku.&lt;br /&gt;"Di manakah aku?" gumamku.&lt;br /&gt;"Syukurlah akhirnya kau sadar juga! Kau berada di rumah sakit, teman! Untunglah semuanya belum terlambat saat kami menemukanmu!" kata Kukuh, salah satu rekanku yang juga turut menyertaiku dalam ekspedisi Papua kali ini.&lt;br /&gt;"Kaukah itu, Kukuh?" jawabku lemah.&lt;br /&gt;"Ya, ini aku, teman," katanya kemudian. "Di sini juga ada David, Sismanto, dan juga Muchlis, teman-teman kita dalam ekspedisi Papua ini. Juga ada Bu dokter Lutfi yang tadi berulang kali berusaha menyadarkanmu dengan alat pacu jantung saat jantungmu berhenti berdenyut."&lt;br /&gt;"Oh, itukah yang terjadi?" tanyaku lemah. "Mengapa aku bisa berada di sini?" &lt;br /&gt;"Ceritanya panjang. Nanti saja aku ceritakan. Sekarang sebaiknya kau beristirahat dulu beberapa saat," kata David sambil mengedipkan mata kepada yang lain agar tidak terlalu banyak berkata-kata.&lt;br /&gt;Aku pun kembali tidur. Kali ini aku bermimpi tentang lembah subur nan hijau yang dipenuhi kupu-kupu. Kali ini suasana terasa begitu damai. Tidak ada lagi suara-suara aneh. Tubuhku tidak lagi menggigil seperti tadi. Cukup lama aku tertidur, hingga aku terbangun keesokan harinya akibat sinar matahari pagi yang menerpa wajahku.&lt;br /&gt;"Selamat pagi," sapa seorang suster cantik yang saat itu datang untuk memeriksa tekanan darahku dengan menggunakan tensimeter dan stetoskop. "Syukurlah kondisi Anda sudah membaik, Pak Haryo."&lt;br /&gt;"Apa yang terjadi hingga aku bisa berada di rumah sakit ini?" tanyaku.&lt;br /&gt;Suster itu hanya tersenyum. "Biarlah teman-teman Anda saja yang menceritakannya pada Anda."&lt;br /&gt;Wanita itu tampak serius mencatat sesuatu dalam buku jurnal kecilnya. Mungkin catatan harian perkembangan kesehatan pasien, demikian pikirku.  Di lengan kiriku tertancap jarum dan selang infus. Apa yang terjadi padaku, pikirku bingung. Mengapa aku bisa berada di rumah sakit ini.&lt;br /&gt;Suster cantik itu pun mengangguk sambil tersenyum dan berkata,"Nah, itu teman-teman Anda sudah datang. Sebaiknya saya mengunjungi pasien-pasien yang lain. Saya senang, Anda akhirnya bisa pulih kembali, walau masih harus banyak beristirahat."&lt;br /&gt;Suster itu pun melangkah pergi. Di balik pintu terlihat teman-temanku. Mereka tampak berseri-seri dan terlihat lega.&lt;br /&gt;"Syukurlah kau akhirnya sadar juga! Kami ketakutan setengah mati!" kata Sismanto yang langsung mengacak-acak rambutku dengan gayanya yang kocak.&lt;br /&gt;"Dua hari koma dan tak sadarkan diri. Sungguh mengerikan!" sahut Muchlis mengomentari.&lt;br /&gt;"Dua hari ? Selama itukah aku mengalami koma ?" tanyaku seakan tak percaya.&lt;br /&gt;"Ya. Saat perjalanan itu, kami kebingungan saat tiba-tiba kau menghilang dari rombongan kami. Akhirnya kami pun memutuskan untuk mencarimu hingga ketemu. Tiga hari kami mencarimu tanpa kenal lelah, hingga akhirnya kami berhasil menemukan tanaman purba itu, sekaligus menemukanmu dalam kondisi mengenaskan!" jelas Sismanto.&lt;br /&gt;"Sangat mengenaskan!" sahut David menyambung perkataan Sismanto.&lt;br /&gt;"Tubuhmu penuh berlumuran lendir berwarna kuning. Mungkin itu semacam getah yang menimbulkan efek tidak sadar dan mengakibatkan halusinasi. Tangan dan kakimu dibelit oleh cabang dan sulur-suluran tanaman purba itu. Kau berada di semacam lubang celah yang merupakan mulut dari tanaman anggrek purba berukuran raksasa itu. Tampaknya tanaman purba itu berusaha mencerna tubuhmu perlahan-lahan dengan getah kuning menyerupai lendir yang juga menimbulkan efek halusinasi. Lihatlah luka-luka di sekujur tubuhmu. Selain berusaha mencerna tubuhmu hidup-hidup, tanaman purba itu juga menghisap darahmu pelan-pelan dengan sulur-suluran dan cabang-cabang tanaman itu yang memiliki tipe seperti mulut penghisap. Itulah sebabnya tubuhmu menggigil kedinginan dan akhirnya tidak sadarkan diri."&lt;br /&gt;Aku hanya terpana mendengar penjelasan panjang David. &lt;br /&gt;"Jadi akhirnya ekspedisi kita berhasil menemukan tanaman anggrek purba itu?" tanyaku seakan tak percaya.&lt;br /&gt;"Ya, dan kau hampir saja menjadi santapannya, kalau kami tidak segera menemukanmu," sahut Sismanto dengan ekspresi wajah sedikit ngeri.&lt;br /&gt;"Tanaman anggrek purba itu berbentuk menyerupai tanaman kantong semar, hanya bentuknya sedikit berbeda, berukuran cukup besar, lebih besar dari manusia, dan berada di dekat tanah sehingga lebih mudah menangkap mangsa. Cabang dan sulur-sulurannya cukup banyak dan tampaknya itulah yang membelit tubuhmu. Untunglah kami membawa gergaji elektrik sehingga dengan mudah kami menyelamatkanmu dengan membunuh tanaman itu terlebih dulu. Dan syukurlah kami cukup berhati-hati sehingga kami tidak menjadi mangsa berikutnya dari tanaman-tanaman purba yang hidup secara berkelompok di hutan pedalaman Papua ini," jelas Kukuh.&lt;br /&gt;"Untung ada lebih dari satu tanaman yang masih hidup, sehingga nanti masih bisa diteliti lebih lanjut. Kami telah mengirimkan potongan-potongan spesimen tanaman yang mati ke kantor pusat riset kita sebagai bukti, dan mereka tampak sangat gembira dengan keberhasilan ekspedisi ini. Tim lain sedang menuju ke sini untuk meneruskan pengamatan dan penelitian lanjutan mengenai spesies langka tanaman purba ini."&lt;br /&gt;Semuanya mengangguk mengiyakan. &lt;br /&gt;"Yang penting, akhirnya kita semua selamat!" kata David.&lt;br /&gt;"Ya, itulah yang terpenting. Apa gunanya ekspedisi kita berhasil kalau kita harus kehilangan seorang sahabat," sahut Muchlis.&lt;br /&gt;"Sahabat?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Maksudnya itu kamu, tolol!" kata Sismanto sambil bergurau.&lt;br /&gt;Yang lain hanya tertawa. Aku pun tertawa kecut sambil mengenang bahwa nyawaku hampir saja melayang gara-gara ekspedisi nekad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;SUARA-SUARA ITU&lt;br /&gt;Oleh: Lutfi Fadila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latif berpikir dia mengalami gangguan otak serius. Setiap kali memasuki kamarnya dan merebahkan diri, didengarnya lamat-lamat suara dari alam bawah sadarnya.&lt;br /&gt;“Aku terpajang di koran. Skripsi pasti bisa dibukukan!”&lt;br /&gt;Awalnya dia mengira itu sebuah lamunan mimpi. Tapi tidak mungkin sebuah mimpi terus berulang membayang kesehariannya. Tiap pagi, siang, malam, suara-suara itu mengganggu ketenangan istirahatnya. Acap kali membaca, merenung, menulis, suara-suara itu membuyarkan konsentrasinya. Pikirannya jadi terpecah, tak terarah sampai yang ditemuinya hanyalah coretan-coretan kosong. Berlembar-lembar makianlah yang mampu dia tuangkan sebagai peredam kekesalan.&lt;br /&gt;Latif berpikir kejadian ini sudah terlalu parah. Dia mencoba berganti kamar dengan tetangga kamar kosnya untuk sekedar meluruskan simpul-simpul otak. Alasan yang diberikannya kepada Feri hanya karena dia ingin ganti suasana. Jika dia memberitahukan alasan sesungguhnya, temannya itu pasti menganggapnya harus sesegera mungkin mendapatkan penanganan profesional dokter jiwa.&lt;br /&gt;Ketika memulai meditasi di kamar Feri pada malam hari, memang suara-suara itu tidak terdengar. Suasana menjadi sangat tenang, tanpa dengungan suara dan mampu mengantarnya pada alam mimpi yang melenakan. Namun kebisuan ruang itu malah melemahkan debar jantungnya, memperlambat desiran darah di sekujur tubuhnya yang telentang tak beraktivitas. Dia merasa ada yang salah dengan ruang itu. Bungkamnya kata-kata yang biasa menyerbu setiap sudut kamarnya seperti membunuh ruang gerak otak dan melumpuhkan gerak syaraf jari tangannya yang biasa menari di atas robekan-robekan kertas yang meski sering kali berakhir di ujung meja dan tersebar di lantai kamar.&lt;br /&gt;Belum tamat sinar pucat purnama membelah langit, Latif sudah kembali merenung dalam kamarnya sendiri yang penuh tempelan koran, tabloid dan majalah. Dipandanginya setiap senti dinding yang penuh ketikan namanya di pojok kanan bawah atau di bawah judul masing-masing artikel, cerpen serta resensi yang pernah dia tulis dan dimuat di koran. Dengan jengkel sekaligus bertanya-tanya, dia rebah dan menyimak suara-suara yang mau tidak mau dia paksa untuk akrab di telinganya.&lt;br /&gt;Sejak tiga tahun yang lalu dia mulai ketagihan dalam kegiatan tulis menulis dan dengan membabi buta menempel-nempelkan guntingan koran yang memuat karyanya. Selain untuk menyemarakkan kamarnya yang terlalu didominasi warna putih, dengan sedikit narsis dia ingin menunjukkan kepada dirinya sendiri bahwa dia ada karena menulis. Dengan begitu, semangat menulisnya akan terus terpacu dalam setiap hirupan kata-kata yang mengalir menuju otak dan meneruskannya ke ujung jari-jemarinya. Dan dia menyadari, tepat sebulan yang lalu suara-suara itu semakin parah menggelitik kuping dan membakar ubun-ubun. Biar bagaimanapun, suara itu tidak asal berbisik kosong, namun mengandung ejekan tajam.&lt;br /&gt;Menurut jadwal kalender akademiknya, sudah dua tahun yang lalu seharusnya dia telah menyelesaikan skripsi, wisuda, menenteng ijasah, dan bekerja di perusahaan bergengsi seperti teman-teman seangkatannya. Namun, saat ini gelar mahasiswa masih disandangnya karena sebuah tugas yang belum terjamah: skripsi.&lt;br /&gt;Tapi dia tidak pernah ambil pusing ketika ditanya teman-teman lama maupun adik-adik tingkatnya tentang apa kegiatannya saat ini. Jawaban entengnya adalah, “Aku menulis. Kalian tunggu saja nanti karya-karya masterpiece-ku!”. Ketika dirong-rong orang rumah kapan lulusnya, dia berkelit, “Sebagai mahasiswa itu enak, aku sering masuk koran.”&lt;br /&gt;Jika diamati dari kebanyakan guntingan koran miliknya, rubrik suara mahasiswa dan kolom aktivis-lah yang saling berjejalan di dinding, memamerkan nama penulis dengan embel-embel universitas bergengsi tempatnya kuliah.&lt;br /&gt;Namun mulai tiga bulan yang lalu, kegundahan merayapi benaknya. Jika terus menerus menempelkan gelar mahasiswa di belakang namanya selama tiga tahunan ini, para editor akan mencap-nya sebagai mahasiswa abadi. Dan itu bukan gelar yang cukup membanggakan. Itulah mengapa dia mulai mensubtitusi gelar di belakang namanya dengan kata aktivis, penulis lepas, atau embel-embel umum lainnya dalam tulisan-tulisannya.&lt;br /&gt;Kegundahannya hingga kini semakin menjadi-jadi, tulisannya tidak sesering dulu dimuat, honorpun semakin seret. Pikirannya melayang pada masa depan yang tampak suram. Skripsi mandeg, ijasah belum punya, pun bayang-bayang DO tidak bisa dihindarkan. Latif makin dalam termenung dalam kamarnya dan meresapi bisikan-bisikan yang mulai mengontaminasi otaknya.&lt;br /&gt;“Aku terpajang di koran. Skripsi pasti bisa dibukukan!”&lt;br /&gt;Latif melonjak terduduk, seakan didatangi seratus dosen pembimbing yang siap menginvestigasi.&lt;br /&gt;“Skripsi…skripsi…apa untungnya menulis skripsi untukku? Dibuat buku pun tak akan laku!” bisiknya geram sambil mengepalkan kedua tangannya hingga menonjolkan vena dan arteri di punggung dan pergelangan tanggannya.&lt;br /&gt;“Pak Nanang!” Sekali lagi dia melonjak. Namun kali ini lonjakannya antara senang dan ragu seperti seorang penulis yang telah menandatangani kontrak dari penerbit. Dia bergegas menuju kampus dengan tujuan bertemu dosen pembimbing yang sudah satu setengah tahun dia asingkan.&lt;br /&gt;Pukul setengah satu siang, kampus masih ramai, tapi ruang dosen sepi. Kebanyakan masih ishoma.&lt;br /&gt;Ketika berjalan ke kantin untuk mencari-cari adakah teman-teman seangkatannya yang masih berkeliaran di situ, beruntung dia bertemu Pak Nanang yang sedang melihat daftar menu pesanan.&lt;br /&gt;“Pak Nanang, punya waktu sebentar?”&lt;br /&gt;“Latif, mana skripsimu?” sapa dosen muda yang cuek dan baru punya anak satu yang katanya lucu sekaligus nakal itu, serta merta setelah melihat penampakan Latif yang tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Masih dalam proses, Pak,” Latif berkilah.&lt;br /&gt;“Males tenan kamu itu,” gurau Pak Nanang membuat Latif tersenyum kecut, “Kalau mau bereksperimen tentang tulisan yang hendak kau geluti, nanti saja kalau sudah lulus. Lebih bebas dan banyak waktu untuk mengejar idealismemu.”&lt;br /&gt;Latif tersedak liurnya sendiri karena komentar Pak Nanang yang menyentil kegelisahannya. Dia juga tau dosen pembimbingnya itu lebih berpengalaman soal ilmu coba-coba karena memang beliau amat suka bereksperimen dalam bidang pendidikan. Sebagai seorang yang telah memiliki gelar Sarjana Sastra, dia berhasil mencoba peruntungan eksperimentasinya ketika mengejar gelar Master di bidang Komputer.&lt;br /&gt;Sekarang pun dia sedang terobsesi membuat penelitian-penelitian yang hendak dia ajukan sebagai syarat mengejar program Doktoral, entah untuk bidang lain apa lagi.&lt;br /&gt;“Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan, Pak. Berkenaan tentang skripsi juga,” Latif terdiam sejenak mencari kata-kata yang sopan namun langsung menuju topik yang disinggungnya, “Saya benar-benar bingung, gunanya membuat skripsi itu apa, to Pak?”&lt;br /&gt;Pak Nanang tersenyum lebar, “Begitu saja kok bingung, Latif! Skripsi itu sebagai tugas akhir yang pengerjaannya bersifat ilmiah. Tujuannya ya untuk mengilmiahkan pikiran calon intelektual muda dalam kehidupan nyata. Bagaimana berpikir rapi merumuskan masalah, menciptakan tujuan, dan melangkah sesuai kerangka pikir realistis.”&lt;br /&gt;“Sepertinya kok, terdengar teoretis dan kurang riil. Bagaimana kalau saya usul skripsi diganti menulis novel saja, Pak? Dalam bidang sastra, mahasiswa akan lebih tertantang menulis novel daripada membuat sebuah penelitian yang tidak terlihat manfaatnya. Kalau dalam bentuk novel, bisa dibukukan dan menghasilkan uang. Lumayan Pak, untuk biaya nikah!” Latif berargumentasi dengan semangat membara ketika menemukan sebuah tujuan untuk menulis&lt;br /&gt;Pak Nanang tidak tertawa. Sorot matanya tampak serius, malah.&lt;br /&gt;“Ada pikiran bahwa karya kreatif populer berbeda dengan karya ilmiah. Sampai tahap tertentu mungkin benar,” Pak Nanang berucap pelan-pelan mengeluarkan pemikirannya atas pertanyaan mahasiswa yang mungkin belum pernah dia dengar sebelumnya, “sebaliknya saya berpikir bahwa karya ilmiah sampai tahap tertentu juga merupakan hasil kreatifitas. Interpretasi dan penilaian atas karya sastra sama subyektifnya dan subversifnya dengan karya itu sendiri. Betul tidak?”&lt;br /&gt;Latif tidak menggeleng ataupun mengiyakan pernyataan Pak Nanang. Otaknya masih mencoba mencerna perkataan dosen antik di depannya yang masih terus berlanjut.&lt;br /&gt;“Letak skripsi menjadi penting, karena itu adalah langkah awal untuk bisa membedah sebuah karya secara kritis. Kemampuan menengarai ini akan membantu kamu jadi penulis yang baik nantinya. Kita tidak akan pernah membuat sebuah karya yang baik tanpa keterampilan membaca dan interpretasi yang cukup. Jadi, tulislah skripsi dan adaptasi gaya kamu memahaminya. Jika analisismu nanti sudah selesai, bisa juga kamu permak menjadi sebuah karya tulis populer.”&lt;br /&gt;Latif melongo. Dia kehilangan banyak kata untuk berargumentasi. Sebagian dari dirinya menganggap upayanya tadi meminta persetujuan membuat skripsi dalam bentuk yang lebih dia kuasai, gagal total. Tapi sebagian darinya yang lain meresapi kata-kata yang diucapkan dosennya itu.&lt;br /&gt;Ketika kembali memenjarakan diri di kamar, pertarungan di otaknya tak dapat dielakkan. Di satu sisi dia ingin menjadi penulis yang bisa menulis di segala jenis tulisan. Di sisi lain dia merasa kesulitan membuat tulisan ilmiah.&lt;br /&gt;Dia memilin otak bagaimana caranya menyelesaikan skripsi tanpa banyak terbentur teori ilmiah yang memusingkan. Kisikan dunia luar yang serba instan mulai menggoyahkan batin untuk mencari jalan pintas. Dia teringat tawaran dari tetangga kos yang tampak sangat menggiurkan, pesan skripsi sekarang besok langsung seminar. Dia menimbang-nimbang tawaran itu.&lt;br /&gt;Namun suara-suara dari dinding kamarnya masih terus merajam gendang. Kenyataan bahwa dia sedang meniti karir sebagai seorang penulis, membuyarkan tawaran tersebut. Bagaimana mungkin seorang penulis tidak mampu menulis skripsinya sendiri!&lt;br /&gt;Latif bergeming menatap proposal skripsinya dua tahun yang lalu. Suara-suara itu malah semakin menusuk-nusuk didengar, membuatnya jadi frustrasi. Otaknya buntu tanpa lubang setitik lampu. Tangannya terlalu kaku untuk menggenggam pena menorehkan sebaris analisa. Tetapi suara-suara itu tetap nyaring bergema mendidihkan ubun-ubunnya.&lt;br /&gt;“DIAM SEMUA!” jerit Latif menggila. Telinganya dia sumbat dengan jari-jari telunjuk menciptakan senyap.&lt;br /&gt;Sebelum sempat dia mengatur nafasnya, kembali terdengar dzikir rancak mengikuti alunan degup jantungnya, skripsi…skripsi…skripsi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;KERUDUNG UNTUK CUCUKU&lt;br /&gt;Oleh: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku berharap mati di Mekah. Tapi, di sinilah aku berada: di bandara Juanda. Ya, aku kembali ke tanah airku! Dari bandara Juanda aku menuju ke Malang, kotaku. Sebenarnya, bisa dikata, tidak ada lagi yang kurindukan di kota Malang. Istriku telah tiada, anak-anakku telah berpencaran ke luar kota. Hari-hariku kerap dirundung sepi.&lt;br /&gt;Namun, di Malang, aku beruntung memiliki seorang cucu yang sangat sayang padaku. Ia tinggal denganku. Usianya baru 9 tahun, namun ia sangat lemah-lembut dan murah hati. Ayahnya, yang adalah anakku, bekerja di Sidoarjo. Ia seminggu sekali baru pulang ke Malang. Istrinya, ibu cucuku itu, telah meninggal tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;Tiap sore aku mengantar cucuku ke masjid dekat rumah. Ia suka sekali mengaji. Sebenarnya bisa saja ia berangkat dengan kawan-kawannya berjalan kaki, namun aku suka melihat bibirnya komat-kamit menyuarakan ayat-ayat suci Qur'an dari teras masjid. Daripada aku menonton tivi di rumah yang menyiarkan berita dan acara pembikin pusing, aku memutuskan untuk menemani cucuku.&lt;br /&gt;Aku amat menyesal begitu mendapat keputusan ada dua koperku yang tidak diikutkan dalam bagasi pesawat yang membawaku pulang dari Mekah. Ya, sebabnya aku telah kelebihan muatan. Di antara semua barang yang termuat di salah satu koper itu, aku paling menyesal tak membawa sebuah kerudung untuk cucuku: kerudung berwarna biru muda, dengan renda-renda putih dan ungu berbentuk bunga yang cantik di sepanjang tepiannya.&lt;br /&gt;Sebelum berangkat ke Mekah, aku berjanji membawa oleh-oleh hanya untuk satu orang saja. Aku telah berjanji membawakan kerudung dari Mekah untuk cucuku. Matanya berbinar demi mendengar kata-kata "kerudung dari Mekah". Tampaknya, tiga kata itu ajaib benar baginya. Suatu ketika ia berkata padaku, "Kek, kata guru ngajiku, ada kemuliaan di Mekah; ada rasa haus dan lapar akan Allah di sana."&lt;br /&gt;Aku manggut-manggut, mengiyakan apa yang ia katakan. "Kemuliaan", "rasa haus dan lapar", tampaknya menjadi kata-kata yang benar-benar menawan benak cucu kecilku itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aduh... sayang sekali! Cucuku itu..., ah, kerudung untuknya itu, tertinggal! Aku begitu susah mengusir gelisah yang menaungi batinku di hari-hari yang kulewati di tanah air ini setelah kembali dari Mekah. Kerudung terbaik yang kupilihkan untuknya, bagaimana ya nasibnya kini? Aku sering menyesali: Kenapa tidak kumasukkan saja kerudung itu dalam tas yang selalu kutenteng ke mana-mana? Kenapa ia kusatukan dengan air zam-zam, kurma, dan beberapa oleh-oleh lain yang tidak penting di koper itu?&lt;br /&gt;Ah! Kenapa aku makin pikun? Kenapa aku begitu bodoh... kenapa aku makin tua? Hatiku didera pilu ketika melihat cemberut di wajah cucuku selama beberapa hari karena kealpaanku.&lt;br /&gt;Mekah yang kurindukan menjadi pelabuhan terakhirku tak kesampaian. Aku didaulat oleh Allah untuk kembali ke tanah air. Dan harapan terbesarku kembali lagi di sini dari sana hanyalah melihat cucuku itu berkerudung dengan kerudung bawaanku. Harapan itu pupus. Mungkin, aku orang tua yang picik. Namun inilah aku, dan itulah harapanku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucuku tertidur pulas malam ini. Ia sudah tak pernah cemberut lagi.&lt;br /&gt;Anakku, ayah cucuku itu, baru saja datang dari Sidoarjo. Ia kuatir dengan kondisi kesehatanku. "Besok kita ke dokter ya, Pak. Sudah tiga minggu sejak pulang dari tanah suci, kalau aku di sini, Bapak kelihatannya jarang tidur kalau malam, dan terus-menerus batuk."&lt;br /&gt;Aku hanya diam menanggapi usulnya. Aku berdehem kecil, berupaya menghilangkan kegamangan yang kurasa merambat di udara sekitar kami duduk.&lt;br /&gt;"Sudahlah, Pak. Kerudung untuk Tanti tidak usah dipikirkan lagi. Dia sudah tidak mempersoalkannya kok. Bapak bisa membelikan kerudung yang...."&lt;br /&gt;"Ehhhmmm... ehhhmmm...!" Kusuarakan batukku dengan keras. Anakku tahu, kalau sudah begitu, tandanya aku tak mau mendengar apa pun yang ia katakan.&lt;br /&gt;Namun, aduh, batukku ini, makin lama kok makin keras sih? Aku rasa aku harus berhenti bercerita sebentar.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allahu akbar... Allahu akbar...." Suara adzan menggema dengan nyaring dan khidmat. Aku memasang telinga untuk suara-suara lain yang mungkin terdengar di sekelilingku. Aku membuka mataku perlahan-lahan. Oh, tak ada orang di sini!&lt;br /&gt;"Allahu akbar... Allahu akbar...." Lho, ternyata, aku sedang mendengar suaraku sendiri! Aku sedang menggemakan adzan.&lt;br /&gt;Dan aku kini berada di dalam ruangan masjid yang selalu kutandangi tiap sore. Masjid yang sepi. Tak ada seorang pun di sana, kecuali aku. Aku melanjutkan mengumandangkan adzan.&lt;br /&gt;Dan kemudian aku mendengar sebuah suara langkah kaki ketika adzan usai.&lt;br /&gt;Aku menoleh ke belakang.&lt;br /&gt;Cucuku! Ia memakai kerudung biru muda itu! "Tanti... cucuku!"&lt;br /&gt;Aku tak bisa melangkah menggapai dirinya yang kini sedang hendak duduk lalu membuka Qur'an.&lt;br /&gt;"Tanti..., Tan...."&lt;br /&gt;Aku pun bersujud, memohon kepada Allah agar diperkenankan menjamah dan memeluk cucuku itu. Ia terus mengaji, mengucapkan dan melantunkan ayat-ayat suci dengan suara mungilnya yang bening.&lt;br /&gt;Setelah selesai, ia menutup Qur'an itu, lalu memandangi lukisan Ka'bah yang ada di salah satu dinding masjid. "Allahu akbar. Rasa haus dan lapar akan Allah, dan kemuliaan, semoga kakek selalu memilikinya, ya Allah...."&lt;br /&gt;Aku yang kini sedang bersujud sambil mencoba merangkak, mulai terbujur kaku. Beberapa kejap, sekali lagi kulihat lukisan Ka'bah yang megah itu sebelum mataku tertutup. Dengan cara yang sulit kujelaskan, aku seperti dibawa masuk ke dalam lukisan itu. Dan kemudian...&lt;br /&gt;: Aku ditakdirkan untuk berhenti bercerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar FPKM: "Salut buat Mas Sidik yang memiliki empati dan rasa toleransi tinggi antar umat beragama. Mas Sidik yang  beragama Nasrani, mampu membuat karya cerpen bernuansa Islami yang demikian menyentuh kalbu. Andai di negeri ini ada banyak orang seperti Mas Sidik yang memiliki rasa toleransi, solidaritas dan empati yang tinggi antar umat beragama, tentu Indonesia akan menjadi sebuah negeri yang lebih baik, negeri dengan paham demokrasi Pancasila yang dipenuhi jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang pluralis, multikulturalis, tentram dan damai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;KOMPROMI&lt;br /&gt;Oleh: David Ardyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa berat terbang dengan sayap kejujuran&lt;br /&gt;Betapa resah tidur berselimut kesalahan&lt;br /&gt;Namun apa yang hendak kita lakukan selain kompromi dengan mereka?&lt;br /&gt;Karena mereka adalah jaring yang biasa kita gunakan untuk menangkap ikan-ikan&lt;br /&gt;Semua telah ditataNya dengan baik&lt;br /&gt;Hanya ketidakmengertian dan keterbatasan kita hingga menganggapnya sebagai hal yang kurang baik&lt;br /&gt;Sang Penata punya pekerjanya sendiri yang tak meminta satu sen pun bayaran atas apa yang telah ia lakukan&lt;br /&gt;Tak ada yang dapat kita diskusikan dengan para pekerjaNya, karena mereka terlalu profesional untuk sebuah kompromi&lt;br /&gt;Maka,&lt;br /&gt;kitalah yang harus berkompromi dengan diri sendiri atas segala sesuatu yang telah ditataNya...&lt;br /&gt;Kabut berselimut&lt;br /&gt;Malam kian pekat&lt;br /&gt;Berbaringlah dengan kelembutan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;MERAIH&lt;br /&gt;Oleh: Fikrul Akbar Alamsyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buai malam, genggam aku segera&lt;br /&gt;Selimuti aku dengan dinginmu&lt;br /&gt;Agar aku menemui esok yang lebih cerah&lt;br /&gt;Dan bisa bergerak seperti sedia kala&lt;br /&gt;Menjalani waktu&lt;br /&gt;Menjalani hari&lt;br /&gt;Dan tak ingin untuk berhenti&lt;br /&gt;Bersama terus memacu&lt;br /&gt;Tunjukkan arti sebuah kata&lt;br /&gt;Tak berarti tanpa usaha&lt;br /&gt;Tunjukkan sebuah usaha&lt;br /&gt;Tak berarti tanpa kata-kata&lt;br /&gt;Keduanya saling berhubungan&lt;br /&gt;Dan juga saling berkaitan&lt;br /&gt;Tak bisa jika hanya usaha&lt;br /&gt;Karena kan tak jelas akan kemana&lt;br /&gt;Buai malam&lt;br /&gt;Beri aku belainmu&lt;br /&gt;Tunjukkan aku bintangmu&lt;br /&gt;Agar aku segera tertidur dan menjalani mimpi bersamamu&lt;br /&gt;Memuali awal dan semangat yang baru&lt;br /&gt;Meraih cita dan asa tanpa ragu-ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;SIMPANG TIGA&lt;br /&gt;Oleh: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jalan remang&lt;br /&gt;kesunyian&lt;br /&gt;menjalarkan resah&lt;br /&gt;di benak dan kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kaki langit ini&lt;br /&gt;kueja lagi&lt;br /&gt;segala...&lt;br /&gt;jejak-langkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;PERENUNGAN&lt;br /&gt;Oleh: Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak alang kepalang aku mengkerut dahi&lt;br /&gt;Merenung tajam menembus pekatnya malam&lt;br /&gt;Sunyi sepi gelap pekat&lt;br /&gt;Ku susuri alam pikiranku&lt;br /&gt;Menjenguk relung-relung lipatan otakku&lt;br /&gt;Menyusuri jejak-jejak memori&lt;br /&gt;Merenung sekali lagi&lt;br /&gt;Adakah sesuatu yang belum pernah terlintas&lt;br /&gt;Adakah sesuatu hal baru&lt;br /&gt;Adakah suatu ide unik&lt;br /&gt;Adakah realitas yang belum kuungkap&lt;br /&gt;Aku berpikir keras&lt;br /&gt;Merenung tajam mengerang&lt;br /&gt;Otakku berdenyut&lt;br /&gt;Cairan darah melumasi setiap relungnya&lt;br /&gt;Membasahi setiap syaraf&lt;br /&gt;Menggugah munculnya ide dan nalar&lt;br /&gt;Otakku berdenyut keras&lt;br /&gt;Sekelebat menampakkan ide-ide hebat&lt;br /&gt;Menggedor jantungku agar bersemangat&lt;br /&gt;Menggedor setiap kesadaranku&lt;br /&gt;Aku harus menghasilkan tulisan malam ini&lt;br /&gt;Setidaknya sebuah ide untuk kutulis&lt;br /&gt;Demikian kerasnya perenungan malam ini&lt;br /&gt;Akhirnya kutemukan juga ide cemerlang&lt;br /&gt;Untuk artikel tulisanku bulan depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STOP PRESS&lt;br /&gt;Kunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet.&lt;br /&gt;http://www.fpkm.co.cc&lt;br /&gt;http://forumpenuliskotamalang.blogspot.com &lt;br /&gt;http://klipingfpkm.multiply.com&lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/&lt;br /&gt;Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs kami.  Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas kami.  Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.&lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/join&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang juga dengan senang hati  menerima bantuan dan sumbangan materi, sponsorship, pendanaan, sumbangan berupa, buku-buku terbitan terbaru (untuk keperluan bedah buku), majalah kesusasteraan, majalah fiksi,  buku-buku bekas terbitan Indonesia maupun manca Negara, sumbangan berupa CD kosong, sumbangan berupa pulsa telepon isi ulang, kertas HVS kosong, maupun peralatan tulis lainnya untuk kelangsungan organisasi kami.  Segala bantuan dan dukungan dari Anda akan sangat kami hargai.  &lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang juga mengundang para pengusaha untuk mensponsori berbagai event kegiatan kami dan tentunya dengan adanya event-event yang kami selenggarakan, pihak sponsor bisa mempunyai kesempatan untuk mengiklankan dan memperkenalkan produk-produknya kepada masyarakat luas dalam berbagai event kegiatan yang kami selenggarakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FPKM (FORUM PENULIS KOTA MALANG) - KOMUNITAS PENULIS KREATIF DARI KOTA MALANG&lt;br /&gt;Oleh : Haryo Bagus Handoko*)&lt;br /&gt;*) Penulis adalah pengurus komunitas FPKM selaku bagian informasi dan dokumentasi, selain profesinya sebagai penulis kreatif dan penulis fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat begitu banyak bermunculannya komunitas penulis di negeri ini,  kota Malang yang terkenal pula sebagai kota pelajar tidak mau kalah.  Pada beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan Oktober 2006, telah berdiri sebuah komunitas penulis di kota Malang, Jawa Timur, yang bernama FPKM (Forum Penulis Kota Malang).  Forum Penulis Kota Malang  (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang.  Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang.  Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang - Jl. Raya Ijen 30A - Malang,  forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik.  Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya.  Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini.  &lt;br /&gt;Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini.  Dengan anggota yang beragam yang umumnya berprofesi sebagai penulis, maupun profesi lain (dosen, wartawan, seniman, pelajar SMP hingga mahasiswa), komunitas ini tampil dengan ciri khas tersendiri yang kaya akan ide tanpa batas.  Hal ini karena dengan beragamnya latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun profesi para anggotanya menjadikan beragam pula daya kreativitas, ide, maupun hasil tulisan yang menghiasi berbagai media cetak dan majalah tanah air.  Beberapa karya anggota komunitas ini bahkan sudah berkali-kali terbit dalam bentuk novel fiksi, hingga buku bertema religi.  Para anggota komunitas ini secara aktif selalu mengikuti berbagai lomba kepenulisan yang diselenggarakan baik oleh komunitas lain maupun lembaga penerbitan dan lembaga pendidikan di negeri ini.&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang juga hadir di dunia maya dengan adanya situs dan blog maupun mailing list.  Situs dan blog Forum Penulis Kota Malang bukan hanya melulu diperuntukkan untuk sesama anggota intern FPKM, namun juga diharapkan sebagai sarana tukar menukar informasi antar berbagai komunitas penulis di berbagai daerah di tanah air.  Suatu acara atau even kegiatan yang diselenggarakan oleh suatu komunitas penulis di suatu daerah diharapkan bisa diketahui pula oleh komunitas penulis di daerah yang lain.  Untuk itulah maka Forum Penulis Kota Malang juga melengkapi dirinya dengan fasilitas mailing list yang diharapkan bisa menampung berbagai informasi dan juga sebagai sarana diskusi interaktif di dunia maya antar berbagai komunitas penulis dan juga sarana pembelajaran dan tukar menukar pikiran di antara sesama penulis. &lt;br /&gt;Interaksi secara korespondensi maupun mengakses berbagai informasi terbaru bisa dilakukan melalui berbagai situs weblog pribadi para anggota dan pengurus komunitas ini. Berbagai link yang akan mengantarkan kita ke berbagai situs (situs stasiun televisi seluruh dunia, situs surat kabar seluruh dunia, situs penerbit seluruh Indonesia, situs tutorial menulis dan dunia perbukuan, hingga situs perpustakaan digital di seluruh dunia dan masih banyak lagi link-link menarik lainnya) bisa kita jumpai dalam halaman situs maupun  blog Forum Penulis Kota Malang ini.  Dengan adanya situs dan blog resmi Forum Penulis Kota Malang, kita sebagai penulis bisa lebih terbuka wawasan dan juga peluangnya untuk bisa lebih mengembangkan diri dan juga berkreativitas secara produktif demi khasanah bacaan dan tulisan yang turut mewarnai negeri ini. &lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang  (FPKM) juga meluncurkan publikasi digital dalam bentuk majalah digital (e-magazine) yang bisa didownload dari situs resminya di internet.  Majalah digital Forum Penulis Kota Malang memakai format PDF, sebuah format yang cukup umum untuk sebuah majalah digital.   Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya yang bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggota forum ini juga diusahakan untuk senantiasa diliput dan ditulis dalam majalah digital ini.  Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Artikel-artikel yang dinilai cukup pantas akan dimuat dalam majalah digital ini.  &lt;br /&gt;Karena forum ini merupakan organisasi non profit kami tidak menyediakan imbalan dalam bentuk apapun untuk setiap artikel yang dimuat.  Majalah digital Forum ini sifatnya hanya berfungsi untuk menjembatani segala bentuk pertukaran ilmu, pengalaman, pengetahuan, informasi terbaru dan juga ide serta saran dari para penulis yang ingin menekuni dunia tulis menulis sebagai karir profesi atau pun sekedar hobi.   Majalah digital ini juga menerima sumbangan naskah karya para penulis yang ingin naskahnya dibedah dalam diskusi forum ini. &lt;br /&gt;Anda bisa mengunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet yaitu di alamat berikut :&lt;br /&gt;http://www.fpkm.co.cc&lt;br /&gt;http://forumpenuliskotamalang.blogspot.com &lt;br /&gt;http://klipingfpkm.multiply.com dan http://resensibukufpkm.multiply.com   &lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/ &lt;br /&gt;Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs ini.  Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas penulis ini.  Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.&lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/join&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2694238822227158407-7176113754696652337?l=e-zine-fpkm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-zine-fpkm.blogspot.com/feeds/7176113754696652337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2694238822227158407&amp;postID=7176113754696652337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2694238822227158407/posts/default/7176113754696652337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2694238822227158407/posts/default/7176113754696652337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-zine-fpkm.blogspot.com/2010/01/majalah-digital-fpkm-edisi-januari-2010.html' title='Majalah Digital FPKM Edisi Januari 2010'/><author><name>forumpenuliskotamalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2694238822227158407.post-2673580301111167854</id><published>2009-12-09T14:02:00.000+07:00</published><updated>2009-12-09T14:04:14.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='E-zine FPKM edisi 38'/><title type='text'>Majalah Digital FPKM Edisi Desember 2009</title><content type='html'>Assalamualaikum. Wr. Wb. dan Salam Sejahtera selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah dan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, edisi bulan Desember 2009 majalah digital FPKM akhirnya selesai juga dikerjakan.  Dalam edisi kali ini, ditampilkan esai maupun resensi buku yang menarik untuk dibaca. Juga beberapa karya cerpen hasil tulisan para anggota FPKM. Bagi yang berniat unjuk kemahiran menulis dengan menyumbang tulisan untuk bisa tampil di majalah digital ini, silakan Anda mengirim artikel Anda langsung ke milis FPKM atau lebih baik lagi Anda mengirimkannya langsung ke kotak pos elektronik editor majalah ini di  haryobagushandoko.penulis@gmail.com Paling tidak, nama kalian akan dengan mudah terdeteksi oleh search engine seperti google dan juga nampang dan dibaca begitu banyak orang, karena majalah ini tidak hanya didownload oleh para pembaca dari Indonesia saja, namun juga para penggemar sastra di seluruh dunia.  Dalam edisi ini, majalah digital FPKM mengetengahkan beberapa cerita pendek maupun esai dari teman-teman yang patut untuk disimak. Situs FPKM  berganti domain yaitu menggunakan url: http://www.fpkm.co.cc . Semoga tulisan-tulisan dalam majalah ini dapat memberikan inspirasi dan memunculkan ide kreatif dari teman-teman untuk tetap berkarya. Akhir kata, selamat membaca dan Selamat Tahun Baru 2010.  Terus berkarya dan berkreasi di jagat penulisan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Tim Editor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;:&gt;  Suka menulis ?&lt;br /&gt;Silakan kunjungi blog FPKM yang baru&lt;br /&gt;&gt;&gt; FPKM   http://www.fpkm.co.cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Redaksi&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Redaksi&lt;br /&gt;David Ardy&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Vita Priyambada&lt;br /&gt;Etty Hentihu&lt;br /&gt;Gusti Aisyah Putri&lt;br /&gt;Lutfi Fadila&lt;br /&gt;Wahyu Indah R&lt;br /&gt;Trias Pratiwi&lt;br /&gt;Sismanto&lt;br /&gt;Mukhlis&lt;br /&gt;Carolina Neolen D.F.&lt;br /&gt;Eko Martina Sriwulaningsih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain Grafis &amp; Lay Out&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Photo Editor&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat Redaksi&lt;br /&gt;Carolina Neolen&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuangan&lt;br /&gt;Vita Priyambada&lt;br /&gt;Trias Pratiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang (organisasi profesi non-profit)&lt;br /&gt;Alamat Redaksi&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Gedung Perpustakaan Kota Malang&lt;br /&gt;Jl. Raya Ijen 30 A -  Malang 65100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat E-mail&lt;br /&gt;forum_penulis_kota_malang@yahoo.com &lt;br /&gt;forumpenuliskotamalang@gmail.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Admin website / Webmaster&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;haryobagushandoko.penulis@gmail.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaksi menerima sumbangan artikel, naskah dan tulisan, serta informasi penting lainnya.  Bisa dikirim lewat e-mail atau langsung datang ke Sekretariat Forum Penulis Kota Malang di Gedung Perpustakaan Kota Malang. Saran, gagasan dan dukungan serta sponsorship dari Anda sangat kami butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Sambutan Ketua &lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum.wr.wb. dan salam sejahtera untuk kita semua,&lt;br /&gt;Sebelum takdir terjadi dan diketahui, hidup ini adalah sebuah pilihan dan pilihannya hanya ada dua yaitu “to be or not to be”, menjadi kalah atau menang, menjadi ada atau tidak ada.  Marilah kita bersama-sama menjadi pemenang, menjadi ada bagi orang lain.  Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki potensi dalam dunia tulis menulis, tetapi tidak diimbangi dengan adanya wadah yang membantu penulis untuk mengekspresikan karyanya.  Berdasarkan realitas di atas, kami merasa perlu untuk membentuk suatu wadah bagi para penulis. Denganwadah tersebut kita bangun jaringan intelektual melalui tulisan. Kita bangun pola pikir-pola pikir yang mendobrak dan tak biasa karena lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik ! Biarlah kita “hidup” selama kita hidup. Rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis.&lt;br /&gt;Dengan adanya publikasi dalam bentuk majalah digital Forum Penulis Kota Malang ini, saya berharap rekan-rekan penulis baik di Malang maupun rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis !  &lt;br /&gt;Saran, sumbangan ide, gagasan, serta sumbangan tulisan sangat kami harapkan demi semakin berkembangnya pengetahuan kita akan dunia kepenulisan.  Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas segala kerjasama yang baik dari rekan-rekan semua dan sukses selalu Forum Penulis Kota Malang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;David Ardy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal berdirinya Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang. Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang. Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang – Jl. Raya Ijen 30A – Malang, forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini. Saran dan juga sumbangan serta bantuan baik moril maupun materiil sangat kami harapkan.&lt;br /&gt;Susunan Pengurus Organisasi Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Ketua      :  David Ardy&lt;br /&gt;Sekretaris     :  Carolina Neolen&lt;br /&gt;Bendahara     :  Vita Priyambada&lt;br /&gt;Seksi Acara     :  Liga Alam, Mukhlis, Trias Pratiwi, Eko Martina Sriwulaningsih&lt;br /&gt;Seksi Informasi dan Dokumentasi         :  Haryo Bagus Handoko, Wahyu Indah R, Wawan Eko Yulianto, Sidik Nugroho, Sismanto &lt;br /&gt;Penelitian dan Pengembangan          :  Vita Priyambada, Gusti Aisyah Putri, Lutfi Fadila &lt;br /&gt;Pelindung     : Bpk. Drs. H. M. Jemianto, SH (Kepala Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang)&lt;br /&gt;Penasehat     : Bpk. Johan Budi Sava (Toko buku “TOGAMAS”), Bpk. Bambang A.W.  (Pengamat seni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi dan Misi Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi &lt;br /&gt;Membentuk insan yang memiliki kesadaran intelektual aktif kreatif berguna dalam masyarakat melalui tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Pendek&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Pembentukan tim yang solid, kreatif dan bermanfaat.&lt;br /&gt;3. Membangun jaringan dengan penulis lain, penerbit dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;4. Memberi motivasi seluruh anggota untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Menengah&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Mengadakan acara-acara bedah buku dengan mengundang penulis-penulis yang telah konsisten dan berkompeten dalam dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;3. Memperkuat jaringan penulis dengan penerbit.&lt;br /&gt;4. Membaca wacana-wacana yang berhubungan dengan kesenian, kebudayaan, dan sebagainya yang berhubungan dengan pengembangan dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;5. Menghidupkan dunia kepenulisan di Kota Malang.&lt;br /&gt;6. Mendorong seluruh anggota agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan bersifat membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Panjang&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Memperluas jangkauan Forum dan jaringan antara penulis dan penerbit.&lt;br /&gt;3. Menjadikan Forum ini sebagai pendobrak dan melakukan perubahan yang baik dalam dunia kepenulisan Indonesia.&lt;br /&gt;4. Menjadikan Forum ini sebagai tolok ukur perkembangan dunia kepenulisan Indonesia.&lt;br /&gt;5. Mencetak penulis-penulis yang berkualitas dan membangun serta menjadikan penulis sebagai sebuah profesi yang dapat ‘menghidupi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita Terbaru&lt;br /&gt;Januari 2009&lt;br /&gt;Bulan Januari 2009  ini diwarnai oleh cuaca yang tidak bersahabat. Di Malang, hampir tiada hari tanpa hujan dan mendung. Namun demikian, toh, acara pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang tetap digelar di ruang lobi gedung perpustakaan Malang. Tidak ada kesan formal, suasana berlangsung santai, penuh kekeluargaan.  Pada tanggal 11 Januari 2009, pertemuan rutin FPKM membedah cerita pendek yang berjudul “Gayung” karya dari salah satu anggota FPKM yaitu Mas Muchlis yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai seorang pengajar/guru. Cerita pendek berjudul “Gayung” ini cukup unik karena mengupas fenomena sosial anak-anak jalanan yang sering kali kita jumpai meminta-minta di perempatan jalan, di lampu-lampu merah.  Mereka sering kali termarjinalkan dan terpinggirkan, belum ada satu pun penyelesaian yang bijaksana yang bisa dilakukan baik oleh lembaga sosial maupun pemerintah khususnya dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan anak-anak jalanan ini. Yang terjadi, mereka seringkali justru kena razia dan dihalau atau bahkan diangkut oleh satpol PP.  Kisah cerita pendek yang cukup mengharukan ini cukup mendapat respon yang baik dari teman-teman FPKM. Apresiasi karya tulis seperti ini memang selalu menjadi agenda rutin komunitas ini sejak pertama kali berdiri.  Berbagai pendapat dan saran pun bermunculan sehubungan dengan cara bercerita serta setting yang ditampilkan dalam cerpen bertema sosial ini.  Yang jelas semua orang merasa senang bahwa kepedulian sosial paling tidak bisa kita cetuskan lewat sebuah karya cerita pendek.  Pada tanggal 25 Januari 2009, kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini juga tetap membedah cerita pendek karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul “Ekspedisi”. Sebuah cerita unik mengenai ekspedisi para ilmuwan botani ke tanah Papua yang bertema thriller yang lumayan menegangkan. Kisahnya dikemas secara apik dalam tutur kata dan alur bercerita yang cukup sederhana namun sedikit membutuhkan perenungan dan pemikiran lebih dari para pembacanya.  Respon yang didapat dari bedah karya cerita pendek ini cukup apresiatif. Beberapa anggota FPKM yang hadir dalam pertemuan rutin ini satu per satu menyumbangkan saran serta ide demi penyempurnaan kisah dramatis dalam cerita pendek yang satu ini. Walau diakui oleh penulisnya masih banya kekurangan di sana-sini, namun kisah yang satu ini dianggap cukup menarik dan sedikit unik karena lain daripada yang lain. Yang diketengahkan dalam cerita pendek ini adalah fenomena kejadian-kejadian unik yang berbau science fiction. Suatu tema yang sedikit jarang diketengahkan dalam jagat sastra Indonesia. FPKM memang beda...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2009&lt;br /&gt;Bulan Februari 2009 sarat acara kegiatan baik yang diselenggarakan oleh FPKM sendiri, maupun yang hasil kerja bareng FPKM dengan komunitas lain. Pendek kata tiada hari tanpa berkarya dan berbagi ilmu, karena itu adalah semboyan FPKM. Pada tanggal 8 Februari 2009, berlangsung pertemuan rutin FPKM di bulan Februari kali ini cukup semarak. Kali ini tema yang dibedah adalah cerpen tulisan Mbak Trias Pratiwi yang berjudul "Mencari Langit". Sebuah cerita pendek yang cukup menarik, walau sedikit tragis dan mengupas kegetiran hidup yang dialami tokoh utama dalam cerita pendek ini. Walau diakui masih banyak kekurangan di sana-sini, namun penulis cerpen ini cukup punya nyali untuk mengangkat fenomena sosial yang sering kali dipandang sebelah mata. Dalam kesempatan ini, teman-teman FPKM banyak memberikan saran dan masukan bagi penyempurnaan kisah cerita pendek ini. Diskusi pun berjalan cukup akrab dengan semangat kekeluargaan dan canda tawa khas FPKM. Tak berselang lama, pada tanggal 15 Februari 2009, FPKM diundang sebagai pembicara dalam acara workshop pelatihan menulis tingkat pelajar SMP/SMA se-kota Malang periode 2009. Acara yang berlangsung di Aula kantor Dinas Pendidikan Kota Malang di Jalan Veteran ini berjalan cukup semarak dan mendapat sambutan positif dari kalangan pelajar yang tergabung dalam kelompok sastra pelajar kota Malang. Perhatian para pelajar kota Malang pada dunia sastra dan kepenulisan terbukti cukup tinggi. Hal ini dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti acara workshop yang diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum ini. Beberapa pembicara yang berasal dari kalangan penulis maupun kolumnis media surat kabar, seperti Mas Ahmad Makki Hasan (kolumnis dan penulis esai surat kabar dan media massa), Liga Alam (novelis, esais dan penulis buku biografi), Mas David Aryanto (penulis, penyair dan ketua FPKM), serta Haryo Bagus Handoko (jurnalis dan penulis buku) turut andil dalam keberhasilan acara ini. Walau berlangsung secara sederhana, acara workshop/pelatihan yang sarat keilmuwan dan aneka tips dan trik praktis memulai karir sebagai penulis serta aneka jurus untuk menulis, sempat diliput oleh berbagai surat kabar di Jawa Timur maupun televisi lokal di kota Malang. Menurut ketua organisasi Kelompok Sastra Pelajar, Mas Liga Alam, acara tahunan workshop seperti ini seharusnya terus digalang agar dapat menumbuhkan bakat menulis di kalangan pelajar kota Malang. Acara workshop gratis ini adalah hasil kerja bareng antara komunitas penulis "Kelompok Sastra Pelajar", "Forum Penulis Kota Malang" dan Dinas Pendidikan Kota Malang. Semoga untuk ke depannya, acara yang sarat keilmuwan ini terus dapat diselenggarakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2009&lt;br /&gt;Bulan Maret 2009 ini cukup padat dengan kegiatan berbau sastra. Dimulai pada hari Minggu, 1 Maret 2009 yang bertepatan dengan jadwal pertemuan rutin FPKM, agenda pertemuan kali ini adalah acara pembacaan puisi dan bedah puisi yang diselenggarakan secara outdoor (di luar ruangan). Tempat pertemuan kali ini adalah berlangsung di tengah taman bunga dan air mancur yang berada di depan museum Brawijaya - di Jalan Raya Ijen. Pembicara acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang mengetengahkan puluhan puisi-puisinya untuk dibacakan bergantian dan dibedah serta dibahas beramai-ramai. Antusiasme para anggota dan pengurus FPKM cukup tinggi dalam hubungannya dengan dunia sastra, kepenulisan dan puisi. Tak heran, walau diselingi gelak tawa dan senda gurau, acara pembacaan puisi secara bergantian ini berlangsung cukup semarak. Mbak Vita yang rajin menulis aneka artikel untuk berbagai media massa ini, ternyata juga jago menulis puisi dan membacakan puisi. Walau beberapa kosa kata yang digunakan tergolong aneh karena merupakan bahasa-bahasa kamus, namun acara seperti ini justru dapat menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia bagi teman-teman FPKM. Dalam acara pertemuan ini dicetuskan ide untuk memunculkan catatan dan kliping sastra dalam arti sebenarnya yang dikenal dengan istilah "Majalah TengTop - Ditenteng terus makin ngeTop". Memang rencananya, kliping aneka tulisan dan corat-coret teman-teman FPKM setiap kali pertemuan akan menjadi sebuah bank data sastra Malangan yang harus dibawa setiap ada pertemuan FPKM. Selain setiap anggota dan pengurus bisa berkreasi dan berimajinasi secara bebas dalam menuliskan setiap ide dan kreativitasnya, keberadaan kliping sastra "Majalah TengTop" ini bakal menjadi daya tarik tersendiri bagi eksistensi komunitas penulis FPKM. Model serupa telah berjalan cukup baik di dunia maya dengan keberadaan blog "http://klipingfpkm.multiply.com". Selanjutnya, pada hari Minggu, 15 Maret 2009, pertemuan rutin dua mingguan FPKM kembali digelar. Kali ini tetap dengan tema membedah cerpen karya para anggotanya. Yang kebagian jadi pemateri minggu ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang mengetengahkan cerpen tulisannya yang berjudul "Kereta Yang Membawaku Kembali" sebuah cerita pendek dengan model bercerita layaknya catatan perjalanan sekaligus memoar yang memunculkan isyu jender dan emansipasi wanita. Cerita pendek ini cukup mendapatkan tanggapan, apresiasi sekaligus kritik dan saran dari para peserta diskusi yang hadir saat itu. Seperti biasanya, acara diskusi ini berlangsung secara santai dan penuh kekeluargaan dengan diselingi guyonan di sela pembahasan dan apresiasi terhadap tulisan cerpen yang sedang dibahas. Sebagai penutup acara, segenap anggota dan pengurus FPKM kembali menuliskan coretan-coretan pada lembaran-lembaran kertas yang akan menjadi halaman bersejarah dari pemunculan ide majalah tengtop yang pernah dibahas sebelumnya. Berbagai tulisan mulai dari puisi, celoteh, sajak hingga narasi pendek tentang suasana hati masing-masing kemudian dibacakan dan banyak menimbulkan gelak tawa serta komentar-komentar dari sesama anggota yang saat itu hadir. Bagaimanapun ide menuliskan suasana hati untuk mengisi halaman-halaman majalah tengtop (baca: diary FPKM) cukup mengena dan dapat menghidupkan suasana serta meningkatkan keakraban dan silaturahmi sesama anggota. Akhirnya, acara pertemuan rutin FPKM di minggu terakhir di bulan Maret ini pun kembali berlangsung cukup istimewa, karena bertepatan dengan hari ulang tahun si pemateri, yaitu ulang tahunnya Mbak Wulan (Martina Sriwulaningsih) yang jatuh pada hari Minggu, 29 Maret 2009. Tak heran, acara belum dimulai, semua makanan camilan sudah digelar layaknya bazaar makanan. Para anggota dan pengurus FPKM yang hadir saat itu beramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun pada si pemateri yang hari itu sedang berulang tahun. Sambil menunggu yang lain datang, acara makan camilan pun dimulai sambil mengobrol akrab sesama anggota. Di saat sedang asyik mengobrol, muncullah Mbak Etty Hentihu, salah satu anggota lama FPKM yang kebetulan sedang mudik ke kota Malang. Karena profesinya sebagai seorang pengajar yang kini bekerja di kota lain, Mbak Etty, hanya bisa aktif bersilaturahmi di dunia maya. Maklum saja karena cukup lama tidak bertemu, karena selama ini hanya bisa saling menyapa lewat facebook, maka secara spontan, teman-teman merasa sangat surprise, dan obrolan pun berlangsung lebih meriah dengan Mbak yang satu ini. Setelah semua anggota dan pengurus FPKM telah hadir, maka acara bedah cerpennya Mbak Wulan dimulai. Kali ini cerpen yang dibahas bertajuk "Ku-pu-ku-pu-ku (Aku punya, aku punya aku), sebuah cerpen  unik dengan genre psikologi dan perangkaian kata serta kalimat yang tidak biasa. Cerpen ini mendapat tanggapan dan kritik serta apreasiasi yang bermacam-macam dari para anggota FPKM. Berbagai penafsiran yang berbeda dalam mengartikan nilai rasa dalam cerpen ini telah membuat suasana diskusi lebih hidup. Akhirnya, untuk menyamakan persepsi dari pembaca, si penulis cerpen ini pun urun bicara dan menjelaskan maksud serta jalan cerita dari cerpen ini. Memang daya imajinasi antara penulis dan pembaca seringkali berbeda, dan itulah keunikan yang muncul dari cerpen yang satu ini, karena bisa memunculkan berbagai pendapat dan tanggapan yang berbeda dari para pembacanya.  Akhir-akhir ini para anggota maupun pengurus FPKM semakin giat dalam menghasilkan karya tulisan yang dimuat di berbagai media cetak tanah air, baik cerpen, resensi buku, esai hingga terbitnya buku tulisan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Kegiatan di bulan April ini diawali dengan acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu pada hari Jumat siang (sehabis sholat Jumat), 3 April 2009. Acara seminar gratis yang cukup spektakuler ini mengangkat tema tentang bagaimana memunculkan inisiatif menulis dan membentuk corak dan gaya tulisan kita - "FINDING SHAPES OF OUR STORIES".  Sebagai pembicara dalam acara ini adalah Professor Valerie Miner, seorang penulis, jurnalis, novelis sekaligus dosen sastra di Stanford University, Amerika Serikat. Jauh-jauh datang dari Amerika untuk berbagi cerita dan berbagi pengalaman seputar kegiatan menulis dan mencari ide-ide segar kepenulisan, Ibu Valerie Miner banyak berbicara mengenai pengalamannya seputar kegiatan menulis dan jurnalisme yang telah dilakoninya selama puluhan tahun. Acara tanya jawab pun berlangsung semarak dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Beberapa penanya aktif mengutarakan pertanyaan dan pendapat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dengan ditemani oleh Pak John, staf konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya dan juga seorang penerjemah, acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu hasil kerja sama antara Perpustakaan Kota Malang, Forum Penulis Kota Malang, Komunitas Sastra Pelajar, Malang Fun English Club dan kantor konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya ini pun berjalan cukup sukses. Acara ini sempat diliput oleh beberapa saluran televisi lokal di kota Malang, serta berbagai media surat kabar dan majalah. Di akhir acara, Ibu Valerie Miner dan Pak John dari kantor konsulat jendral Amerika di Surabaya, menyerahkan sumbangan puluhan buku sastra, novel, jurnal sastra Amerika dan berbagai buku seputar sastra dan pengetahuan kepada pihak Perpustakaan Kota Malang, yang diwakili secara simbolis oleh Bpk. Drs. H.M. Jemianto, S.H. Dalam acara ini, tampaknya Ibu Valerie Miner berusaha menumbuhkan dan memotivasi semangat menulis dan membaca dari para penulis kota Malang agar senantiasa aktif dalam menghasilkan karya-karya tulisan yang berbobot dan berguna bagi masyarakat. Acara seminar ini berlangsung sangat semarak dan dipadati begitu banyak pengunjung, terutama para penulis, wartawan media, seniman, pengamat sastra, dan juga para seniman film indie di kota Malang. Berselang kurang lebih seminggu, Forum Penulis Kota Malang kembali mengadakan acara pertemuan rutin yang jatuh pada hari Minggu, 12 April 2009. Pertemuan kali ini menghadirkan pembicara dari anggota FPKM sendiri yang juga seorang pengamat sastra, pecinta buku dan penulis resensi buku - Mas Sidik Nugroho. Karya tulisan yang dibedah dan sempat dibahas bersama pada kesempatan tersebut adalah tulisan Mas Sidik yang dimuat di rubrik Ruang Baca di Koran Tempo, 29 Maret 2009, dengan judul "SEGERA MEMULAI, LALU MENATA". Tulisan tersebut merupakan sebuah esai singkat berisikan motivasi untuk segera memulai menulis apa saja yang terlintas dalam benak kita, dan baru menata ulang tulisan kita setelah semua ide tersebut dituliskan. Mas Sidik juga  membahas berbagai cara dan metode menulis yang biasa dilakukan oleh para penulis besar seperti Nadine Gordimer (peraih nobel sastra), John Steinbeck (peraih penghargaan Pulitzer), Stephen King (penulis novel-novel horor), Kate Di Camillo (peraih penghargaan Newbery Medal untuk bukunya yang berjudul The Tale of Desperaux), Leo Tolstoy (penulis novel Anna Karenina), Harper Lee (peraih penghargaan Pulitzer untuk bukunya yang berjudul To Kill a Mockingbird), hingga penulis nasional, Akmal Nasery Basral (penulis novel dan jurnalis). Setiap penulis mempunyai kebiasaan dan cara menulis serta pemilihan waktu yang dianggap paling tepat untuk mulai berkarya. Hendaknya metode dan cara mereka dapat dijadikan contoh dan disesuaikan dengan kebiasaan menulis yang menurut kita paling nyaman. Acara diskusi ini pun berlangsung semarak dan penuh pertanyaan seputar kiat dan trik untuk menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas. Acara baru diakhiri menjelang sore hari setelah semua peserta diskusi merasa puas dengan jawaban yang diterima. Dua minggu kemudian, yaitu tepatnya pada hari Minggu, 26 April 2009, Forum Penulis Kota Malang kembali menggelar acara pertemuan rutin dua mingguannya. Kali ini bertindak sebagai pemateri adalah Mbak Vita Priyambada, seorang penulis dan kolumnis untuk berbagai media surat kabar dan majalah yang ternyata juga pandai menulis puisi. Acara pun berlangsung meriah, dengan lesehan di rumput, tepat di depan museum Brawijaya. Kebetulan saat itu matahari bersinar cerah dan langit kota Malang tampak begitu biru dan indah. Suasana lesehan di halaman depan museum Brawijaya yang berumput hijau memang sengaja dipilih agar terasa lebih menyatu dengan alam dan suasananya lebih mengena. Mbak Vita pun membacakan beberapa karya puisinya yang mendapat tanggapan dari para peserta diskusi.  Seperti biasa, acara tanya jawab, kritik, dan guyonan santai pun terlontar saat acara pertemuan FPKM kali ini. Acara baru berakhir menjelang sore hari, setelah seluruh peserta mengisi lembaran-lembaran halaman majalah Tengtop (Ditenteng Makin Ngetop) dengan esai seputar ide dan pengalaman menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2009&lt;br /&gt;Bulan Mei ini diawali dengan kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah Retnowati, karena sinetron FTV karya terbarunya yang berjudul "Cinta Monyet Ala Kingkong" berhasil tayang di SCTV pada awal bulan Mei 2009. Sinetron ini adalah sinetron ketiganya yang diusung oleh rumah produksi Frameritz yang ditayangkan di SCTV.  Teman-teman FPKM pun ramai-ramai memberikan selamat dan dukungan kepada Mbak Wahyu Indah yang senantiasa produktif dalam menghasilkan naskah-naskah skenario untuk sinetron FTV di SCTV. Di bulan Mei ini, kegiatan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang pun kembali digelar seperti biasa, pada hari Minggu, 10 Mei 2009. Bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang, pertemuan FPKM kali ini mengangkat topik bedah cerpen karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul Rona Kehidupan. Cerpen bertema humanisme sosial ini menyoroti kehidupan kaum miskin pinggiran yang hanya bisa bermimpi untuk mengenyam kehidupan yang layak. Cerpen ini mengungkap betapa masih begitu banyak masyarakat di luar sana yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Diskusi dan tanya jawab seputar isi cerpen dan proses kreatif penulisan cerpen ini pun cukup semarak. Seperti biasa acara diakhiri dengan sharing aneka informasi peluang kepenulisan di antara sesama anggota dan pengurus FPKM. Pada tanggal 19 Mei 2009, Mbak Wahyu Indah kembali membawa kabar gembira sehubungan dengan sinetron keempatnya yang tayang di SCTV. Masih dengan dukungan rumah produksi Frameritz, sinetron FTV berjudul "Ramuan Cinta yang Bikin Pusing" berhasil tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV khas karya Mbak Wahyu Indah senantiasa mengusung kisah-kisah unik dengan sisipan humor segar nan jenaka. Sambutan dan dukungan dari teman-teman FPKM kembali disampaikan pada Mbak Wahyu Indah atas kreativitasnya dalam berkarya. Tak berapa lama berselang, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini sebagai pembicara adalah Rio Al Imran (Trio), seorang mahasiswa sekaligus penulis yang membawakan cerpen tulisannya yang berjudul Surat. Cerpen ini cukup unik karena menggunakan diksi yang tidak biasa, serta dengan gaya bercerita layaknya buku harian (diary). Karena cukup unik, maka diskusi pun berlangsung cukup seru. Mas Trio pun berbagi cerita seputar proses kreatif penulisan cerpen yang satu ini. Kritik dan saran pun terlontar dari para peserta diskusi. Pertemuan rutin ini baru diakhiri sore hari setelah diakhiri dengan sharing aneka informasi tips dan tutorial menulis serta berbagai peluang kepenulisan di antara para anggota dan pengurus FPKM.  Pada tanggal 21 – 24 Mei 2009, kota Malang kembali disemarakkan oleh Festival Malang Kembali yang merupakan festival seni budaya tempo dulu kota Malang. Berbagai atraksi budaya, sendra tari, festival musik tempo dulu, hingga berbagai konser musik pun digelar dalam memeriahkan acara ini. Festival pasar rakyat dan makanan tradisional serta jajanan khas tempo dulu ala Malang pun dijajakan berderet dalam kios-kios dan stand pameran. Aneka kios pun menjual berbagai cinderamata dan juga mainan anak-anak khas tempo dulu, aneka permen dan gulali tempo dulu, serta aneka jenis kerajinan tangan dan obral busana berbahan batik. Tak lupa digelar pula festival wisata kuliner Malang khas tempo dulu yang menggelar berbagai macam makanan dan jajanan khas Malang tempo dulu, baik yang tradisional, kontemporer hingga yang “east meet west”.  Bahkan ada juga kios dan stand buku yang mengobral aneka buku jaman baheula dengan harga cukup terjangkau. Para anggota dan pengurus FPKM pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berbelanja buku dan mencicipi aneka kue dan makanan khas Malang tempo dulu yang dijual dalam festival khas rakyat ini. Bertempat di sepanjang Jalan Raya Ijen, kota Malang, acara festival Malang Tempo Doeloe dipadati oleh ribuan pengunjung yang terus mengalir mulai dari pagi hari hingga malam hari. Tentu saja, dengan mengenakan beragam kostum unik khas tempo dulu, maka ajang festival ini tak ubahnya seperti pesta kostum di hari Helloween atau Valentine, bedanya, para pengunjung yang hadir di sini mengenakan beragam busana tradisional maupun pakaian-pakaian jaman kolonial tempo dulu.  Selang beberapa hari setelah berakhirnya festival Malang Tempo Doeloe, pada tanggal 29 Mei 2009, Forum Penulis Kota Malang dengan bekerja sama dengan Perpustakaan Kota Malang, toko buku Toga Mas, Penerbit Kanisius dan radio Mas FM kembali menggelar acara pameran buku Malang Membaca 2009. Bertempat di halaman gedung Perpustakaan Kota Malang, acara pameran dan obral buku ini berlangsung semarak. Dalam sehari pengunjung pameran bisa mencapai lebih dari 1500 pengunjung, karena pameran dibuka sejak pagi hingga malam hari. Untuk memeriahkan acara pameran, digelar pula beberapa event launching buku dan bedah buku, seperti peluncuran buku "Simply Amazing - inspirasi menyentuh bergelimang makna" karya J. Sumardianta pada tanggal 31 Mei 2009, dan juga peluncuran buku berjudul "Negeri Kong Draman - Cerita-Cerita Puisi Kampung Halaman untuk Indonesia" bersama pembicara Ahmad Fikri dan Nanang Suryadi pada hari yang sama. Seperti biasa, acara pameran buku ini pun juga dimeriahkan oleh obral buku super diskon yang diselenggarakan oleh Yusuf Agency yang menawarkan buku-buku bermutu dengan harga sangat miring di bawah harga pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni 2009&lt;br /&gt;Bulan Juni 2009 diawali dengan acara pertemuan rutin FPKM yang kali ini diselenggarakan pada minggu pertama bulan ini, yaitu pada hari Minggu siang, tanggal 7 Juni 2009. Acara pertemuan ini berlangsung santai secara lesehan di halaman depan museum Brawijaya Malang yang berumput hijau. Di bawah teduhnya pohon palem, maka acara pertemuan ini pun berlangsung penuh kekeluargaan dengan disemarakkan oleh berbagai camilan dan kudapan. Pembicara dalam acara kali ini adalah Mas Kukuh Widyatmoko, seorang guru pengajar di sebuah sekolah menengah di Malang yang juga anggota FPKM. Materi yang dibawakan cukup menarik, yaitu "Kekerasan di Sekolah - Sebuah Anti Tesis Sistem Pendidikan." Ungkapan rasa keprihatinan akan maraknya tingkat kekerasan yang muncul di dunia pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pelajar maupun yang dilakukan oleh pendidik telah menginspirasi Pak Guru yang satu ini untuk menuangkannya dalam sebuah esai yang lebih merupakan tinjauan akademis, psikologi dan juga tinjauan sosial yang patut mendapat sorotan dan perhatian lebih dalam coreng morengnya dunia pendidikan di tanah air.  Esai yang menarik ini bisa menjadi kaca benggala bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada agar hasil yang dicapai tidak hanya dilihat dari aspek intelejensia (kecerdasan) tetapi juga menyangkut keseimbangan dan kesehatan mental, akal pikiran dan kecerdasan emosi, sehingga berbagai masalah yang ada tidak dilampiaskan dalam bentuk tindak kekerasan yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia pendidikan. Tampaknya itulah yang ingin disampaikan dalam esai singkat bertema dunia pendidikan yang dibahas kali ini. Berselang dua hari sejak pertemuan FPKM pada hari Minggu, komunitas ini kembali disemarakkan oleh kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah yang berhasil melaunching karya sinetron FTV terbarunya yang berhasil tayang di SCTV pada tanggal 8 Juni 2009, Pkl. 23.00 WIB. Sinetron FTV bertajuk "Di Hatiku Ada Emakmu" ini berhasil tayang berkat dukungan dari rumah produksi Frameritz - Jakarta. Sebagai seorang penulis buku religi, penulis novel dan juga penulis skenario sinetron, Mbak Wahyu Indah yang juga merupakan salah satu pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang ini memang sudah beberapa waktu bekerja pada rumah produksi sinetron Frameritz. Bolak balik Malang - Jakarta demi beraktivitas di dunia sastra dan kepenulisan, Mbak yang satu ini cukup produktif dengan berbagai karya sinetronnya. Di Bulan Mei 2009 saja, sudah tercatat 3 buah sinetron FTV karyanya yang tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV karyanya lebih banyak bercerita mengenai dunia remaja, dengan gaya bahasa yang ringan, alur cerita yang menarik serta dialog-dialognya yang jenaka sehingga cukup menarik untuk ditonton. Mbak Wahyu Indah yang gemar makan roti bakar khas Malang ini, rencananya juga akan melaunching sinetron FTV terbarunya yang berjudul "Roti Bakarku Sayang" yang juga akan segera tayang di SCTV. Makanya rajin-rajin mampir ke mailing listnya FPKM, facebooknya FPKM dan juga ke facebooknya Mbak Wahyu Indah, supaya bisa tahu sinetron apa saja yang akan segera tayang, buah karya Mbak yang satu ini.  Pada hari Minggu, 28 Juni 2009, kembali FPKM mengadakan pertemuan rutinnya, kali ini tampil sebagai pembicara adalah Mas Jemmy Sugianto, anggota baru FPKM yang juga adalah seorang penulis, sekaligus seorang trainer. Ia aktif memberikan bimbingan belajar (les privat) kepada para pelajar di berbagai sekolah di kota Malang, selain aktif juga mengurus buletin cetak "Obor Media" yang dibagikannya secara gratis ke berbagai sekolah, perpustakaan, maupun majalah-majalah dinding yang tersebar di kota Malang. Obor Media sendiri adalah koran dinding yang diterbitkan dan diedarkan secara cuma-cuma oleh Komunitas Anak Panah, salah satu komunitas penulis yang juga bekerja sama dengan FPKM dalam membangkitkan minat baca tulis bagi generasi muda di kota Malang. Pada kesempatan kali ini, Mas Jemmy membahas tulisannya yang ada di buletin "Obor Media" yaitu sebuah esai yang berjudul "Tidak Perlu Diketahui". Dalam esai yang menarik ini, dimunculkan sebuah motivasi dan juga pelajaran moral yang menarik, yaitu bahwa sebagai seorang pekerja kreatif, kita tidak perlu pamer akan apa saja karya yang sudah kita hasilkan, yang penting terus berkarya, terus berkreasi dan tidak lupa selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala limpahan karunia, rejeki dan ide-ide kreatif yang melintas di kepala kita. Biarlah dunia yang menilai akan apa saja yang sudah kita hasilkan. Kita tidak membutuhkan kata-kata sanjungan, pujian atau apa pun. Biarlah apa yang kita hasilkan supaya bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau ada kelebihan ilmu, jangan terlalu pelit untuk berbagi, bila ada kelebihan rejeki, ingatlah selalu pada orang lain sesuai kemampuan kita, maka Tuhan pasti akan memudahkan segala langkah dan upaya kita demi meraih kesuksesan yang lebih besar. Bila menolong orang lain dan memudahkan jalan bagi orang lain, maka Tuhan akan semakin memudahkan jalan kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Itulah pelajaran moral yang dapat dipetik dalam tulisan esai singkat yang dicetuskan oleh Mas Jemmy Sugianto. Ya, memang. Ilmu memang ada untuk dibagi-bagi, agar setiap orang bisa memperoleh manfaat, jadi sebaiknya ilmu tidak dipendam saja untuk diri sendiri namun disebarluaskan untuk masyarakat luas sehingga akan lebih bermanfaat - sejalan dengan misi dan visi FPKM dalam mencerdaskan bangsa melalui tulisan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 2009&lt;br /&gt;Bulan Juli 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 12 Juli 2009. Kali ini pemateri pertemuan adalah Mbak Trias Pratiwi yang memunculkan suatu permainan untuk memotivasi ide kreatif menulis dan merangsang imajinasi para anggota FPKM untuk menuliskan sebuah esai maupun tulisan singkat setelah ditunjukkan sebuah gambar pemandangan. Para peserta diberi waktu sekitar 15 menit untuk menuliskan serta menceritakan apa yang dilihatnya. Kemudian masing-masing tulisan peserta dibacakan dan didiskusikan. Ternyata persepsi dan cara pandang masing-masing anggota FPKM bisa berbeda dengan gaya cerita yang unik, walau yang dilihat dan diamati adalah gambar foto pemandangan yang sama. Jadi intinya, setiap pribadi adalah unik, dan setiap penulis adalah unik, dengan ciri khas dan gaya bahasa serta cara bercerita yang bisa berbeda antara satu sama lain dalam menceritakan suatu kejadian atau suatu obyek yang sama. Ketrampilan berolah kata dan berimajinasi itulah yang merupakan sebuah harta karun yang patut terus digali dalam menghasilkan penulis-penulis berbakat asal kota Malang. Acara pertemuan baru diakhiri menjelang sore hari setelah berdiskusi panjang lebar seputar dunia tulis menulis dan juga berbagai tips dan trik seputar menulis. Pada tanggal 26 Juli 2009, pertemuan rutin FPKM kembali digelar. Kali ini sebagai pemateri adalah Haryo Bagus Handoko, yang membeberkan panjang lebar tentang berbagai tips menulis, serta berbagai informasi seputar dunia kepenulisan mulai dari media surat kabar, majalah hingga peluang menerbitkan buku baik secara indie maupun melalui kerjasama dengan berbagai penerbit buku ternama di Indonesia. Acara ini mendapat respon yang cukup baik dari para peserta yang hadir. Pendek kata, banyak anggota FPKM yang kemudian semakin termotivasi untuk menghasilkan karya dan eksis di jagat tulis menulis nusantara. Bahkan beberapa diantaranya sudah mengambil ancang-ancang hendak menulis berbagai tema untuk kemudian diajukan kepada para editor penerbit buku ternama di Indonesia. Yang penting semangat! Dan sebagian besar anggota FPKM mempunyai semangat besar dalam menghasilkan tulisan, kemauan keras ala arek Malang dan juga semangat pantang menyerah! Pendek kata, arek Malang tidak boleh kalah dengan arek-arek Jogja maupun arek Jakarta dalam jagat tulis menulis. Harus semakin banyak lagi para penulis yang berasal dari kota Malang yang akan mewarnai jagat tulis menulis tanah air. Tak berselang berapa lama dari kegiatan motivasi menulis ini, salah satu cerpen anggota FPKM, yaitu Mbak Lutfi Fadila, yang berjudul “The Hunter”, berhasil dimuat di media The Jakarta Post, salah satu media cetak yang cukup ternama di tanah air. Tidak tanggung-tanggung, cerpen berbahasa Inggris yang dikirimkan ke editor The Jakarta Post telah berhasil dimuat di media tersebut dan ditayangkan pula di situs internet/website mereka. Salut buat Mbak Lutfi Fadila yang jago berbahasa Inggris ini. Terus semangat buat para anggota FPKM yang lain, agar segera menyusul mengukir prestasi di jagat menulis tanah air, seperti misalnya Mbak Wahyu Indah yang secara kontinyu menghasilkan karya-karya sinetron FTV yang tayang di SCTV serta novelnya yang diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Ike Puspita Sari yang novel-novelnya diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Etty Hentihu yang novelnya diterbitkan oleh Penerbit PuspaSwara, Mas Sidik Nugroho dan Mas Arie Saptaji yang kumpulan cerpennya berhasil diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dan juga Mas Haryo Bagus Handoko yang bakal segera merilis buku non fiksi keempatnya, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang juga menjadi salah satu kontributor untuk Healthy Life Magazine, Majalah Noor, dan Majalah Clara. Semangat menulis harus terus ditumbuhkan dan dibumbui dengan berbagai keterampilan serta ide kreatif agar tulisan kita senantiasa menarik untuk dibaca, serta bisa dijadikan sebagai sebuah profesi yang tidak boleh dipandang remeh. Berkat bakat tulis menulis ini pulalah, salah satu anggota FPKM, Mas Wawan Eko Yulianto, memperoleh beasiswa Fullbright oleh Pemerintah Amerika Serikat dan saat ini sedang menuntut ilmu gelar S2 di Arkansas, Amerika Serikat, serta Mas Yusli yang seorang dosen memperoleh beasiswa S2 di Universitas Oxford Inggris mendalami bidangnya dalam hal ilmu hubungan internasional. Jadi, ternyata arek Malang tidak kalah dengan arek-arek Jogja ataupun arek Jakarta dalam hal keilmuwan, tulis-menulis dan intelektual!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2009&lt;br /&gt;Bulan Agustus 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 9 Agustus 2009. Pembicara dalam acara pertemuan rutin ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang membawakan cerita pendeknya berjudul “Sang Pemburu”.  Versi bahasa Inggris dari cerita pendek ini berjudul “The Hunter” yang berhasil dimuat di media “The Jakarta Post”.  Namun dalam pertemuan tersebut yang dibahas adalah cerpen versi bahasa Indonesianya yang berjudul “Sang Pemburu”. Cerita pendek ini bercerita tentang kisah malang seorang gadis lulusan universitas yang karena keputusasaannya berniat berburu nasib yang lebih baik dengan menjadi seorang TKW di Malaysia. Namun sialnya ia justru ditipu mentah-mentah oleh perusahaan jasa PJTKI fiktif. Karena frustasi, maka si gadis dalam cerita ini pun akhirnya memilih menikah saja dengan pria yang ia cintai, walau pun ia hanyalah berstatus sebagai istri simpanan.  Cerita pendek yang ditulis oleh Mbak Lutfi Fadila ini mencoba mengupas kenyataan pahit dan realitas yang banyak dialami oleh kaum wanita Indonesia yang karena ambisinya untuk mengejar dan memburu mimpi dan nasib yang lebih baik, malah justru berakhir dengan kenyataan pahit.  Diskusi mengenai cerpen ini pun berlangsung seru. Para anggota dan pengurus FPKM pun menyoroti dan mengupas cerpen ini dari berbagai aspek. Mulai dari aspek emansipasi wanita dan kesetaraan jender, sempitnya peluang kerja, masalah maraknya outsourcing hingga aspek sosial kemasyarakatan lainnya. Salah satu pengurus FPKM, Mas Yusli yang baru saja pulang dari Inggris menyelesaikan studi S2 di Universitas Exeter juga turut antusias menyoroti kasus cerpen ini dari sudut pandangnya sebagai dosen pengajar hubungan internasional. Wah seru deh pokoknya. Analisisnya sampai ke mana-mana. Diskusi cerpen, jadi mirip debat terbuka dan analisis ilmiah masalah sosial, karena hadir juga di sini salah satu pengurus FPKM yang juga adalah guru pengajar ilmu sosiologi, yaitu Mas Kukuh Widyatmoko. Pokoknya cerpen ini dikupas dari berbagai segi. Benar-benar asyik.   Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2009, pertemuan FPKM kembali diadakan. Kali ini yang dibahas adalah masalah peluang menulis dan juga diskusi seputar berbagai event lomba menulis yang diinformasikan kepada para anggota FPKM. Informasinya sendiri berasal dari internet, dan seperti biasa, teman-teman pun saling bertukar informasi mengenai hal ini, serta berbagai informasi lainnya mengenai dunia tulis menulis dan jurnalistik.  Pertemuan kali ini jauh lebih santai dengan materi ringan karena bertepatan dengan permulaan bulan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 2009&lt;br /&gt;Bulan September 2009 yang masuk bulan puasa Romadlon, tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Teman-teman FPKM lebih banyak berkonsentrasi untuk menulis karya-karya artikel maupun naskah buku di rumah, ketimbang beraktivitas di luar rumah. Sebagian besar bahkan ada yang sejak awal bulan berlibur ke luar kota mengunjungi sanak saudara, takut tidak kebagian tiket perjalanan bila bepergian dekat dengan hari raya Idul Fitri. Namun demikian pertemuan rutin FPKM tetap digelar, walau sekedar merupakan obrolan santai sesama teman. Maklum saja, energi dan stamina tubuh di bulan puasa agak sedikit menurun dan kita harus pandai-pandai berhemat tenaga. Tapi toh, pertemuan rutin FPKM tetap tidak kehilangan makna dan semangat kekeluargaan. Pertemuan rutin yang digelar pada tanggal 6 September 2009 berlangsung seperti biasa dengan materi seputar dunia kepenulisan dan informasi terkini mengenai peluang-peluang menulis.  Walau sedikit yang bisa hadir dalam pertemuan kali ini (karena banyak yang berlibur ke luar kota, dan sebagian lagi sedang asyik dengan proyek penulisan buku dan artikel), namun teman-teman yang datang saat itu tetap semangat dalam berkiprah di dunia tulis menulis dan jurnalisme.  Walau dalam kondisi bulan puasa, namun suasana perpustakaan kota Malang tetap ramai dan hiruk pikuk seperti biasa. Tampaknya semangat membaca dan menulis masyarakat kota Malang tidak pernah surut walau di bulan puasa sekali pun. Sebagian teman FPKM bahkan ada yang ikut berbagai lomba dan kompetisi tingkat nasional, mulai dari lomba blog hingga lomba menulis cerita bersambung.  Teman-teman FPKM pun mulai sibuk mengumpulkan berbagai materi pendukung baik melalui riset hingga studi pustaka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibuat sebagai materi penulisan blog maupun dalam kompetisi menulis cerita bersambung yang pengumumannya mereka temukan tersebar di internet. Lumayan, untuk ngabuburit mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka puasa. Waktu menulis jadi lebih banyak selama di bulan puasa ini. Jadi bukannya semakin malas, teman-teman malah semakin produktif dalam berkarya. Hitung-hitung, lebih baik menulis untuk melupakan rasa lapar daripada tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Sebagian dari teman-teman FPKM juga mulai mengupdate blog mereka dan menulis berbagai artikel untuk mengisi majalah digital FPKM. Sebagian yang lain memang telah terjadwal untuk menulis mengejar tenggat waktu penulisan artikel yang bakal dimuat di berbagai media majalah dan surat kabar. Namanya juga penulis, maka menulis adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Benar, nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2009&lt;br /&gt;Bulan Oktober 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM sekaligus acara halal bihalal yang diselenggarakan pada tanggal 11 Oktober 2009. Dalam pertemuan rutin kali ini dibahas tentang seluk beluk dunia kepenulisan, berbagai tips dan informasi seputar peluang menulis dan banyak lagi sharing pengalaman sesama anggota dan pengurus komunitas ini dalam hal tulis menulis dan jurnalisme. Sebagai pemateri dalam acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang berbagi ilmu seputar trik menulis artikel dan mencari peluang menulis.  Sebagai seorang penulis harus ulet dan gigih dalam mencari peluang agar karya-karya tulisan kita bisa diterbitkan baik di berbagai media surat kabar atau pun majalah dan bahkan bisa jadi diterbitkan menjadi sebuah buku oleh penerbit buku. Jaringan dan networking seorang penulis harus kuat, harus mempunyai banyak kenalan dan relasi, khususnya menjalin silaturahmi yang baik dengan para editor media sehingga tahu lebih banyak corak tulisan yang bagaimana yang diinginkan oleh suatu media tertentu. Networking bisa dijalin dengan cara ngobrol langsung atau pun melalui dunia maya. Ada banyak cara untuk menjalin networking penulis secara luas. Networking tidak hanya dilakukan secara regional saja tapi juga bisa dilakukan secara nasional atau bahkan internasional, misalnya dengan menjalin silaturahmi yang baik dengan komunitas-komunitas penulis baik di dalam dan luar negeri. Acara sharing dan berbagi pengetahuan dan pengalaman pun mendapat respon dan tanggapan yang cukup baik di antara para penulis yang hadir dalam pertemuan rutin FPKM kali ini. Acara pertemuan sekaligus halal bihalal ini baru berakhir menjelang sore hari, karena begitu banyak hal yang diobrolkan seputar dunia tulis menulis.  Pada tanggal 25 Oktober 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini yang berperan sebagai pemateri adalah Mas Sidik Nugroho,  seorang guru pengajar, cerpenis, esais, sekaligus pengamat buku dan penulis resensi. Wah banyak benar keahlian Mas yang satu ini. Resensi tulisan Mas Sidik banyak dimuat di berbagai media cetak di Indonesia, demikian pula dengan cerpen karyanya yang sudah terbit dalam bentuk antologi cerpen. Dalam pertemuan kali ini, Mas Sidik membahas mengenai tips dan trik serta tutorial menulis resensi secara mudah namun berkualitas. Berbagai pengalaman dan pengetahuannya seputar menulis resensi buku dituangkan dalam bentuk teori-teorinya yang mudah dipahami. Kontan saja hal ini membangkitkan antusiasme di kalangan para anggota dan pengurus FPKM yang akhir-akhir ini semakin eksis berkarya di jagat kepenulisan tanah air.  Pengetahuan tentang menulis resensi yang baik dan obyektif merupakan hal penting yang perlu digali lebih banyak sebagai wujud apresiasi penulis di jagad kepenulisan dan perbukuan tanah air.  Salut buat Mas Sidik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2009&lt;br /&gt;Bulan November 2009 diawali dengan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang yang berlangsung pada hari Minggu, 8 November 2009, bertempat di teras Perpustakaan Kota Malang. Acara lesehan santai kali ini membahas dan mendiskusikan tentang puisi-puisi karya Mas  Imam Mukhlis yang mengusung metafora-metafora unik dalam mengekspresikan suasana batin saat proses kreatif menulis puisi. Pertemuan dan diskusi seputar dunia puisi ini diwarnai oleh pertanyaan-pertanyaan maupun kritik seputar isi dari puisi yang dibawakan oleh penulisnya.  Dunia sastra dan puisi memang seakan tiada habisnya untuk dikupas dan dibahas. Selalu muncul karya-karya dan ide-ide baru yang unik dalam proses berpuisi. Sementara itu ekspresi masing-masing seniman puisi juga memiliki corak warna yang berbeda-beda yang turut menganekaragamkan dunia sastra puisi di Indonesia. Tiap seniman puisi seakan memiliki ciri khas unik dan trademark tertentu yang menjadi label pada puisi karya-karya mereka. Ciri khas unik itulah yang mencoba selalu dimunculkan oleh sang penulis puisi untuk membedakan karya-karyanya dari corak karya puisi seniman lain. Acara pertemuan FPKM kali ini tidak hanya berbicara mengenai masalah puisi saja namun juga membahas berbagai aspek kepenulisan lain seperti aneka peluang menulis yang seolah tiada habisnya yang merupakan tambang emas bagi penulis untuk memperoleh penghasilan dari menulis.  Berbagai media masa membuka peluang selebar-lebarnya untuk menerima tulisan dari para penulis, namun seringkali kita sebagai penulis kurang memanfaatkan peluang yang ada, padahal prospek di dunia tulis menulis masih sangat luas. Indonesia masih membutuhkan begitu banyak penulis, jadi memang prospeknya masih bagus untuk menjadi penulis maupun wartawan.  Pada tanggal 22 November 2009 kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini sebagai pemateri adalah Mas Jemmy Sugianto, yang mengetengahkan tutorial menulis seputar penulisan naskah berita untuk media massa.  Mas Jemmy menjelaskan panjang lebar berbagai hal berhubungan dengan teknik dan trik menulis naskah berita agar kelihatan menarik dan bernilai jual.  Tulisan berita yang hambar dan cenderung membosankan perlu disulap menjadi sebuah artikel tulisan yang menarik. Untuk ini ada trik-trik khusus yang bisa dilakukan yaitu misalnya menampilkan judul berita (head news) yang bombastis tapi tetap jujur dan tidak mengada-ada.  Awal berita (lead news) dengan diksi atau pilihan kata yang tepat juga merupakan daya tarik bagi berhasil tidaknya sebuah tulisan berita menarik perhatian pembacanya. Demikian pula tentang tubuh berita (body news) dan bagian penutup (ending) harus tetap bersifat obyektif, jujur dan tidak memihak, namun tetap mengetengahkan poin-poin penting yang menjadi intisari dari berita atau tulisan yang hendak disampaikan.  Dalam menulis suatu berita atau artikel hasil peliputan, sebenarnya ada 5 hal yang harus selalu diperhatikan, yaitu bahwa jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada, jangan menipu pembaca, berusaha selalu transparan mengenai metode yang dilakukan dan motif penulisan berita tersebut, sebagai penulis berita harus percaya pada keaslian reportase sendiri dan hindarkan kebiasaan copy paste dari hasil peliputan jurnalis lain, serta berusahalah selalu rendah hati dalam menulis maupun dalam proses wawancara dan peliputan agar narasumber dengan senang hati memberikan keterangan sehubungan dengan berita yang hendak ditulis.  Mas Jemmy Sugianto dengan telaten dan detil menjelaskan bagian demi bagian dari materi yang disampaikannya, lengkap dengan contoh-contoh penulisan berita yang mudah diikuti dan dipahami oleh teman-teman penulis.  Pengetahuan singkat mengenai jurnalistik ini setidaknya cukup berharga dan dapat menjadi bekal bagi teman-teman penulis dalam menghasilkan tulisan maupun artikel yang berkualitas, obyektif dan cukup valid serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di tengah persaingan media yang cukup ketat dewasa ini, ujung tombak penentu oplah dan rating berita terletak pada penulis-penulis handal maupun jurnalis yang menentukan corak dan warna dari sebuah media massa sehingga tampil menarik dan mendapat kepercayaan masyarakat.   Agaknya hal ini pulalah, yang menjadikan Forum Penulis Kota Malang memperoleh kepercayaan dari penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama - Jakarta, untuk menjadi saluran penampungan naskah para penulis di Jawa Timur.  Berbekal profesionalitas dan kerja keras, Forum Penulis Kota Malang berusaha mengangkat potensi para penulis di daerah, khususnya di area Malang Raya dan Propinsi Jawa Timur untuk dapat menghasilkan naskah-naskah tulisan yang bermutu, dan layak tampil di jagat perbukuan dan kepenulisan tanah air.  Bila Anda mengaku sebagai seorang penulis, mahir menulis, dan mempunyai karya karya tulisan yang berbobot, mengapa tidak langsung saja bergabung bersama FPKM, di mana Anda bisa berdiskusi langsung, tanya jawab dan memperoleh informasi-informasi terkini seputar peluang menulis dan juga berbagai panduan gratis untuk memulai karir sebagai seorang penulis profesional, baik berprofesi sebagai wartawan, kolumnis, penulis buku, novelis, atau bahkan penulis naskah skenario sinetron televisi. Semua pengetahuan bisa diperoleh gratis di sini, hanya berbekal semangat, ketekunan, ketelatenan, dan tentu saja semangat saling berbagi dan belajar bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FPKM NEWS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH PUISI KARYA IMAM MUKHLIS&lt;br /&gt;Pada hari Minggu, 8 November 2009, bertempat di teras Perpustakaan Kota Malang, berlangsung acara pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang. Acara lesehan santai kali ini membahas dan mendiskusikan tentang puisi-puisi karya Mas  Imam Mukhlis yang mengusung metafora-metafora unik dalam mengekspresikan suasana batin saat proses kreatif menulis puisi. Pertemuan dan diskusi seputar dunia puisi ini diwarnai oleh pertanyaan-pertanyaan maupun kritik seputar isi dari puisi yang dibawakan oleh penulisnya.  Dunia sastra dan puisi memang seakan tiada habisnya untuk dikupas dan dibahas. Selalu muncul karya-karya dan ide-ide baru yang unik dalam proses berpuisi. Sementara itu ekspresi masing-masing seniman puisi juga memiliki corak warna yang berbeda-beda yang turut menganekaragamkan dunia sastra puisi di Indonesia. Tiap seniman puisi seakan memiliki ciri khas unik dan trademark tertentu yang menjadi label pada puisi karya-karya mereka. Ciri khas unik itulah yang mencoba selalu dimunculkan oleh sang penulis puisi untuk membedakan karya-karyanya dari corak karya puisi seniman lain. Acara pertemuan FPKM kali ini tidak hanya berbicara mengenai masalah puisi saja namun juga membahas berbagai aspek kepenulisan lain seperti aneka peluang menulis yang seolah tiada habisnya yang merupakan tambang emas bagi penulis untuk memperoleh penghasilan dari menulis.  Berbagai media masa membuka peluang selebar-lebarnya untuk menerima tulisan dari para penulis, namun seringkali kita sebagai penulis kurang memanfaatkan peluang yang ada, padahal prospek di dunia tulis menulis masih sangat luas. Indonesia masih membutuhkan begitu banyak penulis, jadi memang prospeknya masih bagus untuk menjadi penulis maupun wartawan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISKUSI TUTORIAL MENULIS BERITA&lt;br /&gt;Pada tanggal 22 November 2009 kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini sebagai pemateri adalah Mas Jemmy Sugianto, yang mengetengahkan tutorial menulis seputar penulisan naskah berita untuk media massa.  Mas Jemmy menjelaskan panjang lebar berbagai hal berhubungan dengan teknik dan trik menulis naskah berita agar kelihatan menarik dan bernilai jual.  Tulisan berita yang hambar dan cenderung membosankan perlu disulap menjadi sebuah artikel tulisan yang menarik. Untuk ini ada trik-trik khusus yang bisa dilakukan yaitu misalnya menampilkan judul berita (head news) yang bombastis tapi tetap jujur dan tidak mengada-ada.  Awal berita (lead news) dengan diksi atau pilihan kata yang tepat juga merupakan daya tarik bagi berhasil tidaknya sebuah tulisan berita menarik perhatian pembacanya. Demikian pula tentang tubuh berita (body news) dan bagian penutup (ending) harus tetap bersifat obyektif, jujur dan tidak memihak, namun tetap mengetengahkan poin-poin penting yang menjadi intisari dari berita atau tulisan yang hendak disampaikan.  &lt;br /&gt;Dalam menulis suatu berita atau artikel hasil peliputan, sebenarnya ada 5 hal yang harus selalu diperhatikan, yaitu bahwa jangan menambahkan sesuatu yang tidak ada, jangan menipu pembaca, berusaha selalu transparan mengenai metode yang dilakukan dan motif penulisan berita tersebut, sebagai penulis berita harus percaya pada keaslian reportase sendiri dan hindarkan kebiasaan copy paste dari hasil peliputan jurnalis lain, serta berusahalah selalu rendah hati dalam menulis maupun dalam proses wawancara dan peliputan agar narasumber dengan senang hati memberikan keterangan sehubungan dengan berita yang hendak ditulis.  Mas Jemmy Sugianto dengan telaten dan detil menjelaskan bagian demi bagian dari materi yang disampaikannya, lengkap dengan contoh-contoh penulisan berita yang mudah diikuti dan dipahami oleh teman-teman penulis.  Pengetahuan singkat mengenai jurnalistik ini setidaknya cukup berharga dan dapat menjadi bekal bagi teman-teman penulis dalam menghasilkan tulisan maupun artikel yang berkualitas, obyektif dan cukup valid serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di tengah persaingan media yang cukup ketat dewasa ini, ujung tombak penentu oplah dan rating berita terletak pada penulis-penulis handal maupun jurnalis yang menentukan corak dan warna dari sebuah media massa sehingga tampil menarik dan mendapat kepercayaan masyarakat.   Agaknya hal ini pulalah, yang menjadikan Forum Penulis Kota Malang memperoleh kepercayaan dari penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta untuk menjadi saluran penampungan naskah para penulis di Jawa Timur.  Berbekal profesionalitas dan kerja keras, Forum Penulis Kota Malang berusaha mengangkat potensi para penulis di daerah, khususnya di area Malang Raya dan Propinsi Jawa Timur untuk dapat menghasilkan naskah-naskah tulisan yang bermutu, dan layak tampil di jagat perbukuan dan kepenulisan tanah air.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku: Gajah Sang Penyihir (The Magician's Elephant)&lt;br /&gt;Penulis: Kate DiCamillo&lt;br /&gt;Ilustrasi: Yoko Tanaka&lt;br /&gt;Penerjemah: Dini Pandia&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Cetakan: September, 2009&lt;br /&gt;Tebal buku: 148 halaman&lt;br /&gt;Peresensi: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Augustus Duchene adalah pria kecil yang malang. Dibesarkan di sebuah apartemen kumuh oleh Vilna Lutz, seorang mantan tentara tua yang suka membentak-bentak dan menyuruh-nyuruh, hidupnya terkesan muram. Sampai suatu ketika ia melihat seorang peramal, dan tertarik membayarkan satu florit untuk mendengar apa kata peramal itu. Padahal, seharusnya ia memakai satu florit itu untuk membeli ikan dan roti, seperti yang disuruhkan Vilna kepadanya.&lt;br /&gt;Peramal itu, oleh Peter ditanyai sebuah hal yang paling meresahkan batinnya: apakah adiknya yang bernama Adele masih hidup? Jawaban yang diberikan sang peramal mengagetkannya: Adele masih hidup. Dan untuk menjumpai Adele, si peramal berkata: "Kau harus mengikuti gajahnya... gajah betina itu akan membawamu ke sana."&lt;br /&gt;Harapan dalam diri Peter tersulut. Ia gembira, sekaligus bimbang dan bingung. Bagaimana tidak? Seekor gajah akan membawanya kepada Adele? Yang benar saja --gajah dari mana? Selain itu, Vilna Lutz tua yang sakit-sakitan itu, yang mengaku sebagai sahabat ayah Peter, menyatakan bahwa ramalan itu palsu. Sejak Peter hidup dengannya, Vilna telah menjejalkan kisah hidupnya yang lain: bahwa ayah Peter dulu adalah tentara yang hebat seperti dirinya, dan ia tak punya saudara lagi. Peter bahkan dilatih tiap hari dengan pelajaran seputar ketentaraan agar dapat menjadi tentara yang baik suatu ketika.&lt;br /&gt;Namun, dengan cara yang ajaib, gajah itu benar-benar muncul, meresahkan segenap penduduk kota Baltese. Datangnya tak terduga pada sebuah acara yang digelar seorang penyihir. Penyihir itu, awalnya hendak membuat kejutan dengan menghadirkan hanya sebuket bunga lili dengan kemampuan sihirnya. Tak dinyana, ketika sihirnya ia mainkan, dari atas atap gedung opera seekor gajah yang besarnya bukan kepalang turun di tengah-tengah hadirin!&lt;br /&gt;Gajah itu membuat remuk kaki seorang bangsawan bernama Madam LaVaughn. Ia harus duduk di kursi roda karena kecelakaan itu. Berita kedatangan gajah pun menyebar di seantero kota Baltese. Peter pun mendengarnya -- harapannya menemukan titik terang.&lt;br /&gt;Dengan bantuan seorang polisi berbadan kecil bernama Leo Mattiene yang murah hati, seorang tukang batu pemberani yang suka tertawa sendiri bernama Bartok Whynn, Madam La Vaughn dan pelayannya yang bernama Hans Ickman, maka pencarian Peter akan Adele pun menjadi kisah yang menarik.&lt;br /&gt;Kisah yang digarap Kate DiCamillo ini agak berbeda dari beberapa bukunya yang sebelumnya. Sebelum ini ia telah menulis beberapa cerita anak (yang juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Gramedia): The Tiger Rising, The Miraculous Journey of Edward Toulane, Because of Winn Dixie dan The Tale of Desperaux. Dua yang terakhir disebut sudah difilmkan. Bedanya adalah, baru ini Kate DiCamillo mengangkat hal berbau sihir dalam ceritanya. Ya, tetap juga ada kesamaan: tokoh berupa binatang tetap tampil sebagai tokoh dominan dalam bukunya kali ini. Namun, kisah-kisah di buku-bukunya yang sudah-sudah lebih banyak dibumbui dengan tema persahabatan, keluarga, atau kepahlawanan.&lt;br /&gt;Apa pun tema yang digarap oleh Kate selalu menarik diikuti hingga tuntas, termasuk yang dilakukannya kali ini. Ini tak lain karena ia adalah seorang penulis yang berdedikasi penuh untuk menulis cerita anak-anak. Dalam sebuah wawancara ia mengaku menulis dua halaman dari hari Senin sampai Jumat sebelum bekerja di toko buku. Tulisan-tulisannya senantiasa tertutur rapi dan tak menjemukan. Ia pernah mendapatkan Newbery Medal, sebuah penghargaan untuk buku cerita anak-anak terbaik untuk bukunya The Tale of Desperaux.&lt;br /&gt;Buku The Magician's Elephant merangkum kecerdasan Kate DiCamillo bercerita: runut, imajinatif, dan kaya akan frasa yang disebutkan beberapa kali untuk membentuk imajinasi pembaca agar menyelami situasi yang sedang terjadi di kota Baltese. Baltese adalah sebuah kota yang tak ada di belahan dunia mana pun -- sebuah negeri antah-berantah. Dalam sebuah wawancara lain, Kate menyebutkan setelah ia selesai menggarap bukunya ini, ia menonton sebuah film yang berlatar kota Bruges di Belgia. Ia menyatakan kota itu, Bruges, mirip dengan Baltese yang ia ciptakan.&lt;br /&gt;Untuk melukiskan Baltese, juga para tokoh, dan situasi penting yang terjadi di sepanjang cerita, beruntunglah Kate mendapatkan Yoko Tanaka. Yoko, walau hanya mengandalkan nuansa hitam-putih dalam membuat ilustrasi, mampu mewakili imajinasi yang awalnya ada pada Kate. Gambar-gambar yang dibuatnya hampir semuanya terkesan muram. Ini mewakili situasi kota Baltese yang selalu mendung, namun tak kunjung disiram salju atau hujan.&lt;br /&gt;Salah satu ilustrasi yang menarik adalah gambar yang dibuat Yoko ketika melukiskan sebuah kamar Rumah Yatim-Piatu Susteran Cahaya Abadi (halaman 56). Kamar tidur itu berlangit-langit tinggi dan artistik. Di sana ada 14 tempat tidur yang semuanya ditiduri oleh anak-anak yang sedang lelap, kecuali sebuah tempat tidur. Seorang gadis kecil terjaga di tempat tidur itu, duduk di tepi tempat tidurnya. Rambutnya yang dikepang dua dengan lucu, membuat kita yang mengamatinya ingin memeluknya. Dialah Adele, adik Peter yang di suatu malam resah tak bisa tidur akibat mimpi yang baru saja dialaminya.&lt;br /&gt;Mimpi Adele hadir dalam tidurnya, bagai membawa harapan yang ada di benak Peter, abangnya, untuk bertemu dengannya. Namun, Adele yang masih belum genap tujuh tahun dan tidak tahu dengan lengkap jati-dirinya hanya bisa meraba-raba apakah mimpi itu akan mengubah hidupnya. Ia hanya tahu bahwa mimpi itu aneh, namun menyenangkan dan membahagiakannya.&lt;br /&gt;Nah, akan bertemukah dua kakak beradik ini nantinya? Ke manakah gajah itu nantinya akan dibawa? Buku ini terlalu bagus untuk Anda lewatkan, bila Anda menyukai imajinasi yang sering melintasi benak anak-anak kecil. Yang jelas, Peter dikisahkan tak setengah-setengah berjuang menemukan Adele. Walau tak pernah dilihatnya, Peter menyayangi adiknya itu sepenuh hatinya. Perjuangan Peter ini, pada akhirnya membidikkan pertanyaan yang membongkar kesejatian pengharapan dan keyakinan kita akan sesuatu hal yang hendak kita gapai: Sudah sungguh-sungguhkah kita mengejarnya sejauh ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku : The Leader in Me: Kisah Sukses Sekolah dan Pendidik Menggali Potensi Terbesar Setiap Anak.&lt;br /&gt;Penulis : Steven R. Covey&lt;br /&gt;Tebal : 294 hlm&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia&lt;br /&gt;Tahun terbit : 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Lutfi Fadila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah reformasi di bidang pendidikan tengah gencar melanda dunia saat ini. Bukan mengarahkan pendidikan pada basis modernisasi tetapi mengembalikan pendidikan pada prinsip dasarnya. Berawal dari sinergi keinginan orangtua, pengusaha penyandang dana sekolah, dan juga pendidik, yang prihatin dengan minimnya keahlian hidup generasi muda dalam menghadapi globalisasi, sebuah sekolah di bagian negara North Carolina proaktif mendesain pendidikan sekolah yang berbasis leadership atau kepemimpinan untuk anak SD. Semakin dini sebuah pembelajaran diberlakukan, maka semakin muda ilmu tersebut menempel di benak dan perilaku seseorang.&lt;br /&gt;Adalah Muriel Summers, kepala sekolah A.B.Combs Elementary, yang tergiring hatinya untuk menerapkan prinsip kepemimpinan kepada anak-anak di usia dini setelah merasakan manfaat mengikuti seminar 7 Kebiasaan Orang Efektif. Inti kurikulum sekolah kepemimpinan yang dia canangkan adalah sistem pengajaran yang menciptakan lingkungan sekolah sedemikian hingga mampu membentuk pribadi siswa mandiri, bertanggung jawab atas kehidupan masing-masing, mampu memecahkan masalah dengan ide-ide solutif, berkomunikasi secara lisan dan tertulis, berani bekerjasama dan menghormati individu lain. Beberapa hal positif yang dilaporkan beberapa sekolah yang telah menerapkan tema kepemimpinan adalah: meningkatnya prestasi dan rasa percaya diri siswa serta menurunnya pelanggaran disiplin.&lt;br /&gt;Ada sebuah prinsip dasar yang digunakan sebagai pengajaran di sekolah tersebut yaitu 7 kebiasaan orang-orang efektif. Tujuh kebiasaan itu adalah proaktif, mulai dengan tujuan akhir, dahulukan yang utama, berpikir menang-menang, pahami orang lain dahulu baru dipahami, lakukan sinergi, dan asah gergaji. Mengajarkan tujuh kebiasaan tersebut di sekolah bukan berarti menceramahi siswa tentang prinsip tersebut sepanjang pelajaran, tetapi menyatukan prinsip-prinsip tersebut dengan kegiatan mata pelajaran inti. Contohnya di kelas, guru membagi kelas dalam tim-tim kecil. Dalam tim tersebut masing-masing siswa mendapat peran sebagai pemimpin; pemimpin catatan, pengatur waktu, dan pembicara, yang masing-masing bertanggung jawab penuh dengan tugasnya.&lt;br /&gt;Dalam setiap gerak langkah sekolah pun tujuh kebiasaan tersebut diterapkan. Kebiasaan pagi di A.B.Combs ketika masuk kelas, para siswa disambut oleh guru dan tim penyambut yang bertugas memberikan sapaan hangat dan pujian positif kepada teman sekelas. Kegiatan tersebut akan memunculkan budaya menghargai orang lain sehingga akan menumbuhkan rasa percaya diri dan terbuka. Jadi siswa akan betah berada di sekolah dan patuh menerima pelajaran.&lt;br /&gt;Bagaimana membuat siswa berumur 5-12 tahun bisa memahami arti kepemimpinan menjadi agenda utama di A.B.Combs. Tiga perangkat utama yang dipakai di sekolah, selain mengajarkan prinsip 7 kebiasaan yang wajib dikuasai dan diterapkan para staff sekolah dahulu sebelum ditularkan pada murid, adalah alat Baldrige, strategi Ubiquitous, dan buku catatan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat Baldrige adalah alat kualitas berbentuk diagram dan gambar yang digunakan untuk membantu siswa dalam memperjelas konsep sebuah kejadian, merumuskan masalah, dan mencari solusi dengan cara visual dan menarik. Aplikasinya dalam mata pelajaran sastra, siswa disuguhi sebuah cerita kemudian siswa menuliskannya dalam diagram tentang karakter tokoh, seting, masalah yang timbul, solusi yang hadir, serta koneksi yang bisa dipikirkan siswa dengan kehidupan sehari-harinya.&lt;br /&gt;Strategi Ubiquitous bisa diartikan sebagai sistem penerapan yang menggabungkan pengajaran kepemimpinan dengan pelajaran inti dan juga kegiatan sehari-hari di sekolah. Jadi prinsip kepemimpinan diajarkan setiap hari sejak masuk lingkungan sekolah, bahkan siswa tak sadar mereka sedang mempelajarinya.&lt;br /&gt;Buku catatan bagi siswa A.B.Combs adalah barang pribadi yang wajib dimiliki. Di dalamnya berisi catatan target pribadi sehari-hari, target akademik, dan kemajuan dalam mencapai target. Manfaat buku ini adalah memberi umpan balik yang akan mendorong prestasi siswa. Dengan buku ini siswa akan membandingkan diri dengan target sendiri dan nilai yang mereka peroleh sebelumnya. Bukan membandingkan diri dengan siswa lain.&lt;br /&gt;Dengan berpegang pada 4 perangkat utama tersebut, A.B.Combs pelahan-lahan menjadikan kepemimpinan sebagai budaya sekolah. Sikap kepemimpinan telah menyatu menjadi perilaku, bahasa, tradisi, benda budaya, dan cerita lisan. Untuk membentuk perilaku, setiap awal tahun ajaran selama satu minggu penuh guru dan siswa akan berbicara tentang 7 kebiasaan, sopan santun dan etika kepemimpinan. Bahasa yang dipakai dalam sekolah mencerminkan budaya kepemimpinan mereka, salah satunya, menghormati orang lain: “Kami berfokus pada apa yang mereka bisa lakukan bukan apa yang tidak bisa mereka lakukan,” atau “Anak-anak, kalian kemarin telah melaksanakan tanggung jawab dengan sangat baik. Kami bangga dengan kalian.” Dengan kata lain, meyakini potensi anak-anak dan mengungkapkannya adalah bahasa sekolah kepemimpinan.&lt;br /&gt;Tradisi yang dikembangkan A.B.Combs bermacam-macam: perayaan hari kepemimpinan, inaugurasi, festival internasional, dan beberapa kegiatan dimana siswa diberi kesempatan memamerkan bakat dan menjadi pemimpin. Tradisi cerita lisan yang berkembang di sekolah ini cukup banyak. Seperti salah satunya kisah proaktif dan kepemimpinan berikut. Suatu hari seorang pemimpin paduan suara terlambat datang, seorang siswa kelas 4 tanpa ditunjuk berinisiatif berdiri di depan kelompok paduan dan melakukan pemanasan.&lt;br /&gt;Hal-hal baik selalu menjadi pandangan positif bagi dunia sekitar dan dijadikan sebagai contoh bagi yang lain. A.B.Combs yang menciptakan kurikulum kepemimpinan sejak tahun 1999 dan mulai dari 0, terlihat gaungnya setelah 5 tahun berjalan. Beberapa sekolah di seluruh negara bagian Amerika mengadakan kunjungan untuk mendapatkan ide pembaharuan dalam mendidik. Beberapa sekolah yang mulai menerapkan kurikulum kepemimpinan tidak hanya dari negara Amerika saja tetapi sudah melintasi benua. Mulai dari Eropa, Australia, dan juga Asia. Di antara negara Asia yang telah menerapkan sistem ini adalah Singapura. Jepang dan Malaysia belum memasukkan sistem ini pada kurikulum sekolah formal tetapi diterapkan dalam beberapa lembaga bimbingan belajar yang terbukti mampu meningkatkan prestasi akademik siswa secara signifikan.&lt;br /&gt;Jika orang tua di Indonesia belum menemukan sekolah seperti itu sebagai tempat pendidikan terbaik anak-anak, tidak perlu kecewa. Stephen Covey menambahkan di bukunya bahwa pendidikan kepemimpinan bisa dilakukan di rumah. Cara penerapannya tidak jauh beda dengan di sekolah-sekolah kepemimpinan, yaitu: menerapkan prinsip 7 kebiasaan dan menggunakan alat-alat kualitas yang bisa diciptakan sesuai kreatifitas orangtua. Yang terpenting, orangtua sebagai pendidik harus sudah memahami dan menerapkan prinsip dasar kepemimpinan sebelum mengajarkannya pada anak. Jadi, anak bisa menyerap langsung contoh yang bisa dilihat dan dirasa. Kemudian si anak akan mendengar segala pengajaran dari orangtua dengan sadar tanpa paksaan.&lt;br /&gt;Penulisan dan penataan bab dalam buku ini sangat bagus. Dikarenakan buku ini ditujukan pada para orang tua sekaligus pendidik maka penulis menggiring orangtua untuk memahami dulu arti kesuksesan dalam diri generasi muda. sebuah kesuksesan yang tidak bisa dilihat melalui kekayaan, jabatan, atau ketenaran. Untuk itu orangtua yang sering kali memaksakan harapannya pada sang buah hati akan dapat mengurangi ambisi mereka menuntut anak memperoleh kesuksesan semu. Setelah itu pembaca akan digiring untuk melihat kisah dan teknik pengajaran bertema kepemimpinan di beberapa sekolah seluruh dunia. Berikutnya ada beberapa tips khusus yang akan menguatkan para guru di seluruh dunia untuk turut serta menerapkan tema kepemimpinan ini di sekolah. Yang terakhir adalah membawa pendidikan berbasis kepemimpinan di rumah bersama orangtua yang peduli.&lt;br /&gt;Orang-orang yang akan menghargai keberadaan buku ini adalah para pendidik dan orang tua yang benar-benar peduli dengan masa depan generasi dalam asuhannya dan mengharap anak-anak mereka benar-benar memiliki keahlian yang mereka butuhkan dalam menghadapi abad yang semakin tidak bisa diduga arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku: Sukses Wirausaha Laundry di Rumah&lt;br /&gt;Penulis: Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Penerbit: Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal: xi + 138 halaman&lt;br /&gt;Cetakan pertama, September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Oktober 2009 ditandai dengan maraknya pemberitaan seputar penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) seantero Nusantara. Tak ayal, pemberitaan ini memancing ratusan ribu, bahkan jutaan orang, untuk berlomba-lomba mengejar status CPNS. Sebuah pola hidup yang bagi kebanyakan orang aman -- bahkan identik nyaman -- melekat pada status ini. Namun, berapa banyak orang yang nantinya gagal dalam ujian itu? Kita semua tahu: sangat banyak. Persaingan begitu ketat; sebuah posisi atau kebutuhan jabatan bisa diperebutkan oleh ratusan orang.&lt;br /&gt;Nah, tiap orang sebenarnya diberi daya-kreatif agar mampu menghasilkan sesuatu. Dengan imajinasi, kreatifitas, dan kompetensi-kompetensi lainnya, setiap orang dapat berdaya-guna dan berhasil-guna menghidupi hidupnya. Tentunya, hal ini didukung pula dengan rangkaian sumber-daya yang memadai.&lt;br /&gt;Hal inilah yang diuraikan dengan gamblang di bagian awal buku karya Haryo Bagus Handoko ini (dalam bab 1). Buku ini menyingkap dengan jitu di bagian awalnya: bahwa sebuah bisnis -- yang dulu tampaknya dimiliki segelintir orang berduit -- dapat dilakukan dengan manajemen sederhana dan modal kecil. Ya, bisnis laundry kini bertebaran di mana-mana. Semua orang, dengan modal yang tak terlalu besar, dapat memulai bisnis ini, dan berpeluang menemukan suatu kesuksesan finansial dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko adalah penulis telaten. Ia adalah pencatat yang detil sekaligus fotografer yang andal. Dalam bukunya ini ia tak hanya bicara serangkaian kiat atau suntikan motivasi yang penuh buih. Bahasanya lugas, pun deskripsi dan pembahasannya senantiasa menuju poin-poin yang memang patut diberi perhatian oleh sidang pembaca. Ia dengan lihai dan wajar menyampaikan hal-hal yang memang perlu dilakukan dalam mengemas sebuah paket usaha bernama laundry.&lt;br /&gt;Buku ini dibagi menjadi sembilan bab. Setelah bab pertama yang mencelikkan sidang pembaca tentang kemungkinan besar peraihan sukses dari bisnis ini, Haryo kemudian mengurai dengan apik bagaimana dan apa saja persiapan yang perlu dilakukan dalam memulai sebuah usaha laundry; pengelolaan usaha ini; dan kemudian detil pengoperasian usaha ini. Hingga di sini, bahasan yang disampaikan Haryo berbaur dengan beberapa motivasi yang kerap tersirat.&lt;br /&gt;Pada dua bagian berikutnya, Haryo mulai membahas hal yang bersifat teknis dan operasional. Ini berkaitan dengan bagaimana kita menangani bermacam noda yang ada pada sebuah pakaian -- atau produk selain pakaian yang dapat ditangani dengan usaha laundry. Kemudian, dengan gamblang pula ia menguraikan bentuk dan pola administrasi (pembukuan) yang bisa dilakukan dalam usaha laundry. Di dua poin inilah tampak benar kelebihan buku ini: penjabarannya tak hanya motivatif nan inspiratif, namun memuat beragam deskripsi yang perlu dan vital. Haryo bahkan menuliskan beberapa software yang dapat diunduh dari internet untuk kepentingan administratif perusahaan laundry.&lt;br /&gt;Tak berhenti sampai di situ, Haryo menambahkan beberapa bahasan seputar upaya-upaya memperbesar usaha. Dengan teliti dan amat deskriptif ia menguraikan apa saja yang dapat pembaca lakukan agar bisnis ini dapat berkembang dan meluas wilayah pemasarannya. Dan demi menguatkan pembahasannya, Haryo mengusung beberapa kisah inspiratif tentang beberapa wirausahawan laundry yang dapat ditelusuri jejaknya. Kisah-kisah ini tertutur jujur -- mereka yang dikisahkan semuanya memiliki alamat dan nomor telepon yang dapat dihubungi.&lt;br /&gt;Di bagian akhir, Haryo menutup bukunya dengan melampirkan analisis usaha yang akan jadi panutan utama bagi para pemula bisnis ini. Dengan lugas ia menyampaikan tentang peran modal, biaya operasional, payback period (waktu pengembalian modal), hingga penghitungan rugi-laba. Semua ini merupakan rangkaian langkah taktis sekaligus teknis bagi pembaca yang memang berniat menekuni bidang usaha ini.&lt;br /&gt;Buku ini terhitung lengkap sebagai sebuah acuan bagi para usahawan yang tertarik menekuni bisnis laundry. Bahkan, buku ini tampak seperti sebuah buku teks. Kita dapat saja membacanya dari awal sampai akhir seperti membaca novel; namun mengingat bentuk pembahasannya yang memuat beraneka poin taktis dan teknis, tak dapat dielakkan: buku ini perlu dibuka lagi -- dan lagi -- oleh para pebisnis laundry yang mengharapkan kemajuan dan perkembangan usaha.&lt;br /&gt;Namun, yang menjadi kelemahan buku ini adalah desain dan lay-out-nya. Gambar di sampul depan buku ini tampak kurang ceria dan kurang menarik. Terlalu minimalis: hanya memuat empat baris judul, gambar setumpuk pakaian di dalam sebuah keranjang, dan nama penulis. Selain itu, foto-foto yang ada di halaman-halaman buku ini, beberapa di antaranya tampil kurang maksimal karena pengecilan yang agak berlebihan. Seharusnya, foto-foto di dalam buku ini bisa menjadi ilustrasi yang lebih hidup bila ditampilkan lebih proporsional.&lt;br /&gt;Terlepas dari kelemahan itu, buku ini sangat patut dikoleksi oleh para wirausahawan muda. Bisnis laundry, dalam pembahasan yang ada di buku ini, tampak menjanjikan prospek bagus. Seperti yang telah disampaikan di bagian depan tulisan ini, banyak orang mungkin akan pupus harapan ketika tidak lolos CPNS -- atau tidak diterima setelah melamar kerja di sebuah perusahaan impian. Tak ada salahnya mencoba sesuatu yang baru. Tak ada salahnya pula mencoba usaha laundry. Ya, karena buku petunjuknya kini sudah tersedia bagi Anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul  : A Four Fingered Pianist; A Diary of Hee Ah Lee&lt;br /&gt;Penulis : Lee Hee –Ah&lt;br /&gt;Penerjemah : Irma Ekawati&lt;br /&gt;Halaman : x + 190 hlm&lt;br /&gt;Penerbit : Elexmedia Komputindo&lt;br /&gt;Kota Terbit : Jakarta&lt;br /&gt;Terbit : 2008&lt;br /&gt;Peresensi: Sismanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat cover sampul ini saya langsung tertarik untuk membacanya apalagi tertera kata diari di sana. Ya begitulah, saat ini buku-buku diari sangat dibutuhkan para penerbit dan diburu para pembaca. Tidak heran bila penerbit Elexmedia Komputindo kemudian menitahkan Irma Ekawati untuk menerjemahkan buku dengan judul asli “a Four Fingered Pianist; A Diary of Hee Ah Lee”.&lt;br /&gt;Hee Ah yang menulis diari ini adalah seorang pianis cacat berjari empat. Walaupun tubuhnya sudah cacat sejak lahir, tetapi dia tetap seorang gadis yang periang, sehat, bersemangat, dan selalu tersenyum. Buku ini adalah diari yang dia tulis secara teratur sejak dia kelas 3 SD, kemudia diedit oleh Ko Jung-Wook seorang pemenang sayembara menulis yang kebanyakan isi buku karangannya adalah obrolan dari anak-anak penyandang cacat, keluarga dan temen-temannya.&lt;br /&gt;Hee Ah menuliskan banyak guratan-guratan kesedihan di awal-awal tulisannya, namun kemudian mimpi demi mimpi dia raih dengan melakukan yang terbaik sampai akhir dalam hidupnya. Bila dulu dia pernah meminta kepada orang tuanya untuk tidak menunjukkan dirinya pada siapapun. Tapi, sekarang dia menunjukkan diarinya ini pada orang-orang yang disayanginya.&lt;br /&gt;Jarinya hanya ada empat, lutut adalah telapak kaki baginya. Dia bahagia sekali bila mempunya kari dan tangan seperti anak-anak yang lain, dia sering menangis bila mengingat bentuk tubuhnya yang seperti itu sejak lahir, tapi sekarang, dia bisa hidup lebih senang. Walau bentuk tubuhnya berbeda dengan yang lain, tapi dia punya mimpi yang sama dengan kalian. Dia kan berusaha meraih mimpinya…..&lt;br /&gt;Di dalam hidupnya dia mempunyai semboyan “berusaha melakukan yang terbaik sampai akhir” dengan begitu, dia bisa menyemangati dirinya sendiri dalam bermain piano. Hasilnya orang-orang yang mendengarkan permainan pianonya bisa merasakan kehangatannya.&lt;br /&gt;Anak-anak bertanya pada Hee Ah,&lt;br /&gt;“Kok kaki kamu pendek, sih?”&lt;br /&gt;“Kalau aku setinggi ini kan bisa bisa berteman dengan kalian!”&lt;br /&gt;Anak-anak bertanya pada Hee Ah,&lt;br /&gt;“Apa tidak sakit bermain piano dengan empat jari saja?”&lt;br /&gt;“Justru saat aku main piano, ada kekuatan yang muncul pada keempat jariku ini!”&lt;br /&gt;Anak-anak bertanya pada Hee Ah,&lt;br /&gt;“Mimpimu apa Hee Ah?”&lt;br /&gt;“Aku ingin menjadi pianis dunia dan membuat surga dunia bagi penyandang cacat!”&lt;br /&gt;Heeh Ah bertanya pada anak-anak&lt;br /&gt;“Kalau mimpi kalian sendiri apa?”&lt;br /&gt;Buku ini mengenalkan suatu cerita perjalanan seorang gadis cacat yang mampu memberikan isnpirasi bagi anak-anak cacat lainnya. Melalui buku ini, untuk anak-anak yang tidak mempunyai cacat tubuh, berbahagialah karena kalian mendapatkan anugerah berharga dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan acuan bagi guru SD terutama yang mengajarkan anak didiknya menulis diari dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku      : "Peta 50 Tempat Jajanan &amp; Oleh-Oleh Khas di Malang"&lt;br /&gt;Pengarang       : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal buku      : 116 halaman&lt;br /&gt;Tahun terbit    : Cetakan pertama, Februari 2009&lt;br /&gt;Profil buku     : http://wisatakulinermalang.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. Namun sayangnya, dari sekian banyak liputan yang ada, belum pernah ada yang mengupas secara detil aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang sedemikian lengkap seperti halnya yang bisa Anda baca dalam buku ini. &lt;br /&gt;Ulasan yang Anda jumpai dalam buku ini cukup menarik, lugas, dan detil, mulai dari sejarah berdirinya kota Malang, riwayat asal mula aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang, denah lokasi usaha yang berjualan jajanan dan oleh-oleh khas Malang, harga retail jajanan dan oleh-oleh,  dan bahkan sampai dengan ulasan singkat tentang bahan dan cara pembuatan beberapa jajanan dan oleh-oleh khas Malang. Agar tampil cantik dan menarik, sebuah buku wisata kuliner tentunya harus pula disertai dengan ilustrasi foto apik yang dapat memberikan gambaran bagi para pembacanya, demikian pula dengan buku ini. Anda akan bisa menjumpai begitu banyak foto ilustrasi aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang mengundang selera. Aneka tempat jajanan dan oleh-oleh di Malang bisa Anda baca ulasannya dalam buku ini, mulai dari yang bercitarasa tempo dulu/legendaris, yang tradisional, kontemporer hingga yang bercitarasa modern dan kaya inovasi. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka jajanan, kue-kue, serta camilan nan lezat lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku    : "Peta 50 Tempat Makan Makanan Favorit di Malang"&lt;br /&gt;Pengarang     : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal buku    : 136 halaman&lt;br /&gt;Tahun terbit  : Cetakan pertama, Maret 2009&lt;br /&gt;Profil buku   : http://wisatakulinermalang.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka masakan favorit khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. &lt;br /&gt;Dalam buku ini akan dibahas secara tuntas beragam jenis masakan dan minuman khas kota Malang, tempat-tempat makan makanan favorit di Malang, lengkap dengan alamat dan denah lokasi, harga makanan dan minuman, hingga ulasan singkat tentang bahan dan cara memasak serta penyajian masakan. Diperkaya dengan ilustrasi foto-foto yang cantik dan membangkitkan selera makan, siapa yang tidak ingin mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang terkenal berporsi besar, berharga murah lagi terjangkau. Makan kenyang dengan porsi besar tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena di Malang ada puluhan tempat makan yang menawarkan beragam jenis masakan bercitarasa lezat nan unik, cara penyajian yang menarik serta tempat makan yang nyaman, mulai dari yang legendaris, tradisional, kontemporer, hingga yang modern dan berkelas. Semuanya menawarkan beragam inovasi kuliner yang mengundang selera serta harga makanan yang cukup kompetitif lagi terjangkau. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang lezat, lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku : Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan&lt;br /&gt;Pengarang : Hans J. Daeng&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Pustaka Pelajar Offset&lt;br /&gt;Tebal halaman : 341 + xiii halaman&lt;br /&gt;Peresensi : Sismanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah organisme yang sangat kompleks, dimana secara hirarkisnya didasari oleh latar belakang atau asal usul dari penciptaan manusia itu sendiri. Karena manusia tu mempunyai jiwa fisik, yang mana keduanya mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya.&lt;br /&gt;Menurut Van den Daele pada dasarnya ada dua proses perubahan yang saling bertentangan yang terjadi secara bersamaan selama kehidupan itu berlangsung, yaitu proses perkembangan dan perubahan yang mendasar dari pengaruh internalisasi dan eksternalisasi pada manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tehadap perubahan dalam perkembangan diri manusia itu sendiri antara lain:&lt;br /&gt;1. Penampilan diri&lt;br /&gt;Penampilan diri yang terjadi pada diri manusia terjadi akibat dari pengaruh baik itu dari lingkungan ataupun dalam diri dirinya sendiri, hal ini didasari atas sikap dan perilaku terhadap lawan jenisnya dan juga ingin menunjukkan keindahan, kebolehan dan juga menampilkan apa yang menjadi kelebihan pada dirinya.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan itu akan diterima oleh seseorang bilamana sikap dan perilakunya dipandang baik dan menyenangkan. Sedangkan perubahan-perubahan yang mengurangi penampilannya akan ditolak atau tidak diterima dan secara langsung akan berusaha untuk menutupinya.&lt;br /&gt;2. Perilaku&lt;br /&gt;Manakala perubahan dalam sikap perilaku itu dipandang memalukan atau kurang baik dalam pandangan umum, maka ia harus berusaha untuk merubah sikap tersebut bilamana ia telah dewasa, hal ini akan berpengaruh pada pergaulan dia di masyarakat.&lt;br /&gt;3. Pengalaman pribadi&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi mempunyai pengaruh besar terhadap sikap individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan, karena kewenangan dan kewibawaan pada usia muda itu sangat menurun disaat mereka menjelang pensiun. Sikap mereka terhadap pengalaman yang kurang baik itu akan direspon kurang menyenangkan baik di masyaakat ataupun di tempat-tempat lain.&lt;br /&gt;4. Perubahan peranan&lt;br /&gt;Sikap terhadap orang yang berbeda usia dan umur sangatlah dipengaruhi oleh peran yang mereka mainkan, bila peran mereka itu diubah, maka sikapnya akan kurang baik dan tidak merespon atau kurang senang.&lt;br /&gt;5. Stereotip budaya (budaya meniru)&lt;br /&gt;Dalam stereotip ini dipakai untuk menilai manusia, karena bertambahnya usia seseorang akan berpengaruh pada perubahan dan akan mudah untuk meniru-niru apa yang ia lihat dan ia alami dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;6. Nilai-nilai budaya&lt;br /&gt;Setiap kebudayaan mempunyai nilai tertentu, yang berkaitan dengan usia-usia yang berbeda. Dalam usia ini ini sangat menyenangkan karena jiwa dan kepribadiannya cenderung bebas berdikaridan ingin mengetahui dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Kebudayaan merupakan adalah sebuah konsep yang memiliki varian definisi ditinjau dari sudut pandang apa dan dari mana diintepretasikan. Definisi yang paling menonjol adalah yang dikemukakan oleh Geezt yang menunjuk pada sebuah “sistem simbol” yang berfungsi untuk mengarahkan tingkah laku.&lt;br /&gt;Tulisan Dr. Hans J. Daeng yang merupakan kumpulan tulisan yang ditulis dengan gaya yang mudah dibaca dikelompokkan ke dalam kelompok budaya umum yang melihat kebudayaan pada berbagai masyarakat dan dalam brbeagau bentuk simbol yang menata tingkah laku sosial. Sebagai seorang antropolog Dr. Hans J. Daeng melihat bahwa kebudayaan merupakan faktor yang berpengaruh langsung menata sistem dan struktur sosial.&lt;br /&gt;Persoalan menonjol yang ditunjukkan dalam tulisan Dr. Hans J. Daeng bahwa perubahan itu merupakan hal yang konstan dan memperlihatkan proses dinamis dalam kehidupan suatu masyarakat, misalnya bahwa manusia itu adalah animal historicum yang menyimpan historicumnya sendiri (lihat hlm. 399).&lt;br /&gt;Buku yang ditulis dengan pendekatan antopologis ini mengungkapkan makna yang kompleks dalam variasinya maupun dalam sifatnya yang universal. Dengan kebudayaan tampaknya hidup lebih bermakna dan manusia lebih arif dan bijaksana. Pada akhir tulisan Dr. Hans J. Daeng mengajak pembaca dalam perenungan yang dalam tentang makna hidup manusia dan mangajak untuk menjadi bijak mengikuti dinamika perubahan waktu yang menurut penulis tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;Pada tulisan buku karya Dr. Hans J. Daeng masih belum rinci dalam arti secara konsepsi maupun bahasannya masih bersifat global dan universal. Hal ini dikarenakan terlalu luasnya bahasan dari buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul Buku: Cita-cita&lt;br /&gt;Penulis: M. Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Penerbit: Diva Press&lt;br /&gt;Tebal: 234 halaman&lt;br /&gt;Cetakan Pertama, Mei 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keberhasilan adalah hak kita. Datangkanlah keberhasilan dengan cara-cara yang baik; perhatikan penggunaan waktu Anda, lalu lihatlah apa yang terjadi kemudian."  -- Mario Teguh&lt;br /&gt;Kata-kata Mario Teguh di atas rasanya tepat benar mewakili hidup komponis besar Beethoven, seorang musisi yang amat terkenal dan melegenda -- utamanya karena ia terus berkreasi ketika tuli total saat dan setelah berusia lima puluh tahun.&lt;br /&gt;Beethoven menjadi komponis besar karena ketekunannya. H.A. Rudall, penulis biografinya, menyatakan, "Pada musim dingin atau musim panas, Beethoven bangun pagi saat matahari terbit. Kemudian, dia duduk di depan meja tulisnya, dan terus menulis sampai waktu makan siang yang biasanya dia lakukan pada pukul dua atau tiga sore. Pekerjaannya tidak pernah terputus kecuali untuk berjalan-jalan mencari udara segar, tapi selalu dengan menuliskan notes untuk menuliskan inspirasi segar yang didapatnya saat berjalan."&lt;br /&gt;Karya-karyanya kemudian bertahan lama, diakui banyak kalangan sebagai karya-karya yang hebat. Tanpa perjuangan yang keras, tidak mungkin ia bisa sehebat itu. Memang ada juga musisi yang sangat cerdas, seperti Mozart "Sang Anak Ajaib". Dalam sebuah buku disebutkan bahwa Mozart adalah orang yang sangat tergesa-gesa, selain suka berfoya-foya. Dibandingkan Beethoven, keteraturan dan kedisiplinannya dalam berkarya rasanya jauh berbeda.&lt;br /&gt;Namun, tak bisa disangkal, musik-musik Mozart yang mewakili ekspresi-ekspresi spontan yang berawal dari kelelahannya, adalah musik-musik yang luar biasa. Sayangnya, Mozart mati muda. Beberapa orang beranggapan ini juga terjadi karena kekurangteraturan hidupnya.&lt;br /&gt;Mozart dan Beethoven. Dua pribadi, dua kebiasaan. Dari keduanya kita dapat bercermin. Tak banyak orang yang lahir seperti Mozart. Ia dianugerahi Tuhan kecerdasan musikal yang sangat tinggi. Anggapan ini bukan berarti bahwa kemahirannya mencipta lagu tak perlu diasah dengan berlatih secara serius, namun lebih berdasarkan kenyataan bahwa dia memahami musik lebih cepat. Berbeda dengan Mozart, Beethoven lebih menyisakan jejak kehidupan yang lebih mungkin ditiru oleh pembaca riwayat hidupnya secara alami.&lt;br /&gt;Ketelitian, kemahiran, dan keapikan sebuah karya lahir dari inspirasi tanpa henti yang terus digali dan dipelajari dalam hidup seseorang yang bercita-cita.&lt;br /&gt;Nah, kali ini, Anda tidak sedang membaca sebuah ulasan atas buku tentang musik. Dalam buku inspirasi dan motivasi karya Iqbal Dawami ini, secuil kisah hidup Beethoven yang sangat menarik ini, rasanya sangat mewakili pesan penulisnya tentang hakikat hidup: kita harus memiliki cita-cita. Iqbal, lewat puspa-ragam kisah, ilustrasi dan pemikiran yang disampaikannya dalam buku ini, secara tegas hendak menggarisbawahi apa yang pernah dinyatakan John C. Maxwell: "Lebih baik Anda memiliki cita-cita dan kemudian tak berhasil meraihnya, daripada tak pernah memilikinya."&lt;br /&gt;Dalam buku ini terdapat 23 renungan yang sarat dengan hikmah dan petuah. Semuanya merupakan artikel lepas pada awalnya, tak saling bersinggungan satu dengan yang lain. Yang menjadi benang merahnya adalah sebuah niat yang muncul dari penulisnya agar pembaca dapat mengubah kelemahan/kegagalan menuju optimisme/kekuatan hidup.&lt;br /&gt;Iqbal adalah penulis yang kaya akan perspektif. Sebagian kisah atau ilustrasi yang ia gunakan di tiap-tiap artikelnya di buku ini mungkin sudah pernah Anda baca di internet. Namun, cara Iqbal mengurai dan menghadirkan penafsiran dari tiap kisah yang diangkatnya, terasa segar dan lain. Kita jadi betah menikmati apa yang disuguhkannya.&lt;br /&gt;Selain itu, Iqbal adalah penulis yang berdimensi luas. Di buku ini kita akan mendapati artikel-artikel dengan beragam latar atau ilustrasi. Ada yang membahas hidup seorang penulis. Ada yang diangkat setelah menyaksikan sebuah film. Ada yang digarap dengan merenungkan dalam-dalam tentang hakikat dan hal-hal seputar cinta dan waktu. Semuanya menuntun kita untuk mengingat lagi -- juga merenungkan, bahkan menemukan -- apa yang harus kita utamakan dalam kehidupan ini, meraih cita-cita dan mengatasi berbagai persoalan hidup.&lt;br /&gt;Sebagai saran penutup, bab-bab dalam buku ini, tak perlulah dibaca terburu-buru. Masing-masing menyediakan renungan yang indah dan tersendiri untuk dihayati. Ibarat meminum teh, kala malam seorang diri -- kita tak buru-buru menghabiskannya. Kita menyeruputnya pelan-pelan, menikmati kehangatan yang dihadirkannya di leher dan perut kita. Dan, meminum teh rasanya bukan hanya tepat menjadi ibarat bagi cara menikmati buku ini. Bila Anda suka meminum teh, rasanya akan nikmat sekali membalik-balik lembaran buku ini dalam kesunyian malam, ditemani secangkir teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;Judul buku: “Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima”&lt;br /&gt;Pengarang: Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama (http://www.gramedia.com)&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, Agustus 2008&lt;br /&gt;Jumlah halaman: 126 halaman&lt;br /&gt;Profil buku: http://pachypodium-indonesia.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis&lt;br /&gt;Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an.  Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak.  Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini.  Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh.  Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18.  Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi.  Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia.  Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan.  Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.  &lt;br /&gt;Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium.  Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.&lt;br /&gt;Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem.  Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar.  Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium.  Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.   &lt;br /&gt; Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan.  Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru.  Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium.  Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika.  Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika.   Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos.  Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.  &lt;br /&gt;Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun.  Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut.  Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium =  kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya.   Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif.   Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite).  Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu).  Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik.  Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan.  Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India).  Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah.  Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah.  Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang.  Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar.  Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang.  Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia.  Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana.  Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi.  Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu.  Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia.   Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.&lt;br /&gt;Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium  kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia.  Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika.  Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp).  Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar.  Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii.  Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii.  Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika.  Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen.  Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus.  Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah.  Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri.   Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi. &lt;br /&gt;Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi.   Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air.  Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias.  Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga.  Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain.  Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan.  Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINCANG SASTRA&lt;br /&gt;Novel : Arthur and George&lt;br /&gt;Pengarang : Julian Barnet&lt;br /&gt;Terbit : 2005&lt;br /&gt;Peresensi: Lutfi Fadila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Arthur dan George diangkat dari sebuah peristiwa nyata di sidang peradilan yang terjadi pada awal tahun 1900an di negeri Ratu Elisabeth. Kisah ini sangat terkenal karena yang menjadi tokoh utamanya adalah seorang penulis detektif ternama, Sir Arthur Conan Doyle dan seorang pengacara biasa-biasa saja, George Edalji. Pada pertengahan cerita, George Edalji dijadikan tersangka utama pembantai binatang ternak di daerah sekitarnya oleh para polisi dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara oleh pengadilan. Setelah tiga tahun dia dinyatakan bebas. George yang merasa tidak bersalah berusaha membersihkan nama baiknya, salah satu caranya adalah mengirimkan surat kepada pencipta detektif Sherlock Holmes yang sangat popular pada akhir era 1800an. Waktu itu kebetulan saja Sir Arthur yang sedang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya membaca dan mengamati surat teratas diantara tumpukan surat-surat penggemarnya yang menggunung dan berteriak histeris bahwa kasus George Edalji harus diluruskan untuk membersihkan sebuah nama baik.&lt;br /&gt;Julian Barnet menuliskan kembali sebuah kasus yang memang terlihat sepele tapi sangat unik diteliti detail kisahnya. Selain menceritakan bagaimana upaya Sir Arthur menangani delik perkara nyata, penulis dengan jeli mengungkapkan kecerobohan polisi dalam mencari tersangka kriminal. Kecerobohan polisi pertama adalah tidak menyelidiki dengan teliti tentang kebenaran surat anonym yang dikirimkan kepada mereka. Yang kedua polisi dengan membuat kesimpulan sendiri mencurigai George Edalji, satu-satunya nama nyata yang ada di dalam surat anonym. Yang ketiga, polisi tanpa surat penggeledahan yang sah langsung mencari barang bukti ke rumah George. Sehingga tampak nyata bahwa kerja polisi mencari pelaku tindak criminal tidak sungguh-sungguh bahkan terkesan asal tangkap dengan bukti yang bisa direkayasa. Selain polisi, kejaksaan juga bekerja dengan seenaknya. Pada kasus George, jaksa bekerja hanya untuk memberatkan terdakwa dan terobsesi mengirimnya ke penjara, tanpa mau melihat sisi tidak bersalah orang yang ada di kursi pesakitan.&lt;br /&gt;Begitukah kinerja kepolisian dan lembaga peradilan diseluruh dunia bekerja? Entahlah, Kita pun tidak bisa menghakimi. Namun, berita salah tangkap dan putusan pengadilan yang keliru sering terjadi di sekitar kita. Apalagi jika yang menjadi terdakwa adalah warga negara kelas bawah yang tidak punya modal untuk membayar pengacara handal, dia akan menjadi kambing hitam gemuk dihadapan kepolisian dan kejaksaan.&lt;br /&gt;Novel Julian Barnes ini diklaim sebagai novel yang sangat detail dan unik pengisahannya. Tidak hanya focus pada kasus salah tangkap George Edalji saja, kisah masa kecil George yang tinggal di lingkungan chapel dan sering mendapat fitnah dari anonym, juga dijadikan benang merah cerita. Selain itu kisah masa kecil, pemuda, dewasa Dr Conan Doyle juga mendapat porsi sama besar dalam buku setebal lebih dari 500 hal ini. Sehingga pembaca dapat memahami faktor keberuntungan atau kehendak Tuhankah, Dr Doyle mau turun tangan atas masalah George Edalji.&lt;br /&gt;Tentu saja dengan cara penceritaan yang berfokus pada lebih dari satu orang, pembaca wajib bersabar mengikuti narasi cerita yang harus terhenti beberapa kali untuk menengok kisah dari satu tokoh ke tokoh yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINCANG SASTRA&lt;br /&gt;THE CHOSEN: YAHUDI ORTODOKS, PERSAHABATAN, ZIONISME, DAN DIAM&lt;br /&gt;Oleh: Wawan Eko Yulianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar Anda tidak beli kucing dalam karung, saya akan daftar dulu poin-poin resensi kali ini, atas buku The Chosen karya Chaim Potok (bacanya khaim potok): yahudi ortodoks, persahabatan remaja, zionisme, diam. Secara singkat, buku ini berkisah tentang persahabatan dua orang remaja, Reuven dan Danny, yang berasal dari dua latar belakang berbeda. Dengan sifat dan minat dan didikan serta kebiasaan yang juga tak kalah bertolak belakangnya mereka tumbuh menjadi sepasang sahabat yang klop. Di satu saat pandangan politik dan spiritual orang tua mereka menghalangi persahabatan itu, tapi ujung-ujungnya mereka tetap bersahabat hingga akhirnya mereka harus berpisah karena salah satu harus kuliah ke kota lain. Begitulah super-singkatnya. Dalam paragraf-paragraf selanjutnya saya akan lebih banyak membahas poin-poin penting dari buku ini seperti tercantum di kalimat pertama.&lt;br /&gt;Paling utama: buku ini pada sebagiannya adalah hikayat mengenai dua kelompok Yahudi ortodoks di era modern Amerika Serikat. Kelompok pertama yang diperlihatkan adalah kelompok Yahudi ortodoks yang bisa dibilang tidak terlalu berbeda dengan masyarakat Amerika lain pada umumnya secara penampilan. Yang membedakannya dengan orang Amerika umum atau orang Yahudi yang non-ortodoks adalah bahwasanya mereka sekolah di “yeshiva”, yaitu sekolah khusus Yahudi dengan penekanan pada pelajaran Talmud, atau pembahasan hukum-hukum Yahudi. Kelompok ortodoks ini juga mengaji talmud di rumah, pergi ke sinagog, mengikuti perintah tidak bekerja pada hari Shabbat (harinya Sabtu), dan sejenisnya. Di antara dua sahabat di buku ini, Reuven adalah yang berasal dari kelompok ortodoks standar ini. Dalam praktik beragamanya, para rabbi dari kelompok ini sudah banyak yang menerima perkembangan pemikiran sosial modern, seperti penggunaan teori-teori filsfat dalam ilmu Talmud. Ayah Reuven, seorang guru yeshiva, juga suka menulis artikel dengan memasukkan pemikiran-pemikiran modern.&lt;br /&gt;Kelompok yang kedua adalah kelompok Hasidik, yaitu satu kelompok Yahudi yang lebih ortodoks dibandingkan kaum ortodoks standar, atau seringkali disebut “ultra-ortodoks”. Kelompok ini secara penampilan saja sudah berbeda dengan warga AS pada umumnya. Mereka sehari-hari memakai jubah hitam dengan baju putih tanpa dasi, punya kuncir di bagian cambang, kalau sudah dewasa suka memanjangkan jenggot. Kelompok ini berdiri pada sekitar awal abad ke-17 mengikuti aliran penafsiran atau pemikiran Baal Shem Tov. Satu hal yang menonjol dari cara pandangan keagamaan kelompok ini adalah penekanannya yang lebih besar kepada emosi tinimbang kepada akal. Bagi mereka, penafsiran kitab dengan disusupi ilmu-ilmu modern adalah sama dengan bidah, atau mereka menyebut para pelakunya “apikoros” atau “apikorsim” (jamak). Di sini Danny merupakan putra seorang “tzaddik” (sebutan buat pemuka agama Yahudi Hasidik. Dalam perbincangan sehari-hari pun kelompok ini lebih menggunakan bahasa “Yiddish” tinimbang bahasa Inggris. Oh ya, maaf jadi sok tahu terus-terusan: Yiddish merupakan bahasa dari akar Jerman Pertengahan yang lazim dipakai di kalangan Yahudi, khususnya yang ortodoks.&lt;br /&gt;Dalam hal poin kedua, yaitu “persahabatan remaja”, perlu dijelaskan bahwa Danny dan Reuven mengawali persahabatan mereka dalam sebuah kebetulan yang kurang menyenangkan: kecelakaan dalam pertandingan baseball. Danny memukul bola baseball lurus ke arah mata Reuven dan Reuven yang pada waktu itu bertindak sebagai pengumpan tidak menghindar dan akhirnya harus operasi mata karena ada pecahan kacamata yang menancap ke matanya. Sementara itu, di lain tempat Danny secara kebetulan mengenal ayah Reuven ketika si bocah ultra-ortodoks ini secara sembunyi-sembunyi mempelajari ilmu-ilmu modern di perpustakaan. Ayah Reuven menyarankan buku-buku yang kiranya cocok untuk Danny baca. Oh ya, Danny adalah seorang anak jenius yang punya ingatan fotografik, bisa mengingat secara detil, dan karenanya cepat belajar. Di sinilah kompleksitas antara dua kelompok ini: ayah Danny yang ultra ortodoks itu anti ilmu-ilmu modern, tapi anaknya yang jenius haus akan ilmu-ilmu modern. Konflik akan lebih banyak berkutat di kalangan keluarga Danny, sementara Reuven dan ayahnya merupakan orang luar yang akhirnya terlibat dalam penyelesaian konflik ini.&lt;br /&gt;Danny yang tidak pernah berbicara dengan ayahnya itu menjalin persahabatan erat dengan Reuven karena dia menemukan tempat menuangkan segala keluh-kesahnya terkait keinginannya belajar psikologi setelah lulus SMA yang terbentur dengan harapan ayah dan kaumnya yang membutuhkan dia sebagai “tzaddik” di masa depan. Dalam hasidisme, posisi “tzaddik” merupakan posisi turun temurun. Jadi, bisa dibilang Danny terjebak dalam cita-cita kaum dan harapan keluarga. Tapi, dia terus-menerus belajar psikologi dan bahkan Freud secara sembunyi-sembunyi dari ayahnya. Psikoanalisis pada usia limabelas tahun!!! Ingat, dia jenius dengan ingatan fotografik!!! Namun, ayah Danny akhirnya mengendus bahwa anaknya suka membaca psikologi di perpustakaan secara sembunyi-sembunyi. Dan di sinilah peran Reuven muncul: bagian tertentu dalam kepercayaan hasidisme tidak memungkinkan ayah Danny berbicara dengan Danny, dan Reuven-lah yang menjadi mediator antara keduanya.&lt;br /&gt;Belakangan, setelah usai Perang Dunia ke-II, dan AS menyingkap bahwa Hitler dan rezimnya telah melakukan pembunuhan massal terhadap sekitar 6 juta warga Yahudi, mulai muncullah gerakan yang menjadi topik bahasan ketiga kita: Zionisme. Ayah Reuven sedih bukan kepalang mengetahui kabar genosida itu, dan dia memulai dan memimpin gerakan moral pro-zionisme untuk mendukung terciptanya sebuah negara Yahudi di Palestina, yang dipercaya kaum Yahudi sebagai tanah mereka sesuai janji dari nabi Musa. Gerakan moral ini berkembang pesat dengan banyaknya pendukung dan juga sumbangan finansial dari pengusaha-pengusaha Yahudi yang mulai bangkit perannya pada dekade 1940-an itu. Sementara itu, Palestina masih di bawah kekuasaan Inggris, sebagai sisa-sisa imperialisme Inggris dan hasil kemenangan mereka di Perang Dunia I atas kekaisaran Ottoman. Migrasi orang-orang Yahudi yang sudah dimulai oleh gerakan proto-zionisme BILU pada tahun 1882 pada saat itu telah dianggap ilegal oleh Inggris, tapi kaum Yahudi terus menyelundupkan diri mereka ke Palestina pada tahun 1940-an itu (btw, jangan kuatir, informasi di bagian awal paragraf ini bukan saya dapatkan dari novel kok, tapi dari kuliah Dr. Mohja Kahf dan beberapa website, jadi bisa dibilang bukan fiksi, tapi salah satu VERSI sejarah). Ayah Reuven yang tergabung dalam Jewish National Fund terus berdemonstrasi, pawai, dan berkampanye agar Inggris menyerahkan urusan Palestina ke PBB. Di lain pihak, ayah Reuven tidak setuju dengan gerakan pendirian negara Yahudi ini karena kelompoknya lebih MENUNGGU datangnya mesiah. Dan dia berpandangan lebih baik tinggal di negara “goyim”, sebutan kafir dalam terminologi Yahudi, daripada tinggal negaranya “goyim Yahudi”—dia menganggap orang Yahudi yang terpengaruh pemikiran duniawi itu sama halnya dengan “goyim”. Pada saat konflik antara kaum Yahudi pro dan anti zionisme ini semakin memuncak, ayah Danny malah melarang anaknya berbicara dengan Reuven, yang merupakan anak pimpinan gerakan pro-zionisme. Bayangkan, kuliah di satu universitas, mengambil beberapa kelas yang sama, tapi tidak boleh berbicara—dan sekali mereka berbicara, pasti mata-mata ayah Danny akan melapor.&lt;br /&gt;Di paragraf di atas, akan ketahuan bahwa di kalangan orang Yahudi pun terjadi perbedaan pandangan terkait zionisme. Tapi, di novel ini diceritakan bahwa pada akhirnya kelompok ultra-ortodoks tidak lagi menentang kelompok pro-zionisme setelah terjadinya pembunuhan warga Yahudi oleh warga Arab dan karena pada akhirnya negara Israel itu berhasil juga didirikan, meskipun pada prinsipnya ayah Danny sang rabbi hasidik itu masih belum setuju dengan pendirian Negara Yahudi dengan pemerintahan non-relijius. Di sini setidaknya ada sedikit titik terang buat kita orang Indonesia yang negaranya termasuk salah satu yang tidak mengakui kedaulatan Israel: sebijaknya kita tidak rancu antara Israel dengan agama Yahudi, dan Israel lebih merupakan gerakan politik tinimbang gerakan agama, dan sebagai agama Yahudi termasuk agama yang harus dihormati jika kita merujuk ke hadits-hadits yang mengisahkan persentuhan Rasulullah Muhammad SAW dengan kaum Yahudi. Dr. Kahf berargumen bahwa Israel lebih bersifat sekuler, dan dia menyatakan tiga hal terkait konflik Israel-Palestina, yaitu: 1) konflik itu bukan bersifat keagamaan, 2) bukan konflik yang berlangsung selama ribuan, atau bahkan ratusan, dan 3) bukan konflik antara bangsa Arab dan Yahudi, tapi konflik perebutan tanah. Dan satu hal yang disoroti Dr. Kahf dari dua novel Yahudi yang dia bahas dalam kuliahnya (yaitu novel Portnoy’s Complaint oleh Philip Roth dan novel The Chosen karya Chaim Potok ini): bahwa kedua penulis ini tidak “memandang” orang Arab di Palestina, atau setidaknya tidak menunjukkan simpati kepada orang-orang Arab, atau, dalam bahasa saya sendiri, tidak ada pembahasan tentang “wajar saja mereka berontak, lha wong tanah mereka diduduki orang luar”.&lt;br /&gt;Oke, langsung ke poin terakhir: diam. Diam merupakan modus operandi yang terus-menerus muncul dalam novel ini. Ayah Danny tidak pernah lagi berbicara dengan Danny sejak dia mulai beranjak remaja, kecuali pada saat belajar Talmud. Salah satu alasannya adalah dengan diam ini Danny bisa bertanya kepada dirinya sendiri, atau “look into one’s soul”, untuk menemukan jawaban atas problema-problema yang ditemuinya. Pada awal masa remaja itu, Danny seringkali “sebel” dengan gaya ayahnya ini membesarkan dia, yang “digadang-gadang” untuk menjadi penerusnya—dengan saudara-saudaranya yang lain, yang tidak direncanakan untuk menjadi “tzaddik” ayahnya tetap berbicara seperti biasa. Tapi, Danny selalu percaya ayahnya punya alasan dan kebijaksanaan tersendiri di balik ini. Dan betul saja, setelah mendekati lulus kuliah, Danny seolah-olah sudah menyerap ajaran diam itu, dan menemukan jawaban-jawaban dalam diamnya. Kalau dipikir-pikir sih, sepertinya ajaran diam ini semacam mendorong seorang anak untuk tidak menggantungkan pada jawaban orang tua dan merenungkan sendiri jawaban yang mungkin tepat untuk dia. Nah, ada satu sifat diam si ayah ini yang menarik dan bersinggungan dengan saya sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan Jawa: yaitu “level diamnya” ayah Danny kepada orang lain. Ayah Danny ternyata suka “mengatakan tanpa mengatakan”, yang juga lazim dalam budaya Jawa. Waktu ingin berbicara kepada Reuven yang menjadi perantara antara dia dengan anaknya, ayah Danny hanya bilang “Reuven kok tidak pernah belajar Talmud lagi dengan kita”. Ketika hanya sekali disampaikan, pertanyaan ini biasa, tapi ketika disampaikan untuk yang kedua kalinya, sisi Jawa saya langsung tergelitik: ini seperti ketika ibu saja mengirim SMS yang bunyinya “Eko, ibuk baik-baik saja, sehat-sehat saja kan di sana?” (tapi tentunya pakai bahasa Jawa dong ), saya langsung introspeksi diri dan sadar bahwa sudah seminggu lebih saya tidak telpon ke rumah.&lt;br /&gt;Sepertinya saya harus berhenti dulu di sini. Masih banyak sekali tema-tema humanis dan penting yang bisa kita telusuri dari novel ini (saya belum membocorkan bagaimana konflik ini memuncak dan bagaimana resolusinya, bukan?). Dan bisa dibilang, secara umum buku ini berhasil mengangkat isu-isu universal yang membuat kita berpikir, tapi juga pada akhirnya berhasil memberikan penyelesaian yang membuat kita menghela nafas panjang seolah-olah tak mau selesai saking puasnya kita dengan resolusi cerita (sepertinya memang sudah waktunya saya berhenti, retorika saya sudah seperti blurb murahan di sampul belakang buku ). Semoga gambaran yang sedikit ini bisa menjadi taster yang memancing Anda sekalian untuk membaca buku ini secara langsung. Salaam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINCANG SASTRA&lt;br /&gt;FRANS KAFKA – THE METAMORPHOSIS&lt;br /&gt;Oleh: Nasti Mudita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebuah pengorbanan membutuhkan lebih dari sekedar keberanian. Diperlukan sebuah kesanggupan untuk menanggung resiko dari pengorbanan tersebut, walaupun itu berupa pengasingan sekalipun.&lt;br /&gt; “The Metamorphosis”, sebuah mahakarya dari Frans Kafka, bercerita tentang seorang traveling salesman bernama Gregor Samsa yang pada suatu pagi mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga. Perubahannya tersebut bukanlah mimpi ataupun karena pengaruh gaib, namun lebih seperti sebuah “kesialan”. Kesialan ini sempat membuat Gregor panik sebab ia tidak boleh terlambat datang ke kantor, atau ia akan dipecat. Gregor tidak mau membiarkan dirinya dipecat, sebab selama ini ia adalah penyokong utama kehidupan finansial keluarganya. Ayahnya tidak lagi bekerja setelah perusahaannya bangkrut diterpa kejamnya era industrialisasi, sedangkan ibu dan adik perempuannya, Grete, lebih memilih untuk menjaga apartemen mereka. Pergulatan batin Gregor terus terjadi hingga saat sang manajer datang ke apartemen untuk mengecek keadaannya. Ketika Gregor menunjukkan dirinya, seketika sikap semua orang berubah. Ia diusir kembali ke kamarnya secara kejam oleh ayahnya dan diasingkan di sana selama berbulan-bulan. Sejak saat itu keluarganya tidak lagi menganggap Gregor sebagai manusia, melainkan binatang pengganggu.&lt;br /&gt; Selama di pengasingan, Gregor mengamati kegiatan keluarganya sehari-hari dari balik pintu kamar. Ia merasakan sebuah dinamika perlahan mengubah keseharian rumah tangga yang semula monoton. Yang pertama dan paling banyak berubah adalah Grete. Adiknya yang dahulu pasif dan peragu mulai belajar mengatasi rasa takutnya setelah bertugas memberi makan Gregor dan membersihkan kamarnya. Dia pun memiliki pekerjaan di sebuah toko. Kemudian, ayahnya mendapat pekerjaan sebagai pegawai bank. Ibunya yang menderita asma tetap tinggal di apartemen, berharap agar orang-orang yang datang bertamu tidak melihat sosok Gregor si serangga.&lt;br /&gt; Sedangkan Gregor,  perlahan tapi pasti ia kehilangan nafsu makannya dan keinginannya untuk berbuat selayaknya manusia. Ia begitu menyayangi keluarganya, terutama Grete,  sehingga ia memilih untuk bersembunyi di bawah sofa setiap kali Grete masuk untuk memberi makan atau pun membersihkan kamarnya agar adiknya tidak takut pada sosoknya. Ketika dia sudah keluar, Gregor keluar dari persembunyiannya dan kembali mengamati lingkungan dan keluarganya. Ia belajar menikmati hidup seperti binatang penyendiri, seperti serangga.&lt;br /&gt; Hingga suatu hari, Gregor dipaksa untuk mengalami konfrontasi dengan keluarganya sekali lagi ketika ibu dan adiknya akan memindahkan furnitur kamarnya. Khawatir bahwa mereka akan mengambil semua barang miliknya, Gregor keluar dari bawah sofa dan membuat dirinya terlihat oleh ibunya (selama ini ibunya belum pernah melihat Gregor secara langsung). Ibunya yang syok segera dibawa keluar oleh Grete. Ayahnya yang mengetahui kejadian itu marah besar, sebab dikiranya Gregor menyerang ibunya, dan memutuskan untuk melenyapkan anak laki-laki itu selamanya. Apartemen itu pun disewakan untuk tiga orang asing, sedang kamar Gregor digunakan sebagai gudang. Namun, tiga orang asing itu menolak untuk menyewa setelah melihat Gregor yang mengintip permainan biola Grete. Pada saat itulah Gregor melihat kenyataan bahwa ia bukan lagi bagian dari keluarga Samsa setelah melihat gerak tubuh ayahnya yang seolah melindungi ibunya dan Grete. Ia memilih untuk kembali ke kamarnya. Esoknya, pelayan rumah menemukan Gregor sudah meninggal akibat dehidrasi. Sedang keluarga Samsa, mereka meninggalkan apartemen itu dengan hati lega untuk menyongsong hidup baru.&lt;br /&gt; “The Metamorphosis” adalah sebuah tragedi modern yang mengangkat tema keterasingan dalam dunia modern, namun yang menjadi intinya adalah kesediaan seseorang untuk berkorban. Sebagai figur pencari nafkah menggantikan ayahnya, Gregor memiliki rasa tanggung jawab yang besar dan tidak ingin mengecewakan keluarganya. Dalam narasi di bagian pertama novella ini, hal pertama yang dipikirkan Gregor sesaat setelah mengalami transformasi adalah pekerjaannya. Sebuah pemikiran yang tidak lazim sekaligus menggetarkan, seolah Gregor telah membuang hasrat untuk memikirkan kepentingan dirinya dahulu. Ia tidak ragu untuk menampakkan diri di hadapan sang manajer untuk menjelaskan alasan kenapa ia tidak bisa bekerja. Ketika ia mengurung diri di kamar, didasari oleh pengertian bahwa dirinya yang sekarang akan membuat takut semua orang, Gregor selalu merenungkan adiknya dan ibunya yang bertugas merawatnya.&lt;br /&gt; Bentuk pengorbanan yang dilakukan Gregor memang terbilang unik. Sejak awal ia seolah tak ambil pusing dengan kondisi fisiknya sebagai serangga, namun ia sadar bahwa kehadirannya seusai transformasi tidak diinginkan oleh keluarganya. Daripada berusaha keras meyakinkan adiknya bahwa ia adalah kakaknya, Gregor memilih untuk bersembunyi dan mengamati kemajuan mental Grete. Kesadaran Gregor sebagai manusia baru muncul ketika barang-barang pribadinya akan dipindahkan dan ia berusaha melindungi satu-satunya bukti kemanusiaannya, sebuah lukisan wanita yang mengenakan selendang bulu, itu pun dengan cara sembunyi-sembunyi agar tidak mengagetkan ibunya. Lain daripada itu, ia tidak pernah terlihat mengeluhkan kondisi fisiknya.&lt;br /&gt; Bagaimana dengan keluarganya? Walaupun perlakuan mereka terhadap Gregor amatlah tidak layak, diam-diam mereka masih berharap bahwa binatang yang mereka hadapi adalah Gregor. Grete yang memang paling dekat dengan Gregor berusaha keras agar kakaknya bisa bertahan hidup, walaupun ia sendiri tidak bisa menahan rasa jijiknya ketika melihat sosoknya di bawah sofa. Ayahnya adalah yang paling menentang kehadiran Gregor, dengan mengesampingkan fakta bahwa ia mengambil kembali perannya sebagai pencari nafkah sejak Gregor berubah. Pada akhirnya, keluarga Samsa yang semula hidup pasif berhasil melepaskan diri dari ketergantungan dan memulai segalanya dari awal. Sedangkan sosok Gregor ditinggalkan sebagai perlambang masa lalu yang suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Judul asli “The Metamorphosis” (dalam bahasa Jerman) dapat diartikan sebagai “binatang yang dikorbankan dalam ritual”, dalam hal ini mengacu pada sosok serangga Gregor. Dalam versi aslinya juga, hasil transformasi Gregor tak pernah disebut-sebut Kafka sebagai “serangga”, melainkan “binatang” atau “makhluk” saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;LISTRIK MURAH UNTUK RAKYAT&lt;br /&gt;Oleh: Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah berkecamuknya krisis ekonomi global yang mengguncang dunia dewasa ini, di dalam negeri juga tengah terjadi krisis energi listrik. Sungguh mengherankan, bahwa negeri kaya sumber daya alam seperti Indonesia tercinta ini sampai mengalami krisis energi kelistrikan. Padahal kalau kita amati, negeri kita tercinta ini sangat kaya akan kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia.  Hanya masalah manajemen, kekayaan intelektual dan ide kreatif saja yang mungkin masih kurang. Yang lebih mengherankan lagi, para wakil rakyat dan pengelola negeri ini yang katanya sering mengadakan studi banding ke luar negeri untuk mengadopsi teknologi tepat guna dari negara-negara maju tidak cukup kaya akan ide demi pemecahan masalah krisis energi.&lt;br /&gt;Sebagai rakyat kecil yang hanya bisa mengamati dunia luar dari layar televisi, saya cukup banyak mengikuti berita perkembangan teknologi dari televisi-televisi asing. Dengan kemampuan bahasa asing yang saya miliki, sedikit banyak saya menjadi tahu bahwa sumber kekayaan alam Indonesia sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menghasilkan energi listrik dalam jumlah berlimpah dan pada gilirannya dapat menyediakan listrik murah bagi rakyat. Bila impian saya sebagai rakyat kecil ini bisa diwujudkan oleh pemerintah, tentu bukan hanya saya saja, namun juga berpuluh juta rakyat Indonesia akan mengenyam manfaat dari keberadaan listrik murah dalam jumlah berlimpah. Bayangkan, industri-industri kecil skala rumah tangga, para pekerja kantoran, penulis kreatif, perusahaan media, hingga perusahaan skala besar akan semakin produktif, dan tentu hal ini juga secara tidak langsung akan mengurangi tingkat pengangguran di negeri ini, karena semakin banyak industri yang akan tumbuh berkembang karena memanfaatkan fasilitas listrik murah.&lt;br /&gt;Selama ini bangsa kita kurang berwawasan luas dalam menindaklanjuti masalah krisis listrik. Mengapa selama ini hanya mendayagunakan sumber energi dari minyak bumi, dan batubara saja. Padahal negeri kita ini kaya akan sinar matahari, tenaga angin, energi gelombang laut, energi aliran air sungai, dan bahkan energi panas bumi. Semua itu adalah sumber energi yang bisa diubah menjadi listrik! &lt;br /&gt;Mengapa kita tidak berkaca dan mencontoh apa yang diterapkan negara-negara maju seperti Jerman, Swedia, Finlandia, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat dalam memanfaatkan sumber energi alam untuk diubah menjadi energi listrik?  Sebagai contoh, di Jerman, Belanda, Swedia dan Finlandia, listrik murah bisa dihasilkan dengan memanfaatkan energi gelombang laut menjadi listrik dengan membangun turbin-turbin raksasa di lepas pantai. Mereka juga membangun kincir-kincir angin raksasa dengan tiang-tiang pancang yang ditanam di dasar laut atau samudera. Angin laut yang bertiup kencang akan memutar baling-baling kincir angin raksasa dan menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik. Kabel-kabel listrik yang tertanam di dasar laut dialirkan langsung ke pusat-pusat pembangkit tenaga listrik di daratan untuk kemudian didistribusikan sebagai listrik murah ke rumah-rumah penduduk, pabrik-pabrik dan perkantoran.  Sementara di daratan, mereka juga membangun kincir-kincir angin raksasa di puncak-puncak bukit untuk memanfaatkan angin kencang yang bertiup demi menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik. Model pembangkit listrik tenaga angin ini juga mulai ditiru oleh negara-negara Arab, khususnya Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia demi menyelenggarakan listrik murah bagi rakyat. Di negara-negara yang memiliki limpahan sinar matahari yang banyak, seperti di Uni Emirat Arab, Saudi Arabia dan Amerika Serikat, cahaya matahari bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik. Sebagai contoh, di gurun pasir Nevada yang terik dan tandus, dibangun pembangkit listrik tenaga matahari dengan berhektar-hektar ladang solar cell (semacam plat yang dimanfaatkan untuk menyerap energi panas matahari yang kemudian tersambung dengan kabel-kabel yang mengalirkan energi ke pusat pembangkit listrik tenaga matahari). Pusat pembangkit listrik tenaga matahari juga mulai ditiru oleh negara-negara Arab dengan berkaca pada keberhasilan Amerika Serikat dalam menghasilkan energi listrik dari tenaga matahari. Bahkan Uni Emirat Arab telah membangun pembangkit listrik tenaga matahari, pembangkit listrik tenaga angin dan pembangkit listrik tenaga panas bumi, demi menyuplai kebutuhan listrik negaranya. Energi aliran sungai juga sebenarnya telah lama kita kenal dapat menghasilkan listrik. Di Amerika, aliran deras air terjun niagara dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik dengan membangun bendungan raksasa di sekitarnya.  Bahkan di Jepang, sampah yang membusuk pun bisa dijadikan energi listrik. Jadi, bangsa Jepang telah menemukan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. Bayangkan, sampah menggunung di Jakarta yang dalam sehari bila dikumpulkan bisa setinggi Candi Borobudur, tentu akan menghasilkan energi listrik yang luar biasa besarnya, belum lagi sumber-sumber alam Indonesia yang lain (sinar matahari, angin, gelombang laut, panas bumi, aliran sungai), yang cukup potensial untuk menghasilkan energi listrik yang bahkan tidak akan ada habisnya.&lt;br /&gt;Bila permasalahannya adalah modal investasi pembangunan infrastruktur kelistrikan, seharusnya bukan menjadi hambatan demi menghadirkan listrik murah bagi rakyat. Banyak sekali kontraktor asing asal Jerman, Swedia, hingga yang berasal dari Uni Emirat Arab dan Amerika yang mampu membangun infrakstruktur kelistrikan dari sumber energi matahari, angin, gelombang laut dan panas bumi. Bahkan beberapa di antara perusahaan-perusahaan raksasa swasta asing tersebut juga berkemampuan untuk membangun dan mengelola listrik swasta di Indonesia. Bukankah dengan semakin banyak penyedia listrik swasta akan menghasilkan persaingan yang sehat yang pada gilirannya akan bersaing pula di tarif harga listrik. Masih ingatkah Anda, bahwa beberapa tahun yang lalu, saat operator telepon selular jumlahnya masih sangat sedikit, tarif pulsa telepon seluler masih dirasa cukup mahal? Coba bandingkan dengan kondisi sekarang, dimana persaingan demikian ketat antara provider-provider penyedia jasa telepon seluler yang bersaing dalam hal tarif dengan menghadirkan tarif-tarif murah dan terjangkau bagi konsumen (baca: rakyat). Dengan membuang jauh-jauh azas dan praktek monopoli, dan mengedepankan pasar persaingan sempurna, maka bisa jadi di masa mendatang energi listrik bukan lagi menjadi komoditi yang mahal, namun justru hadir dengan tarif yang cukup murah bagi rakyat. Bila tarif listrik cukup murah, maka tentunya akan mampu untuk mendorong bertumbuhnya pusat-pusat industri, usaha kecil rakyat dan juga usaha jasa yang mampu menciptakan pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran negeri ini. &lt;br /&gt;Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Obama, yang baru mencapai angka pengangguran 15 juta jiwa saja sudah sangat kebingungan dan terjadi unjuk rasa di mana-mana, sementara negeri kita tercinta, Indonesia dengan angka pengangguran lebih dari 40 juta jiwa, kok kelihatannya masih tenang-tenang saja? Belum lagi karena masalah krisis listrik yang terjadi akhir-akhir ini telah semakin banyak menambah deret angka pengangguran negeri ini, karena banyak perusahaan yang gulung tikar akibat produktivitasnya anjlok gara-gara sering mati listrik. Kalau sudah begini, maka negara kita bisa-bisa mengalami krisis yang lebih buruk dibanding yang pernah terjadi di tahun 1998. Sudah seharusnya masalah energi listrik murah menjadi perhatian serius dari pemerintah demi kesejahteraan rakyat, majunya pendidikan, dan tumbuhnya pusat-pusat industri dan usaha kecil yang mampu menyerap tenaga kerja.  Semuanya ini memang bagai lingkaran setan yang tidak berujung. Semuanya saling terkait, dan harus segera ditindaklanjuti. Sudah seharusnya studi-studi banding yang dilakukan berbagai instansi pemerintah dan wakil rakyat benar-benar bisa menghasilkan sesuatu yang bisa ditiru dan diterapkan, dan bukan hanya sebagai ajang untuk memboroskan uang rakyat dan uang negara demi berwisata gratis dan berbelanja barang-barang buatan luar negeri. Sudah seharusnya studi banding ke luar negeri memang benar-benar studi banding dan bukan cuma manis di bibir tapi lain di hati. Studi banding ke luar negeri seharusnya dibarengi dengan tindak lanjut kerjasama dengan negara yang dituju untuk bisa menghasilkan nota kesepahaman dan kerjasama di bidang pembangunan kelistrikan di Indonesia. Kalau cuma studi banding tanpa tindak lanjut, mengapa harus repot-repot pergi ke luar negeri? Lewat internet, video conference atau pun nonton berita teknologi dari televisi asing sebenarnya sudah lebih dari cukup bila maksudnya hanya untuk menambah wawasan (tanpa rencana pengaplikasian dalam waktu dekat). Jadi, yang namanya studi banding ke luar negeri seharusnya bisa menghasilkan sesuatu yang riil dan dapat dinilai tingkat keberhasilan adopsi teknologinya dan bukan hanya sebagai alasan untuk rekreasi ke luar negeri dan penggelembungan dana anggaran untuk dikorupsi. &lt;br /&gt;Suara rakyat hendaknya didengar dan diperhatikan oleh pemerintah dan instansi terkait, karena rakyat sekarang semakin pintar dan menuntut lebih banyak dari pemerintah dalam hal kesejahteraan, suatu hak yang pernah hilang dari kita sebagai rakyat sebelum era reformasi. Rakyat semakin tahu akan hak-haknya, dan sudah seharusnya pemerintah semakin sadar akan kewajiban-kewajibannya sebagai pengelola negara. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah dan instansi terkait. Bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan? Jadi dengarkan juga suara hati nurani rakyat, karena Indonesia adalah negara demokrasi !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OPINI&lt;br /&gt;KEKERASAN DI SEKOLAH – SEBUAH ANTI TESIS SISTEM PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Oleh: Kukuh Widyatmoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan ternyata hadir juga pada bidang pendidikan. Sudah banyak rentetan kasus yang terungkap, baik yang dilakukan senior pada yunior, maupun oleh guru pada anak didik. Fenomena ini menunjukkan bila tri pusat pendidikan – keluarga, sekolah, dan masyarakat turut berkontribusi memunculkan perilaku ini. Namun, yang lebih bertanggung jawab sebenarnya kebijakan pendidikan yang dirumuskan pemerintah.&lt;br /&gt; Pasalnya, ada kaitan dengan tuntutan hidup yang makin berat di mana keluarga lebih fokus mencukupi kebutuhan ekonomi. Sementara pengawasan pada anak menjadi terabaikan. Peran orang tua tergantikan oleh teman sebaya. Harga yang mesti dibayar adalah anak lebih mencari penghargaan pada rekan sebaya. Akibatnya pun sosialisasi anak tidak sempurna dengan membentuk geng-gengan.  &lt;br /&gt; Dengan kondisi di keluarga yang tidak cukup perhatian dan penghargaan, anak mengaktualisasi diri melalui penyaluran lewat kekuatan fisik kepada yang lemah dalam wujud kelompok sosial remaja. Kekuasaan yang didapat dalam kelompok sosial membuat mereka lebih merasa teraktualisasi dan dihargai oleh teman meskipun dengan cara kekerasan fisik.&lt;br /&gt; Sekolah selain sebagai wadah menempuh dan menggali ilmu namun terjadi pergeseran makna sosial adalah menaklukkan yunior. Karena dalam sekolah terjadi stratifikasi yang jelas dalam bentuk tingkatan kelas, yaitu kelas X, XI, dan XII. Ini pula yang disalahgunakan dengan cara membangun jaringan strata sosial di kalangan kelompok sosial remaja.&lt;br /&gt; Wadah yang ada dalam sekolah tampaknya belum mampu secara maksimal menampung dan menyalurkan energi pelajar. Sehingga energi yang melimpah diwujudkan dalam tindakan menyimpang. Bentuk-bentuk penyimpangan dalam diri pelajar lebih banyak disebabkan sistem dalam sekolah tidak dapat mengakomodir potensi, energi pelajar.&lt;br /&gt; Akibat penyaluran yang dipakai pun lebih banyak menyimpang dengan geng-geng dalam pelajar itu sendiri. Yang senior merasa lebih dihormati, dihargai oleh yang yunior. Alasan lain, potensi mereka tidak tertampung dalam sistem di sekolah. Penghargaan sekolah yang minim terhadap pelajar memicu pelajar mencari penghargaan di luar sistem.&lt;br /&gt; Meskipun secara yuridis tidak dinyatakan bahwa masyarakat Indonesia makin kapitalis. Yang kaya semakin kaya yang miskin semakin tidak mendapat ruang yang layak. Budaya masyarakat yang kaya “merasa” berkuasa. Yang kuat merasa lebih dihargai merembes dalam sekolah. Dalam diri pelajar (siswa-siswi), individualisme pun makin kuat. Kalau toh kolektif, maupun kelompok sosial lebih banyak disalahgunakan dengan menggalang kekuasaan, dan kekuatan untuk mengalahkan yang lemah, tak berdaya. Pergeseran nilai dalam masyarakat secara lambat namun pasti menginternalisasi pelajar banyak bukti yang terjadi.&lt;br /&gt; Pemerintah bertanggungjawab dalam kebijakan sistem yang makin tidak membebaskan. Makin tingginya tuntutan yang diemban pelajar membuat pelajar makin sulit membangun aktualisasi diri. Sempitnya ruang yang tersedia bagi pelajar dalam berekspresi. Kalau toh ada masih jauh dari kebutuhan pelajar. Pemerintah sebagai pihak eksekutif sah-sah saja membuat kebijakan yang beraneka ragam tetapi tidak pernah secara terbuka memahami hati dan jiwa pelajar yang merasa tertekan. Jiwa dan hati yang terabaikan demi pencapaian mutu yang ditentukan sendiri oleh pemerintah. Akibatnya, afeksi, jiwa dan hati pelajar mengering, maka pelampiasannya adalah perilaku menyimpang terhadap sesama pelajar yang lemah. Jika sistem pendidikan yang makin tidak membebaskan dipertahankan terus maka makin banyak pula perilaku menyimpang akibat mengeringnya jiwa, afeksi dan emosi pelajar.&lt;br /&gt; Pemerintah sudah waktunya memperbaiki sistem pendidikan setelah melihat hasil sistem pendidikan yang makin jauh dari tujuan semula. Pemerintah mulailah membuka diri terhadap kenyataan bahwa sistem pendidikan Indonesia ada yang tidak pas. Sudah saatnya pemerintah berkaca diri bahwa banyak akibat negatif dari sistem pendidikan yang tidak membebaskan. Pemerintah berharap karakter seperti apa dengan sistem pendidikan yang tidak membebaskan? Selagi masih ada waktu mari duduk bersama, wakil keluarga, masyarakat dan sekolah untuk menyamakan misi demi pencerdasan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INFO&lt;br /&gt;PELUANG MENULIS BUKU ILMIAH NON FIKSI&lt;br /&gt;Oleh: Tim editor Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar gembira bagi teman-teman penulis dan peneliti (khususnya di area Malang raya dan Jawa Timur), Forum Penulis Kota Malang kini dipercaya sebagai agen penampung naskah untuk buku-buku non fiksi yang bakal diterbitkan Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Bagi teman-teman yang tertarik untuk menulis buku non fiksi dengan tema-tema seputar motivasi, buku hobi, buku-buku how to manajemen dan pengelolaan usaha kecil dan menengah, atau naskah buku yang mengupas peluang-peluang usaha dengan modal kecil tapi untung besar (lengkap dengan perhitungan analisis kelayakan usaha), bisa mengirimkan naskah softcopy dengan ketentuan:&lt;br /&gt;1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;2. Memperhatikan kaidah-kaidah penulisan, tanda baca, dan struktur kalimat yang baik, teratur, dan mudah dipahami, namun tidak meninggalkan unsur kajian ilmiah.&lt;br /&gt;3. Diketik dengan jenis ukuran font 12, times new roman,   1,5 spasi, dengan format A4, dengan format RTF (jangan doc atau odt).&lt;br /&gt;4. Jumlah halaman naskah, minimal 100 halaman.&lt;br /&gt;5. Isi naskah merupakan gabungan antara hasil penelitian dan pengamatan, wawancara, studi pustaka dan ditulis dengan cara penyajian yang ringan, mudah dipahami, namun tetap memperhatikan kaidah ilmiah.&lt;br /&gt;6. Kirimkan naskah berupa softcopy ke alamat email: naskahgramedia@gmail.com . Jangan lupa sertakan nama lengkap (jangan nama samaran), alamat rumah lengkap, nomor KTP, nomor NPWP, nomor rekening bank dan alamat bank, serta nomor telepon/ponsel yang bisa dihubungi. Tuliskan pada halaman terakhir naskah Anda. Sertakan pula riwayat hidup singkat serta riwayat prestasi tulisan Anda yang pernah dimuat di media surat kabar atau majalah. Bila Anda pernah menulis buku sebelumnya dan pernah diterbitkan oleh penerbit tertentu, sebutkan pula judul buku, tahun terbit dan nama penerbitnya. &lt;br /&gt;Naskah yang masuk akan dinilai oleh tim editor Forum Penulis Kota Malang. Bagi naskah yang layak terbit, namun membutuhkan revisi atau penyempurnaan, akan diberitahukan letak kekurangannya. Akan lebih baik bila setelah Anda mengirimkan naskah, Anda berkonsultasi secara langsung dengan Forum Penulis Kota Malang pada saat pertemuan rutin FPKM yang diselenggarakan setiap 2 minggu sekali (lihat jadwal pertemuan di http://klipingfpkm.multiply.com).  Seleksi naskah berlangsung cukup ketat, dan hanya naskah-naskah yang baik kualitas isi maupun cara penyajian dan penulisannya yang akan dipertimbangkan untuk diajukan kepada editor senior Penerbit Gramedia Pustaka Utama di Jakarta. Bila naskah Anda pada seleksi akhir dinilai cukup layak untuk terbit oleh rapat dewan redaksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama, maka naskah yang terpilih akan dibuatkan surat kontrak penulisan yang akan dikirimkan ke alamat si penulis naskah untuk selanjutnya ditandatangani. Setelah menandatangani surat kontrak penulisan (bila naskah Anda disetujui untuk diterbitkan), selambat-lambatnya 2 bulan setelah penandatanganan surat kontrak penulisan, Anda sudah harus mengirimkan naskah lengkap berupa softcopy, maupun foto-foto pendukung dalam bentuk CD atau DVD ke redaksi non fiksi Penerbit Gramedia Pustaka Utama di Jakarta. Pengiriman softcopy maupun hardcopy hendaknya dibungkus rapi dalam kemasan plastik dan dimasukkan ke dalam amplop tertutup, kemudian dipaketkan menggunakan jasa kurir TIKI ke alamat Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Prosedur dan aturan serta informasi selanjutnya akan diberitahukan kemudian oleh pihak penerbit di Jakarta.  &lt;br /&gt;Semua konsultasi dan tanya jawab tentang naskah tidak dipungut biaya alias gratis.  Forum Penulis Kota Malang hanya berperan sebagai literary agent (agen penampung dan penyalur naskah), keputusan akhir tetap berada pada hasil keputusan rapat redaksi editor non fiksi dan departemen marketing Penerbit Gramedia Pustaka Utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;SELAMAT SORE, OLIVIA&lt;br /&gt;Oleh: Liga Alam M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mahasiswi, cantik, menggenggam sebilah pisau yang kemarin dibelinya di hypermart, Malang Town Square. Suka atau tidak, ini adalah salah satu solusi yang paling praktis di dunia. Dari bibirnya yang kesat keluar seuntai senyum pahit dan dia sadar bahwa itu adalah senyumnya yang terakhir. Sebentar lagi dia akan meninggalkan bumi yang paling dibencinya ini. Aneh, padahal minggu lalu dia adalah pemuja dunia. Pertama-tama rasa sakit akan menderanya sebelum semuanya menjadi kosong. Olivia tak peduli! Ada yang lebih sakit dari semua itu: hatinya. &lt;br /&gt; Malam ini kota diguyur hujan lebat. Kilat membelah malam, sekejap terang, lalu kembali gelap. Perempuan itu mempererat genggamannya. Mata pisau itu mengarah tajam ke arah perutnya sendiri. Ketika tangannya ia sentak, terdengar lolongan anjing.&lt;br /&gt; “Jangan!” Galang melompat dari tempat tidurnya. Aku bermimpi! Desisnya. Hari ini dia tidur lebih awal karena masalah yang sedang dihadapinya. Di sampingnya, ponselnya sudah berdering enam kali, dan masih berdering. Dan dari balik jendela memang ada seekor anjing yang melolong. Pukul 23. 45. WIB.&lt;br /&gt; “Halo?” Panggilan itu sudah terputus. Saat dia perhatikan register, tertera nama kekasihnya: Olivia! Dia menelpon balik tetapi yang terdengar hanya suara brengsek: Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif... Lima menit kemudian pemuda ini sudah meluncur membelah kota seperti dikejar hantu. Jangan sampai hal buruk itu terjadi, Tuhan smoga aku belum terlambat, untuk pertama kali dalam sebulan ini dia berdoa .&lt;br /&gt; SEPULUH kilometer dari tempat itu, Olivia memandang dirinya di hadapan cermin rias. Meski terlihat tegar, sebenarnya hatinya telah runduk. Gadis cantik ini, dalam beberapa kesempatan ingin melakukan aborsi namun dilarang oleh sang kekasih. Dalam biografi hidupnya, tak ada satu biji manusiapun yang bisa menghalangi niat Olivia. Tetapi kini, Olivia menahan niatnya.&lt;br /&gt;Belum.&lt;br /&gt; Olivia takkan lupa berita buruk dulu. Berdasarkan keputusan medis, sebentar lagi dia akan menjadi ibu dan terus terang Olivia sangat keberatan. Sumpah, aku tidak sudi!&lt;br /&gt; KINI OLIVIA SENDIRIAN. Padahal beberapa menit lagi sudah tahun baru. Mengingat hal itu dia menjadi sangat benci pada keadaanya. Kenapa aku harus hamil pada saat aku harus merayakan datangnya tahun baru? Sambil melirik cangkir yang berisi cairan hitam pekat di atas meja rias, Olivia membayangkan bagaimana gembiranya teman-temannya merayakan datangnya tahun baru. Olivia takut sekali berada dekat mereka sekarang karena khawatir tiba-tiba mual-mual, muntah dan mereka lalu mencibirnya sebagai calon Mama muda yang cantik dan paling seksi. &lt;br /&gt;Tidak, terima kasih!&lt;br /&gt; Olivia menatap tajam cangkir itu. Isi cangkir itu baru saja mengurai sebuah racikan padat yang... Setelah memantapkan hati Olivia mengambilnya dan cukup dengan sekali tegukan cairan itu telah meluncur manis melewati tenggorokannya yang berjenjang. Senyum getir menghiasi wajah Olivia. Selamat tinggal tahun lalu...&lt;br /&gt; SEBUAH TANGAN kuat mendorong pintu kamar Olivia.&lt;br /&gt; “Tahan!!” &lt;br /&gt;Terlambat!&lt;br /&gt; Galang muncul dengan wajah pucat. Keringat membasahi keningnya seperti habis mengintip neraka. Pemuda itu melihat ada bayangan maut di wajah Olivia.&lt;br /&gt; Cangkir itu, ya ampun Tuhan, “Apa yang kamu lakukan.” Tanyanya.&lt;br /&gt; Olivia menjawab dengan seringai, lalu meletakkan cangkir itu kembali.&lt;br /&gt;“Kenapa?” Tanya Olivia dingin. Kemudian badannya gemetar. Lalu tumbang tepat di atas tempat tidurnya yang empuk. &lt;br /&gt;Si Pemuda panik dan berteriak, “Jangan mati! Tolong...” tapi siapakah yang peduli? Ratusan kilogram petasan dan kembang api sebentar lagi akan menghiasi langit kota. Untuk itu tak ada satupun orang yang ingin melewatkannya. &lt;br /&gt;Galang berdiri dan pergi di menuju jendela. Dia ingin berteriak meminta tolong pada tetangga. Namun urung ia lakukan ketika sebuah tangan misterius melingkari perut dan pinggangnya dari arah belakang. Hantu?&lt;br /&gt;Lelaki itu hampir mati karena kaget. Bulu kuduknya merinding. Kini giliran dia yang tumbang lemas ke lantai dalam keadaan setengah pingsan. Benda terakhir yang dilihatnya adalah sosok tubuh Olivia yang berdiri, tersenyum ke arahnya. Senyum kepuasan khas wanita. &lt;br /&gt;Olivia tahu dirinya sudah melakukan hal yang benar. Di luar sana kembang api sudah mulai memerciki langit kota. Dia menjatuhkan badannya lalu berbisik mesra pada kekasihnya itu.&lt;br /&gt;“Aku tadi hanya meminum ramuan.” Bukan racun!&lt;br /&gt;Galang seperti tak percaya. Menggerakkan badannya yang masih lunglai. “ramuan apa?”&lt;br /&gt;“Sangat manjur dan bisa membuatku bebas dari beban,” Bisik Olivia, “yang bisa langsung mengurai janin dalam perutku.” Kemudian dia tertawa, “ayolah bangun, kita ikut ramaikan pesta tahun baru.”&lt;br /&gt;Kini pemuda itu benar-benar pingsan. Dia baru saja mendengar berita pembunuhan janin yang dilakukan oleh kekasihnya sendiri. Jenis kriminal cerdas yang paling aman dari incaran hukum.&lt;br /&gt;Seperti biasa, Olivia tak peduli. Dengan santainya dia berdiri dan membiarkan kekasihnya meringkuk di lantai. Sekilas terbayang teman-temannya yang sedang asyik berpesta di puncak sana. Setelah berdandan dia menelpon taksi, lalu mengucapkan selamat pagi pada kekasihnya, pada kamarnya dan pada tahun yang baru saja tiba. &lt;br /&gt;Sejak menjadi mahasiswi hidup Olivia memang tak pernah siang. Hingga datang suatu waktu di mana Olivia menyaksikan ada seraut wajah kusut yang muncul di balik cermin. Wajah itu dipenuhi kerutan sehingga keterlaluan jika ada yang menyebutnya masih muda. Wajah itu adalah miliknya. Ternyata waktu berlalu begitu cepat dan merenggut apa yang dipujanya. Mungkin suatu saat, Galang akan datang padanya tapi sebagai seorang kawan lama. Hari-harimu telah sore, Olivia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;BILIK MESRA&lt;br /&gt;Oleh Wawan Eko Yulianto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menulis sebuah cerpen tentang banjir lumpur yang melahap pemukiman itu. Bukan menulis esai. Tapi bagaimana bisa aku menulis cerpen jika aku ingin marah-marah saat ingat betapa beratnya para pengungsi yang kegerahan setiap siang seperti ini. Aku baru saja datang dari kamp pengungsian mereka. Aku melihat seseorang menangisi rumahnya yang sedikit demi sedikit ditelan lumpur hingga tinggal atap. Bayangkan, mereka melihat sendiri rumah mereka sedikit demi sedikit terendam. &lt;br /&gt;Begitulah, aku terlalu ingin meneriakkan kemarahan tentang tingkah para pengusaha yang menyalahi aturan pengeboran dan menyebabkan menyemburnya lumpur panas yang tiada henti itu. Biasanya, jika aku terlalu marah dan ingin menyuarakan sesuatu, tulisanku akan jadi esai. Tapi, kali ini tidak boleh: Aku ingin menulis cerpen! Karena itulah aku pergi ke SMA tempatku sekolah sekitar delapan tahun yang lalu. Udara memang gerah dan memanggang rambut, aku tahu. Tapi segala kenangan yang ditimbulkan setiap sudut gedung sekolah itu pasti akan melenakan hatiku, merontokkan marahku, membelai-belai hatiku, dan aku akan bisa menulis sebuah cerpen. Kuharap begitu. Kita lihat saja. &lt;br /&gt;Aku memasuki gerbang sekolah yang dijaga seorang satpam. Aku tidak kenal satpam ini. Dia juga tidak kenal aku. &lt;br /&gt;“Mau kemana, Mas?” tanyanya. “Hari Minggu pegawainya tidak ada.”&lt;br /&gt;“Mau santai-santai, Pak,” kataku. “Saya cari tempat yang tenang buat nulis.”&lt;br /&gt;“Nulis apa?” &lt;br /&gt;“Cerpen, Pak,” kataku, sambil kuperhatikan matanya yang tak menunjukkan berkurangnya kecurigaan. “Saya tinggal sekitar sini dan lulusan SMA ini, Pak.”&lt;br /&gt;Selanjutnya dia membiarkanku meneruskan langkah. Saat berjalan, aku merasa dia menembakku dengan sorot matanya. Aku benar-benar tak peduli. Toh sekolah ini milik negara dan aku pun pernah menyumbang sekian rupiah untuk pembangunan salah satu gedungnya. &lt;br /&gt;Aku melewati celah antara ruang kantor dan ruang perpustakaan. Kedua bangunan ini tetap seperti ketika delapan tahun lalu aku meninggalkannya. Selepas celah, aku sudah bisa melihat hampir seluruh bagian dalam sekolah. Sudah banyak perubahan yang dibuat di sini. Ada ruang-ruang kelas baru di ujung selatan sana. Antara kelompok-kelompok kelas kini dihubungkan koridor beratap yang indah dengan tiang-tiang penyangga yang bagus. Sungguh modern. Nyaris seperti sekolah-sekolah berskala internasional dalam liputan-liputan berita. Semua cat tampak masih baru. Mungkin mempersiapkan diri untuk 17 Agustus tahun ini. Sayang masih belum ada umbul-umbul sama sekali.  &lt;br /&gt;Setelah puas mengagumi perubahannya, aku memilih untuk tidak melanjutkan proyekku. Aku menoleh sekeliling mencari tempat yang bagus untuk menulis. Di tepi kanan perpustakaan yang masih kosong terdapat sebuah bangku dan meja. Mejanya agak rusak, tapi bangkunya tampak masih bisa diduduki. Kudekati bangku-meja itu dan mencoba mendudukinya. Masih lumayan nyaman. Bagian ini langsung menghadap lahan kosong ditumbuhi alang-alang. Angin berhembus keras, tapi udara tetap panas. &lt;br /&gt;Aku keluarkan buku notes kecilku dari saku belakang celana. Ya, meski panas, inilah tempat yang tepat untuk bisa merenungkan segala yang kulihat di tempat pengungsian para korban banjir lumpur itu. Lalu aku akan menuliskannya dalam bentuk cerpen: harus ada cerita yang bisa menjaga minat dan menggugah pembaca sambil, namun juga harus tersaji fakta yang mencerahkan. Cerpen itu menghibur sekaligus memintarkan, begitu kata teori. Ah, lagi-lagi teringat teori! Terang saja aku tidak pernah berhasil menulis cerpen yang bagus sejak kuliah sampai sekarang. Teori terlalu menghantuiku. &lt;br /&gt;Aku mencoba berkonsentrasi dan mengingat-ingat: ada bau menyengat seperti limbah bahkan dari jarak satu kilo dari lokasi banjir lumpur, ada sopir-sopir angkutan yang berkelahi karena semakin berkurangnya pelanggan, ada perkelahian antar beberapa lelaki karena otak yang panas di kamp pengungsian, ada rumah-rumah yang tinggal terlihat atapnya karena sudah termakan lumpur, dan bahkan ada sebuah “bilik mesra” yang dikhususkan bagi para pasangan pengungsi yang ingin menyalurkan hasrat seksual mereka—meskipun konon jarang dipakai, karena para pengungsi malu mengumumkan kepada tetangga kalau mereka sedang saling menafkahi. Tapi, ah, aku tidak akan menyertakan urusan “bilik mesra” ini ke dalam cerpenku. Aku masih belum berani. &lt;br /&gt;Ah, mana yang akan kutuliskan dulu? Oh ya, tulis saja begini.  Aku...—&lt;br /&gt;Belum lagi aku menyelesaikan kalimat pertama, suara keras sepeda motor terdengar mendekat. Motor itu dari arah belakang, melewati koridor yang indah, lalu berhenti di depan berpustakaan. Siapa dia, berani-beraninya membawa sepeda motor masuk ke kompleks-kompleks kelas, melewati koridor yang semestinya untuk berjalan, dan memarkir sepeda motor di teras perpustakaan. Aku lebih mundur ke belakang agar tidak terlihat.&lt;br /&gt;Sebelum pengendara motor itu turun, aku tadi sudah melihat mereka: seorang lelaki dan seorang perempuan. Begitu turun, mereka menoleh melihat ke arah lapangan—mereka membelakangiku. Aku mencoba mengintip. Kulihat lelaki itu berbicara:&lt;br /&gt;“Mau duduk-duduk di sana terus?”&lt;br /&gt;“Ke kelas yang itu lagi?” kata si perempuan menunjuk ruangan kelas baru di ujung selatan.&lt;br /&gt;Mereka berdua segera berjalan. Tangan si lelaki di punggung bawah si perempuan, nyaris menyentuh pantat. Sambil berjalan, si lelaki menoleh ke kanan dan kiri, dan mengatakan sesuatu kepada si perempuan. Sayang, aku tidak bisa mendengar kata-kata mereka. &lt;br /&gt;Entah, tiba-tiba saja aku tak lagi berminat untuk melanjutkan perenungan dan hasratku menulis cerpen. Aku segera mengendap-endap di tepian gedung sambil tetap bisa mengintai laki-laki yang tangannya mulai meraba-raba dengan cabulnya pada bagian belakang tubuh si perempuan. Dasar, yang namanya maksiat sekarang sudah menjarah gedung sekolah. Kupikir yang seperti ini hanya terjadi di gedung-gedung kampus yang kurang penerangan pada malam hari. Kini, bahkan di terang hari, bahkan di sebuah SMA Negeri, hal itu bisa terjadi. Sementara kuikuti dari bagian-bagian aman, si lelaki tetap seperti merasa diikuti seseorang. Terkadang, si lelaki berlagak seolah-olah meneduhi wajah si perempuan dari sengatan matahari dengan tangannya, terkadang dia berlagak mengipasi wajah si perempuan dengan tangannya. &lt;br /&gt;Sementara aku mengendap-endap dari balik tiang koridor satu ke tiang koridor lainnya, seperti detektif.&lt;br /&gt;Pasangan itu menuju sebuah kelas di ujung selatan. Itu kelas baru. Seingatku, di belakang kelas ujung selatan itu terdapat sebuah warung. Pada hari Minggu seperti ini pasti kosong. Dan ada lincak bambu yang bisa dipakai duduk-duduk, atau apa-apa. Mungkin mereka akan ke sana, berpacaran ditemani semilir angin tersaring rumpun bambu. &lt;br /&gt;Ternyata tidak. &lt;br /&gt;Di depan kelas ujung selatan, mereka berhenti. Si lelaki mengeluarkan sesuatu dari saku belakangnya yang tebal. Sekumpulan kunci. Hanya seorang penjaga sekolah yang memiliki kunci sebanyak itu di sebuah sekolah. Wah, lagi-lagi aku tidak kenal pegawai. Ternyata delapan tahun itu cukup lama. Sudah ada pergantian satpam dan penjaga sekolah. &lt;br /&gt;Si lelaki membuka pintu kelas ujung selatan itu dan menoleh ke sekelilingnya untuk mengamati. Lagi-lagi aku bersembunyi agar tidak terlihat. Ternyata, pikirku, sekolah ini telah salah memilih karyawan baru. Pertama, satpam yang berwajah galak. Kedua, penjaga sekolah yang cabul. Siapa saja bisa mengira dia ke kelas ujung selatan itu untuk melakukan apa. Setelah melihat sekeliling dan sepertinya tidak mendapati apa-apa yang mencurigakan, si penjaga sekolah mengajak perempuannya masuk ke kelas itu dan segera menutupnya. Dia membiarkan kuncinya menggantung di luar. &lt;br /&gt;Aku segera bangkit dari tempatku sembunyi dan melompat. Meaong! Tiba-tiba ada seekor kucing yang ada di depan kakiku. Aku kaget setengah mati saat kudengar suara itu dan kurasakan bulu-bulu halusnya di punggung kakiku. Refleks memerintahkan agar aku segera kembali ke tempatku sembunyi. Jantungku berpacu. Kulihat kucing hitam yang kusandung tadi berlari menyeberang lapangan yang rumputnya mulai mengering. Semoga saja teriakan kucing itu tidak cukup keras untuk didengar penjaga sekolah cabul itu. Kuintip kembali kelas di ujung selatan itu. Sepertinya si cabul tidak tahu. &lt;br /&gt;Aku mengendap-endap lagi menuju kelas di ujung selatan. Kali ini aku lebih hati-hati dan sesekali melihat ke bawah. Aku ingat, dulu di lapangan dimana sekarang ada kelas ujung selatan itu, seorang siswa kejang-kejang karena epilepsinya kumat. Aku ingat, aku ikut melihatnya saat kejang-kejangnya selesai, mulutnya berbusa dan ada sedikit darah, jari Pak Guru olahraga yang diganjalkan diantara giginya tergigit. Sudahlah, mengapa tiba-tiba aku ingat lagi kejadian mengerikan itu. Sudah lama aku tidak pernah teringat kejadian itu lagi. &lt;br /&gt;Aku tetap mengendap-endap melewati tepi sebuah gedung lagi. Jantungku masih berpacu. Meskipun sekarang sudah tidak sekencang tadi. Pikiranku terasa tegang, sampai-sampai kurasa ada urat di bagian belakang kepalaku yang agak mengeras. &lt;br /&gt;Aku sudah berada di depan kelas ujung selatan. Aku mendekat di jendela yang terbuat kaca nakonya agak terbuka. Sambil membungkuk agar tidak terlihat, kutajamkan pendengaran. Aku mencoba sekian lama membedakan desir angin di rumpun bambu belakang sekolah dengan desah nafas dari dalam ruang kelas. Ternyata, diantara desah-desah nafas lirih itu ada suara si lelaki:&lt;br /&gt;“Kalau kita sudah di rumah nanti... kita bisa melakukannya setiap hari...”&lt;br /&gt;“Mas...” balas si perempuan. &lt;br /&gt;“Sungguh...” &lt;br /&gt;Sialan! Ternyata penjaga sekolah itu benar-benar sedang bertindak cabul di sini. Benar-benar tak bisa dibiarkan. Aku segera memutuskan untuk memberitahu satpam tentang prilaku cabul si penjaga sekolah. Aku sudah akan pergi, tetapi tiba-tiba aku memutuskan untuk bertindak lebih. Kunci yang menggantung di luar pintu itu harus dipakai. Mereka harus tertangkap basah. Aku kunci pintu itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan terlalu banyak suara. Saat melakukan itu, kudengar lagi suara-suara erotis itu:&lt;br /&gt;“Dasar... pabrik sialan...”&lt;br /&gt;“Lum... lumpur sialan...”&lt;br /&gt;Aku segera teringat cerpen yang ingin kutuliskan tadi. Ada sebuah bilik khusus di tempat pengungsian itu yang dikhususkan untuk pasangan yang ingin menyalurkan hasrat seksualnya. Aku tadi belum terpikir untuk menuliskan tentang itu. Apa mungkin mereka ini salah satu pengungsi itu? Tanganku yang masih memegang kunci itu tak jadi kulepaskan. Bahkan, aku langsung mencoba pelan-pelan mengembalikan kunci itu agar terbuka lagi. Kali ini, aku tetap tak ingin menimbulkan suara. Ah, aku telah salah sangka. Tetap, sambil mengendap-endap aku mencoba meninggalkan pintu itu dengan mundur. &lt;br /&gt;Belum lagi aku membalik badan, ada tangan yang memegang pundakku, menghentikan langkahku:&lt;br /&gt;“Nulis apa, Mas?”&lt;br /&gt;Ternyata pak satpam sudah berdiri di belakangku. &lt;br /&gt;Tangan kanannya membawa tongkat pemukul hitam mengkilap!&lt;br /&gt;“Mau ngintip, Mas?” tanyanya lebih kasar. “Kalau mau ngintip lagi, nanti sore juga ada, Mas. Giliran saya nanti!”&lt;br /&gt;“Saya tadi mau—”&lt;br /&gt;“Apa, he??” kali ini dia sudah mencengkeram kerah kaosku. “Mau pentungan?!”&lt;br /&gt;“Tunggu du—”&lt;br /&gt;“Mas!” teriaknya ke arah ruang kelas. “Kalau sudah selesai kamu keluar dulu, ini ada pengintip yang bisa digarap jadi lemper!!”&lt;br /&gt;“—”&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;Nah! Sepertinya cerita ini sudah mencukupi, ada aksi dan juga ketegangan. Aku tinggal memoles logikanya di rumah, biar logis dan memiliki nuansa. Tiba-tiba, aku merasa angin sudah kehilangan gerahnya. Langit juga mulai tampak sejuk dengan warna mulai agak kuning. Sepertinya sebentar lagi ashar akan turun. Akhirnya, bisa juga menulis cerita kecil tentang banjir lumpur. Semoga salah satu editor koran nasional yang selalu suntuk membaca puluhan cerpen yang datang ke mejanya bisa membedakan cerpenku ini dari cerpen-cerpen para penulis tangguh lainnya. Tidak seperti cerpen-cerpenku sebelumnya yang sudah ditolak mentah-mentah. &lt;br /&gt;Melihat langit yang sudah mulai sore itu, aku memutuskan pulang. Aku ingin ngobrol sedikit banyak dengan orang tuaku. Besok aku sudah harus kembali ke kota tempatku kerja. Aku keluar tetap dengan melewati celah antara perpustakaan dan kantor guru. Aku ketemu seseorang yang terlihat baru saja selesai memasang umbul-umbul. Dia menyapaku saat mencoba menstrater sepeda motornya. Aku merasa harus berterima kasih kepada Honda tuanya itu, derunya saat baru datang tadi menghadirkan ide untuk cerpenku. &lt;br /&gt;Aku terus berjalan menuju pos satpam dan si pemasang umbul-umbul mendahuluiku sambil menegur. Di pintu gerbang dia meneriakkan salam perpisahan kepada pak satpam. Saat aku sampai di pos satpam, kusempatkan juga berhenti dulu. &lt;br /&gt;“Bagaimana, Mas?” sapa pak satpam, kali ini dia sungguh ramah. “Sudah selesai menulisnya?”&lt;br /&gt;“Suasananya enak, Pak,” kataku, “tulisan saya bisa selesai.”&lt;br /&gt;“Maaf, lho,” katanya, “tadi saya agak curiga. Biasa, Mas, jaman seperti ini, sulit percaya sama orang.”&lt;br /&gt;Kemudian kami berbicara sebentar sekedar mengabsen guru-guru yang masih ada yang sudah pindah, atau meninggal. Ketika basa-basi itu kurasa sudah cukup, aku pamit dan mulai berjalan. Belum genap selangkah aku berjalan ada suara sepeda motor mendekat. Kulihat sepeda motor itu seperti akan berhenti di pos satpam, penumpangnya dua. Sepeda motor itu belum sampai mendekati pos satpam saat pak satpam berteriak:&lt;br /&gt;“Langsung saja!” kata pak satpam sambil mengayunkan tangannya mengarah ke dalam kompleks sekolah. Laki-laki pengedara sepeda motor hanya meneriakkan “oke!” sambil meneruskan laju sepeda motornya. Di belakangnya, tampak seorang perempuan memalingkan wajahnya, menghindari melihat aku dan pak satpam.  Aku menoleh ke pak satpam. Tampangnya agak berubah, sepertinya Pak Satpam malu-malu dan menyembunyikan sesuatu. &lt;br /&gt;“Siapa itu, Pak?” tanyaku.&lt;br /&gt;“!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;PRIA DI UJUNG LORONG &lt;br /&gt;Oleh: M. Abdinal Akhda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arya melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 4 sore. Suasana di Rumah Sakit nampak lenggang. Beberapa dokter nampak sibuk lalu lalang, membawa peralatan medis dan stetoscope yang melingkar di lehernya. Arya terus melangkahkan kakinya melintasi lorong Rumah Sakit, tak nampak banyak berubah saat dua bulan yang lalu ia melintasi lorong yang sama, dengan perasaan yang sama sedihnya. Waktu terus berlalu bersama detik-detik yang terus berputar. Hujan rintik-rintik, mengundang hawa dingin, angin yang melintas terbelah oleh langkah kaki Arya. Ia mengambil sebungkus rokok dalam sakunya, kemudian ia mengambil sebatang lalu menyalakannya. Asap putih rokok tersebut menyapu wajahnya yang tampak diliputi perasaan haru. Kemudian, terbang tertiup angin bersama kenangan-kenangan masa lalu.&lt;br /&gt; Sesosok wajah masih hangat dalam ingatannya, seorang paman yang bijaksana dan penuh perhatian, kini meninggalkannya untuk selamanya. Rasa kasih sayangnya seperti seorang ayah, dan kini rasa itu bercampur dengan perasaan duka yang mendalam. Padahal, duka yang dialaminya masih belum terobati saat bibinya meninggal dua bulan lalu karena kanker, dan kini hari-hari akan terasa lebih berat. Arya masih belum percaya dengan apa yang dialaminya, semuanya seakan hanya mimpi, mimpi buruk. Ia berharap segera terbangun dari mimpi itu dan melupakan segalanya. &lt;br /&gt; Bagi Arya, paman dan bibinya adalah orang tua. Ibunya meninggal saat ia baru lahir, kemudian ayahnya meninggal waktu umurnya baru enam tahun. Saat itu ia masih belum mengerti apa-apa tentang kematian. Paman dan bibinya merawatnya seperti anak sendiri dengan penuh kasih sayang. Arya merasa sangat berhutang budi, namun sayang ia menyesal belum bisa membalas kebaikan paman dan bibinya, paling tidak ia ingin mengucapkan terima kasih sebelum berpisah untuk selama-lamanya. Tapi semuanya terlambat, terlambat saat kematian mendahului keinginan.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt; Tak terasa tiga batang rokok sudah habis dari tangannya, tapi rasa sakit dalam hatinya seakan tak ada habisnya. Ia terdiam dan menyandarkan dirinya ke dinding, tubuhnya seakan tak berdaya, matanya sayu, pandangannya lemah menatap wajah-wajah orang yang lalu-lalang  di depannya. Terkadang ia menemukan sosok wajah yang sama, wajah muram tanpa arti, terkadang ia menemukan wajah bersinar penuh harapan. Tapi ada satu wajah yang bersinar sejuk bersahabat mengusik pandangnya, wajah dari seorang pria yang sedang duduk sendiri di atas bangku kayu di ujung lorong. Ia memperhatikan wajahnya dengan seksama, garis di wajahnya terlihat mulai menua, rambutnya juga mulai terlihat beruban. Tapi, kehangatan yang memancar dari wajahnya membuat orang yang melihatnya akan merasa nyaman.&lt;br /&gt; Arya melangkahkan kakinya mendekati pria itu, seakan ada sebuah rasa keingintahuan yang menariknya, dan memanggil untuk mendekat. Ia kemudian duduk di sebelah kanan pria tersebut, pria itu tetap diam tak menoleh, tapi pasti sadar akan kehadiran seseorang di sisinya. Arya tetap diam, sebenarnya ia juga tak tahu apa alasannya mendekati pria tersebut, sepertinya kerinduan akan pamannya adalah alasan ia mendekati pria itu. &lt;br /&gt; Arya hanya termenung di atas bangku yang bisu, terdiam tanpa kata, tanpa angin. Kemudian diambilnya sebatang rokok terakhir dari sakunya, ia hanya memegangnya, dan seperti melamunkan sesuatu. Pria itu menoleh memandang Arya, menatapnya dengan penuh perhatian.&lt;br /&gt; “Kenapa kau terlihat begitu murung, anak muda ?”.&lt;br /&gt; Suasana kaku mulai mencair diantara ke duanya, Arya mengambila nafas sejenak kemudian melanjutkan pembicaraan.&lt;br /&gt; “Aku sedih sekali”.&lt;br /&gt; “Kalau boleh tahu ada apa ?”&lt;br /&gt; “Paman ku meninggal dunia, ia terkena serangan jantung”.&lt;br /&gt; “Kematian itu hal yang wajar anak muda. Memang sungguh ironi sekali, manusia sebenarnya tidak pernah meminta untuk dilahirkan, tapi begitu ia lahir, mencintai hidup, dan kehidupannya, ia dihadapkan pada sebuah realita yang sangat menyakitkan. Manusia dihadapkan pada kematiannya, senang atau tidak senang, sebagaimana kelahiran itu sendiri”. &lt;br /&gt;  “Iya, dan sekarang aku hancur, hancur !”.&lt;br /&gt; “Belum, jalanmu masih sangat panjang”.&lt;br /&gt; “Tapi apa artinya, toh nanti aku juga akan meninggal seperti pamanku, dan yang lainnya. Aku benar-benar benci dengan kematian”.&lt;br /&gt; “Jangan kau berkata begitu, kematian itu adalah hadiah yang sangat berharga bagi orang yang beriman. Manusia adalah makhluk sempurna, wujud dari kesempurnaan itu adalah kematian, yaitu saat ia bertemu dengan Allah. Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah akan benci bertemu dengannya”.&lt;br /&gt; Arya terdiam sejenak, ia menghela nafas, menyalakan rokok lalu berfikir. Pria itu mengalihkan wajahnya, dengan tatapan mata penuh arti, pandangannya menerobos jauh ke depan.  &lt;br /&gt; “Ya sudah, tak usah membahas hal itu lagi”. Arya menyambung pembicaraan.&lt;br /&gt; “Apa karena kau tak bisa mengatasi kesedihanmu, ketakutanmu, rasa sakitmu, lalu kau memutuskan untuk melupakannya, dan berharap masalahmu selesai. Masalahmu itu masih belum selesai”.&lt;br /&gt; “Lalu aku harus bagaimana ?”.&lt;br /&gt; “Bersikaplah lebih arif terhadap kematian. Orang yang arif akan selalu mengingat kematian sebagai saat yang berbahagia, begitu bahagia bisa bertemu Kekasihnya, Kekasih yang sangat dirindukannya dalam tidurnya maupun sadarnya, di setiap detik, setiap waktu, di setiap siang, dan malam. Ketahuilah, pada kematian itu terdapat pelajaran bagi orang yang memiliki mata hati, dan padanya terdapat nasihat dan peringatan bagi semua orang, kecuali orang yang lalai. Orang semacam itu hanya akan semakin keras hatinya jika menyaksikan kematian, karena tak terpikirkan oleh mereka bahwa suatu ketika mereka sendiri akan mengalaminya. Meskipun hal itu terlintas dalam pikiran mereka, mereka tidak mempunyai anggapan bahwa saat-saat kematian begitu dekat dengan mereka, mereka itu selalu disibukkan dengan urusan dunia yang jelas-jelas akan segera  ditinggalkannya”&lt;br /&gt; Kali ini Arya benar-benar menyimak ucapan pria tersebut, dia menganggukkan kepalanya sepertinya dia mulai memahami maksud pria tersebut. Pria tersebut tersenyum, matanya memandang lurus ke depan, dan terlihat sebuah kepuasan pada wajahnya. &lt;br /&gt; Arya menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku, nampak sebuah perubahan kesan di wajahnya. Tak tampak lagi kesedihan dan keputus asa. Kekalutan hatinya saat ditinggal orang yang sangat dikasihinya perlahan mulai sirna, kali ini ia merasa lebih rela melepas kepergian pamannya. Ia berpikir, kalau tidak sekarang mungkin suatu saat ia juga pasti berpisah dengan pamannya. Arya merasa tertolong oleh pembicaraan yang cukup singkat itu. Dan kini sebuah harapan baru  seakan menyinarinya&lt;br /&gt; “Sepertinya aku mulai sedikit mengerti.” Arya berbicara dengan sedikit senyuman.&lt;br /&gt; “Baguslah kalau begitu. Bersukurlah kepada Allah, karena segala puji hanyalah pantas bagi-Nya, satu-satunya penggenggam kekuasaan dan kewenangan, yang telah mengklaim bagi diri-Nya kekekalan, merendahkan segala makhluk dengan kefanaan yang ditakdirkan-Nya atas mereka, lalu menetapkan maut sebagai ampunan bagi orang-orang yang bertaqwa. Dialah yang pantas dipuji di langit dan di bumi.” &lt;br /&gt; “Rasanya aku juga pantas berterima kasih kepada paman,….. bolehkah aku memanggilmu paman ?”&lt;br /&gt; Pria itu hanya tertawa kecil, lalu ia berkata&lt;br /&gt; “Ya, tidak apa-apa, itu terdengar lebih akrab, aku jadi teringat keponakanku, Agus namanya, ia seumur denganmu. Aku baru saja mengalami kecelakaan, ia mungkin akan ke sini menjemputku. Oh!, itu dia orang yang baru saja kubicarakan.”&lt;br /&gt; Pria itu menunjuk ke arah kanan Arya. Arya seketika itu menoleh ke kanan, matanya terus mencari-cari, dirinya merasa penasaran dengan seseorang bernama Agus itu.&lt;br /&gt; “Mas Arya !.” tiba-tiba seseorang memanggil arya dari belakang. Arya langsung membalikkan badannya&lt;br /&gt; “Agus kamu…..”&lt;br /&gt; “Maaf, aku terburu-buru Mas.” Agus menyela pembicaraan.&lt;br /&gt; “Aku kesini mau mengambil jenazah pamanku, ia baru kecelakaan tadi siang.”&lt;br /&gt; “Pamanmu,… meninggal…. ?” Arya betul-betul kaget dengan perkataan Agus.&lt;br /&gt; “Iya, ada apa Mas ?” &lt;br /&gt; “Tidak,… tidak ada..  apa-apa kok.”&lt;br /&gt; Wajah arya terlihat pucat, ia sangat bingung dengan apa yang baru terjadi, ia terus berpikir, dengan siapa sebenarnya ia ngobrol dari tadi. Ia menoleh ke kanan kiri seperti orang linglung. Matanya langsung tertuju pada sebuah pintu tepat di sebelah kirinya. Ia sangat shock saat membaca tulisan KAMAR JENAZAH. Tiba-tiba arya langsung jatuh pingsan.&lt;br /&gt; “ Mas!,….Mas Arya !.” Agus langsung menahan tubuh arya yang tiba-tiba roboh.&lt;br /&gt; “Suster !,….suster ..tolong ada yang pingsan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;SEPENGGAL JALAN SANG SRIKANDI&lt;br /&gt;Oleh: Fauziah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari menjelang pagi, hawa terasa sangat dingin. Wanita itu teronggok di sudut kuburan Cina. Sosoknya yang tegap kini menyandar lemas seperti boneka kain perca. Wajahnya tak menunjukkan perasaan. Matanya menatap kosong jejeran nisan yang berbaris rapi. Ia hampir tak bergerak. Diam, menikmati kebingungan yang berlangsung hampir setengah jam. &lt;br /&gt;May mengangkat kepala, lalu menatap pohon di sampingnya tak berkedip, dengan sorot mata dingin, tanpa emosi. Tiba-tiba ia bicara lirih “Dimana aku?” dan suasana tetap mencekam. Tak ada yang menjawab pertanyaannya.&lt;br /&gt;Hanya ada suara binatang malam yang menemani. Sebagai tanda ia tak sendiri. Pikirannya melayang, mengingat peristiwa-peristiwa yang membuat dirinya bisa terdampar di alam keterasingan. Memorinya terbang menembus keheningan malam, begitu lama. Tapi seakan tak pernah berujung. Ruang mimpinya tak berpenghuni lagi!&lt;br /&gt;Rasa pusing yang menyapanya membuat perempuan itu harus rela untuk meletakan kepalanya di tanah kembali. Kamera hatinya mulai menangkap kejadian yang telah menimpa. Menangkap dan menyimpannya, kemudian merangkainya kembali menjadi sebuah cerita yang utuh. &lt;br /&gt;Ia ingat, beberapa jam yang lalu, ia mengamen dengan beberapa teman dan menghabiskan malam bersama mereka. Kemudian salah satu dari mereka memberinya segelas air mineral. Dan setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi. &lt;br /&gt;Dalam hatinya timbul banyak tanda tanya. Pertanyaan yang tak tahu harus ditujukan pada siapa. Mengapa dia ada di sini? Dimana teman-temannya? Mengapa mereka meninggalkannya sendiri? Apa yang mereka lakukan padanya? Dan berbagai pertanyaan lain yang menyelimuti dirinya. Selimut yang tak lagi hangat bahkan menyakitkan.&lt;br /&gt;“Ouuuw,” dia mengerang kesakitan. &lt;br /&gt;Wanita itu merasa ada yang sakit di salah satu bagian tubuhnya. Bagian yang sangat dia jaga. Yang membutuhkan banyak perjuangan untuk melindunginya. Namun mengapa sekarang terasa sakit sekali. Apa yang terjadi? Dengan sedikit rintihan dan air mata ia berusaha menahan rasa itu. &lt;br /&gt;Kemilau mentari dari ufuk timur mulai kelihatan. Goresan lembut berwarna jingga itu perlahan menapaki langit tanah Kepanjen. Sebuah kota kecil di selatan kota Malang. Daerah di mana wanita itu harus banting tulang untuk menghidupi adik-adiknya.&lt;br /&gt;Setiap pagi hingga malam, kakinya harus rela naik turun bis jurusan Malang Blitar, bahkan Blitar-Surabaya. Tangannya membawa tape recorder hasil kreativnya bersama teman-teman. Menyanyikan lagu-lagu dangdut ternama dan berharap ada orang yang mau memberinya uang. &lt;br /&gt;Berbagai macam orang ditemuinya. Mulai dari remaja berseragam sekolah, yang kuliah, guru, tentara, pejabat, sampai copet dan penjahat lain yang membuat masyarakat resah. &lt;br /&gt;Kerasnya hidup membuat ia menjadi wanita yang tangguh dan nampak lebih dewasa. Tak sebanding dengan usianya yang relatif masih muda. Bahkan banyak orang tak akan menyangka kalau usianya baru tujuh belas tahun. Mereka mengira kalau usia gadis ini sudah kepala dua.&lt;br /&gt;Kabut terasa semakin pekat. Membuat ia terpaksa kesulitan bernapas. Percikan cahaya matahari membuat warna daun yang semula hijau kini memendar keperakan. Buliran beningnya embun menetes menyapa kulitnya. Berharap tetesan itu mampu memuaskan dahaganya. &lt;br /&gt;Lamunannya terhenti, telinganya memaksanya mendengar suara langkah kaki. Dengan cepat ia bangun dan menutupi sebagian tubuhnya yang terbuka. &lt;br /&gt;“Ah, hanya khayalan saja. Tak ada siapa-siapa di sini”matanya menyapu tanah luas itu.&lt;br /&gt;Sakit itu mulai terasa lagi. Dan betapa kagetnya ketika dirinya sadar kalau ada bagian tubuhnya yang berdarah. Bagian tubuh yang sangat ia jaga. &lt;br /&gt; “Aku diperkosa!”jerit lirih nuraninya.&lt;br /&gt; Siapa lelaki itu? Lelaki yang berani melakukan ini padaku. Tubuhnya berontak hendak berdiri, tapi ia masih terlalu lemah. Kepalanya terasa sangat pening. Dan kabut itu semakin tebal. Gelap!&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt; Pagi ini berbagai surat kabar menulis tentang dirinya. Seorang Pengamen Diperkosa di Kuburan Cina, Hilangnya Keperawanan Pengamen Jalanan, dan berbagai judul lain dibacanya pagi ini di kios dekat rumah. &lt;br /&gt; “Maafkan kami May, kami terpaksa melakukan itu. Dia mengancam akan melaporkan kami tentang barang haram itu kalau tak menuruti. Kami tak punya pilihan lain.” kata-kata Sri terngiang di kepalaku.&lt;br /&gt; “May, kakakku pergi ke kota mencari uang, katanya dia akan mengirim uang padamu kalau sudah gajian. Sabar ya, tolong maafkan dia.” Kata Dwi ketika melihat perutku lain dari biasanya.&lt;br /&gt; “Maafkan katamu? Bila kau jadi aku, apa kau dapat memaafkan?” dia hanya menunduk terdiam.&lt;br /&gt; Hari demi hari dilaluinya seperti biasa. Berkumpul dengan teman-teman asongan. Berdiri di perempatan Gadang menunggu bus berhenti. Mendendangkan lagu-lagu dengan senyum terpaksa. Pedih hatinya bila teringat akan dilema yang menimpa.&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt; ‘Pos’ begitu orang-orang menyebut tempat ini. Mungkin karena tempatnya berada di depan kantor pos. Di sinilah para pedagang asongan, pengamen, tukang becak dan copet berkumpul. Wajah-wajah cerianya mampu menutupi kebimbangan yang melanda. Tak jarang kepala mereka berpikir keras. Memikirkan cara agar dapurnya tetap mengepul. Agar hutang-hutangnya segera lunas. Agar ia bisa mewujudkan keinginan anak istri.&lt;br /&gt; “May, lihat perutmu semakin besar! Istirahatlah saja kau ini, biar bayi yang kau kandung sehat.” Ujar Bang Togar.&lt;br /&gt; “Kalau istirahat, gimana dapet uang bang?”tanyanya.&lt;br /&gt; “Lho memangnya suamimu nggak ngirimin uang?”lelaki itu menyulutkan sebatang rokok.&lt;br /&gt; Mayang tersenyum kecut, “Boro-boro ngasih uang, datang aja nggak!”&lt;br /&gt; “Mengapa tak kau gugurkan saja kandunganmu itu? Kalau begini siapa yang repot?”kata kang Slamet. &lt;br /&gt; Memang pernah terbesit olehnya untuk menggugurkan bayi itu. Tapi tak jadi, ini karena ia teringat CD yang dilihatnya beberapa waktu lalu bersama adiknya. CD yang menayangkan proses aborsi untuk bayi yang berumur di bawah tiga bulan sampai yang hampir sembilan bulan. Semuanya butuh teknik yang berbeda.&lt;br /&gt;Selain itu akibat aborsi sangat berbahaya, tak hanya bagi anak tapi juga ibu yang mengandungnya. Kerusakan leher rahim, kanker payudara, kematian mendadak karena pendarahan hebat, bahkan bisa menyebabkan gila dan meninggal. Dan mulai saat itu ia berjanji tidak akan melakukan aborsi.&lt;br /&gt; Tayangan itu begitu menusuk tulang persendiannya, mengaduk-aduk perutnya hingga muntah. Ditambah buliran air bening yang memaksa keluar dari kelopak mata. Sebenarnya ia wanita yang lembut. Hanya alamlah yang membuat sosoknya berubah. &lt;br /&gt; Segera ia meninggalkan warung kopi itu dan bergegas naik bis yang hendak melaju. Ia tak ingin memperpanjang obrolannya dengan lelaki-lelaki itu, percakapan yang mengakibatkan dadanya semakin sesak.  &lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt; Wanita itu bersedekap di depan jendela. Meski terbatas dinding kayu di depan, matanya masih bisa memandangi anak-anak yang sedang bermain sepak bola. Tak ada kesedihan bagi anak-anak. Tinggal di kampung yang bukan hanya pengap namun juga becek bahkan akhir-akhir ini listrik sering mati, seakan bukan persoalan. Mereka tetap terlihat senang.&lt;br /&gt;Dia menghela nafas panjang. Memandangi perut yang mulai membukit, sudah hampir tujuh bulan. "Akankah anakku nanti juga seperti anak-anak itu? Bermain di tanah yang becek dan lembab, tanpa baju?"&lt;br /&gt;Tendangan kecil di perut menyadarkannya. Sehatkah dirimu Nak? Pertanyaan yang tidak untuk dijawab. Sebutir mutiara bening tiba-tiba jatuh di pipi. &lt;br /&gt;Walaupun perutnya semakin besar, tak menyurutkan semangatnya untuk terus bernyanyi dan bernyanyi. Namun ada yang lain dengan penampilannya. Sekarang ia tak pernah memakai levis seperti dulu melainkan baju terusan berbentuk rok atau biasa disebut daster.&lt;br /&gt; Keadaan ini membuat penumpang bus terharu dan kasihan. Hingga suatu malam ia bertemu dengan seorang perempuan cantik berjaket hitam.&lt;br /&gt; “Berapa bulan mbak?”tangannya memegang perut itu.&lt;br /&gt; "Sudah masuk tujuh bulan..."jawabnya.&lt;br /&gt;“Banyak istirahat ya,” tangannya memasukkan beberapa uang ribuan di kantong plastiknya.&lt;br /&gt;Mayang hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih. &lt;br /&gt;“Ini kartu nama saya, kalau ada masalah kamu bisa menghubungi saya. Oh ya dimana saya bisa menemuimu? Aku ingin bicara sesuatu.”ucapnya lagi.&lt;br /&gt;Perempuan itu menyebutkan suatu tempat dimana dia biasa mangkal. Malam ini lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Saat ini dia bisa mengumpulkan uang lebih banyak dari biasanya.&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt;Bruakkk…&lt;br /&gt;Beberapa lelaki merusak barang-barang yang ada di kontrakan kecil itu. &lt;br /&gt;“Hentikan! Jangan buang barang-barangku!” namun teriakan ini tak ada yang menggubris.&lt;br /&gt;“Hentikan! Percayalah aku akan segera melunasi hutang-hutangku,”gerombolan lelaki itu menghentikan aksinya.&lt;br /&gt;“Jangan bohong lagi! Kapan kau bisa melunasi semuanya?” tangannya menarik krah pakaian May.&lt;br /&gt;“Dua hari lagi, datanglah ke sini!” ujar May.&lt;br /&gt;“Ok, dua hari lagi,”lelaki itu mengarahkan jari tengah ke arahnya.&lt;br /&gt;Wanita itu terpekur di sudut ruangan. Tangannya membolak-balik selembar kertas, kartu nama perempuan yang ditemuinya kemarin. Haruskah ia menelponnya. Ia takut kalau wanita itu hanya basa-basi tentang niat baiknya itu. Tapi kepada siapa lagi dia harus minta tolong. &lt;br /&gt;Setelah berpikir panjang dan menimbang baik buruknya. Akhirnya ia mencoba mengakhiri kebimbangan jiwanya. Ia akan menelpon wanita berjaket hitam itu. Tak ada salahnya kalau ia mencoba.&lt;br /&gt;Diraihnya kertas kecil itu kembali, ia berlari menuju telpon koin pinggir jalan. Mulutnya mengeja deretan enam angka, tangannya terampil memencet digit-digit nomor. &lt;br /&gt;“Selamat pagi…” ujarnya ragu.&lt;br /&gt;“Ya, pagi. Ini siapa ya?”suara wanita itu terdengar merdu.&lt;br /&gt;“Ini saya mbak, yang ketemu mbak di bus tadi malam,”katanya.&lt;br /&gt;“ Ooo kamu, ada apa? Ada yang bisa saya bantu,”May berpikir sejenak, bingung mau memulai darimana.&lt;br /&gt;“Mbak ada waktu nggak, saya nggak enak kalau bicara lewat telpon. Tapi kalau mbak repot, nggak usah. Lain kali saja.”tuturnya hati-hati. Ia takut salah bicara.&lt;br /&gt;“Hari ini saya kosong. Kita bisa ketemuan sekarang, dimana? Tempat yang katamu kemarin gimana?”gayungnya bersambut.&lt;br /&gt;“Sekarang? Ya baik, saya tunggu mbak.”dia kegirangan.&lt;br /&gt;“Ok setengah jam lagi saya sampai, tunggu ya,” &lt;br /&gt;“Makasih ya mbak, makasih banyak.” ujar wanita berdaster biru sebelum memutus telpon.&lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt;Pagi perlahan tersapu awan. Langit berpendar-pendar warna biru cerah. Diapun ke sana, tempat di mana mereka berjanji. Di sudut perempatan Kepanjen. Jalanan setapak yang mengantarkannya ditambah keadaan perut yang mulai rewel, sedikit membuat langkahnya terhuyung-huyung. Namun itu semua tidak membuatnya urung untuk mundur.&lt;br /&gt;Memasuki trotoar, jalanan tak sekasar yang tadi. Hanya saja ia terpaksa menikmati lalu lalang kendaraan yang membuat kepalanya pusing. Ia memutuskan duduk di kursi yang berjejer di selatan jalan. Pandangannya berputar-putar mencari sosok wanita yang akan di temuinya.&lt;br /&gt;Tak beberapa lama wanita itu muncul, dengan syal biru dan rambut terurai. Tingginya semampai dengan paduan warna yang menawan membuat wanita yang hanya memakai daster biru muda itu tertunduk. Rasanya tak pas kalau ia berjalan berdampingan dengannya. Pemandangan yang begitu berbeda.&lt;br /&gt;Wanita bersyal itu melambaikan tangannya. Dengan sedikit berlari Mayang menuju ke arahnya. Mereka tersenyum dan bersalaman. &lt;br /&gt;“Kita cari tempat yuk,”ajaknya.&lt;br /&gt;“Kemana mbak?” Tanya Mayang.&lt;br /&gt;“Kamu sudah makan apa belum?” Mayang terdiam.&lt;br /&gt;“Kebetulan aku lapar, jadi kita makan dulu ya,” ajakan wanita itu membuat Mayang menghentikan langkahnya.&lt;br /&gt;“Lho kok  berhenti? Ada apa?”tanyanya.&lt;br /&gt;Mayang menggeleng, ”Saya nggak bawa uang mbak,”ujarnya.&lt;br /&gt;“Sudah, kali ini aku nraktir kamu, mau ya?”tangannya menarik Mayang.&lt;br /&gt;Berdua mereka berjalan menuju pasar Kepanjen. Mencari tempat yang pas untuk makan dan ngobrol. Setelah cukup lama berputar akhirnya mereka menemukan tempat yang pas, di Bakso Gunung depan pasar. Ini adalah pertamakalinya bagi Mayang menginjakan kaki di sini. &lt;br /&gt;“Oh ya kita belum kenalan, namaku Sari,” katanya.&lt;br /&gt;“Saya Mayang mbak,” mereka berjabat tangan.&lt;br /&gt;“Suamimu di mana?”tanyanya.&lt;br /&gt;“Saya nggak tahu dia ada dimana,…”&lt;br /&gt;“Jadi selama ini kamu sendiri yang membiayai kandunganmu?”Mayang mengangguk.&lt;br /&gt;“Ok, sekarang apa yang bisa saya bantu?” tanyanya.&lt;br /&gt;“Saya mau pinjam uang,”katanya pelan.&lt;br /&gt;“Berapa?” &lt;br /&gt;“Tiga ratus ribu,” Sari membuka tas dan mengeluarkan sebuah amplop.&lt;br /&gt;“Ini ada satu juta, gunakan baik-baik. Oh ya nanti kalau mau melahirkan kamu hubungi aku ya. Aku punya kenalan dokter yang bisa membantu,” wajah Mayang berbinar-binar menerima amplop itu. Sungguh wanita ini bagai malaikat penolong yang dikirim Tuhan untuknya. &lt;br /&gt;. . .&lt;br /&gt;"Mana anak saya bu, boleh saya melihat dan menyusuinya?" Mayang bertanya pada Bu Marni yang membantu kelahiran anaknya. Mbak Sari membawa perempuan itu ke sini ketika dia sudah mulas-mulas. Rumah Bu Marni menjadi semacam klinik bagi perempuan-perempuan tidak mampu. Ketika dia datang, terlihat ada dua bayi merah yang menurut Bu Marni dititipkan dulu.&lt;br /&gt;Bu Marni pun kemudian mengulurkan bayi perempuan itu ke arahnya.&lt;br /&gt;"Berikanlah ASI-mu. Itu akan sangat baik bagi anak perempuanmu yang molek ini. Ke mana ayahnya?" Mayang tidak menjawab pertanyaan Bu Marni. Kebahagiaannya yang membuncah tak lagi mempedulikan pertanyaan itu. Segera dia meraih bayi mungilnya, diciumi dan disusui.&lt;br /&gt;"Bapaknya sudah mati,” jawab perempuan itu sekenanya, sambil mengembalikan bocah mungil itu untuk dibawa kembali ke boks bayinya. &lt;br /&gt;Sampai sore, Bu Marni tidak kembali membawa bayi Mayang ke kamar. Payudaranya sudah sakit, terlalu penuh. Sementara, klinik ini begitu sepi, tidak terdengar pula tangisan bayi. Kemana anaknya dan mengapa Bu Marni juga tidak kelihatan.&lt;br /&gt;Matanya tertuju pada kertas di ujung ruangan itu. Dengan hati-hati ia menuruni tempat tidur dan berjalan ke sana. Sebuah surat singkat tertulis. Dari Mbak Sari. Segera ia membaca pesan itu. Membaca pesan itu matanya nanar. "Mayang, anakmu sudah kubawa. Terimakasih telah kau berikan ASI pertamamu. Kukira uang 3 juta cukuplah sebagai ganti. Aku sudah ditunggu seseorang yang bersedia membelinya. Kalau butuh uang lagi, jangan sungkan-sungkan hubungi aku ya… makasih…"&lt;br /&gt;"Mbak Sari...! Mengapa kau jual anakku!" Teriakan itu tidak ada yang mendengar. Karena rumah sudah kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CERITA PENDEK&lt;br /&gt;DANDELION DARI SURGA&lt;br /&gt;Oleh : Indra Santoso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya Mas tidak setuju. Kalau kamu mau berangkat tanpa ijin Mas, terserah!”&lt;br /&gt;Liana menatapku dengan mimik tak percaya. Baguslah kemudian ia pergi, entah kemana. Mungkin ke taman dandelion seperti biasa. Kuhempaskan tubuhku ke sofa. Menyulut rokok, lalu menghisapnya pendek-pendek.&lt;br /&gt;Sebenarnya siapa yang gila, Liana atau aku?&lt;br /&gt;Baru minggu lalu dia diwisuda. Beberapa tawaran pekerjaan mulai datang menghampirinya. Sebagai seorang sarjana matematika, tidak sulit bagi Liana mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan. Tapi kenapa dia justru memilih anak-anak Aceh?&lt;br /&gt;Aku tersedak asap rokok hingga terbatuk-batuk. Sial!&lt;br /&gt; Indah, istriku, tergopoh-gopoh menyodorkan segelas air putih. Aku meminumnya sampai habis. Batukku terhenti, tapi kemarahanku masih belum bertepi.&lt;br /&gt;“Apa yang terjadi, Mas?&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab pertanyaannya, sebenarnya aku tahu kalau Indah hanya mengungkapkan retorika. Mana mungkin ia tidak tahu masalahnya, sementara aku dan Liana baru saja bertengkar hebat di ruang tamu.&lt;br /&gt;Hening sesaat. Kuhisap kembali rokokku.&lt;br /&gt;“Mas, Indah pikir Mas terlalu keras pada Liana.”&lt;br /&gt;Sekali lagi aku diam. Kusambar jaket kulitku lalu pergi keluar. Persetan udara dingin dan hujan rintik-rintik. Aku ingin menenangkan diri.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Entah sejak kapan Liana mulai berani melawan kehendakku. Padahal rasanya baru sebentar kemarin Liana masih bermanja-manja padaku. Dulu, kurang lebih sampai sepuluh tahun yang lalu, aku dan Liana masih tinggal bersama ayahdan ibu. Kami adalah keluarga yang sangat harmonis.&lt;br /&gt;Masih lekang dalam ingatanku saat-saat bahagia setiap malam. Ayah pulang kerja ketika ibu baru saja selesai menyiapkan makan malam. Liana kecil berlari menuruni tangga sembari tersenyum memamerkan geligi putihnya.&lt;br /&gt;“Ayah, Mas Danu, lihat aku buat apa.”&lt;br /&gt;Liana mengambil secarik kertas yang disimpannyadi laci, lalu menunjukkannya pada kami. Ternyata kertas itu telah digambari empat sosok yang mirip keluarga kami. Aku dan ayah serempak memuji gambar itu. Liana bergelayut di tanganku seperti biasa. Kami bercanda sampai ibu datang membawa makanan.&lt;br /&gt;Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.&lt;br /&gt;Keesokan harinya aku pulang terlambat dari sekolah. Meskipun malam itu acara festival kesenian belum selesai, aku memaksakan diri untuk pulang. Perasaanku tak enak!&lt;br /&gt;Dan, benar saja. Saat tiba kudapati api berkobar melalap rumahku dan beberapa rumah disekitarnya. Asap hitam membumbung tinggi ke langit. Aku berteriak dan berlari mendekatisi setan merah. Ayah dan ibu di dalam!&lt;br /&gt;Beberapa tetangga menarik tanganku agar tidak nekat masuk ke rumah itu. Aku meronta-ronta seperti orang gila. Liana berlari ke arahku. Air matanya membasahi pipi dan bajunya yang kotor terkena angus dan tanah.&lt;br /&gt;“Mas, Liana takut…..”&lt;br /&gt;aku berusaha lebih tenang dan memeluk Liana. Itulah saat terakhir aku menyimpan kenangan tentang keluarga yang bahagia. Pelarianku ke Kota Malang bersama Liana, perlahan mengubur segalanya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Lalu lalang orang-orang meramaikan alun-alun. Beberapa pedagang keliling menawarkan kacang goring dan gula-gula. Hujan telah reda beberapa saat yang lalu, meskipun bulan masih malu menampakkan diri. &lt;br /&gt;Seorang pengamen cilik menghampiriku. Dinyanyikannya lagu mars pengamen saat ini.&lt;br /&gt;“Betapa hancur hatiku, melihat engkau bersamanya…”&lt;br /&gt;kurogoh sakuku dan kusodorkan uang seribu. Hatiku sedang tidak berkompromi untuk mendengar lagu apapun. Pengamen itu tersenyum. Persis seperti senyum Liana… dulu”&lt;br /&gt;“Mas, Liana ingin berangkat ke Medan minggu depan.”&lt;br /&gt;Matanya penuh harap saat mengucapkan kalimat itu tadi siang. Padahal ia tahu restuku mustahil ia dapatkan. &lt;br /&gt;Selama ini aku tidak pernah melarang Liana melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Aku tahu Liana memang memiliki jiwa penolong yang luar biasa. Tapi ini berbeda. Liana memintaku mengijinkannya berangkat ke Medan untuk membantu pendidikan anak-anak pengungsi dari Aceh.&lt;br /&gt;Liana adalah adikku semata wayang. Aku sangat menyayanginya lebih dari siapapun di dunia ini. Aku Cuma ingin dia menetap di sini dan bekerja secara wajar seperti orang lain!&lt;br /&gt;“Mas tidak akan mengijinkanmu berangkat,” kataku singkat.&lt;br /&gt;“Tapi, Liana sudah terlanjur mendaftar untuk kloter minggu depan. Liana kira Mas pasti setuju…”&lt;br /&gt;Aku menggeleng cepat, “Kenyataannya Mas tidak setuju.”&lt;br /&gt;“Kenapa?” Tanya Liana heran”&lt;br /&gt;“Kenapa?! Kamu masih tanya kenapa?”&lt;br /&gt;Liana menunduk seperti terpidana yang baru divonis mati.&lt;br /&gt;“Kamu adalah satu-satunya saudara Mas. Keselamatan dan masa depanmu adalah tanggung jawab Mas.”&lt;br /&gt;“Apa Mas Danu nggak kasihan sama anak-anak Aceh itu? Mas tahu kan, meskipun bencana itu terjadi tiga tahun lalu, saat ini mereka masih kesulitan dalam banyak hal. Aku ingin membaktikan diriku untuk membantu mereka.”&lt;br /&gt;“Alaah, persetan engan anak-anak itu! Kamu sendiri tega meniggalkan Mas.”&lt;br /&gt;“Mas! Mas Danu masih punya Mbak Indah dan Nindya. Sedangkan mereka? Mereka nggak punya siapa-siapa. Orang tua mereka meninggal diterjang tsunami, saudara-saudara mereka hilang entah kemana. Yang mereka punya Cuma trauma dan ketakutan akan masa depan yang suram!”&lt;br /&gt;“Kenapa sih kamu bersikeras membantu mereka?”&lt;br /&gt;Liana terdiam. Bulir bening mengalir dari matanya.&lt;br /&gt;“Aku merasa.…memiliki persamaan nasib,” lirihnya.&lt;br /&gt;Aku tertegun. Ya, Liana memang memiliki alasan kuat. Namun, aku tetap takkan sanggup melepasnya. Itulah yang menyebabkanku, saat ini, duduk di sini. Mencari pembenaran atas tindakan yang kulakukan tadi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pukul sembilan malam. Alun-alun mulai sepi. Hanya sesekali kulihat sepasang manusia menyepi ke tempat gelap. Berciuman, seolah-olah tak ada yang melihat. Beberapa waria melintas sambil menggoda.&lt;br /&gt;Aku berjalan melewati gang-gang yang berbeda dari sebelumnya. Memasuki kampung-kampung ramai yang, entah mengapa, terasa sunyi.&lt;br /&gt;“Mampir, Mas.” Tawar seorang penjaga warung.”&lt;br /&gt;Aku mengangguk perlahan, ”kopi satu.”&lt;br /&gt;Beberapa orang tampak sedang sibuk membahas pertandingan sepakbola yang mereka tonton tadi sore. Aku duduk di samping lelaki setengah baya yang dengan ramah menawarkan rokok. Aku mengambilnya sebatang.&lt;br /&gt;“Terima kasih.”&lt;br /&gt;Detik-detik berikut serasa kosong, sampai lelaki itu menyalakan radio. Ah, siaran berita. Boleh juga, belakangan ini aku jarang membaca Koran. Terutama sejak surat kabar-surat kabar itu membicarakan hal-hal seputar perselingkuhan politik yang membosankan.&lt;br /&gt;“…Sampai saat ini ribuan anak korban bencana di Indonesia masih menanti uluran tangan anda. Kami menerima…” klik!&lt;br /&gt;Aku mematikan radioitu. Lelaki di sampingku tampak agak terkejut.&lt;br /&gt;“Ada apa, Nak?”&lt;br /&gt;“Saya tidak ingin lagi mendengar apapun tentang anak-anak korban bencana. Mereka ingin merenggut satu-satunya kebahagiaan yang tersisa dalam hidup saya.”&lt;br /&gt;Lelaki itu mengernyitkan dahi, “Maksudmu?”&lt;br /&gt;“Adik saya ingin pergi ke Medan dan menjadi relawan bagi pengungsi Aceh. Meninggalkan saya dan segala impian saya tentang masa depannya.”&lt;br /&gt;Kuceritakan semua yang menjadi masalahku belakangan ini. Entah mengapa aku merasa perlu bercerita pada seseorang. Meskipun, baru kukenal.&lt;br /&gt;“Bagaimanapun saya tidak akan mengijinkan dia berangkat!”&lt;br /&gt;“ Harusnya kamu, nak! Harusnya kamu yang berpikir tentang konsekuensi kata-kata yang baru saja kau ucapkan.”&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti apa yang baru saja dia katakana. Konsekuensi? Konsekuensi apa?&lt;br /&gt;Lelaki itu telah pergi saat aku ingin menanyakan apa maksudnya. Aku hanya bisa merenungkannya dalam diam.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kenyataannya aku tetap tidak bisa menerima keputusan Liana. Ya, aku memang keras kepala. Meskipun begitu, Liana sama batunya. Dia sama sekali tidak terlihat ingin membatalkan niatnya. Bahkan belakangan ini Liana semakin sibuk menyiapkan keberangkatannya.&lt;br /&gt;Tidak ada lagi suasana hangat di rumah. Liana lebih sering menghindariku dengan menyendiri di taman Dandelion. Aku memilih melarikan waktu dengan lembur di tempat kerja. Hari demi hari berlalu dalam sepi.&lt;br /&gt;Pada akhirnya masa seminggu berlalu dengan cepat. Liana harus berangkat sesuai jadwal.&lt;br /&gt;‘Apa Mas yakin tidak ingin mengantar Liana ke bandara?” tanya Indah sekali lagi.&lt;br /&gt;Aku menggeleng. Indah dan Nindya berpamitan padaku, lalu berangkat mengantar Liana. Ah, biarlah! Aku tidak mau mengantar seorang adik yang tidak menghormati kakaknya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku memilih pergi ke taman Dandelion yang biasa dikunjungi Liana. Taman ini adalah sahabat Liana. Ini kali pertama aku melihatnya. Ratusan bunga putih berjajar bak awan dan sesekali bergoyang ditiup angin. Kubayangkan Liana berlarian di tengah taman. Tertawa lepas tanpa beban.&lt;br /&gt;Tiba-tiba semua peristiwa berkelebat di otakku. Liana, kenapa dia harus pergi? Apa keputusanku tidak merestuinya berangkat itu salah?&lt;br /&gt;“…harusnya kamu yang berpikir tentang konsekuensi kata-kata yang baru saja kau ucapkan…”&lt;br /&gt;entah mengapa nasihat lelaki setengah baya itu terngiang lagi di telingaku. Memangnya konsekuensi apa yang… Astaga! Apa yang telah kulakukan?!&lt;br /&gt;Aku telah melarang satu-satunya keinginan Liana. Padahal aku tahu bahwa Liana sangat bahagia bisa membantu orang-orang yang kesulitan. Kalau aku memang menyayanginya, harusnya aku senang melihatnya bahagia. &lt;br /&gt;Selama ini aku yang terlalu egois. Aku takut Lianya pergi dan tak kembali seperti Ayah dan Ibu. Rasa sayangku akhirnya hanya berdampak buruk pada Liana.&lt;br /&gt;Brengsek! Aku memang kakak yang kejam. Apa yang harus kulakukan untuk menebus segalanya?&lt;br /&gt;Setengah jam. Setengah jam lagi pesawat Liana take off !&lt;br /&gt;Aku meraih beberapa tangkai bunga dandelion kesukaan Liana, lalu mencari kendaraan paling cepat menuju bandara.&lt;br /&gt;“Taksi!”&lt;br /&gt;Untunglah kota Malang tidak begitu macet seperti Jakarta. Tapi tetap saja perjalanan ini rasanya terlalu lama.&lt;br /&gt;“Pak, bisa lebih cepat lagi?”&lt;br /&gt;“Wah, nggak bisa Mas. Ini juga sudah maksimal.”&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali bertengkar dengan supir itu, akhirnya aku sampai di Bandara Abdurrahman Saleh. Kurogoh sakuku dan kusodorkan selembar dua puluh ribuan.&lt;br /&gt;“Kurang Mas!”&lt;br /&gt;“Apa?! Saya Cuma bawa segitu.”&lt;br /&gt;“Ya, gimana dong Mas? Setoran saya bisa kurang!”&lt;br /&gt;“Aaah!” kulepaskan jam tanganku dan kuberikan padanya. Aku tidak peduli berapapun yang harus kubayar demi bertemu Liana.&lt;br /&gt;Pintu penerbangan domestik nyaris ditutup saat aku melihat Liana.&lt;br /&gt;“Liana!”&lt;br /&gt;Liana berbalik dan terkejut melihatku. Kuberikan bunga dandelion yang kupetik tadi.&lt;br /&gt;“Liana, maaf…”&lt;br /&gt;Liana tidak berkata apa-apa. Air mata membasahi pipinya. Tanpa ragu kupeluk adikku.&lt;br /&gt;“Maaf, Pak. Pintu harus ditutup.”&lt;br /&gt;“Aku melepas pelukanku, “Hati-hati di sana, ya. Teleponlah sering-sering…”&lt;br /&gt;Liana mengangguk cepat, lalu melambaikan tangan. &lt;br /&gt;Inilah saatnya aku melepas adik kecilku. Inilah saatnya Liana menghadapi jalannya sendiri. Dekarang aku sadar. Liana adalah dandelion dari surga yang dikirimkan Tuhan untukku dan anak-anak Aceh.&lt;br /&gt;Maka siang itu, diiringi terbangnya putik-putik dandelion, Liana berangkat menyongsong kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;KUNJUNG KE SEBUAH RUMAH&lt;br /&gt;Oleh: Imam Mukhlis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sebuah kejutan&lt;br /&gt;Ibu menyebutnya sebuah kebetulan&lt;br /&gt;Kau datang saat siang di dahan dahan&lt;br /&gt;Marilah masuk&lt;br /&gt;Silahkan duduk dengan ramah&lt;br /&gt;Kau berceletuk&lt;br /&gt;Wajahmu menyembunyikan awan awan&lt;br /&gt;Yang kuniati jadi pelangi bagi bidadari&lt;br /&gt;Lama kunanti kau datang&lt;br /&gt;Biarpun hatiku penuh pematang&lt;br /&gt;Kan kujadikan kau pepadian di musim hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicaralah dengan ibu&lt;br /&gt;Dia merindumu bila jadi solihah dulu&lt;br /&gt;Sekarang mungkin juga begitu&lt;br /&gt;Karena suatu waktu ibu menanyakan kabarmu&lt;br /&gt;Aku jadi sendu, karna aku beku, cintaku jadi perdu&lt;br /&gt;Di hatimu aku jadi benalu&lt;br /&gt;Kau pangkas lalu kau bakar jadi abu&lt;br /&gt;Maafkan aku ibu&lt;br /&gt;Karna aku batu, dia menghancurkannya jadi debu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;TIGA BIDADARI&lt;br /&gt;Oleh: Cahyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga bidadari menari di atas khayalku&lt;br /&gt;Mengarungi dua alam tanpa rasa&lt;br /&gt;tertawa dalam perjalanan dunia&lt;br /&gt;menangis dalam tatapan sang pencipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat malam yang memilukan menebar rindu&lt;br /&gt;   langkah-lankah yang tak pernah terhenti jadi berlalu&lt;br /&gt;Rindu dan benci mengalir mengisi jiwa&lt;br /&gt;   Darahku yang merah menebarkan kebimbangan&lt;br /&gt;    Kau yang disana apa ada untuk diriku&lt;br /&gt; Misteri jiwa yang menyala dalam takdir&lt;br /&gt;    Hanya Allah yang tahu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;PELUKAN ANGIN&lt;br /&gt;Oleh: Indah Ayu Wardhani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Getaran hatiku menyambut alam&lt;br /&gt;Yang saat ini sedang gelisah&lt;br /&gt;Angin tak lagi berirama&lt;br /&gt;Tampak lengan bumi kelelahan&lt;br /&gt;Menahan bebannya yang berat&lt;br /&gt;Gundah bergelut dengan otak&lt;br /&gt;Gulana melanda nian&lt;br /&gt;Tuhan …Tuhan … Tuhan …&lt;br /&gt;Dibalik Kuasa-Mu&lt;br /&gt;Aku meraih&lt;br /&gt;Apa yang kuinginkan&lt;br /&gt;Tapi mengapa tak tergapai ?&lt;br /&gt;Sisi terang pun menolak&lt;br /&gt;Bagaimana dengan yang hitam&lt;br /&gt;Sama saja …&lt;br /&gt;Tiada yang bisa kusentuh&lt;br /&gt;Lagi-lagi hampa&lt;br /&gt;Dingin …&lt;br /&gt;Ketika mulai kurasa&lt;br /&gt;Angin memelukku&lt;br /&gt;Erat sekali, hingga ku sesak&lt;br /&gt;Tak bisa bernapas lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;KUINGIN MENCINTAIMU&lt;br /&gt;Oleh: Etty Hentihu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu seumur hidupku&lt;br /&gt;dengan bait yang tak bisa kuungkap&lt;br /&gt;Seperti Adam dan Hawa berlarat larat&lt;br /&gt;dan Jabal Rahmah sebagai saksinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan kata yang tak bisa diwakilkan&lt;br /&gt;Lapar dan Nasi yang hanya bisa&lt;br /&gt;Menjadikannya sampai puas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sempurna&lt;br /&gt;Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;Siang kepada malam&lt;br /&gt;Yang menjadikannya tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUISI&lt;br /&gt;SEMOGA IA&lt;br /&gt;Oleh: David Ardyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesedihan, kesepian, juga dalam kebahagiaan pun seseorang kadang menjadi sangat egois. Tali kendali egois terlalu licin untuk dikekang. Terjebak dalam keangkuhan dan kekerasan hati yang terselubung dalam kemasan anggun bernama 'eksistensi'.&lt;br /&gt;Nietzsche, dalam Sabda Zarathustra pernah berkata; " Engkau merindukan ketinggian yang terbuka, jiwamu haus akan bintang-bintang. Tapi naluri burukmu juga haus akan kebebasan. Bagiku engkau masih tetap seorang tahanan yang menghayalkan kebebasan; ah.., jiwa semacam itu menjadi pintar, tapi juga memperdaya dan dangkal."&lt;br /&gt;Dalam kobaran nyala api keinginannya, sebenarnya ia kering. Dalam riak samudera alam, ia hanya terapung, bukan menyelam. Seperti dalam belantara raya, ia hanya sebuah pohon meranggas. 'ia' adalah mereka yang telah menjadi egois demi sebuah eksistensi. Apa yang sungguh-sungguh menjadikan kita 'manusia' adalah manusia lainnya.&lt;br /&gt;Semoga awan membantunya memperoleh kelembutan. Semoga para ksatria yang lurus, memberinya kesadaran. Jika ia adalah pohon meranggas, semoga segera bersemi kembali dan menjadi payung bagi belukar yang mengaguminya. Semoga kelembutan salju yang ingin menyelimuti, memberinya kesejukan, memadamkan kobaran keinginan semu yang telah memperdaya dan membuatnya jadi dangkal.&lt;br /&gt;Semoga mereka yang egois menjadi 'manusia' kembali yang mengerti dalam arti kemanusiaannya yang sebenarnya...&lt;br /&gt;Semoga semua makhluk berbahagia...&lt;br /&gt;Sabbe Satta Bhavantu Sukhittata....&lt;br /&gt;Semoga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;STOP PRESS&lt;br /&gt;Kunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet.&lt;br /&gt;http://www.fpkm.co.cc&lt;br /&gt;http://forumpenuliskotamalang.blogspot.com &lt;br /&gt;http://klipingfpkm.multiply.com&lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/&lt;br /&gt;Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs kami.  Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas kami.  Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.&lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/join&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang juga dengan senang hati  menerima bantuan dan sumbangan materi, sponsorship, pendanaan, sumbangan berupa, buku-buku terbitan terbaru (untuk keperluan bedah buku), majalah kesusasteraan, majalah fiksi,  buku-buku bekas terbitan Indonesia maupun manca Negara, sumbangan berupa CD kosong, sumbangan berupa pulsa telepon isi ulang, kertas HVS kosong, maupun peralatan tulis lainnya untuk kelangsungan organisasi kami.  Segala bantuan dan dukungan dari Anda akan sangat kami hargai.  &lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang juga mengundang para pengusaha untuk mensponsori berbagai event kegiatan kami dan tentunya dengan adanya event-event yang kami selenggarakan, pihak sponsor bisa mempunyai kesempatan untuk mengiklankan dan memperkenalkan produk-produknya kepada masyarakat luas dalam berbagai event kegiatan yang kami selenggarakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FPKM (FORUM PENULIS KOTA MALANG) - KOMUNITAS PENULIS KREATIF DARI KOTA MALANG&lt;br /&gt;Oleh : Haryo Bagus Handoko*)&lt;br /&gt;*) Penulis adalah pengurus komunitas FPKM selaku bagian informasi dan dokumentasi, selain profesinya sebagai penulis kreatif dan penulis fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat begitu banyak bermunculannya komunitas penulis di negeri ini,  kota Malang yang terkenal pula sebagai kota pelajar tidak mau kalah.  Pada beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan Oktober 2006, telah berdiri sebuah komunitas penulis di kota Malang, Jawa Timur, yang bernama FPKM (Forum Penulis Kota Malang).  Forum Penulis Kota Malang  (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang.  Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang.  Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang - Jl. Raya Ijen 30A - Malang,  forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik.  Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya.  Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini.  &lt;br /&gt;Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini.  Dengan anggota yang beragam yang umumnya berprofesi sebagai penulis, maupun profesi lain (dosen, wartawan, seniman, pelajar SMP hingga mahasiswa), komunitas ini tampil dengan ciri khas tersendiri yang kaya akan ide tanpa batas.  Hal ini karena dengan beragamnya latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun profesi para anggotanya menjadikan beragam pula daya kreativitas, ide, maupun hasil tulisan yang menghiasi berbagai media cetak dan majalah tanah air.  Beberapa karya anggota komunitas ini bahkan sudah berkali-kali terbit dalam bentuk novel fiksi, hingga buku bertema religi.  Para anggota komunitas ini secara aktif selalu mengikuti berbagai lomba kepenulisan yang diselenggarakan baik oleh komunitas lain maupun lembaga penerbitan dan lembaga pendidikan di negeri ini.&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang juga hadir di dunia maya dengan adanya situs dan blog maupun mailing list.  Situs dan blog Forum Penulis Kota Malang bukan hanya melulu diperuntukkan untuk sesama anggota intern FPKM, namun juga diharapkan sebagai sarana tukar menukar informasi antar berbagai komunitas penulis di berbagai daerah di tanah air.  Suatu acara atau even kegiatan yang diselenggarakan oleh suatu komunitas penulis di suatu daerah diharapkan bisa diketahui pula oleh komunitas penulis di daerah yang lain.  Untuk itulah maka Forum Penulis Kota Malang juga melengkapi dirinya dengan fasilitas mailing list yang diharapkan bisa menampung berbagai informasi dan juga sebagai sarana diskusi interaktif di dunia maya antar berbagai komunitas penulis dan juga sarana pembelajaran dan tukar menukar pikiran di antara sesama penulis. &lt;br /&gt;Interaksi secara korespondensi maupun mengakses berbagai informasi terbaru bisa dilakukan melalui berbagai situs weblog pribadi para anggota dan pengurus komunitas ini. Berbagai link yang akan mengantarkan kita ke berbagai situs (situs stasiun televisi seluruh dunia, situs surat kabar seluruh dunia, situs penerbit seluruh Indonesia, situs tutorial menulis dan dunia perbukuan, hingga situs perpustakaan digital di seluruh dunia dan masih banyak lagi link-link menarik lainnya) bisa kita jumpai dalam halaman situs maupun  blog Forum Penulis Kota Malang ini.  Dengan adanya situs dan blog resmi Forum Penulis Kota Malang, kita sebagai penulis bisa lebih terbuka wawasan dan juga peluangnya untuk bisa lebih mengembangkan diri dan juga berkreativitas secara produktif demi khasanah bacaan dan tulisan yang turut mewarnai negeri ini. &lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang  (FPKM) juga meluncurkan publikasi digital dalam bentuk majalah digital (e-magazine) yang bisa didownload dari situs resminya di internet.  Majalah digital Forum Penulis Kota Malang memakai format PDF, sebuah format yang cukup umum untuk sebuah majalah digital.   Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya yang bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggota forum ini juga diusahakan untuk senantiasa diliput dan ditulis dalam majalah digital ini.  Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Artikel-artikel yang dinilai cukup pantas akan dimuat dalam majalah digital ini.  &lt;br /&gt;Karena forum ini merupakan organisasi non profit kami tidak menyediakan imbalan dalam bentuk apapun untuk setiap artikel yang dimuat.  Majalah digital Forum ini sifatnya hanya berfungsi untuk menjembatani segala bentuk pertukaran ilmu, pengalaman, pengetahuan, informasi terbaru dan juga ide serta saran dari para penulis yang ingin menekuni dunia tulis menulis sebagai karir profesi atau pun sekedar hobi.   Majalah digital ini juga menerima sumbangan naskah karya para penulis yang ingin naskahnya dibedah dalam diskusi forum ini. &lt;br /&gt;Anda bisa mengunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet yaitu di alamat berikut :&lt;br /&gt;http://www.fpkm.co.cc&lt;br /&gt;http://forumpenuliskotamalang.blogspot.com &lt;br /&gt;http://klipingfpkm.multiply.com dan http://resensibukufpkm.multiply.com   &lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/ &lt;br /&gt;Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs ini.  Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas penulis ini.  Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.&lt;br /&gt;http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/join&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2694238822227158407-2673580301111167854?l=e-zine-fpkm.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://e-zine-fpkm.blogspot.com/feeds/2673580301111167854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2694238822227158407&amp;postID=2673580301111167854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2694238822227158407/posts/default/2673580301111167854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2694238822227158407/posts/default/2673580301111167854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://e-zine-fpkm.blogspot.com/2009/12/majalah-digital-fpkm-edisi-desember.html' title='Majalah Digital FPKM Edisi Desember 2009'/><author><name>forumpenuliskotamalang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2694238822227158407.post-6044539956065269942</id><published>2009-11-14T14:34:00.000+07:00</published><updated>2009-11-14T14:36:33.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='E-zine FPKM edisi 37'/><title type='text'>Majalah Digital FPKM Edisi November 2009</title><content type='html'>Assalamualaikum. Wr. Wb. dan Salam Sejahtera selalu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah dan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, edisi bulan November 2009 majalah digital FPKM akhirnya selesai juga dikerjakan.  Dalam edisi kali ini, ditampilkan esai maupun resensi buku yang menarik untuk dibaca. Juga beberapa karya cerpen hasil tulisan para anggota FPKM. Bagi yang berniat unjuk kemahiran menulis dengan menyumbang tulisan untuk bisa tampil di majalah digital ini, silakan Anda mengirim artikel Anda langsung ke milis FPKM atau lebih baik lagi Anda mengirimkannya langsung ke kotak pos elektronik editor majalah ini di  haryobagushandoko.penulis@gmail.com Paling tidak, nama kalian akan dengan mudah terdeteksi oleh search engine seperti google dan juga nampang dan dibaca begitu banyak orang, karena majalah ini tidak hanya didownload oleh para pembaca dari Indonesia saja, namun juga para penggemar sastra di seluruh dunia.  Dalam edisi ini, majalah digital FPKM mengetengahkan beberapa cerita pendek maupun esai dari teman-teman yang patut untuk disimak. Situs FPKM  berganti domain yaitu menggunakan url: http://www.fpkm.co.cc . Situs FPKM yang lama – http://www.fpkm.org dinyatakan sudah tidak berlaku. Kita semua pindahan ke situs yang baru yaitu yang beralamat di http://www.fpkm.co.cc.  Harap maklum! Semoga tulisan-tulisan dalam majalah ini dapat memberikan inspirasi dan memunculkan ide kreatif dari teman-teman untuk tetap berkarya. Akhir kata, selamat membaca!    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam,&lt;br /&gt;Tim Editor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;:&gt;  Suka menulis ?&lt;br /&gt;Silakan kunjungi blog FPKM yang baru&lt;br /&gt;&gt;&gt; FPKM   http://www.fpkm.co.cc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan Redaksi&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Redaksi&lt;br /&gt;David Ardy&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Vita Priyambada&lt;br /&gt;Etty Hentihu&lt;br /&gt;Gusti Aisyah Putri&lt;br /&gt;Lutfi Fadila&lt;br /&gt;Wahyu Indah R&lt;br /&gt;Trias Pratiwi&lt;br /&gt;Sismanto&lt;br /&gt;Mukhlis&lt;br /&gt;Carolina Neolen D.F.&lt;br /&gt;Eko Martina Sriwulaningsih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain Grafis &amp; Lay Out&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;Photo Editor&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat Redaksi&lt;br /&gt;Carolina Neolen&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuangan&lt;br /&gt;Vita Priyambada&lt;br /&gt;Trias Pratiwi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang (organisasi profesi non-profit)&lt;br /&gt;Alamat Redaksi&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Gedung Perpustakaan Kota Malang&lt;br /&gt;Jl. Raya Ijen 30 A -  Malang 65100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat E-mail&lt;br /&gt;forum_penulis_kota_malang@yahoo.com &lt;br /&gt;forumpenuliskotamalang@gmail.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Admin website / Webmaster&lt;br /&gt;Haryo Bagus Handoko&lt;br /&gt;haryobagushandoko.penulis@gmail.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Redaksi menerima sumbangan artikel, naskah dan tulisan, serta informasi penting lainnya.  Bisa dikirim lewat e-mail atau langsung datang ke Sekretariat Forum Penulis Kota Malang di Gedung Perpustakaan Kota Malang. Saran, gagasan dan dukungan serta sponsorship dari Anda sangat kami butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Sambutan Ketua &lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamualaikum.wr.wb. dan salam sejahtera untuk kita semua,&lt;br /&gt;Sebelum takdir terjadi dan diketahui, hidup ini adalah sebuah pilihan dan pilihannya hanya ada dua yaitu “to be or not to be”, menjadi kalah atau menang, menjadi ada atau tidak ada.  Marilah kita bersama-sama menjadi pemenang, menjadi ada bagi orang lain.  Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki potensi dalam dunia tulis menulis, tetapi tidak diimbangi dengan adanya wadah yang membantu penulis untuk mengekspresikan karyanya.  Berdasarkan realitas di atas, kami merasa perlu untuk membentuk suatu wadah bagi para penulis. Denganwadah tersebut kita bangun jaringan intelektual melalui tulisan. Kita bangun pola pikir-pola pikir yang mendobrak dan tak biasa karena lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik ! Biarlah kita “hidup” selama kita hidup. Rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis.&lt;br /&gt;Dengan adanya publikasi dalam bentuk majalah digital Forum Penulis Kota Malang ini, saya berharap rekan-rekan penulis baik di Malang maupun rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis !  &lt;br /&gt;Saran, sumbangan ide, gagasan, serta sumbangan tulisan sangat kami harapkan demi semakin berkembangnya pengetahuan kita akan dunia kepenulisan.  Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas segala kerjasama yang baik dari rekan-rekan semua dan sukses selalu Forum Penulis Kota Malang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;David Ardy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal berdirinya Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Forum Penulis Kota Malang (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang. Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang. Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang – Jl. Raya Ijen 30A – Malang, forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini. Saran dan juga sumbangan serta bantuan baik moril maupun materiil sangat kami harapkan.&lt;br /&gt;Susunan Pengurus Organisasi Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;Ketua      :  David Ardy&lt;br /&gt;Sekretaris     :  Carolina Neolen&lt;br /&gt;Bendahara     :  Vita Priyambada&lt;br /&gt;Seksi Acara     :  Liga Alam, Mukhlis, Trias Pratiwi, Eko Martina Sriwulaningsih&lt;br /&gt;Seksi Informasi dan Dokumentasi         :  Haryo Bagus Handoko, Wahyu Indah R, Wawan Eko Yulianto, Sidik Nugroho, Sismanto &lt;br /&gt;Penelitian dan Pengembangan          :  Vita Priyambada, Gusti Aisyah Putri, Lutfi Fadila &lt;br /&gt;Pelindung     : Bpk. Drs. H. M. Jemianto, SH (Kepala Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang)&lt;br /&gt;Penasehat     : Bpk. Johan Budi Sava (Toko buku “TOGAMAS”), Bpk. Bambang A.W.  (Pengamat seni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi dan Misi Forum Penulis Kota Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi &lt;br /&gt;Membentuk insan yang memiliki kesadaran intelektual aktif kreatif berguna dalam masyarakat melalui tulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Pendek&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Pembentukan tim yang solid, kreatif dan bermanfaat.&lt;br /&gt;3. Membangun jaringan dengan penulis lain, penerbit dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;4. Memberi motivasi seluruh anggota untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Menengah&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Mengadakan acara-acara bedah buku dengan mengundang penulis-penulis yang telah konsisten dan berkompeten dalam dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;3. Memperkuat jaringan penulis dengan penerbit.&lt;br /&gt;4. Membaca wacana-wacana yang berhubungan dengan kesenian, kebudayaan, dan sebagainya yang berhubungan dengan pengembangan dunia kepenulisan.&lt;br /&gt;5. Menghidupkan dunia kepenulisan di Kota Malang.&lt;br /&gt;6. Mendorong seluruh anggota agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan bersifat membangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Jangka Panjang&lt;br /&gt;1. Berkarya.&lt;br /&gt;2. Memperluas jangkauan Forum dan jaringan antara penulis dan penerbit.&lt;br /&gt;3. Menjadikan Forum ini sebagai pendobrak dan melakukan perubahan yang baik dalam dunia kepenulisan Indonesia.&lt;br /&gt;4. Menjadikan Forum ini sebagai tolok ukur perkembangan dunia kepenulisan Indonesia.&lt;br /&gt;5. Mencetak penulis-penulis yang berkualitas dan membangun serta menjadikan penulis sebagai sebuah profesi yang dapat ‘menghidupi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita Terbaru&lt;br /&gt;Januari 2009&lt;br /&gt;Bulan Januari 2009  ini diwarnai oleh cuaca yang tidak bersahabat. Di Malang, hampir tiada hari tanpa hujan dan mendung. Namun demikian, toh, acara pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang tetap digelar di ruang lobi gedung perpustakaan Malang. Tidak ada kesan formal, suasana berlangsung santai, penuh kekeluargaan.  Pada tanggal 11 Januari 2009, pertemuan rutin FPKM membedah cerita pendek yang berjudul “Gayung” karya dari salah satu anggota FPKM yaitu Mas Muchlis yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai seorang pengajar/guru. Cerita pendek berjudul “Gayung” ini cukup unik karena mengupas fenomena sosial anak-anak jalanan yang sering kali kita jumpai meminta-minta di perempatan jalan, di lampu-lampu merah.  Mereka sering kali termarjinalkan dan terpinggirkan, belum ada satu pun penyelesaian yang bijaksana yang bisa dilakukan baik oleh lembaga sosial maupun pemerintah khususnya dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan anak-anak jalanan ini. Yang terjadi, mereka seringkali justru kena razia dan dihalau atau bahkan diangkut oleh satpol PP.  Kisah cerita pendek yang cukup mengharukan ini cukup mendapat respon yang baik dari teman-teman FPKM. Apresiasi karya tulis seperti ini memang selalu menjadi agenda rutin komunitas ini sejak pertama kali berdiri.  Berbagai pendapat dan saran pun bermunculan sehubungan dengan cara bercerita serta setting yang ditampilkan dalam cerpen bertema sosial ini.  Yang jelas semua orang merasa senang bahwa kepedulian sosial paling tidak bisa kita cetuskan lewat sebuah karya cerita pendek.  Pada tanggal 25 Januari 2009, kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini juga tetap membedah cerita pendek karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul “Ekspedisi”. Sebuah cerita unik mengenai ekspedisi para ilmuwan botani ke tanah Papua yang bertema thriller yang lumayan menegangkan. Kisahnya dikemas secara apik dalam tutur kata dan alur bercerita yang cukup sederhana namun sedikit membutuhkan perenungan dan pemikiran lebih dari para pembacanya.  Respon yang didapat dari bedah karya cerita pendek ini cukup apresiatif. Beberapa anggota FPKM yang hadir dalam pertemuan rutin ini satu per satu menyumbangkan saran serta ide demi penyempurnaan kisah dramatis dalam cerita pendek yang satu ini. Walau diakui oleh penulisnya masih banya kekurangan di sana-sini, namun kisah yang satu ini dianggap cukup menarik dan sedikit unik karena lain daripada yang lain. Yang diketengahkan dalam cerita pendek ini adalah fenomena kejadian-kejadian unik yang berbau science fiction. Suatu tema yang sedikit jarang diketengahkan dalam jagat sastra Indonesia. FPKM memang beda...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2009&lt;br /&gt;Bulan Februari 2009 sarat acara kegiatan baik yang diselenggarakan oleh FPKM sendiri, maupun yang hasil kerja bareng FPKM dengan komunitas lain. Pendek kata tiada hari tanpa berkarya dan berbagi ilmu, karena itu adalah semboyan FPKM. Pada tanggal 8 Februari 2009, berlangsung pertemuan rutin FPKM di bulan Februari kali ini cukup semarak. Kali ini tema yang dibedah adalah cerpen tulisan Mbak Trias Pratiwi yang berjudul "Mencari Langit". Sebuah cerita pendek yang cukup menarik, walau sedikit tragis dan mengupas kegetiran hidup yang dialami tokoh utama dalam cerita pendek ini. Walau diakui masih banyak kekurangan di sana-sini, namun penulis cerpen ini cukup punya nyali untuk mengangkat fenomena sosial yang sering kali dipandang sebelah mata. Dalam kesempatan ini, teman-teman FPKM banyak memberikan saran dan masukan bagi penyempurnaan kisah cerita pendek ini. Diskusi pun berjalan cukup akrab dengan semangat kekeluargaan dan canda tawa khas FPKM. Tak berselang lama, pada tanggal 15 Februari 2009, FPKM diundang sebagai pembicara dalam acara workshop pelatihan menulis tingkat pelajar SMP/SMA se-kota Malang periode 2009. Acara yang berlangsung di Aula kantor Dinas Pendidikan Kota Malang di Jalan Veteran ini berjalan cukup semarak dan mendapat sambutan positif dari kalangan pelajar yang tergabung dalam kelompok sastra pelajar kota Malang. Perhatian para pelajar kota Malang pada dunia sastra dan kepenulisan terbukti cukup tinggi. Hal ini dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti acara workshop yang diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum ini. Beberapa pembicara yang berasal dari kalangan penulis maupun kolumnis media surat kabar, seperti Mas Ahmad Makki Hasan (kolumnis dan penulis esai surat kabar dan media massa), Liga Alam (novelis, esais dan penulis buku biografi), Mas David Aryanto (penulis, penyair dan ketua FPKM), serta Haryo Bagus Handoko (jurnalis dan penulis buku) turut andil dalam keberhasilan acara ini. Walau berlangsung secara sederhana, acara workshop/pelatihan yang sarat keilmuwan dan aneka tips dan trik praktis memulai karir sebagai penulis serta aneka jurus untuk menulis, sempat diliput oleh berbagai surat kabar di Jawa Timur maupun televisi lokal di kota Malang. Menurut ketua organisasi Kelompok Sastra Pelajar, Mas Liga Alam, acara tahunan workshop seperti ini seharusnya terus digalang agar dapat menumbuhkan bakat menulis di kalangan pelajar kota Malang. Acara workshop gratis ini adalah hasil kerja bareng antara komunitas penulis "Kelompok Sastra Pelajar", "Forum Penulis Kota Malang" dan Dinas Pendidikan Kota Malang. Semoga untuk ke depannya, acara yang sarat keilmuwan ini terus dapat diselenggarakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 2009&lt;br /&gt;Bulan Maret 2009 ini cukup padat dengan kegiatan berbau sastra. Dimulai pada hari Minggu, 1 Maret 2009 yang bertepatan dengan jadwal pertemuan rutin FPKM, agenda pertemuan kali ini adalah acara pembacaan puisi dan bedah puisi yang diselenggarakan secara outdoor (di luar ruangan). Tempat pertemuan kali ini adalah berlangsung di tengah taman bunga dan air mancur yang berada di depan museum Brawijaya - di Jalan Raya Ijen. Pembicara acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang mengetengahkan puluhan puisi-puisinya untuk dibacakan bergantian dan dibedah serta dibahas beramai-ramai. Antusiasme para anggota dan pengurus FPKM cukup tinggi dalam hubungannya dengan dunia sastra, kepenulisan dan puisi. Tak heran, walau diselingi gelak tawa dan senda gurau, acara pembacaan puisi secara bergantian ini berlangsung cukup semarak. Mbak Vita yang rajin menulis aneka artikel untuk berbagai media massa ini, ternyata juga jago menulis puisi dan membacakan puisi. Walau beberapa kosa kata yang digunakan tergolong aneh karena merupakan bahasa-bahasa kamus, namun acara seperti ini justru dapat menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia bagi teman-teman FPKM. Dalam acara pertemuan ini dicetuskan ide untuk memunculkan catatan dan kliping sastra dalam arti sebenarnya yang dikenal dengan istilah "Majalah TengTop - Ditenteng terus makin ngeTop". Memang rencananya, kliping aneka tulisan dan corat-coret teman-teman FPKM setiap kali pertemuan akan menjadi sebuah bank data sastra Malangan yang harus dibawa setiap ada pertemuan FPKM. Selain setiap anggota dan pengurus bisa berkreasi dan berimajinasi secara bebas dalam menuliskan setiap ide dan kreativitasnya, keberadaan kliping sastra "Majalah TengTop" ini bakal menjadi daya tarik tersendiri bagi eksistensi komunitas penulis FPKM. Model serupa telah berjalan cukup baik di dunia maya dengan keberadaan blog "http://klipingfpkm.multiply.com". Selanjutnya, pada hari Minggu, 15 Maret 2009, pertemuan rutin dua mingguan FPKM kembali digelar. Kali ini tetap dengan tema membedah cerpen karya para anggotanya. Yang kebagian jadi pemateri minggu ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang mengetengahkan cerpen tulisannya yang berjudul "Kereta Yang Membawaku Kembali" sebuah cerita pendek dengan model bercerita layaknya catatan perjalanan sekaligus memoar yang memunculkan isyu jender dan emansipasi wanita. Cerita pendek ini cukup mendapatkan tanggapan, apresiasi sekaligus kritik dan saran dari para peserta diskusi yang hadir saat itu. Seperti biasanya, acara diskusi ini berlangsung secara santai dan penuh kekeluargaan dengan diselingi guyonan di sela pembahasan dan apresiasi terhadap tulisan cerpen yang sedang dibahas. Sebagai penutup acara, segenap anggota dan pengurus FPKM kembali menuliskan coretan-coretan pada lembaran-lembaran kertas yang akan menjadi halaman bersejarah dari pemunculan ide majalah tengtop yang pernah dibahas sebelumnya. Berbagai tulisan mulai dari puisi, celoteh, sajak hingga narasi pendek tentang suasana hati masing-masing kemudian dibacakan dan banyak menimbulkan gelak tawa serta komentar-komentar dari sesama anggota yang saat itu hadir. Bagaimanapun ide menuliskan suasana hati untuk mengisi halaman-halaman majalah tengtop (baca: diary FPKM) cukup mengena dan dapat menghidupkan suasana serta meningkatkan keakraban dan silaturahmi sesama anggota. Akhirnya, acara pertemuan rutin FPKM di minggu terakhir di bulan Maret ini pun kembali berlangsung cukup istimewa, karena bertepatan dengan hari ulang tahun si pemateri, yaitu ulang tahunnya Mbak Wulan (Martina Sriwulaningsih) yang jatuh pada hari Minggu, 29 Maret 2009. Tak heran, acara belum dimulai, semua makanan camilan sudah digelar layaknya bazaar makanan. Para anggota dan pengurus FPKM yang hadir saat itu beramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun pada si pemateri yang hari itu sedang berulang tahun. Sambil menunggu yang lain datang, acara makan camilan pun dimulai sambil mengobrol akrab sesama anggota. Di saat sedang asyik mengobrol, muncullah Mbak Etty Hentihu, salah satu anggota lama FPKM yang kebetulan sedang mudik ke kota Malang. Karena profesinya sebagai seorang pengajar yang kini bekerja di kota lain, Mbak Etty, hanya bisa aktif bersilaturahmi di dunia maya. Maklum saja karena cukup lama tidak bertemu, karena selama ini hanya bisa saling menyapa lewat facebook, maka secara spontan, teman-teman merasa sangat surprise, dan obrolan pun berlangsung lebih meriah dengan Mbak yang satu ini. Setelah semua anggota dan pengurus FPKM telah hadir, maka acara bedah cerpennya Mbak Wulan dimulai. Kali ini cerpen yang dibahas bertajuk "Ku-pu-ku-pu-ku (Aku punya, aku punya aku), sebuah cerpen  unik dengan genre psikologi dan perangkaian kata serta kalimat yang tidak biasa. Cerpen ini mendapat tanggapan dan kritik serta apreasiasi yang bermacam-macam dari para anggota FPKM. Berbagai penafsiran yang berbeda dalam mengartikan nilai rasa dalam cerpen ini telah membuat suasana diskusi lebih hidup. Akhirnya, untuk menyamakan persepsi dari pembaca, si penulis cerpen ini pun urun bicara dan menjelaskan maksud serta jalan cerita dari cerpen ini. Memang daya imajinasi antara penulis dan pembaca seringkali berbeda, dan itulah keunikan yang muncul dari cerpen yang satu ini, karena bisa memunculkan berbagai pendapat dan tanggapan yang berbeda dari para pembacanya.  Akhir-akhir ini para anggota maupun pengurus FPKM semakin giat dalam menghasilkan karya tulisan yang dimuat di berbagai media cetak tanah air, baik cerpen, resensi buku, esai hingga terbitnya buku tulisan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 2009&lt;br /&gt;Kegiatan di bulan April ini diawali dengan acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu pada hari Jumat siang (sehabis sholat Jumat), 3 April 2009. Acara seminar gratis yang cukup spektakuler ini mengangkat tema tentang bagaimana memunculkan inisiatif menulis dan membentuk corak dan gaya tulisan kita - "FINDING SHAPES OF OUR STORIES".  Sebagai pembicara dalam acara ini adalah Professor Valerie Miner, seorang penulis, jurnalis, novelis sekaligus dosen sastra di Stanford University, Amerika Serikat. Jauh-jauh datang dari Amerika untuk berbagi cerita dan berbagi pengalaman seputar kegiatan menulis dan mencari ide-ide segar kepenulisan, Ibu Valerie Miner banyak berbicara mengenai pengalamannya seputar kegiatan menulis dan jurnalisme yang telah dilakoninya selama puluhan tahun. Acara tanya jawab pun berlangsung semarak dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Beberapa penanya aktif mengutarakan pertanyaan dan pendapat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dengan ditemani oleh Pak John, staf konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya dan juga seorang penerjemah, acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu hasil kerja sama antara Perpustakaan Kota Malang, Forum Penulis Kota Malang, Komunitas Sastra Pelajar, Malang Fun English Club dan kantor konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya ini pun berjalan cukup sukses. Acara ini sempat diliput oleh beberapa saluran televisi lokal di kota Malang, serta berbagai media surat kabar dan majalah. Di akhir acara, Ibu Valerie Miner dan Pak John dari kantor konsulat jendral Amerika di Surabaya, menyerahkan sumbangan puluhan buku sastra, novel, jurnal sastra Amerika dan berbagai buku seputar sastra dan pengetahuan kepada pihak Perpustakaan Kota Malang, yang diwakili secara simbolis oleh Bpk. Drs. H.M. Jemianto, S.H. Dalam acara ini, tampaknya Ibu Valerie Miner berusaha menumbuhkan dan memotivasi semangat menulis dan membaca dari para penulis kota Malang agar senantiasa aktif dalam menghasilkan karya-karya tulisan yang berbobot dan berguna bagi masyarakat. Acara seminar ini berlangsung sangat semarak dan dipadati begitu banyak pengunjung, terutama para penulis, wartawan media, seniman, pengamat sastra, dan juga para seniman film indie di kota Malang. Berselang kurang lebih seminggu, Forum Penulis Kota Malang kembali mengadakan acara pertemuan rutin yang jatuh pada hari Minggu, 12 April 2009. Pertemuan kali ini menghadirkan pembicara dari anggota FPKM sendiri yang juga seorang pengamat sastra, pecinta buku dan penulis resensi buku - Mas Sidik Nugroho. Karya tulisan yang dibedah dan sempat dibahas bersama pada kesempatan tersebut adalah tulisan Mas Sidik yang dimuat di rubrik Ruang Baca di Koran Tempo, 29 Maret 2009, dengan judul "SEGERA MEMULAI, LALU MENATA". Tulisan tersebut merupakan sebuah esai singkat berisikan motivasi untuk segera memulai menulis apa saja yang terlintas dalam benak kita, dan baru menata ulang tulisan kita setelah semua ide tersebut dituliskan. Mas Sidik juga  membahas berbagai cara dan metode menulis yang biasa dilakukan oleh para penulis besar seperti Nadine Gordimer (peraih nobel sastra), John Steinbeck (peraih penghargaan Pulitzer), Stephen King (penulis novel-novel horor), Kate Di Camillo (peraih penghargaan Newbery Medal untuk bukunya yang berjudul The Tale of Desperaux), Leo Tolstoy (penulis novel Anna Karenina), Harper Lee (peraih penghargaan Pulitzer untuk bukunya yang berjudul To Kill a Mockingbird), hingga penulis nasional, Akmal Nasery Basral (penulis novel dan jurnalis). Setiap penulis mempunyai kebiasaan dan cara menulis serta pemilihan waktu yang dianggap paling tepat untuk mulai berkarya. Hendaknya metode dan cara mereka dapat dijadikan contoh dan disesuaikan dengan kebiasaan menulis yang menurut kita paling nyaman. Acara diskusi ini pun berlangsung semarak dan penuh pertanyaan seputar kiat dan trik untuk menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas. Acara baru diakhiri menjelang sore hari setelah semua peserta diskusi merasa puas dengan jawaban yang diterima. Dua minggu kemudian, yaitu tepatnya pada hari Minggu, 26 April 2009, Forum Penulis Kota Malang kembali menggelar acara pertemuan rutin dua mingguannya. Kali ini bertindak sebagai pemateri adalah Mbak Vita Priyambada, seorang penulis dan kolumnis untuk berbagai media surat kabar dan majalah yang ternyata juga pandai menulis puisi. Acara pun berlangsung meriah, dengan lesehan di rumput, tepat di depan museum Brawijaya. Kebetulan saat itu matahari bersinar cerah dan langit kota Malang tampak begitu biru dan indah. Suasana lesehan di halaman depan museum Brawijaya yang berumput hijau memang sengaja dipilih agar terasa lebih menyatu dengan alam dan suasananya lebih mengena. Mbak Vita pun membacakan beberapa karya puisinya yang mendapat tanggapan dari para peserta diskusi.  Seperti biasa, acara tanya jawab, kritik, dan guyonan santai pun terlontar saat acara pertemuan FPKM kali ini. Acara baru berakhir menjelang sore hari, setelah seluruh peserta mengisi lembaran-lembaran halaman majalah Tengtop (Ditenteng Makin Ngetop) dengan esai seputar ide dan pengalaman menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2009&lt;br /&gt;Bulan Mei ini diawali dengan kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah Retnowati, karena sinetron FTV karya terbarunya yang berjudul "Cinta Monyet Ala Kingkong" berhasil tayang di SCTV pada awal bulan Mei 2009. Sinetron ini adalah sinetron ketiganya yang diusung oleh rumah produksi Frameritz yang ditayangkan di SCTV.  Teman-teman FPKM pun ramai-ramai memberikan selamat dan dukungan kepada Mbak Wahyu Indah yang senantiasa produktif dalam menghasilkan naskah-naskah skenario untuk sinetron FTV di SCTV. Di bulan Mei ini, kegiatan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang pun kembali digelar seperti biasa, pada hari Minggu, 10 Mei 2009. Bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang, pertemuan FPKM kali ini mengangkat topik bedah cerpen karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul Rona Kehidupan. Cerpen bertema humanisme sosial ini menyoroti kehidupan kaum miskin pinggiran yang hanya bisa bermimpi untuk mengenyam kehidupan yang layak. Cerpen ini mengungkap betapa masih begitu banyak masyarakat di luar sana yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Diskusi dan tanya jawab seputar isi cerpen dan proses kreatif penulisan cerpen ini pun cukup semarak. Seperti biasa acara diakhiri dengan sharing aneka informasi peluang kepenulisan di antara sesama anggota dan pengurus FPKM. Pada tanggal 19 Mei 2009, Mbak Wahyu Indah kembali membawa kabar gembira sehubungan dengan sinetron keempatnya yang tayang di SCTV. Masih dengan dukungan rumah produksi Frameritz, sinetron FTV berjudul "Ramuan Cinta yang Bikin Pusing" berhasil tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV khas karya Mbak Wahyu Indah senantiasa mengusung kisah-kisah unik dengan sisipan humor segar nan jenaka. Sambutan dan dukungan dari teman-teman FPKM kembali disampaikan pada Mbak Wahyu Indah atas kreativitasnya dalam berkarya. Tak berapa lama berselang, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini sebagai pembicara adalah Rio Al Imran (Trio), seorang mahasiswa sekaligus penulis yang membawakan cerpen tulisannya yang berjudul Surat. Cerpen ini cukup unik karena menggunakan diksi yang tidak biasa, serta dengan gaya bercerita layaknya buku harian (diary). Karena cukup unik, maka diskusi pun berlangsung cukup seru. Mas Trio pun berbagi cerita seputar proses kreatif penulisan cerpen yang satu ini. Kritik dan saran pun terlontar dari para peserta diskusi. Pertemuan rutin ini baru diakhiri sore hari setelah diakhiri dengan sharing aneka informasi tips dan tutorial menulis serta berbagai peluang kepenulisan di antara para anggota dan pengurus FPKM.  Pada tanggal 21 – 24 Mei 2009, kota Malang kembali disemarakkan oleh Festival Malang Kembali yang merupakan festival seni budaya tempo dulu kota Malang. Berbagai atraksi budaya, sendra tari, festival musik tempo dulu, hingga berbagai konser musik pun digelar dalam memeriahkan acara ini. Festival pasar rakyat dan makanan tradisional serta jajanan khas tempo dulu ala Malang pun dijajakan berderet dalam kios-kios dan stand pameran. Aneka kios pun menjual berbagai cinderamata dan juga mainan anak-anak khas tempo dulu, aneka permen dan gulali tempo dulu, serta aneka jenis kerajinan tangan dan obral busana berbahan batik. Tak lupa digelar pula festival wisata kuliner Malang khas tempo dulu yang menggelar berbagai macam makanan dan jajanan khas Malang tempo dulu, baik yang tradisional, kontemporer hingga yang “east meet west”.  Bahkan ada juga kios dan stand buku yang mengobral aneka buku jaman baheula dengan harga cukup terjangkau. Para anggota dan pengurus FPKM pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berbelanja buku dan mencicipi aneka kue dan makanan khas Malang tempo dulu yang dijual dalam festival khas rakyat ini. Bertempat di sepanjang Jalan Raya Ijen, kota Malang, acara festival Malang Tempo Doeloe dipadati oleh ribuan pengunjung yang terus mengalir mulai dari pagi hari hingga malam hari. Tentu saja, dengan mengenakan beragam kostum unik khas tempo dulu, maka ajang festival ini tak ubahnya seperti pesta kostum di hari Helloween atau Valentine, bedanya, para pengunjung yang hadir di sini mengenakan beragam busana tradisional maupun pakaian-pakaian jaman kolonial tempo dulu.  Selang beberapa hari setelah berakhirnya festival Malang Tempo Doeloe, pada tanggal 29 Mei 2009, Forum Penulis Kota Malang dengan bekerja sama dengan Perpustakaan Kota Malang, toko buku Toga Mas, Penerbit Kanisius dan radio Mas FM kembali menggelar acara pameran buku Malang Membaca 2009. Bertempat di halaman gedung Perpustakaan Kota Malang, acara pameran dan obral buku ini berlangsung semarak. Dalam sehari pengunjung pameran bisa mencapai lebih dari 1500 pengunjung, karena pameran dibuka sejak pagi hingga malam hari. Untuk memeriahkan acara pameran, digelar pula beberapa event launching buku dan bedah buku, seperti peluncuran buku "Simply Amazing - inspirasi menyentuh bergelimang makna" karya J. Sumardianta pada tanggal 31 Mei 2009, dan juga peluncuran buku berjudul "Negeri Kong Draman - Cerita-Cerita Puisi Kampung Halaman untuk Indonesia" bersama pembicara Ahmad Fikri dan Nanang Suryadi pada hari yang sama. Seperti biasa, acara pameran buku ini pun juga dimeriahkan oleh obral buku super diskon yang diselenggarakan oleh Yusuf Agency yang menawarkan buku-buku bermutu dengan harga sangat miring di bawah harga pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni 2009&lt;br /&gt;Bulan Juni 2009 diawali dengan acara pertemuan rutin FPKM yang kali ini diselenggarakan pada minggu pertama bulan ini, yaitu pada hari Minggu siang, tanggal 7 Juni 2009. Acara pertemuan ini berlangsung santai secara lesehan di halaman depan museum Brawijaya Malang yang berumput hijau. Di bawah teduhnya pohon palem, maka acara pertemuan ini pun berlangsung penuh kekeluargaan dengan disemarakkan oleh berbagai camilan dan kudapan. Pembicara dalam acara kali ini adalah Mas Kukuh Widyatmoko, seorang guru pengajar di sebuah sekolah menengah di Malang yang juga anggota FPKM. Materi yang dibawakan cukup menarik, yaitu "Kekerasan di Sekolah - Sebuah Anti Tesis Sistem Pendidikan." Ungkapan rasa keprihatinan akan maraknya tingkat kekerasan yang muncul di dunia pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pelajar maupun yang dilakukan oleh pendidik telah menginspirasi Pak Guru yang satu ini untuk menuangkannya dalam sebuah esai yang lebih merupakan tinjauan akademis, psikologi dan juga tinjauan sosial yang patut mendapat sorotan dan perhatian lebih dalam coreng morengnya dunia pendidikan di tanah air.  Esai yang menarik ini bisa menjadi kaca benggala bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada agar hasil yang dicapai tidak hanya dilihat dari aspek intelejensia (kecerdasan) tetapi juga menyangkut keseimbangan dan kesehatan mental, akal pikiran dan kecerdasan emosi, sehingga berbagai masalah yang ada tidak dilampiaskan dalam bentuk tindak kekerasan yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia pendidikan. Tampaknya itulah yang ingin disampaikan dalam esai singkat bertema dunia pendidikan yang dibahas kali ini. Berselang dua hari sejak pertemuan FPKM pada hari Minggu, komunitas ini kembali disemarakkan oleh kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah yang berhasil melaunching karya sinetron FTV terbarunya yang berhasil tayang di SCTV pada tanggal 8 Juni 2009, Pkl. 23.00 WIB. Sinetron FTV bertajuk "Di Hatiku Ada Emakmu" ini berhasil tayang berkat dukungan dari rumah produksi Frameritz - Jakarta. Sebagai seorang penulis buku religi, penulis novel dan juga penulis skenario sinetron, Mbak Wahyu Indah yang juga merupakan salah satu pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang ini memang sudah beberapa waktu bekerja pada rumah produksi sinetron Frameritz. Bolak balik Malang - Jakarta demi beraktivitas di dunia sastra dan kepenulisan, Mbak yang satu ini cukup produktif dengan berbagai karya sinetronnya. Di Bulan Mei 2009 saja, sudah tercatat 3 buah sinetron FTV karyanya yang tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV karyanya lebih banyak bercerita mengenai dunia remaja, dengan gaya bahasa yang ringan, alur cerita yang menarik serta dialog-dialognya yang jenaka sehingga cukup menarik untuk ditonton. Mbak Wahyu Indah yang gemar makan roti bakar khas Malang ini, rencananya juga akan melaunching sinetron FTV terbarunya yang berjudul "Roti Bakarku Sayang" yang juga akan segera tayang di SCTV. Makanya rajin-rajin mampir ke mailing listnya FPKM, facebooknya FPKM dan juga ke facebooknya Mbak Wahyu Indah, supaya bisa tahu sinetron apa saja yang akan segera tayang, buah karya Mbak yang satu ini.  Pada hari Minggu, 28 Juni 2009, kembali FPKM mengadakan pertemuan rutinnya, kali ini tampil sebagai pembicara adalah Mas Jemmy Sugianto, anggota baru FPKM yang juga adalah seorang penulis, sekaligus seorang trainer. Ia aktif memberikan bimbingan belajar (les privat) kepada para pelajar di berbagai sekolah di kota Malang, selain aktif juga mengurus buletin cetak "Obor Media" yang dibagikannya secara gratis ke berbagai sekolah, perpustakaan, maupun majalah-majalah dinding yang tersebar di kota Malang. Obor Media sendiri adalah koran dinding yang diterbitkan dan diedarkan secara cuma-cuma oleh Komunitas Anak Panah, salah satu komunitas penulis yang juga bekerja sama dengan FPKM dalam membangkitkan minat baca tulis bagi generasi muda di kota Malang. Pada kesempatan kali ini, Mas Jemmy membahas tulisannya yang ada di buletin "Obor Media" yaitu sebuah esai yang berjudul "Tidak Perlu Diketahui". Dalam esai yang menarik ini, dimunculkan sebuah motivasi dan juga pelajaran moral yang menarik, yaitu bahwa sebagai seorang pekerja kreatif, kita tidak perlu pamer akan apa saja karya yang sudah kita hasilkan, yang penting terus berkarya, terus berkreasi dan tidak lupa selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala limpahan karunia, rejeki dan ide-ide kreatif yang melintas di kepala kita. Biarlah dunia yang menilai akan apa saja yang sudah kita hasilkan. Kita tidak membutuhkan kata-kata sanjungan, pujian atau apa pun. Biarlah apa yang kita hasilkan supaya bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau ada kelebihan ilmu, jangan terlalu pelit untuk berbagi, bila ada kelebihan rejeki, ingatlah selalu pada orang lain sesuai kemampuan kita, maka Tuhan pasti akan memudahkan segala langkah dan upaya kita demi meraih kesuksesan yang lebih besar. Bila menolong orang lain dan memudahkan jalan bagi orang lain, maka Tuhan akan semakin memudahkan jalan kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Itulah pelajaran moral yang dapat dipetik dalam tulisan esai singkat yang dicetuskan oleh Mas Jemmy Sugianto. Ya, memang. Ilmu memang ada untuk dibagi-bagi, agar setiap orang bisa memperoleh manfaat, jadi sebaiknya ilmu tidak dipendam saja untuk diri sendiri namun disebarluaskan untuk masyarakat luas sehingga akan lebih bermanfaat - sejalan dengan misi dan visi FPKM dalam mencerdaskan bangsa melalui tulisan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 2009&lt;br /&gt;Bulan Juli 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 12 Juli 2009. Kali ini pemateri pertemuan adalah Mbak Trias Pratiwi yang memunculkan suatu permainan untuk memotivasi ide kreatif menulis dan merangsang imajinasi para anggota FPKM untuk menuliskan sebuah esai maupun tulisan singkat setelah ditunjukkan sebuah gambar pemandangan. Para peserta diberi waktu sekitar 15 menit untuk menuliskan serta menceritakan apa yang dilihatnya. Kemudian masing-masing tulisan peserta dibacakan dan didiskusikan. Ternyata persepsi dan cara pandang masing-masing anggota FPKM bisa berbeda dengan gaya cerita yang unik, walau yang dilihat dan diamati adalah gambar foto pemandangan yang sama. Jadi intinya, setiap pribadi adalah unik, dan setiap penulis adalah unik, dengan ciri khas dan gaya bahasa serta cara bercerita yang bisa berbeda antara satu sama lain dalam menceritakan suatu kejadian atau suatu obyek yang sama. Ketrampilan berolah kata dan berimajinasi itulah yang merupakan sebuah harta karun yang patut terus digali dalam menghasilkan penulis-penulis berbakat asal kota Malang. Acara pertemuan baru diakhiri menjelang sore hari setelah berdiskusi panjang lebar seputar dunia tulis menulis dan juga berbagai tips dan trik seputar menulis. Pada tanggal 26 Juli 2009, pertemuan rutin FPKM kembali digelar. Kali ini sebagai pemateri adalah Haryo Bagus Handoko, yang membeberkan panjang lebar tentang berbagai tips menulis, serta berbagai informasi seputar dunia kepenulisan mulai dari media surat kabar, majalah hingga peluang menerbitkan buku baik secara indie maupun melalui kerjasama dengan berbagai penerbit buku ternama di Indonesia. Acara ini mendapat respon yang cukup baik dari para peserta yang hadir. Pendek kata, banyak anggota FPKM yang kemudian semakin termotivasi untuk menghasilkan karya dan eksis di jagat tulis menulis nusantara. Bahkan beberapa diantaranya sudah mengambil ancang-ancang hendak menulis berbagai tema untuk kemudian diajukan kepada para editor penerbit buku ternama di Indonesia. Yang penting semangat! Dan sebagian besar anggota FPKM mempunyai semangat besar dalam menghasilkan tulisan, kemauan keras ala arek Malang dan juga semangat pantang menyerah! Pendek kata, arek Malang tidak boleh kalah dengan arek-arek Jogja maupun arek Jakarta dalam jagat tulis menulis. Harus semakin banyak lagi para penulis yang berasal dari kota Malang yang akan mewarnai jagat tulis menulis tanah air. Tak berselang berapa lama dari kegiatan motivasi menulis ini, salah satu cerpen anggota FPKM, yaitu Mbak Lutfi Fadila, yang berjudul “The Hunter”, berhasil dimuat di media The Jakarta Post, salah satu media cetak yang cukup ternama di tanah air. Tidak tanggung-tanggung, cerpen berbahasa Inggris yang dikirimkan ke editor The Jakarta Post telah berhasil dimuat di media tersebut dan ditayangkan pula di situs internet/website mereka. Salut buat Mbak Lutfi Fadila yang jago berbahasa Inggris ini. Terus semangat buat para anggota FPKM yang lain, agar segera menyusul mengukir prestasi di jagat menulis tanah air, seperti misalnya Mbak Wahyu Indah yang secara kontinyu menghasilkan karya-karya sinetron FTV yang tayang di SCTV serta novelnya yang diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Ike Puspita Sari yang novel-novelnya diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Etty Hentihu yang novelnya diterbitkan oleh Penerbit PuspaSwara, Mas Sidik Nugroho dan Mas Arie Saptaji yang kumpulan cerpennya berhasil diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dan juga Mas Haryo Bagus Handoko yang bakal segera merilis buku non fiksi keempatnya, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang juga menjadi salah satu kontributor untuk Healthy Life Magazine, Majalah Noor, dan Majalah Clara. Semangat menulis harus terus ditumbuhkan dan dibumbui dengan berbagai keterampilan serta ide kreatif agar tulisan kita senantiasa menarik untuk dibaca, serta bisa dijadikan sebagai sebuah profesi yang tidak boleh dipandang remeh. Berkat bakat tulis menulis ini pulalah, salah satu anggota FPKM, Mas Wawan Eko Yulianto, memperoleh beasiswa Fullbright oleh Pemerintah Amerika Serikat dan saat ini sedang menuntut ilmu gelar S2 di Arkansas, Amerika Serikat, serta Mas Yusli yang seorang dosen memperoleh beasiswa S2 di Universitas Oxford Inggris mendalami bidangnya dalam hal ilmu hubungan internasional. Jadi, ternyata arek Malang tidak kalah dengan arek-arek Jogja ataupun arek Jakarta dalam hal keilmuwan, tulis-menulis dan intelektual!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 2009&lt;br /&gt;Bulan Agustus 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 9 Agustus 2009. Pembicara dalam acara pertemuan rutin ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang membawakan cerita pendeknya berjudul “Sang Pemburu”.  Versi bahasa Inggris dari cerita pendek ini berjudul “The Hunter” yang berhasil dimuat di media “The Jakarta Post”.  Namun dalam pertemuan tersebut yang dibahas adalah cerpen versi bahasa Indonesianya yang berjudul “Sang Pemburu”. Cerita pendek ini bercerita tentang kisah malang seorang gadis lulusan universitas yang karena keputusasaannya berniat berburu nasib yang lebih baik dengan menjadi seorang TKW di Malaysia. Namun sialnya ia justru ditipu mentah-mentah oleh perusahaan jasa PJTKI fiktif. Karena frustasi, maka si gadis dalam cerita ini pun akhirnya memilih menikah saja dengan pria yang ia cintai, walau pun ia hanyalah berstatus sebagai istri simpanan.  Cerita pendek yang ditulis oleh Mbak Lutfi Fadila ini mencoba mengupas kenyataan pahit dan realitas yang banyak dialami oleh kaum wanita Indonesia yang karena ambisinya untuk mengejar dan memburu mimpi dan nasib yang lebih baik, malah justru berakhir dengan kenyataan pahit.  Diskusi mengenai cerpen ini pun berlangsung seru. Para anggota dan pengurus FPKM pun menyoroti dan mengupas cerpen ini dari berbagai aspek. Mulai dari aspek emansipasi wanita dan kesetaraan jender, sempitnya peluang kerja, masalah maraknya outsourcing hingga aspek sosial kemasyarakatan lainnya. Salah satu pengurus FPKM, Mas Yusli yang baru saja pulang dari Inggris menyelesaikan studi S2 di Universitas Exeter juga turut antusias menyoroti kasus cerpen ini dari sudut pandangnya sebagai dosen pengajar hubungan internasional. Wah seru deh pokoknya. Analisisnya sampai ke mana-mana. Diskusi cerpen, jadi mirip debat terbuka dan analisis ilmiah masalah sosial, karena hadir juga di sini salah satu pengurus FPKM yang juga adalah guru pengajar ilmu sosiologi, yaitu Mas Kukuh Widyatmoko. Pokoknya cerpen ini dikupas dari berbagai segi. Benar-benar asyik.   Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2009, pertemuan FPKM kembali diadakan. Kali ini yang dibahas adalah masalah peluang menulis dan juga diskusi seputar berbagai event lomba menulis yang diinformasikan kepada para anggota FPKM. Informasinya sendiri berasal dari internet, dan seperti biasa, teman-teman pun saling bertukar informasi mengenai hal ini, serta berbagai informasi lainnya mengenai dunia tulis menulis dan jurnalistik.  Pertemuan kali ini jauh lebih santai dengan materi ringan karena bertepatan dengan permulaan bulan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 2009&lt;br /&gt;Bulan September 2009 yang masuk bulan puasa Romadlon, tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Teman-teman FPKM lebih banyak berkonsentrasi untuk menulis karya-karya artikel maupun naskah buku di rumah, ketimbang beraktivitas di luar rumah. Sebagian besar bahkan ada yang sejak awal bulan berlibur ke luar kota mengunjungi sanak saudara, takut tidak kebagian tiket perjalanan bila bepergian dekat dengan hari raya Idul Fitri. Namun demikian pertemuan rutin FPKM tetap digelar, walau sekedar merupakan obrolan santai sesama teman. Maklum saja, energi dan stamina tubuh di bulan puasa agak sedikit menurun dan kita harus pandai-pandai berhemat tenaga. Tapi toh, pertemuan rutin FPKM tetap tidak kehilangan makna dan semangat kekeluargaan. Pertemuan rutin yang digelar pada tanggal 6 September 2009 berlangsung seperti biasa dengan materi seputar dunia kepenulisan dan informasi terkini mengenai peluang-peluang menulis.  Walau sedikit yang bisa hadir dalam pertemuan kali ini (karena banyak yang berlibur ke luar kota, dan sebagian lagi sedang asyik dengan proyek penulisan buku dan artikel), namun teman-teman yang datang saat itu tetap semangat dalam berkiprah di dunia tulis menulis dan jurnalisme.  Walau dalam kondisi bulan puasa, namun suasana perpustakaan kota Malang tetap ramai dan hiruk pikuk seperti biasa. Tampaknya semangat membaca dan menulis masyarakat kota Malang tidak pernah surut walau di bulan puasa sekali pun. Sebagian teman FPKM bahkan ada yang ikut berbagai lomba dan kompetisi tingkat nasional, mulai dari lomba blog hingga lomba menulis cerita bersambung.  Teman-teman FPKM pun mulai sibuk mengumpulkan berbagai materi pendukung baik melalui riset hingga studi pustaka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibuat sebagai materi penulisan blog maupun dalam kompetisi menulis cerita bersambung yang pengumumannya mereka temukan tersebar di internet. Lumayan, untuk ngabuburit mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka puasa. Waktu menulis jadi lebih banyak selama di bulan puasa ini. Jadi bukannya semakin malas, teman-teman malah semakin produktif dalam berkarya. Hitung-hitung, lebih baik menulis untuk melupakan rasa lapar daripada tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Sebagian dari teman-teman FPKM juga mulai mengupdate blog mereka dan menulis berbagai artikel untuk mengisi majalah digital FPKM. Sebagian yang lain memang telah terjadwal untuk menulis mengejar tenggat waktu penulisan artikel yang bakal dimuat di berbagai media majalah dan surat kabar. Namanya juga penulis, maka menulis adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Benar, nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober 2009&lt;br /&gt;Bulan Oktober 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM sekaligus acara halal bihalal yang diselenggarakan pada tanggal 11 Oktober 2009. Dalam pertemuan rutin kali ini dibahas tentang seluk beluk dunia kepenulisan, berbagai tips dan informasi seputar peluang menulis dan banyak lagi sharing pengalaman sesama anggota dan pengurus komunitas ini dalam hal tulis menulis dan jurnalisme. Sebagai pemateri dalam acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang berbagi ilmu seputar trik menulis artikel dan mencari peluang menulis.  Sebagai seorang penulis harus ulet dan gigih dalam mencari peluang agar karya-karya tulisan kita bisa diterbitkan baik di berbagai media surat kabar atau pun majalah dan bahkan bisa jadi diterbitkan menjadi sebuah buku oleh penerbit buku. Jaringan dan networking seorang penulis harus kuat, harus mempunyai banyak kenalan dan relasi, khususnya menjalin silaturahmi yang baik dengan para editor media sehingga tahu lebih banyak corak tulisan yang bagaimana yang diinginkan oleh suatu media tertentu. Networking bisa dijalin dengan cara ngobrol langsung atau pun melalui dunia maya. Ada banyak cara untuk menjalin networking penulis secara luas. Networking tidak hanya dilakukan secara regional saja tapi juga bisa dilakukan secara nasional atau bahkan internasional, misalnya dengan menjalin silaturahmi yang baik dengan komunitas-komunitas penulis baik di dalam dan luar negeri. Acara sharing dan berbagi pengetahuan dan pengalaman pun mendapat respon dan tanggapan yang cukup baik di antara para penulis yang hadir dalam pertemuan rutin FPKM kali ini. Acara pertemuan sekaligus halal bihalal ini baru berakhir menjelang sore hari, karena begitu banyak hal yang diobrolkan seputar dunia tulis menulis.  Pada tanggal 25 Oktober 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini yang berperan sebagai pemateri adalah Mas Sidik Nugroho,  seorang guru pengajar, cerpenis, esais, sekaligus pengamat buku dan penulis resensi. Wah banyak benar keahlian Mas yang satu ini. Resensi tulisan Mas Sidik banyak dimuat di berbagai media cetak di Indonesia, demikian pula dengan cerpen karyanya yang sudah terbit dalam bentuk antologi cerpen. Dalam pertemuan kali ini, Mas Sidik membahas mengenai tips dan trik serta tutorial menulis resensi secara mudah namun berkualitas. Berbagai pengalaman dan pengetahuannya seputar menulis resensi buku dituangkan dalam bentuk teori-teorinya yang mudah dipahami. Kontan saja hal ini membangkitkan antusiasme di kalangan para anggota dan pengurus FPKM yang akhir-akhir ini semakin eksis berkarya di jagat kepenulisan tanah air.  Pengetahuan tentang menulis resensi yang baik dan obyektif merupakan hal penting yang perlu digali lebih banyak sebagai wujud apresiasi penulis di jagad kepenulisan dan perbukuan tanah air.  Salut buat Mas Sidik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FPKM NEWS&lt;br /&gt;PERTEMUAN DAN HALAL BIHALAL FPKM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Minggu, tanggal 11 Oktober 2009 berlangsung pertemuan rutin FPKM sekaligus acara halal bihalal. Dalam pertemuan rutin kali ini dibahas tentang seluk beluk dunia kepenulisan, berbagai tips dan informasi seputar peluang menulis dan banyak lagi sharing pengalaman sesama anggota dan pengurus komunitas ini dalam hal tulis menulis dan jurnalisme. Sebagai pemateri dalam acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang berbagi ilmu seputar trik menulis artikel dan mencari peluang menulis.  Sebagai seorang penulis harus ulet dan gigih dalam mencari peluang agar karya-karya tulisan kita bisa diterbitkan baik di berbagai media surat kabar atau pun majalah dan bahkan bisa jadi diterbitkan menjadi sebuah buku oleh penerbit buku. Jaringan dan networking seorang penulis harus kuat, harus mempunyai banyak kenalan dan relasi, khususnya menjalin silaturahmi yang baik dengan para editor media sehingga tahu lebih banyak corak tulisan yang bagaimana yang diinginkan oleh suatu media tertentu. Networking bisa dijalin dengan cara ngobrol langsung atau pun melalui dunia maya. Ada banyak cara untuk menjalin networking penulis secara luas. Networking tidak hanya dilakukan secara regional saja tapi juga bisa dilakukan secara nasional atau bahkan internasional, misalnya dengan menjalin silaturahmi yang baik dengan komunitas-komunitas penulis baik di dalam dan luar negeri. Acara sharing dan berbagi pengetahuan dan pengalaman pun mendapat respon dan tanggapan yang cukup baik di antara para penulis yang hadir dalam pertemuan rutin FPKM kali ini. Acara pertemuan sekaligus halal bihalal ini baru berakhir menjelang sore hari, karena begitu banyak hal yang diobrolkan seputar dunia tulis menulis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISKUSI TUTORIAL PENULISAN RESENSI BUKU DI MEDIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 25 Oktober 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini yang berperan sebagai pemateri adalah Mas Sidik Nugroho,  seorang guru pengajar, cerpenis, esais, sekaligus pengamat buku dan penulis resensi. Wah banyak benar keahlian Mas yang satu ini. Resensi tulisan Mas Sidik banyak dimuat di berbagai media cetak di Indonesia, demikian pula dengan cerpen karyanya yang sudah terbit dalam bentuk antologi cerpen. Dalam pertemuan kali ini, Mas Sidik membahas mengenai tips dan trik serta tutorial menulis resensi secara mudah namun berkualitas. Berbagai pengalaman dan pengetahuannya seputar menulis resensi buku dituangkan dalam bentuk teori-teorinya yang mudah dipahami. Kontan saja hal ini membangkitkan antusiasme di kalangan para anggota dan pengurus FPKM yang akhir-akhir ini semakin eksis berkarya di jagat kepenulisan tanah air.  Pengetahuan tentang menulis resensi yang baik dan obyektif merupakan hal penting yang perlu digali lebih banyak sebagai wujud apresiasi penulis di jagad kepenulisan dan perbukuan tanah air.  Salut buat Mas Sidik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku    : "Peta 50 Tempat Makan Makanan Favorit di Malang"&lt;br /&gt;Pengarang     : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit      : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal buku    : 136 halaman&lt;br /&gt;Tahun terbit  : Cetakan pertama, Maret 2009&lt;br /&gt;Profil buku   : http://wisatakulinermalang.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka masakan favorit khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. &lt;br /&gt;Dalam buku ini akan dibahas secara tuntas beragam jenis masakan dan minuman khas kota Malang, tempat-tempat makan makanan favorit di Malang, lengkap dengan alamat dan denah lokasi, harga makanan dan minuman, hingga ulasan singkat tentang bahan dan cara memasak serta penyajian masakan. Diperkaya dengan ilustrasi foto-foto yang cantik dan membangkitkan selera makan, siapa yang tidak ingin mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang terkenal berporsi besar, berharga murah lagi terjangkau. Makan kenyang dengan porsi besar tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena di Malang ada puluhan tempat makan yang menawarkan beragam jenis masakan bercitarasa lezat nan unik, cara penyajian yang menarik serta tempat makan yang nyaman, mulai dari yang legendaris, tradisional, kontemporer, hingga yang modern dan berkelas. Semuanya menawarkan beragam inovasi kuliner yang mengundang selera serta harga makanan yang cukup kompetitif lagi terjangkau. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang lezat, lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku : Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan&lt;br /&gt;Pengarang : Hans J. Daeng&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Pustaka Pelajar Offset&lt;br /&gt;Tebal halaman : 341 + xiii halaman&lt;br /&gt;Peresensi : Sismanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah organisme yang sangat kompleks, dimana secara hirarkisnya didasari oleh latar belakang atau asal usul dari penciptaan manusia itu sendiri. Karena manusia tu mempunyai jiwa fisik, yang mana keduanya mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya.&lt;br /&gt;Menurut Van den Daele pada dasarnya ada dua proses perubahan yang saling bertentangan yang terjadi secara bersamaan selama kehidupan itu berlangsung, yaitu proses perkembangan dan perubahan yang mendasar dari pengaruh internalisasi dan eksternalisasi pada manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tehadap perubahan dalam perkembangan diri manusia itu sendiri antara lain:&lt;br /&gt;1. Penampilan diri&lt;br /&gt;Penampilan diri yang terjadi pada diri manusia terjadi akibat dari pengaruh baik itu dari lingkungan ataupun dalam diri dirinya sendiri, hal ini didasari atas sikap dan perilaku terhadap lawan jenisnya dan juga ingin menunjukkan keindahan, kebolehan dan juga menampilkan apa yang menjadi kelebihan pada dirinya.&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan itu akan diterima oleh seseorang bilamana sikap dan perilakunya dipandang baik dan menyenangkan. Sedangkan perubahan-perubahan yang mengurangi penampilannya akan ditolak atau tidak diterima dan secara langsung akan berusaha untuk menutupinya.&lt;br /&gt;2. Perilaku&lt;br /&gt;Manakala perubahan dalam sikap perilaku itu dipandang memalukan atau kurang baik dalam pandangan umum, maka ia harus berusaha untuk merubah sikap tersebut bilamana ia telah dewasa, hal ini akan berpengaruh pada pergaulan dia di masyarakat.&lt;br /&gt;3. Pengalaman pribadi&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi mempunyai pengaruh besar terhadap sikap individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan, karena kewenangan dan kewibawaan pada usia muda itu sangat menurun disaat mereka menjelang pensiun. Sikap mereka terhadap pengalaman yang kurang baik itu akan direspon kurang menyenangkan baik di masyaakat ataupun di tempat-tempat lain.&lt;br /&gt;4. Perubahan peranan&lt;br /&gt;Sikap terhadap orang yang berbeda usia dan umur sangatlah dipengaruhi oleh peran yang mereka mainkan, bila peran mereka itu diubah, maka sikapnya akan kurang baik dan tidak merespon atau kurang senang.&lt;br /&gt;5. Stereotip budaya (budaya meniru)&lt;br /&gt;Dalam stereotip ini dipakai untuk menilai manusia, karena bertambahnya usia seseorang akan berpengaruh pada perubahan dan akan mudah untuk meniru-niru apa yang ia lihat dan ia alami dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;6. Nilai-nilai budaya&lt;br /&gt;Setiap kebudayaan mempunyai nilai tertentu, yang berkaitan dengan usia-usia yang berbeda. Dalam usia ini ini sangat menyenangkan karena jiwa dan kepribadiannya cenderung bebas berdikaridan ingin mengetahui dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Kebudayaan merupakan adalah sebuah konsep yang memiliki varian definisi ditinjau dari sudut pandang apa dan dari mana diintepretasikan. Definisi yang paling menonjol adalah yang dikemukakan oleh Geezt yang menunjuk pada sebuah “sistem simbol” yang berfungsi untuk mengarahkan tingkah laku.&lt;br /&gt;Tulisan Dr. Hans J. Daeng yang merupakan kumpulan tulisan yang ditulis dengan gaya yang mudah dibaca dikelompokkan ke dalam kelompok budaya umum yang melihat kebudayaan pada berbagai masyarakat dan dalam brbeagau bentuk simbol yang menata tingkah laku sosial. Sebagai seorang antropolog Dr. Hans J. Daeng melihat bahwa kebudayaan merupakan faktor yang berpengaruh langsung menata sistem dan struktur sosial.&lt;br /&gt;Persoalan menonjol yang ditunjukkan dalam tulisan Dr. Hans J. Daeng bahwa perubahan itu merupakan hal yang konstan dan memperlihatkan proses dinamis dalam kehidupan suatu masyarakat, misalnya bahwa manusia itu adalah animal historicum yang menyimpan historicumnya sendiri (lihat hlm. 399).&lt;br /&gt;Buku yang ditulis dengan pendekatan antopologis ini mengungkapkan makna yang kompleks dalam variasinya maupun dalam sifatnya yang universal. Dengan kebudayaan tampaknya hidup lebih bermakna dan manusia lebih arif dan bijaksana. Pada akhir tulisan Dr. Hans J. Daeng mengajak pembaca dalam perenungan yang dalam tentang makna hidup manusia dan mangajak untuk menjadi bijak mengikuti dinamika perubahan waktu yang menurut penulis tidak dapat dihindari.&lt;br /&gt;Pada tulisan buku karya Dr. Hans J. Daeng masih belum rinci dalam arti secara konsepsi maupun bahasannya masih bersifat global dan universal. Hal ini dikarenakan terlalu luasnya bahasan dari buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku: Cita-cita&lt;br /&gt;Penulis: M. Iqbal Dawami&lt;br /&gt;Penerbit: Diva Press&lt;br /&gt;Tebal: 234 halaman&lt;br /&gt;Cetakan Pertama, Mei 2009&lt;br /&gt;Peresensi: Sidik Nugroho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keberhasilan adalah hak kita. Datangkanlah keberhasilan dengan cara-cara yang baik; perhatikan penggunaan waktu Anda, lalu lihatlah apa yang terjadi kemudian."  -- Mario Teguh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Mario Teguh di atas rasanya tepat benar mewakili hidup komponis besar Beethoven, seorang musisi yang amat terkenal dan melegenda -- utamanya karena ia terus berkreasi ketika tuli total saat dan setelah berusia lima puluh tahun.&lt;br /&gt;Beethoven menjadi komponis besar karena ketekunannya. H.A. Rudall, penulis biografinya, menyatakan, "Pada musim dingin atau musim panas, Beethoven bangun pagi saat matahari terbit. Kemudian, dia duduk di depan meja tulisnya, dan terus menulis sampai waktu makan siang yang biasanya dia lakukan pada pukul dua atau tiga sore. Pekerjaannya tidak pernah terputus kecuali untuk berjalan-jalan mencari udara segar, tapi selalu dengan menuliskan notes untuk menuliskan inspirasi segar yang didapatnya saat berjalan."&lt;br /&gt;Karya-karyanya kemudian bertahan lama, diakui banyak kalangan sebagai karya-karya yang hebat. Tanpa perjuangan yang keras, tidak mungkin ia bisa sehebat itu. Memang ada juga musisi yang sangat cerdas, seperti Mozart "Sang Anak Ajaib". Dalam sebuah buku disebutkan bahwa Mozart adalah orang yang sangat tergesa-gesa, selain suka berfoya-foya. Dibandingkan Beethoven, keteraturan dan kedisiplinannya dalam berkarya rasanya jauh berbeda.&lt;br /&gt;Namun, tak bisa disangkal, musik-musik Mozart yang mewakili ekspresi-ekspresi spontan yang berawal dari kelelahannya, adalah musik-musik yang luar biasa. Sayangnya, Mozart mati muda. Beberapa orang beranggapan ini juga terjadi karena kekurangteraturan hidupnya.&lt;br /&gt;Mozart dan Beethoven. Dua pribadi, dua kebiasaan. Dari keduanya kita dapat bercermin. Tak banyak orang yang lahir seperti Mozart. Ia dianugerahi Tuhan kecerdasan musikal yang sangat tinggi. Anggapan ini bukan berarti bahwa kemahirannya mencipta lagu tak perlu diasah dengan berlatih secara serius, namun lebih berdasarkan kenyataan bahwa dia memahami musik lebih cepat. Berbeda dengan Mozart, Beethoven lebih menyisakan jejak kehidupan yang lebih mungkin ditiru oleh pembaca riwayat hidupnya secara alami.&lt;br /&gt;Ketelitian, kemahiran, dan keapikan sebuah karya lahir dari inspirasi tanpa henti yang terus digali dan dipelajari dalam hidup seseorang yang bercita-cita.&lt;br /&gt;Nah, kali ini, Anda tidak sedang membaca sebuah ulasan atas buku tentang musik. Dalam buku inspirasi dan motivasi karya Iqbal Dawami ini, secuil kisah hidup Beethoven yang sangat menarik ini, rasanya sangat mewakili pesan penulisnya tentang hakikat hidup: kita harus memiliki cita-cita. Iqbal, lewat puspa-ragam kisah, ilustrasi dan pemikiran yang disampaikannya dalam buku ini, secara tegas hendak menggarisbawahi apa yang pernah dinyatakan John C. Maxwell: "Lebih baik Anda memiliki cita-cita dan kemudian tak berhasil meraihnya, daripada tak pernah memilikinya."&lt;br /&gt;Dalam buku ini terdapat 23 renungan yang sarat dengan hikmah dan petuah. Semuanya merupakan artikel lepas pada awalnya, tak saling bersinggungan satu dengan yang lain. Yang menjadi benang merahnya adalah sebuah niat yang muncul dari penulisnya agar pembaca dapat mengubah kelemahan/kegagalan menuju optimisme/kekuatan hidup.&lt;br /&gt;Iqbal adalah penulis yang kaya akan perspektif. Sebagian kisah atau ilustrasi yang ia gunakan di tiap-tiap artikelnya di buku ini mungkin sudah pernah Anda baca di internet. Namun, cara Iqbal mengurai dan menghadirkan penafsiran dari tiap kisah yang diangkatnya, terasa segar dan lain. Kita jadi betah menikmati apa yang disuguhkannya.&lt;br /&gt;Selain itu, Iqbal adalah penulis yang berdimensi luas. Di buku ini kita akan mendapati artikel-artikel dengan beragam latar atau ilustrasi. Ada yang membahas hidup seorang penulis. Ada yang diangkat setelah menyaksikan sebuah film. Ada yang digarap dengan merenungkan dalam-dalam tentang hakikat dan hal-hal seputar cinta dan waktu. Semuanya menuntun kita untuk mengingat lagi -- juga merenungkan, bahkan menemukan -- apa yang harus kita utamakan dalam kehidupan ini, meraih cita-cita dan mengatasi berbagai persoalan hidup.&lt;br /&gt;Sebagai saran penutup, bab-bab dalam buku ini, tak perlulah dibaca terburu-buru. Masing-masing menyediakan renungan yang indah dan tersendiri untuk dihayati. Ibarat meminum teh, kala malam seorang diri -- kita tak buru-buru menghabiskannya. Kita menyeruputnya pelan-pelan, menikmati kehangatan yang dihadirkannya di leher dan perut kita. Dan, meminum teh rasanya bukan hanya tepat menjadi ibarat bagi cara menikmati buku ini. Bila Anda suka meminum teh, rasanya akan nikmat sekali membalik-balik lembaran buku ini dalam kesunyian malam, ditemani secangkir teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku: “Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima”&lt;br /&gt;Pengarang: Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama (http://www.gramedia.com)&lt;br /&gt;Cetakan  : Pertama, Agustus 2008&lt;br /&gt;Jumlah halaman: 126 halaman&lt;br /&gt;Profil buku: http://pachypodium-indonesia.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis&lt;br /&gt;Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an.  Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak.  Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini.  Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh.  Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18.  Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi.  Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia.  Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan.  Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.  &lt;br /&gt;Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium.  Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.&lt;br /&gt;Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem.  Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar.  Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium.  Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.   &lt;br /&gt; Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan.  Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru.  Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium.  Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika.  Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika.   Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos.  Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.  &lt;br /&gt;Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun.  Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut.  Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium =  kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya.   Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif.   Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite).  Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu).  Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik.  Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan.  Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India).  Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah.  Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah.  Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang.  Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar.  Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang.  Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia.  Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana.  Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi.  Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu.  Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia.   Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.&lt;br /&gt;Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium  kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia.  Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika.  Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp).  Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar.  Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii.  Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii.  Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika.  Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen.  Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus.  Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah.  Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri.   Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi. &lt;br /&gt;Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi.   Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air.  Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias.  Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga.  Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain.  Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan.  Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul  : A Four Fingered Pianist; A Diary of Hee Ah Lee&lt;br /&gt;Penulis : Lee Hee –Ah&lt;br /&gt;Penerjemah : Irma Ekawati&lt;br /&gt;Halaman : x + 190 hlm&lt;br /&gt;Penerbit : Elexmedia Komputindo&lt;br /&gt;Kota Terbit : Jakarta&lt;br /&gt;Terbit : 2008&lt;br /&gt;Peresensi: Sismanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat cover sampul ini saya langsung tertarik untuk membacanya apalagi tertera kata diari di sana. Ya begitulah, saat ini buku-buku diari sangat dibutuhkan para penerbit dan diburu para pembaca. Tidak heran bila penerbit Elexmedia Komputindo kemudian menitahkan Irma Ekawati untuk menerjemahkan buku dengan judul asli “a Four Fingered Pianist; A Diary of Hee Ah Lee”.&lt;br /&gt;Hee Ah yang menulis diari ini adalah seorang pianis cacat berjari empat. Walaupun tubuhnya sudah cacat sejak lahir, tetapi dia tetap seorang gadis yang periang, sehat, bersemangat, dan selalu tersenyum. Buku ini adalah diari yang dia tulis secara teratur sejak dia kelas 3 SD, kemudia diedit oleh Ko Jung-Wook seorang pemenang sayembara menulis yang kebanyakan isi buku karangannya adalah obrolan dari anak-anak penyandang cacat, keluarga dan temen-temannya.&lt;br /&gt;Hee Ah menuliskan banyak guratan-guratan kesedihan di awal-awal tulisannya, namun kemudian mimpi demi mimpi dia raih dengan melakukan yang terbaik sampai akhir dalam hidupnya. Bila dulu dia pernah meminta kepada orang tuanya untuk tidak menunjukkan dirinya pada siapapun. Tapi, sekarang dia menunjukkan diarinya ini pada orang-orang yang disayanginya.&lt;br /&gt;Jarinya hanya ada empat, lutut adalah telapak kaki baginya. Dia bahagia sekali bila mempunya kari dan tangan seperti anak-anak yang lain, dia sering menangis bila mengingat bentuk tubuhnya yang seperti itu sejak lahir, tapi sekarang, dia bisa hidup lebih senang. Walau bentuk tubuhnya berbeda dengan yang lain, tapi dia punya mimpi yang sama dengan kalian. Dia kan berusaha meraih mimpinya…..&lt;br /&gt;Di dalam hidupnya dia mempunyai semboyan “berusaha melakukan yang terbaik sampai akhir” dengan begitu, dia bisa menyemangati dirinya sendiri dalam bermain piano. Hasilnya orang-orang yang mendengarkan permainan pianonya bisa merasakan kehangatannya.&lt;br /&gt;Anak-anak bertanya pada Hee Ah,&lt;br /&gt;“Kok kaki kamu pendek, sih?”&lt;br /&gt;“Kalau aku setinggi ini kan bisa bisa berteman dengan kalian!”&lt;br /&gt;Anak-anak bertanya pada Hee Ah,&lt;br /&gt;“Apa tidak sakit bermain piano dengan empat jari saja?”&lt;br /&gt;“Justru saat aku main piano, ada kekuatan yang muncul pada keempat jariku ini!”&lt;br /&gt;Anak-anak bertanya pada Hee Ah,&lt;br /&gt;“Mimpimu apa Hee Ah?”&lt;br /&gt;“Aku ingin menjadi pianis dunia dan membuat surga dunia bagi penyandang cacat!”&lt;br /&gt;Heeh Ah bertanya pada anak-anak&lt;br /&gt;“Kalau mimpi kalian sendiri apa?”&lt;br /&gt;Buku ini mengenalkan suatu cerita perjalanan seorang gadis cacat yang mampu memberikan isnpirasi bagi anak-anak cacat lainnya. Melalui buku ini, untuk anak-anak yang tidak mempunyai cacat tubuh, berbahagialah karena kalian mendapatkan anugerah berharga dari Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Selain itu, buku ini juga dapat dijadikan acuan bagi guru SD terutama yang mengajarkan anak didiknya menulis diari dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEDAH BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul buku      : "Peta 50 Tempat Jajanan &amp; Oleh-Oleh Khas di Malang"&lt;br /&gt;Pengarang       : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)&lt;br /&gt;Penerbit          : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tebal buku      : 116 halaman&lt;br /&gt;Tahun terbit    : Cetakan pertama, Februari 2009&lt;br /&gt;Profil buku     : http://wisatakulinermalang.blogspot.com  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. Namun sayangnya, dari sekian banyak liputan yang ada, belum pernah ada yang mengupas secara detil aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang sedemikian lengkap seperti halnya yang bisa Anda baca dalam buku ini. &lt;br /&gt;Ulasan yang Anda jumpai dalam buku ini cukup menarik, lugas, dan detil, mulai dari
