Malang, East Java Province, Indonesia

Selamat datang di kota Malang yang sejuk ... Silakan berjalan-jalan di blog ini sepuas Anda...


View Larger Map

Kota Malang dilihat dari satelit. Silakan geser-geser dengan menggunakan mouse untuk mencari lokasi yang Anda cari dalam peta ini. Semoga peta ini bisa bermanfaat bagi Anda semua.

Malang, East Java Province, Indonesia from satelit view. Please drag using your mouse to searching for location that you curious to know. I hope this map would be of use for all of you that visiting this town. Welcome to Malang, East Java Province, Indonesia.

Malang, Oost-Java Provincie, Indonesiƫ uit satelit bekijken. Beweeg uw muis om te zoeken naar locatie die u benieuwd. Ik hoop dat deze kaart zou gebruiken voor al u dat uw bezoek aan deze stad. Welkom in Malang, Oost-Java Provincie, Indonesiƫ.

FPKM selalu ngumpul rutin di Perpustakaan Kota Malang

Link Download E-Magazine FPKM (Format PDF)

Majalah Digital (E-magazine) Forum Penulis Kota Malang
Parade Karya FPKM dan kumpulan arsip

Forum Penulis Kota Malang (FPKM) juga meluncurkan publikasi digital dalam bentuk majalah digital (e-magazine) yang bisa didownload dari situs resmi kami di internet. Majalah ini juga dapat dibaca secara online. Majalah digital Forum Penulis Kota Malang memakai format PDF, sebuah format yang cukup umum untuk sebuah majalah digital. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya yang bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggota forum ini juga diusahakan untuk senantiasa diliput dan ditulis dalam majalah digital ini. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Artikel-artikel yang dinilai cukup pantas akan dimuat dalam majalah digital ini. Karena forum ini merupakan organisasi non profit kami tidak menyediakan imbalan dalam bentuk apapun untuk setiap artikel yang dimuat. Majalah digital Forum ini sifatnya hanya berfungsi untuk menjembatani segala bentuk pertukaran ilmu, pengalaman, pengetahuan, informasi terbaru dan juga ide serta saran dari para penulis yang ingin menekuni dunia tulis menulis sebagai karir profesi atau pun sekedar hobi. Majalah digital ini juga menerima sumbangan naskah karya para penulis yang ingin naskahnya dibedah dalam diskusi forum ini. Saran dan juga sumbangan serta bantuan baik moril maupun materiil sangat kami harapkan demi kemajuan kita bersama.

Ditulis oleh : Admin Forum Penulis Kota Malang
http://www.fpkm.co.cc dan http://klipingfpkm.multiply.com

SILAHKAN MENDOWNLOAD E-ZINE FPKM [Bila gagal mendownload, silakan mencoba server ini. Klik di sini]

Ezine FPKM Edisi 1
Ezine FPKM Edisi 2
Ezine FPKM Edisi 3
Ezine FPKM_Edisi 4
Ezine FPKM Edisi 5
Ezine FPKM Edisi 6
Ezine FPKM Edisi 7
Ezine FPKM Edisi 8
Ezine FPKM Edisi 9
Ezine FPKM Edisi 10
Ezine FPKM Edisi 11
Ezine FPKM Edisi 12
Ezine FPKM Edisi 13
Ezine FPKM Edisi 14
Ezine FPKM Edisi 15
Ezine FPKM Edisi 16
Ezine FPKM Edisi 17
Ezine FPKM Edisi 18
Ezine FPKM Edisi 19
Ezine FPKM Edisi 20
Ezine FPKM Edisi 21
Ezine FPKM Edisi 22
Ezine FPKM Edisi 23
Ezine FPKM Edisi 24
Ezine FPKM Edisi 25
Ezine FPKM Edisi 26
Ezine FPKM Edisi 27
Ezine FPKM Edisi 28
Ezine FPKM Edisi 29
Ezine FPKM Edisi 30
Ezine FPKM Edisi 31
Ezine FPKM Edisi 32
Ezine FPKM Edisi 33
Ezine FPKM Edisi 34
Ezine FPKM Edisi 35
Ezine FPKM Edisi 36

Sabtu, 10 Oktober 2009

Majalah Digital FPKM Edisi Oktober 2009

Majalah Digital FPKM Edisi Oktober 2009

Assalamualaikum. Wr. Wb. dan Salam Sejahtera selalu,

Alhamdulillah dan puji syukur kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, edisi bulan Oktober 2009 majalah digital FPKM akhirnya selesai juga dikerjakan. Dalam edisi kali ini, ditampilkan esai maupun resensi buku yang menarik untuk dibaca. Juga beberapa karya cerpen hasil tulisan para anggota FPKM. Bagi yang berniat unjuk kemahiran menulis dengan menyumbang tulisan untuk bisa tampil di majalah digital ini, silakan Anda mengirim artikel Anda langsung ke milis FPKM atau lebih baik lagi Anda mengirimkannya langsung ke kotak pos elektronik editor majalah ini di haryobagushandoko.penulis@gmail.com Paling tidak, nama kalian akan dengan mudah terdeteksi oleh search engine seperti google dan juga nampang dan dibaca begitu banyak orang, karena majalah ini tidak hanya didownload oleh para pembaca dari Indonesia saja, namun juga para penggemar sastra di seluruh dunia. Dalam edisi ini, majalah digital FPKM mengetengahkan beberapa cerita pendek maupun esai dari teman-teman yang patut untuk disimak. Situs FPKM berganti domain yaitu menggunakan url: http://www.fpkm.co.cc . Situs FPKM yang lama – http://www.fpkm.org dinyatakan sudah tidak berlaku. Kita semua pindahan ke situs yang baru yaitu yang beralamat di http://www.fpkm.co.cc. Harap maklum! Semoga tulisan-tulisan dalam majalah ini dapat memberikan inspirasi dan memunculkan ide kreatif dari teman-teman untuk tetap berkarya. Akhir kata, selamat membaca!

Wassalam,
Tim Editor

-----------------------------------------------------
:> Suka menulis ?
Silakan kunjungi blog FPKM yang baru
>> FPKM http://www.fpkm.co.cc

-----------------------------------------------------

Pimpinan Redaksi
Haryo Bagus Handoko

Dewan Redaksi
David Ardy
Haryo Bagus Handoko
Vita Priyambada
Etty Hentihu
Gusti Aisyah Putri
Lutfi Fadila
Wahyu Indah R
Trias Pratiwi
Sismanto
Mukhlis
Carolina Neolen D.F.
Eko Martina Sriwulaningsih

Desain Grafis & Lay Out
Haryo Bagus Handoko
Photo Editor
Haryo Bagus Handoko

Sekretariat Redaksi
Carolina Neolen
Haryo Bagus Handoko

Keuangan
Vita Priyambada
Trias Pratiwi

Penerbit
Forum Penulis Kota Malang (organisasi profesi non-profit)
Alamat Redaksi
Forum Penulis Kota Malang
Gedung Perpustakaan Kota Malang
Jl. Raya Ijen 30 A - Malang 65100

Alamat E-mail
forum_penulis_kota_malang@yahoo.com
forumpenuliskotamalang@gmail.com

Admin website / Webmaster
Haryo Bagus Handoko
haryobagushandoko.penulis@gmail.com

Redaksi menerima sumbangan artikel, naskah dan tulisan, serta informasi penting lainnya. Bisa dikirim lewat e-mail atau langsung datang ke Sekretariat Forum Penulis Kota Malang di Gedung Perpustakaan Kota Malang. Saran, gagasan dan dukungan serta sponsorship dari Anda sangat kami butuhkan.


Kata Sambutan Ketua
Forum Penulis Kota Malang

Assalamualaikum.wr.wb. dan salam sejahtera untuk kita semua,
Sebelum takdir terjadi dan diketahui, hidup ini adalah sebuah pilihan dan pilihannya hanya ada dua yaitu “to be or not to be”, menjadi kalah atau menang, menjadi ada atau tidak ada. Marilah kita bersama-sama menjadi pemenang, menjadi ada bagi orang lain. Sebagai kota pendidikan, Malang memiliki potensi dalam dunia tulis menulis, tetapi tidak diimbangi dengan adanya wadah yang membantu penulis untuk mengekspresikan karyanya. Berdasarkan realitas di atas, kami merasa perlu untuk membentuk suatu wadah bagi para penulis. Denganwadah tersebut kita bangun jaringan intelektual melalui tulisan. Kita bangun pola pikir-pola pikir yang mendobrak dan tak biasa karena lebih baik menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik ! Biarlah kita “hidup” selama kita hidup. Rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis.
Dengan adanya publikasi dalam bentuk majalah digital Forum Penulis Kota Malang ini, saya berharap rekan-rekan penulis baik di Malang maupun rekan-rekan penulis setanah air bisa saling berbagi pengalaman, pengetahuan, karya tulis, kreativitas, ide dan juga informasi yang berguna bagi kita semua, demi majunya pola pikir, serta bertambahnya kemampuan kita dalam bidang tulis menulis, serta profesionalisme kita sebagai seorang penulis !
Saran, sumbangan ide, gagasan, serta sumbangan tulisan sangat kami harapkan demi semakin berkembangnya pengetahuan kita akan dunia kepenulisan. Akhir kata saya ucapkan terima kasih atas segala kerjasama yang baik dari rekan-rekan semua dan sukses selalu Forum Penulis Kota Malang !

Salam,
David Ardy


Awal berdirinya Forum Penulis Kota Malang
Forum Penulis Kota Malang (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang. Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang. Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang – Jl. Raya Ijen 30A – Malang, forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini. Saran dan juga sumbangan serta bantuan baik moril maupun materiil sangat kami harapkan.
Susunan Pengurus Organisasi Forum Penulis Kota Malang
Ketua : David Ardy
Sekretaris : Carolina Neolen
Bendahara : Vita Priyambada
Seksi Acara : Liga Alam, Mukhlis, Trias Pratiwi, Eko Martina Sriwulaningsih
Seksi Informasi dan Dokumentasi : Haryo Bagus Handoko, Wahyu Indah R, Wawan Eko Yulianto, Sidik Nugroho, Sismanto
Penelitian dan Pengembangan : Vita Priyambada, Gusti Aisyah Putri, Lutfi Fadila
Pelindung : Bpk. Drs. H. M. Jemianto, SH (Kepala Perpustakaan Umum dan Arsip Kota Malang)
Penasehat : Bpk. Johan Budi Sava (Toko buku “TOGAMAS”), Bpk. Bambang A.W. (Pengamat seni)

Visi dan Misi Forum Penulis Kota Malang

Visi
Membentuk insan yang memiliki kesadaran intelektual aktif kreatif berguna dalam masyarakat melalui tulisan

Misi Jangka Pendek
1. Berkarya.
2. Pembentukan tim yang solid, kreatif dan bermanfaat.
3. Membangun jaringan dengan penulis lain, penerbit dan lain-lain yang berhubungan dengan dunia kepenulisan.
4. Memberi motivasi seluruh anggota untuk berkarya.

Misi Jangka Menengah
1. Berkarya.
2. Mengadakan acara-acara bedah buku dengan mengundang penulis-penulis yang telah konsisten dan berkompeten dalam dunia kepenulisan.
3. Memperkuat jaringan penulis dengan penerbit.
4. Membaca wacana-wacana yang berhubungan dengan kesenian, kebudayaan, dan sebagainya yang berhubungan dengan pengembangan dunia kepenulisan.
5. Menghidupkan dunia kepenulisan di Kota Malang.
6. Mendorong seluruh anggota agar dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan bersifat membangun.

Misi Jangka Panjang
1. Berkarya.
2. Memperluas jangkauan Forum dan jaringan antara penulis dan penerbit.
3. Menjadikan Forum ini sebagai pendobrak dan melakukan perubahan yang baik dalam dunia kepenulisan Indonesia.
4. Menjadikan Forum ini sebagai tolok ukur perkembangan dunia kepenulisan Indonesia.
5. Mencetak penulis-penulis yang berkualitas dan membangun serta menjadikan penulis sebagai sebuah profesi yang dapat ‘menghidupi’.

Berita Terbaru
Januari 2009
Bulan Januari 2009 ini diwarnai oleh cuaca yang tidak bersahabat. Di Malang, hampir tiada hari tanpa hujan dan mendung. Namun demikian, toh, acara pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang tetap digelar di ruang lobi gedung perpustakaan Malang. Tidak ada kesan formal, suasana berlangsung santai, penuh kekeluargaan. Pada tanggal 11 Januari 2009, pertemuan rutin FPKM membedah cerita pendek yang berjudul “Gayung” karya dari salah satu anggota FPKM yaitu Mas Muchlis yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai seorang pengajar/guru. Cerita pendek berjudul “Gayung” ini cukup unik karena mengupas fenomena sosial anak-anak jalanan yang sering kali kita jumpai meminta-minta di perempatan jalan, di lampu-lampu merah. Mereka sering kali termarjinalkan dan terpinggirkan, belum ada satu pun penyelesaian yang bijaksana yang bisa dilakukan baik oleh lembaga sosial maupun pemerintah khususnya dalam pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan anak-anak jalanan ini. Yang terjadi, mereka seringkali justru kena razia dan dihalau atau bahkan diangkut oleh satpol PP. Kisah cerita pendek yang cukup mengharukan ini cukup mendapat respon yang baik dari teman-teman FPKM. Apresiasi karya tulis seperti ini memang selalu menjadi agenda rutin komunitas ini sejak pertama kali berdiri. Berbagai pendapat dan saran pun bermunculan sehubungan dengan cara bercerita serta setting yang ditampilkan dalam cerpen bertema sosial ini. Yang jelas semua orang merasa senang bahwa kepedulian sosial paling tidak bisa kita cetuskan lewat sebuah karya cerita pendek. Pada tanggal 25 Januari 2009, kembali berlangsung pertemuan rutin FPKM. Kali ini juga tetap membedah cerita pendek karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul “Ekspedisi”. Sebuah cerita unik mengenai ekspedisi para ilmuwan botani ke tanah Papua yang bertema thriller yang lumayan menegangkan. Kisahnya dikemas secara apik dalam tutur kata dan alur bercerita yang cukup sederhana namun sedikit membutuhkan perenungan dan pemikiran lebih dari para pembacanya. Respon yang didapat dari bedah karya cerita pendek ini cukup apresiatif. Beberapa anggota FPKM yang hadir dalam pertemuan rutin ini satu per satu menyumbangkan saran serta ide demi penyempurnaan kisah dramatis dalam cerita pendek yang satu ini. Walau diakui oleh penulisnya masih banya kekurangan di sana-sini, namun kisah yang satu ini dianggap cukup menarik dan sedikit unik karena lain daripada yang lain. Yang diketengahkan dalam cerita pendek ini adalah fenomena kejadian-kejadian unik yang berbau science fiction. Suatu tema yang sedikit jarang diketengahkan dalam jagat sastra Indonesia. FPKM memang beda...!

Februari 2009
Bulan Februari 2009 sarat acara kegiatan baik yang diselenggarakan oleh FPKM sendiri, maupun yang hasil kerja bareng FPKM dengan komunitas lain. Pendek kata tiada hari tanpa berkarya dan berbagi ilmu, karena itu adalah semboyan FPKM. Pada tanggal 8 Februari 2009, berlangsung pertemuan rutin FPKM di bulan Februari kali ini cukup semarak. Kali ini tema yang dibedah adalah cerpen tulisan Mbak Trias Pratiwi yang berjudul "Mencari Langit". Sebuah cerita pendek yang cukup menarik, walau sedikit tragis dan mengupas kegetiran hidup yang dialami tokoh utama dalam cerita pendek ini. Walau diakui masih banyak kekurangan di sana-sini, namun penulis cerpen ini cukup punya nyali untuk mengangkat fenomena sosial yang sering kali dipandang sebelah mata. Dalam kesempatan ini, teman-teman FPKM banyak memberikan saran dan masukan bagi penyempurnaan kisah cerita pendek ini. Diskusi pun berjalan cukup akrab dengan semangat kekeluargaan dan canda tawa khas FPKM. Tak berselang lama, pada tanggal 15 Februari 2009, FPKM diundang sebagai pembicara dalam acara workshop pelatihan menulis tingkat pelajar SMP/SMA se-kota Malang periode 2009. Acara yang berlangsung di Aula kantor Dinas Pendidikan Kota Malang di Jalan Veteran ini berjalan cukup semarak dan mendapat sambutan positif dari kalangan pelajar yang tergabung dalam kelompok sastra pelajar kota Malang. Perhatian para pelajar kota Malang pada dunia sastra dan kepenulisan terbukti cukup tinggi. Hal ini dilihat dari banyaknya peserta yang mengikuti acara workshop yang diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk umum ini. Beberapa pembicara yang berasal dari kalangan penulis maupun kolumnis media surat kabar, seperti Mas Ahmad Makki Hasan (kolumnis dan penulis esai surat kabar dan media massa), Liga Alam (novelis, esais dan penulis buku biografi), Mas David Aryanto (penulis, penyair dan ketua FPKM), serta Haryo Bagus Handoko (jurnalis dan penulis buku) turut andil dalam keberhasilan acara ini. Walau berlangsung secara sederhana, acara workshop/pelatihan yang sarat keilmuwan dan aneka tips dan trik praktis memulai karir sebagai penulis serta aneka jurus untuk menulis, sempat diliput oleh berbagai surat kabar di Jawa Timur maupun televisi lokal di kota Malang. Menurut ketua organisasi Kelompok Sastra Pelajar, Mas Liga Alam, acara tahunan workshop seperti ini seharusnya terus digalang agar dapat menumbuhkan bakat menulis di kalangan pelajar kota Malang. Acara workshop gratis ini adalah hasil kerja bareng antara komunitas penulis "Kelompok Sastra Pelajar", "Forum Penulis Kota Malang" dan Dinas Pendidikan Kota Malang. Semoga untuk ke depannya, acara yang sarat keilmuwan ini terus dapat diselenggarakan.

Maret 2009
Bulan Maret 2009 ini cukup padat dengan kegiatan berbau sastra. Dimulai pada hari Minggu, 1 Maret 2009 yang bertepatan dengan jadwal pertemuan rutin FPKM, agenda pertemuan kali ini adalah acara pembacaan puisi dan bedah puisi yang diselenggarakan secara outdoor (di luar ruangan). Tempat pertemuan kali ini adalah berlangsung di tengah taman bunga dan air mancur yang berada di depan museum Brawijaya - di Jalan Raya Ijen. Pembicara acara ini adalah Mbak Vita Priyambada yang mengetengahkan puluhan puisi-puisinya untuk dibacakan bergantian dan dibedah serta dibahas beramai-ramai. Antusiasme para anggota dan pengurus FPKM cukup tinggi dalam hubungannya dengan dunia sastra, kepenulisan dan puisi. Tak heran, walau diselingi gelak tawa dan senda gurau, acara pembacaan puisi secara bergantian ini berlangsung cukup semarak. Mbak Vita yang rajin menulis aneka artikel untuk berbagai media massa ini, ternyata juga jago menulis puisi dan membacakan puisi. Walau beberapa kosa kata yang digunakan tergolong aneh karena merupakan bahasa-bahasa kamus, namun acara seperti ini justru dapat menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Indonesia bagi teman-teman FPKM. Dalam acara pertemuan ini dicetuskan ide untuk memunculkan catatan dan kliping sastra dalam arti sebenarnya yang dikenal dengan istilah "Majalah TengTop - Ditenteng terus makin ngeTop". Memang rencananya, kliping aneka tulisan dan corat-coret teman-teman FPKM setiap kali pertemuan akan menjadi sebuah bank data sastra Malangan yang harus dibawa setiap ada pertemuan FPKM. Selain setiap anggota dan pengurus bisa berkreasi dan berimajinasi secara bebas dalam menuliskan setiap ide dan kreativitasnya, keberadaan kliping sastra "Majalah TengTop" ini bakal menjadi daya tarik tersendiri bagi eksistensi komunitas penulis FPKM. Model serupa telah berjalan cukup baik di dunia maya dengan keberadaan blog "http://klipingfpkm.multiply.com". Selanjutnya, pada hari Minggu, 15 Maret 2009, pertemuan rutin dua mingguan FPKM kembali digelar. Kali ini tetap dengan tema membedah cerpen karya para anggotanya. Yang kebagian jadi pemateri minggu ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang mengetengahkan cerpen tulisannya yang berjudul "Kereta Yang Membawaku Kembali" sebuah cerita pendek dengan model bercerita layaknya catatan perjalanan sekaligus memoar yang memunculkan isyu jender dan emansipasi wanita. Cerita pendek ini cukup mendapatkan tanggapan, apresiasi sekaligus kritik dan saran dari para peserta diskusi yang hadir saat itu. Seperti biasanya, acara diskusi ini berlangsung secara santai dan penuh kekeluargaan dengan diselingi guyonan di sela pembahasan dan apresiasi terhadap tulisan cerpen yang sedang dibahas. Sebagai penutup acara, segenap anggota dan pengurus FPKM kembali menuliskan coretan-coretan pada lembaran-lembaran kertas yang akan menjadi halaman bersejarah dari pemunculan ide majalah tengtop yang pernah dibahas sebelumnya. Berbagai tulisan mulai dari puisi, celoteh, sajak hingga narasi pendek tentang suasana hati masing-masing kemudian dibacakan dan banyak menimbulkan gelak tawa serta komentar-komentar dari sesama anggota yang saat itu hadir. Bagaimanapun ide menuliskan suasana hati untuk mengisi halaman-halaman majalah tengtop (baca: diary FPKM) cukup mengena dan dapat menghidupkan suasana serta meningkatkan keakraban dan silaturahmi sesama anggota. Akhirnya, acara pertemuan rutin FPKM di minggu terakhir di bulan Maret ini pun kembali berlangsung cukup istimewa, karena bertepatan dengan hari ulang tahun si pemateri, yaitu ulang tahunnya Mbak Wulan (Martina Sriwulaningsih) yang jatuh pada hari Minggu, 29 Maret 2009. Tak heran, acara belum dimulai, semua makanan camilan sudah digelar layaknya bazaar makanan. Para anggota dan pengurus FPKM yang hadir saat itu beramai-ramai mengucapkan selamat ulang tahun pada si pemateri yang hari itu sedang berulang tahun. Sambil menunggu yang lain datang, acara makan camilan pun dimulai sambil mengobrol akrab sesama anggota. Di saat sedang asyik mengobrol, muncullah Mbak Etty Hentihu, salah satu anggota lama FPKM yang kebetulan sedang mudik ke kota Malang. Karena profesinya sebagai seorang pengajar yang kini bekerja di kota lain, Mbak Etty, hanya bisa aktif bersilaturahmi di dunia maya. Maklum saja karena cukup lama tidak bertemu, karena selama ini hanya bisa saling menyapa lewat facebook, maka secara spontan, teman-teman merasa sangat surprise, dan obrolan pun berlangsung lebih meriah dengan Mbak yang satu ini. Setelah semua anggota dan pengurus FPKM telah hadir, maka acara bedah cerpennya Mbak Wulan dimulai. Kali ini cerpen yang dibahas bertajuk "Ku-pu-ku-pu-ku (Aku punya, aku punya aku), sebuah cerpen unik dengan genre psikologi dan perangkaian kata serta kalimat yang tidak biasa. Cerpen ini mendapat tanggapan dan kritik serta apreasiasi yang bermacam-macam dari para anggota FPKM. Berbagai penafsiran yang berbeda dalam mengartikan nilai rasa dalam cerpen ini telah membuat suasana diskusi lebih hidup. Akhirnya, untuk menyamakan persepsi dari pembaca, si penulis cerpen ini pun urun bicara dan menjelaskan maksud serta jalan cerita dari cerpen ini. Memang daya imajinasi antara penulis dan pembaca seringkali berbeda, dan itulah keunikan yang muncul dari cerpen yang satu ini, karena bisa memunculkan berbagai pendapat dan tanggapan yang berbeda dari para pembacanya. Akhir-akhir ini para anggota maupun pengurus FPKM semakin giat dalam menghasilkan karya tulisan yang dimuat di berbagai media cetak tanah air, baik cerpen, resensi buku, esai hingga terbitnya buku tulisan mereka.

April 2009
Kegiatan di bulan April ini diawali dengan acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu pada hari Jumat siang (sehabis sholat Jumat), 3 April 2009. Acara seminar gratis yang cukup spektakuler ini mengangkat tema tentang bagaimana memunculkan inisiatif menulis dan membentuk corak dan gaya tulisan kita - "FINDING SHAPES OF OUR STORIES". Sebagai pembicara dalam acara ini adalah Professor Valerie Miner, seorang penulis, jurnalis, novelis sekaligus dosen sastra di Stanford University, Amerika Serikat. Jauh-jauh datang dari Amerika untuk berbagi cerita dan berbagi pengalaman seputar kegiatan menulis dan mencari ide-ide segar kepenulisan, Ibu Valerie Miner banyak berbicara mengenai pengalamannya seputar kegiatan menulis dan jurnalisme yang telah dilakoninya selama puluhan tahun. Acara tanya jawab pun berlangsung semarak dalam dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Beberapa penanya aktif mengutarakan pertanyaan dan pendapat dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dengan ditemani oleh Pak John, staf konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya dan juga seorang penerjemah, acara seminar kepenulisan dan kuliah tamu hasil kerja sama antara Perpustakaan Kota Malang, Forum Penulis Kota Malang, Komunitas Sastra Pelajar, Malang Fun English Club dan kantor konsulat jendral Amerika Serikat di Surabaya ini pun berjalan cukup sukses. Acara ini sempat diliput oleh beberapa saluran televisi lokal di kota Malang, serta berbagai media surat kabar dan majalah. Di akhir acara, Ibu Valerie Miner dan Pak John dari kantor konsulat jendral Amerika di Surabaya, menyerahkan sumbangan puluhan buku sastra, novel, jurnal sastra Amerika dan berbagai buku seputar sastra dan pengetahuan kepada pihak Perpustakaan Kota Malang, yang diwakili secara simbolis oleh Bpk. Drs. H.M. Jemianto, S.H. Dalam acara ini, tampaknya Ibu Valerie Miner berusaha menumbuhkan dan memotivasi semangat menulis dan membaca dari para penulis kota Malang agar senantiasa aktif dalam menghasilkan karya-karya tulisan yang berbobot dan berguna bagi masyarakat. Acara seminar ini berlangsung sangat semarak dan dipadati begitu banyak pengunjung, terutama para penulis, wartawan media, seniman, pengamat sastra, dan juga para seniman film indie di kota Malang. Berselang kurang lebih seminggu, Forum Penulis Kota Malang kembali mengadakan acara pertemuan rutin yang jatuh pada hari Minggu, 12 April 2009. Pertemuan kali ini menghadirkan pembicara dari anggota FPKM sendiri yang juga seorang pengamat sastra, pecinta buku dan penulis resensi buku - Mas Sidik Nugroho. Karya tulisan yang dibedah dan sempat dibahas bersama pada kesempatan tersebut adalah tulisan Mas Sidik yang dimuat di rubrik Ruang Baca di Koran Tempo, 29 Maret 2009, dengan judul "SEGERA MEMULAI, LALU MENATA". Tulisan tersebut merupakan sebuah esai singkat berisikan motivasi untuk segera memulai menulis apa saja yang terlintas dalam benak kita, dan baru menata ulang tulisan kita setelah semua ide tersebut dituliskan. Mas Sidik juga membahas berbagai cara dan metode menulis yang biasa dilakukan oleh para penulis besar seperti Nadine Gordimer (peraih nobel sastra), John Steinbeck (peraih penghargaan Pulitzer), Stephen King (penulis novel-novel horor), Kate Di Camillo (peraih penghargaan Newbery Medal untuk bukunya yang berjudul The Tale of Desperaux), Leo Tolstoy (penulis novel Anna Karenina), Harper Lee (peraih penghargaan Pulitzer untuk bukunya yang berjudul To Kill a Mockingbird), hingga penulis nasional, Akmal Nasery Basral (penulis novel dan jurnalis). Setiap penulis mempunyai kebiasaan dan cara menulis serta pemilihan waktu yang dianggap paling tepat untuk mulai berkarya. Hendaknya metode dan cara mereka dapat dijadikan contoh dan disesuaikan dengan kebiasaan menulis yang menurut kita paling nyaman. Acara diskusi ini pun berlangsung semarak dan penuh pertanyaan seputar kiat dan trik untuk menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas. Acara baru diakhiri menjelang sore hari setelah semua peserta diskusi merasa puas dengan jawaban yang diterima. Dua minggu kemudian, yaitu tepatnya pada hari Minggu, 26 April 2009, Forum Penulis Kota Malang kembali menggelar acara pertemuan rutin dua mingguannya. Kali ini bertindak sebagai pemateri adalah Mbak Vita Priyambada, seorang penulis dan kolumnis untuk berbagai media surat kabar dan majalah yang ternyata juga pandai menulis puisi. Acara pun berlangsung meriah, dengan lesehan di rumput, tepat di depan museum Brawijaya. Kebetulan saat itu matahari bersinar cerah dan langit kota Malang tampak begitu biru dan indah. Suasana lesehan di halaman depan museum Brawijaya yang berumput hijau memang sengaja dipilih agar terasa lebih menyatu dengan alam dan suasananya lebih mengena. Mbak Vita pun membacakan beberapa karya puisinya yang mendapat tanggapan dari para peserta diskusi. Seperti biasa, acara tanya jawab, kritik, dan guyonan santai pun terlontar saat acara pertemuan FPKM kali ini. Acara baru berakhir menjelang sore hari, setelah seluruh peserta mengisi lembaran-lembaran halaman majalah Tengtop (Ditenteng Makin Ngetop) dengan esai seputar ide dan pengalaman menulis.

Mei 2009
Bulan Mei ini diawali dengan kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah Retnowati, karena sinetron FTV karya terbarunya yang berjudul "Cinta Monyet Ala Kingkong" berhasil tayang di SCTV pada awal bulan Mei 2009. Sinetron ini adalah sinetron ketiganya yang diusung oleh rumah produksi Frameritz yang ditayangkan di SCTV. Teman-teman FPKM pun ramai-ramai memberikan selamat dan dukungan kepada Mbak Wahyu Indah yang senantiasa produktif dalam menghasilkan naskah-naskah skenario untuk sinetron FTV di SCTV. Di bulan Mei ini, kegiatan pertemuan rutin Forum Penulis Kota Malang pun kembali digelar seperti biasa, pada hari Minggu, 10 Mei 2009. Bertempat di Gedung Perpustakaan Kota Malang, pertemuan FPKM kali ini mengangkat topik bedah cerpen karya Haryo Bagus Handoko yang berjudul Rona Kehidupan. Cerpen bertema humanisme sosial ini menyoroti kehidupan kaum miskin pinggiran yang hanya bisa bermimpi untuk mengenyam kehidupan yang layak. Cerpen ini mengungkap betapa masih begitu banyak masyarakat di luar sana yang hidup dalam kemiskinan dan ketidakberdayaan. Diskusi dan tanya jawab seputar isi cerpen dan proses kreatif penulisan cerpen ini pun cukup semarak. Seperti biasa acara diakhiri dengan sharing aneka informasi peluang kepenulisan di antara sesama anggota dan pengurus FPKM. Pada tanggal 19 Mei 2009, Mbak Wahyu Indah kembali membawa kabar gembira sehubungan dengan sinetron keempatnya yang tayang di SCTV. Masih dengan dukungan rumah produksi Frameritz, sinetron FTV berjudul "Ramuan Cinta yang Bikin Pusing" berhasil tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV khas karya Mbak Wahyu Indah senantiasa mengusung kisah-kisah unik dengan sisipan humor segar nan jenaka. Sambutan dan dukungan dari teman-teman FPKM kembali disampaikan pada Mbak Wahyu Indah atas kreativitasnya dalam berkarya. Tak berapa lama berselang, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009, FPKM kembali mengadakan pertemuan rutin. Kali ini sebagai pembicara adalah Rio Al Imran (Trio), seorang mahasiswa sekaligus penulis yang membawakan cerpen tulisannya yang berjudul Surat. Cerpen ini cukup unik karena menggunakan diksi yang tidak biasa, serta dengan gaya bercerita layaknya buku harian (diary). Karena cukup unik, maka diskusi pun berlangsung cukup seru. Mas Trio pun berbagi cerita seputar proses kreatif penulisan cerpen yang satu ini. Kritik dan saran pun terlontar dari para peserta diskusi. Pertemuan rutin ini baru diakhiri sore hari setelah diakhiri dengan sharing aneka informasi tips dan tutorial menulis serta berbagai peluang kepenulisan di antara para anggota dan pengurus FPKM. Pada tanggal 21 – 24 Mei 2009, kota Malang kembali disemarakkan oleh Festival Malang Kembali yang merupakan festival seni budaya tempo dulu kota Malang. Berbagai atraksi budaya, sendra tari, festival musik tempo dulu, hingga berbagai konser musik pun digelar dalam memeriahkan acara ini. Festival pasar rakyat dan makanan tradisional serta jajanan khas tempo dulu ala Malang pun dijajakan berderet dalam kios-kios dan stand pameran. Aneka kios pun menjual berbagai cinderamata dan juga mainan anak-anak khas tempo dulu, aneka permen dan gulali tempo dulu, serta aneka jenis kerajinan tangan dan obral busana berbahan batik. Tak lupa digelar pula festival wisata kuliner Malang khas tempo dulu yang menggelar berbagai macam makanan dan jajanan khas Malang tempo dulu, baik yang tradisional, kontemporer hingga yang “east meet west”. Bahkan ada juga kios dan stand buku yang mengobral aneka buku jaman baheula dengan harga cukup terjangkau. Para anggota dan pengurus FPKM pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berbelanja buku dan mencicipi aneka kue dan makanan khas Malang tempo dulu yang dijual dalam festival khas rakyat ini. Bertempat di sepanjang Jalan Raya Ijen, kota Malang, acara festival Malang Tempo Doeloe dipadati oleh ribuan pengunjung yang terus mengalir mulai dari pagi hari hingga malam hari. Tentu saja, dengan mengenakan beragam kostum unik khas tempo dulu, maka ajang festival ini tak ubahnya seperti pesta kostum di hari Helloween atau Valentine, bedanya, para pengunjung yang hadir di sini mengenakan beragam busana tradisional maupun pakaian-pakaian jaman kolonial tempo dulu. Selang beberapa hari setelah berakhirnya festival Malang Tempo Doeloe, pada tanggal 29 Mei 2009, Forum Penulis Kota Malang dengan bekerja sama dengan Perpustakaan Kota Malang, toko buku Toga Mas, Penerbit Kanisius dan radio Mas FM kembali menggelar acara pameran buku Malang Membaca 2009. Bertempat di halaman gedung Perpustakaan Kota Malang, acara pameran dan obral buku ini berlangsung semarak. Dalam sehari pengunjung pameran bisa mencapai lebih dari 1500 pengunjung, karena pameran dibuka sejak pagi hingga malam hari. Untuk memeriahkan acara pameran, digelar pula beberapa event launching buku dan bedah buku, seperti peluncuran buku "Simply Amazing - inspirasi menyentuh bergelimang makna" karya J. Sumardianta pada tanggal 31 Mei 2009, dan juga peluncuran buku berjudul "Negeri Kong Draman - Cerita-Cerita Puisi Kampung Halaman untuk Indonesia" bersama pembicara Ahmad Fikri dan Nanang Suryadi pada hari yang sama. Seperti biasa, acara pameran buku ini pun juga dimeriahkan oleh obral buku super diskon yang diselenggarakan oleh Yusuf Agency yang menawarkan buku-buku bermutu dengan harga sangat miring di bawah harga pasar.

Juni 2009
Bulan Juni 2009 diawali dengan acara pertemuan rutin FPKM yang kali ini diselenggarakan pada minggu pertama bulan ini, yaitu pada hari Minggu siang, tanggal 7 Juni 2009. Acara pertemuan ini berlangsung santai secara lesehan di halaman depan museum Brawijaya Malang yang berumput hijau. Di bawah teduhnya pohon palem, maka acara pertemuan ini pun berlangsung penuh kekeluargaan dengan disemarakkan oleh berbagai camilan dan kudapan. Pembicara dalam acara kali ini adalah Mas Kukuh Widyatmoko, seorang guru pengajar di sebuah sekolah menengah di Malang yang juga anggota FPKM. Materi yang dibawakan cukup menarik, yaitu "Kekerasan di Sekolah - Sebuah Anti Tesis Sistem Pendidikan." Ungkapan rasa keprihatinan akan maraknya tingkat kekerasan yang muncul di dunia pendidikan yang dilakukan oleh kalangan pelajar maupun yang dilakukan oleh pendidik telah menginspirasi Pak Guru yang satu ini untuk menuangkannya dalam sebuah esai yang lebih merupakan tinjauan akademis, psikologi dan juga tinjauan sosial yang patut mendapat sorotan dan perhatian lebih dalam coreng morengnya dunia pendidikan di tanah air. Esai yang menarik ini bisa menjadi kaca benggala bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada agar hasil yang dicapai tidak hanya dilihat dari aspek intelejensia (kecerdasan) tetapi juga menyangkut keseimbangan dan kesehatan mental, akal pikiran dan kecerdasan emosi, sehingga berbagai masalah yang ada tidak dilampiaskan dalam bentuk tindak kekerasan yang sama sekali bertolak belakang dengan dunia pendidikan. Tampaknya itulah yang ingin disampaikan dalam esai singkat bertema dunia pendidikan yang dibahas kali ini. Berselang dua hari sejak pertemuan FPKM pada hari Minggu, komunitas ini kembali disemarakkan oleh kabar gembira yang datang dari Mbak Wahyu Indah yang berhasil melaunching karya sinetron FTV terbarunya yang berhasil tayang di SCTV pada tanggal 8 Juni 2009, Pkl. 23.00 WIB. Sinetron FTV bertajuk "Di Hatiku Ada Emakmu" ini berhasil tayang berkat dukungan dari rumah produksi Frameritz - Jakarta. Sebagai seorang penulis buku religi, penulis novel dan juga penulis skenario sinetron, Mbak Wahyu Indah yang juga merupakan salah satu pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang ini memang sudah beberapa waktu bekerja pada rumah produksi sinetron Frameritz. Bolak balik Malang - Jakarta demi beraktivitas di dunia sastra dan kepenulisan, Mbak yang satu ini cukup produktif dengan berbagai karya sinetronnya. Di Bulan Mei 2009 saja, sudah tercatat 3 buah sinetron FTV karyanya yang tayang di SCTV. Sinetron-sinetron FTV karyanya lebih banyak bercerita mengenai dunia remaja, dengan gaya bahasa yang ringan, alur cerita yang menarik serta dialog-dialognya yang jenaka sehingga cukup menarik untuk ditonton. Mbak Wahyu Indah yang gemar makan roti bakar khas Malang ini, rencananya juga akan melaunching sinetron FTV terbarunya yang berjudul "Roti Bakarku Sayang" yang juga akan segera tayang di SCTV. Makanya rajin-rajin mampir ke mailing listnya FPKM, facebooknya FPKM dan juga ke facebooknya Mbak Wahyu Indah, supaya bisa tahu sinetron apa saja yang akan segera tayang, buah karya Mbak yang satu ini. Pada hari Minggu, 28 Juni 2009, kembali FPKM mengadakan pertemuan rutinnya, kali ini tampil sebagai pembicara adalah Mas Jemmy Sugianto, anggota baru FPKM yang juga adalah seorang penulis, sekaligus seorang trainer. Ia aktif memberikan bimbingan belajar (les privat) kepada para pelajar di berbagai sekolah di kota Malang, selain aktif juga mengurus buletin cetak "Obor Media" yang dibagikannya secara gratis ke berbagai sekolah, perpustakaan, maupun majalah-majalah dinding yang tersebar di kota Malang. Obor Media sendiri adalah koran dinding yang diterbitkan dan diedarkan secara cuma-cuma oleh Komunitas Anak Panah, salah satu komunitas penulis yang juga bekerja sama dengan FPKM dalam membangkitkan minat baca tulis bagi generasi muda di kota Malang. Pada kesempatan kali ini, Mas Jemmy membahas tulisannya yang ada di buletin "Obor Media" yaitu sebuah esai yang berjudul "Tidak Perlu Diketahui". Dalam esai yang menarik ini, dimunculkan sebuah motivasi dan juga pelajaran moral yang menarik, yaitu bahwa sebagai seorang pekerja kreatif, kita tidak perlu pamer akan apa saja karya yang sudah kita hasilkan, yang penting terus berkarya, terus berkreasi dan tidak lupa selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala limpahan karunia, rejeki dan ide-ide kreatif yang melintas di kepala kita. Biarlah dunia yang menilai akan apa saja yang sudah kita hasilkan. Kita tidak membutuhkan kata-kata sanjungan, pujian atau apa pun. Biarlah apa yang kita hasilkan supaya bisa bermanfaat bagi orang lain. Kalau ada kelebihan ilmu, jangan terlalu pelit untuk berbagi, bila ada kelebihan rejeki, ingatlah selalu pada orang lain sesuai kemampuan kita, maka Tuhan pasti akan memudahkan segala langkah dan upaya kita demi meraih kesuksesan yang lebih besar. Bila menolong orang lain dan memudahkan jalan bagi orang lain, maka Tuhan akan semakin memudahkan jalan kita untuk meraih apa yang kita inginkan. Itulah pelajaran moral yang dapat dipetik dalam tulisan esai singkat yang dicetuskan oleh Mas Jemmy Sugianto. Ya, memang. Ilmu memang ada untuk dibagi-bagi, agar setiap orang bisa memperoleh manfaat, jadi sebaiknya ilmu tidak dipendam saja untuk diri sendiri namun disebarluaskan untuk masyarakat luas sehingga akan lebih bermanfaat - sejalan dengan misi dan visi FPKM dalam mencerdaskan bangsa melalui tulisan!

Juli 2009
Bulan Juli 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 12 Juli 2009. Kali ini pemateri pertemuan adalah Mbak Trias Pratiwi yang memunculkan suatu permainan untuk memotivasi ide kreatif menulis dan merangsang imajinasi para anggota FPKM untuk menuliskan sebuah esai maupun tulisan singkat setelah ditunjukkan sebuah gambar pemandangan. Para peserta diberi waktu sekitar 15 menit untuk menuliskan serta menceritakan apa yang dilihatnya. Kemudian masing-masing tulisan peserta dibacakan dan didiskusikan. Ternyata persepsi dan cara pandang masing-masing anggota FPKM bisa berbeda dengan gaya cerita yang unik, walau yang dilihat dan diamati adalah gambar foto pemandangan yang sama. Jadi intinya, setiap pribadi adalah unik, dan setiap penulis adalah unik, dengan ciri khas dan gaya bahasa serta cara bercerita yang bisa berbeda antara satu sama lain dalam menceritakan suatu kejadian atau suatu obyek yang sama. Ketrampilan berolah kata dan berimajinasi itulah yang merupakan sebuah harta karun yang patut terus digali dalam menghasilkan penulis-penulis berbakat asal kota Malang. Acara pertemuan baru diakhiri menjelang sore hari setelah berdiskusi panjang lebar seputar dunia tulis menulis dan juga berbagai tips dan trik seputar menulis. Pada tanggal 26 Juli 2009, pertemuan rutin FPKM kembali digelar. Kali ini sebagai pemateri adalah Haryo Bagus Handoko, yang membeberkan panjang lebar tentang berbagai tips menulis, serta berbagai informasi seputar dunia kepenulisan mulai dari media surat kabar, majalah hingga peluang menerbitkan buku baik secara indie maupun melalui kerjasama dengan berbagai penerbit buku ternama di Indonesia. Acara ini mendapat respon yang cukup baik dari para peserta yang hadir. Pendek kata, banyak anggota FPKM yang kemudian semakin termotivasi untuk menghasilkan karya dan eksis di jagat tulis menulis nusantara. Bahkan beberapa diantaranya sudah mengambil ancang-ancang hendak menulis berbagai tema untuk kemudian diajukan kepada para editor penerbit buku ternama di Indonesia. Yang penting semangat! Dan sebagian besar anggota FPKM mempunyai semangat besar dalam menghasilkan tulisan, kemauan keras ala arek Malang dan juga semangat pantang menyerah! Pendek kata, arek Malang tidak boleh kalah dengan arek-arek Jogja maupun arek Jakarta dalam jagat tulis menulis. Harus semakin banyak lagi para penulis yang berasal dari kota Malang yang akan mewarnai jagat tulis menulis tanah air. Tak berselang berapa lama dari kegiatan motivasi menulis ini, salah satu cerpen anggota FPKM, yaitu Mbak Lutfi Fadila, yang berjudul “The Hunter”, berhasil dimuat di media The Jakarta Post, salah satu media cetak yang cukup ternama di tanah air. Tidak tanggung-tanggung, cerpen berbahasa Inggris yang dikirimkan ke editor The Jakarta Post telah berhasil dimuat di media tersebut dan ditayangkan pula di situs internet/website mereka. Salut buat Mbak Lutfi Fadila yang jago berbahasa Inggris ini. Terus semangat buat para anggota FPKM yang lain, agar segera menyusul mengukir prestasi di jagat menulis tanah air, seperti misalnya Mbak Wahyu Indah yang secara kontinyu menghasilkan karya-karya sinetron FTV yang tayang di SCTV serta novelnya yang diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Ike Puspita Sari yang novel-novelnya diterbitkan oleh Penerbit Gagas Media, Mbak Etty Hentihu yang novelnya diterbitkan oleh Penerbit PuspaSwara, Mas Sidik Nugroho dan Mas Arie Saptaji yang kumpulan cerpennya berhasil diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama dan juga Mas Haryo Bagus Handoko yang bakal segera merilis buku non fiksi keempatnya, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang juga menjadi salah satu kontributor untuk Healthy Life Magazine, Majalah Noor, dan Majalah Clara. Semangat menulis harus terus ditumbuhkan dan dibumbui dengan berbagai keterampilan serta ide kreatif agar tulisan kita senantiasa menarik untuk dibaca, serta bisa dijadikan sebagai sebuah profesi yang tidak boleh dipandang remeh. Berkat bakat tulis menulis ini pulalah, salah satu anggota FPKM, Mas Wawan Eko Yulianto, memperoleh beasiswa Fullbright oleh Pemerintah Amerika Serikat dan saat ini sedang menuntut ilmu gelar S2 di Arkansas, Amerika Serikat, serta Mas Yusli yang seorang dosen memperoleh beasiswa S2 di Universitas Oxford Inggris mendalami bidangnya dalam hal ilmu hubungan internasional. Jadi, ternyata arek Malang tidak kalah dengan arek-arek Jogja ataupun arek Jakarta dalam hal keilmuwan, tulis-menulis dan intelektual!

Agustus 2009
Bulan Agustus 2009 ini dimulai dengan kegiatan pertemuan rutin FPKM pada tanggal 9 Agustus 2009. Pembicara dalam acara pertemuan rutin ini adalah Mbak Lutfi Fadila yang membawakan cerita pendeknya berjudul “Sang Pemburu”. Versi bahasa Inggris dari cerita pendek ini berjudul “The Hunter” yang berhasil dimuat di media “The Jakarta Post”. Namun dalam pertemuan tersebut yang dibahas adalah cerpen versi bahasa Indonesianya yang berjudul “Sang Pemburu”. Cerita pendek ini bercerita tentang kisah malang seorang gadis lulusan universitas yang karena keputusasaannya berniat berburu nasib yang lebih baik dengan menjadi seorang TKW di Malaysia. Namun sialnya ia justru ditipu mentah-mentah oleh perusahaan jasa PJTKI fiktif. Karena frustasi, maka si gadis dalam cerita ini pun akhirnya memilih menikah saja dengan pria yang ia cintai, walau pun ia hanyalah berstatus sebagai istri simpanan. Cerita pendek yang ditulis oleh Mbak Lutfi Fadila ini mencoba mengupas kenyataan pahit dan realitas yang banyak dialami oleh kaum wanita Indonesia yang karena ambisinya untuk mengejar dan memburu mimpi dan nasib yang lebih baik, malah justru berakhir dengan kenyataan pahit. Diskusi mengenai cerpen ini pun berlangsung seru. Para anggota dan pengurus FPKM pun menyoroti dan mengupas cerpen ini dari berbagai aspek. Mulai dari aspek emansipasi wanita dan kesetaraan jender, sempitnya peluang kerja, masalah maraknya outsourcing hingga aspek sosial kemasyarakatan lainnya. Salah satu pengurus FPKM, Mas Yusli yang baru saja pulang dari Inggris menyelesaikan studi S2 di Universitas Exeter juga turut antusias menyoroti kasus cerpen ini dari sudut pandangnya sebagai dosen pengajar hubungan internasional. Wah seru deh pokoknya. Analisisnya sampai ke mana-mana. Diskusi cerpen, jadi mirip debat terbuka dan analisis ilmiah masalah sosial, karena hadir juga di sini salah satu pengurus FPKM yang juga adalah guru pengajar ilmu sosiologi, yaitu Mas Kukuh Widyatmoko. Pokoknya cerpen ini dikupas dari berbagai segi. Benar-benar asyik. Dua minggu kemudian, tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2009, pertemuan FPKM kembali diadakan. Kali ini yang dibahas adalah masalah peluang menulis dan juga diskusi seputar berbagai event lomba menulis yang diinformasikan kepada para anggota FPKM. Informasinya sendiri berasal dari internet, dan seperti biasa, teman-teman pun saling bertukar informasi mengenai hal ini, serta berbagai informasi lainnya mengenai dunia tulis menulis dan jurnalistik. Pertemuan kali ini jauh lebih santai dengan materi ringan karena bertepatan dengan permulaan bulan puasa.

September 2009
Bulan September 2009 yang masuk bulan puasa Romadlon, tidak banyak kegiatan yang dilakukan. Teman-teman FPKM lebih banyak berkonsentrasi untuk menulis karya-karya artikel maupun naskah buku di rumah, ketimbang beraktivitas di luar rumah. Sebagian besar bahkan ada yang sejak awal bulan berlibur ke luar kota mengunjungi sanak saudara, takut tidak kebagian tiket perjalanan bila bepergian dekat dengan hari raya Idul Fitri. Namun demikian pertemuan rutin FPKM tetap digelar, walau sekedar merupakan obrolan santai sesama teman. Maklum saja, energi dan stamina tubuh di bulan puasa agak sedikit menurun dan kita harus pandai-pandai berhemat tenaga. Tapi toh, pertemuan rutin FPKM tetap tidak kehilangan makna dan semangat kekeluargaan. Pertemuan rutin yang digelar pada tanggal 6 September 2009 berlangsung seperti biasa dengan materi seputar dunia kepenulisan dan informasi terkini mengenai peluang-peluang menulis. Walau sedikit yang bisa hadir dalam pertemuan kali ini (karena banyak yang berlibur ke luar kota, dan sebagian lagi sedang asyik dengan proyek penulisan buku dan artikel), namun teman-teman yang datang saat itu tetap semangat dalam berkiprah di dunia tulis menulis dan jurnalisme. Walau dalam kondisi bulan puasa, namun suasana perpustakaan kota Malang tetap ramai dan hiruk pikuk seperti biasa. Tampaknya semangat membaca dan menulis masyarakat kota Malang tidak pernah surut walau di bulan puasa sekali pun. Sebagian teman FPKM bahkan ada yang ikut berbagai lomba dan kompetisi tingkat nasional, mulai dari lomba blog hingga lomba menulis cerita bersambung. Teman-teman FPKM pun mulai sibuk mengumpulkan berbagai materi pendukung baik melalui riset hingga studi pustaka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibuat sebagai materi penulisan blog maupun dalam kompetisi menulis cerita bersambung yang pengumumannya mereka temukan tersebar di internet. Lumayan, untuk ngabuburit mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka puasa. Waktu menulis jadi lebih banyak selama di bulan puasa ini. Jadi bukannya semakin malas, teman-teman malah semakin produktif dalam berkarya. Hitung-hitung, lebih baik menulis untuk melupakan rasa lapar daripada tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Sebagian dari teman-teman FPKM juga mulai mengupdate blog mereka dan menulis berbagai artikel untuk mengisi majalah digital FPKM. Sebagian yang lain memang telah terjadwal untuk menulis mengejar tenggat waktu penulisan artikel yang bakal dimuat di berbagai media majalah dan surat kabar. Namanya juga penulis, maka menulis adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Benar, nggak?

FPKM NEWS

FPKM TETAP AKTIF MENULIS
Pertemuan rutin yang digelar pada tanggal 6 September 2009 berlangsung seperti biasa dengan materi seputar dunia kepenulisan dan informasi terkini mengenai peluang-peluang menulis. Walau sedikit yang bisa hadir dalam pertemuan kali ini (karena banyak yang berlibur ke luar kota, dan sebagian lagi sedang asyik dengan proyek penulisan buku dan artikel), namun teman-teman yang datang saat itu tetap semangat dalam berkiprah di dunia tulis menulis dan jurnalisme. Walau dalam kondisi bulan puasa, namun suasana perpustakaan kota Malang tetap ramai dan hiruk pikuk seperti biasa. Tampaknya semangat membaca dan menulis masyarakat kota Malang tidak pernah surut walau di bulan puasa sekali pun.
Sebagian teman FPKM bahkan ada yang ikut berbagai lomba dan kompetisi tingkat nasional, mulai dari lomba blog hingga lomba menulis cerita bersambung. Teman-teman FPKM pun mulai sibuk mengumpulkan berbagai materi pendukung baik melalui riset hingga studi pustaka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibuat sebagai materi penulisan blog maupun dalam kompetisi menulis cerita bersambung yang pengumumannya mereka temukan tersebar di internet. Lumayan, untuk ngabuburit mengisi waktu sambil menunggu saat berbuka puasa. Waktu menulis jadi lebih banyak selama di bulan puasa ini. Jadi bukannya semakin malas, teman-teman malah semakin produktif dalam berkarya. Hitung-hitung, lebih baik menulis untuk melupakan rasa lapar daripada tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Sebagian dari teman-teman FPKM juga mulai mengupdate blog mereka dan menulis berbagai artikel untuk mengisi majalah digital FPKM. Sebagian yang lain memang telah terjadwal untuk menulis mengejar tenggat waktu penulisan artikel yang bakal dimuat di berbagai media majalah dan surat kabar. Namanya juga penulis, maka menulis adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Benar, nggak?

BEDAH BUKU
Judul : Aku Lelah Menjadi Cantik
Penulis : Koko P. Bhairawa
Pemeriksa Aksara: Fivin Novidha
Penerbit : Hikayat Publishing
Tahun : 2009
Tebal : 86 halaman
Peresensi: Sinta

Cantik. Apa yang terbayang saat kata cantik menerobos ke kepalamu? Sebagian besar pasti membayangkan Perempuan.
Selama ini kata cantik memang selalu identik dengan sosok Hawa. Dengan kerelatifannya, setiap manusia mulai memberi nilai tambah sesuatu yang memiliki kecantikan. Ketika manusia mencintai kecantikan, maka obsesi dan keserakahan akan berusaha melibatkan diri untuk mendapatkan si cantik. Dan ketika tanpa disadari memilih obsesi dan keserakahan, kecantikan pun tak kan lepas dari eksploitasi.
Tokoh Aku dalam cerpen “Aku Lelah Menjadi Cantik” merasakan eksploitasi atas kecantikan yang dia sendiri tak mengerti, atas dasar apa dia diberikan predikat cantik. Kelelahan yang membuat dia kerap merasa “menderita” dengan pemberat telinga, penyangga dada ataupun pandangan mata liar para lelaki.
Penulis semakin memperluas makna cantik dalam kisah-kisahnya yang dituturkan dengan bahasa puitis. Kecantikan alam. Pemilihan Judul “Aku Lelah Menjadi Cantik” sebagai “headline” buku, tidak sekedar karena judul ini sangat provokatif, tapi judul ini sekaligus dapat menggambarkan kelelahan alam yang kecantikannya terus menerus dikeruk dan dieksploitasi keserakahan. Lewat buku ini Koko mem-protes kecantikan pulaunya yang mulai terkoyak. Pulau Bangka-Belitung yang sangat terkenal dengan tambang timahnya, mulai kehabisan nafas. Pengerukan tanpa kendali membuat tanah humus berubah menjadi pasir. Kolong—sumber kebutuhan air-- pun menjadi korban. Air cokelat, tercemar minyak solar yang membunuh spesies penghuni. Dan rusaklah ekosistem.
Tak hanya masalah alam, para sumber daya manusia juga semakin tergiur untuk saling berebut lahan tambang, seorang guru mulai meninggalkan didikannya, para pecocok tanam mulai tak mengindahkan ladangnya. Semua dilakukan demi menghamba kepada uang.
Selain itu, penulis juga menggambarkan masih kentalnya adat istiadat di Tanah timah tersebut. Upacara ceriak atau rateb saman yang dianggap dapat penolak bala, ditampilkan sebagai “solusi” bencana, penderitaan dan ketertindasan masyarakat Bangka-Belitung. Penggunaan bahasa yang puitis, terkadang membuat beberapa kisah butuh dahi yang berkerut untuk menerjemahkannya. Pemakaian kata ganti orang pada cerita “Inilah tempat Ia bermain”, lelaki pertama, kedua, ketiga dan keempat, juga sedikit membingungkan dan tidak nyaman. Yang menarik adalah sebagian besar kisah memiliki kaitan dengan tokoh sentral Atuk Jum, tetua kampung. Tokoh yang sangat dihormati masyarakat. Dan menurut pembaca akan semakin apik jika kisah “Tempat yang Kami Rindukan” yang menggambarkan tentang kegelisahan Atuk atas pengurasan alam menjadi pembuka kumcer dan ditutup dengan kisah kematian Atuk pada cerpen “Atuk Jum”. Kematian yang seakan menjadi puncak lelah pertahanan “cantik”.

BEDAH BUKU
Judul: Rani dan Tiga Harta Peri
Pengarang: Kimberly Morris
Penerjemah: Vina Damajanti
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 108 halaman
Cetakan pertama, April 2009
Peresensi: Sidik Nugroho

Dua peri beda bakat bertemu di suatu hari yang bercuaca buruk. Hujan sedang turun sangat deras. Prilla, peri yang berbakat menyeberang ke daratan dan mengumpulkan tepukan tangan anak-anak, bertemu dengan Rani, peri yang bebakat mengubah air menjadi tampilan apa pun yang menarik dan mendatangkan awan. Keduanya adalah kawan Tinker Bell, peri mungil ternama itu.
Nah, kisah ini tampil dengan Rani sebagai tokoh utama. Bukan hanya itu, kala hujan turun makin deras saat ia bermain-main dengan Prilla, sahabatnya itu, dengan cantik dilukiskan bagaimana Rani mengubah air menjadi mirip "sehelai" benang; dan menghadirkan gaun yang dipenuhi pendar-pendar air serta tiara-air di sekitar tubuh Prilla.
Mereka berdua berada di Pixie Hollow, jantung Never Land yang terkenal itu. Di sana ada Home Tree, tempat banyak peri laki-laki dan perempuan tinggal. Tak seperti yang lainnya, Rani adalah satu-satunya peri yang tak bisa terbang.

Di Home Tree, Rani bukanlah peri yang populer. Ia tinggal di kamar yang "berada paling ujung di cabang terpanjang". Kamarnya itu bocor permanen, tetes-tetes air selalu menggenangi sebuah wadah yang ia letakkan di bawah bocoran itu, hingga beberapa ikan hidup dan dipeliharanya di sana. Ya, ia tak pernah mengeluh, justru bahagia dengan keadaannya itu!
Nah, suatu ketika Rani mendapat kunjungan Dab, bidadari-air yang sedang ingin berlibur dari tugasnya menjaga awan hujan. Betapa Rani senang mulanya ketika tahu ia akan diserahi tugas itu. Ia suka air -- ia tentu suka awan! Namun, betapa ia kaget ketika ia harus menjaga seluruh awan hujan.
Dan, tak sampai di situ saja. Dab akan berhenti dari liburnya menjaga awan bila Rani berhasil menemukan tiga harta yang paling berharga di Pixie Hollow. Dari sinilah kemudian petualangan Rani dan Prilla bermula.
Kisah Rani dan Tiga Harta Peri ini memberikan banyak sekali teladan bagi para pembacanya. Sasaran pembaca dari kisah ini tampaknya anak perempuan berusia 10 tahun ke atas hingga remaja. Narasi yang ditampilkan dalam cerita ini sangat deskriptif dan indah. Dan, yang menarik, semuanya disampaikan tanpa menggurui, namun lewat alur, peristiwa dan karakter masing-masing tokohnya. Cuma satu yang agak disayangkan: tidak ada antagonis yang benar-benar menegangkan konflik dalam kisah ini. Dab, si pembuat masalah yang membuat Rani kelimpungan pun hanya disebut sebagai makhluk yang tidak jahat, tapi nakal.
Akibat tantangan Dab, Rani menemui banyak persoalan, hingga pimpinan peri, Ratu Clarion, memerintahkan seluruh peri di Pixie Hollow mengeluarkan harta-benda mereka yang paling berharga. Semuanya dengan egois menunjukkan bahwa harta-benda yang dimilikinyalah yang paling spesial. Namun, di antara semuanya, tak ada satu pun yang dapat membuat Dab kembali, sehingga Rani kemudian bersedih karena selama beberapa hari ia harus menanggung beban yang berat menjagai awan-awan hujan.
Rani putus asa tak menemukan harta-benda yang menarik di Pixie Hollow. Untunglah ia mempunyai sahabat-sahabat yang baik hati di Pixie Hollow, yang mau mendengarkan dan memahami beban yang menimpa dirinya. Salah satunya adalah seekor burung -- Mother Dove namanya. Dengan penuh kasih sayang Mother Dove memberinya nasihat yang menguatkannya, lalu menuntunnya menemukan harta-harta yang dituntut Dab darinya itu.
"Benda-benda! Siapa yang peduli dengan benda-benda? Semua orang memilikinya. Itu bukanlah harta yang membuat siapa pun iri dan memilikinya!" kata Dab. Harta yang mampu membuat Rani lepas dari bebannya menjaga awan ternyata bukanlah sesuatu yang berwujud benda.
Di akhir kisah, dengan manis diuraikan bahwa harta yang harus disebutkan Rani untuk membawa pulang Dab dari liburannya rupanya sangat sederhana. Tiga harta itu ternyata ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Ya, bukan suatu benda, bukan juga sesuatu yang mahal dan mewah! Dan ketiganya seringkali kita lupakan. Namun, ketiganya, ketika direnungkan dalam-dalam -- ternyata memang sangatlah berharga, walaupun ketiga harta itu tampak seperti bukan harta. Dari ketiganya kita dapat bercermin, merenungi lagi hal-hal yang indah dan harus diutamakan dalam hidup ini.
Dan tentunya, setelah Rani menemukan tiga harta itu, Pixie Hollow kembali bersemi. Hujan didatangkan tepat waktu, segenap peri di Never Land riang gembira. Omong-omong, sebenarnya, apa sih tiga harta berharga itu? Bila penasaran, baca saja seluruh kisahnya ya.

BEDAH BUKU
Judul buku : Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan
Pengarang : Hans J. Daeng
Penerbit : PT. Pustaka Pelajar Offset
Tebal halaman : 341 + xiii halaman
Peresensi : Sismanto

Manusia adalah organisme yang sangat kompleks, dimana secara hirarkisnya didasari oleh latar belakang atau asal usul dari penciptaan manusia itu sendiri. Karena manusia tu mempunyai jiwa fisik, yang mana keduanya mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Menurut Van den Daele pada dasarnya ada dua proses perubahan yang saling bertentangan yang terjadi secara bersamaan selama kehidupan itu berlangsung, yaitu proses perkembangan dan perubahan yang mendasar dari pengaruh internalisasi dan eksternalisasi pada manusia itu sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap tehadap perubahan dalam perkembangan diri manusia itu sendiri antara lain:
1. Penampilan diri
Penampilan diri yang terjadi pada diri manusia terjadi akibat dari pengaruh baik itu dari lingkungan ataupun dalam diri dirinya sendiri, hal ini didasari atas sikap dan perilaku terhadap lawan jenisnya dan juga ingin menunjukkan keindahan, kebolehan dan juga menampilkan apa yang menjadi kelebihan pada dirinya.
Perubahan-perubahan itu akan diterima oleh seseorang bilamana sikap dan perilakunya dipandang baik dan menyenangkan. Sedangkan perubahan-perubahan yang mengurangi penampilannya akan ditolak atau tidak diterima dan secara langsung akan berusaha untuk menutupinya.
2. Perilaku
Manakala perubahan dalam sikap perilaku itu dipandang memalukan atau kurang baik dalam pandangan umum, maka ia harus berusaha untuk merubah sikap tersebut bilamana ia telah dewasa, hal ini akan berpengaruh pada pergaulan dia di masyarakat.
3. Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi mempunyai pengaruh besar terhadap sikap individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan, karena kewenangan dan kewibawaan pada usia muda itu sangat menurun disaat mereka menjelang pensiun. Sikap mereka terhadap pengalaman yang kurang baik itu akan direspon kurang menyenangkan baik di masyaakat ataupun di tempat-tempat lain.
4. Perubahan peranan
Sikap terhadap orang yang berbeda usia dan umur sangatlah dipengaruhi oleh peran yang mereka mainkan, bila peran mereka itu diubah, maka sikapnya akan kurang baik dan tidak merespon atau kurang senang.
5. Stereotip budaya (budaya meniru)
Dalam stereotip ini dipakai untuk menilai manusia, karena bertambahnya usia seseorang akan berpengaruh pada perubahan dan akan mudah untuk meniru-niru apa yang ia lihat dan ia alami dalam kehidupannya.
6. Nilai-nilai budaya
Setiap kebudayaan mempunyai nilai tertentu, yang berkaitan dengan usia-usia yang berbeda. Dalam usia ini ini sangat menyenangkan karena jiwa dan kepribadiannya cenderung bebas berdikaridan ingin mengetahui dirinya sendiri.
Kebudayaan merupakan adalah sebuah konsep yang memiliki varian definisi ditinjau dari sudut pandang apa dan dari mana diintepretasikan. Definisi yang paling menonjol adalah yang dikemukakan oleh Geezt yang menunjuk pada sebuah “sistem simbol” yang berfungsi untuk mengarahkan tingkah laku.
Tulisan Dr. Hans J. Daeng yang merupakan kumpulan tulisan yang ditulis dengan gaya yang mudah dibaca dikelompokkan ke dalam kelompok budaya umum yang melihat kebudayaan pada berbagai masyarakat dan dalam brbeagau bentuk simbol yang menata tingkah laku sosial. Sebagai seorang antropolog Dr. Hans J. Daeng melihat bahwa kebudayaan merupakan faktor yang berpengaruh langsung menata sistem dan struktur sosial.
Persoalan menonjol yang ditunjukkan dalam tulisan Dr. Hans J. Daeng bahwa perubahan itu merupakan hal yang konstan dan memperlihatkan proses dinamis dalam kehidupan suatu masyarakat, misalnya bahwa manusia itu adalah animal historicum yang menyimpan historicumnya sendiri (lihat hlm. 399).
Buku yang ditulis dengan pendekatan antopologis ini mengungkapkan makna yang kompleks dalam variasinya maupun dalam sifatnya yang universal. Dengan kebudayaan tampaknya hidup lebih bermakna dan manusia lebih arif dan bijaksana. Pada akhir tulisan Dr. Hans J. Daeng mengajak pembaca dalam perenungan yang dalam tentang makna hidup manusia dan mangajak untuk menjadi bijak mengikuti dinamika perubahan waktu yang menurut penulis tidak dapat dihindari.
Pada tulisan buku karya Dr. Hans J. Daeng masih belum rinci dalam arti secara konsepsi maupun bahasannya masih bersifat global dan universal. Hal ini dikarenakan terlalu luasnya bahasan dari buku.

BEDAH BUKU
Judul buku: Vajra, Diamond In Every Heart
Penulis: Jenny Jusuf
Editor: Oktaviani HS
Penerbit: Sheila
Cetakan: 2008
Tebal: 144 halaman
Peresensi: Sinta
Buku sederhana yang disusun dengan bahasa yang sederhana. Kumpulan cerpen Mbak yang nge-fans banget dengan hot chocolate ini menampilkan cerita tentang kehidupan, terutama cinta yang hampir 80% berisikan cinta antara pria dan perempuan. Diantara 12 cerpen, ada satu cerpen yang mendapat poin plus dariku, Judulnya Anugerah Terindah. Ceritanya tentang Najwa, gadis penjaga loket tol yang selalu menggerutui nasibnya, kecewa dengan kemiskinannya dan marah dengan ibunya yang pernah menjadi pelacur. Tiba-tiba, dalam keseharian kerjanya muncul pria bernama Dewo, yang setiap jam tertentu selalu membeli tiket tol dan menyapa Najwa dengan ramah. Namun, Najwa jelas-jelas tak menyukai keramahan pria yang selalu mengemudikan BMW Silver ini. Najwa menganggapnya hanya pria kaya iseng yang suka menggoda perempuan. Tapi anggapan itu salah total, Dewo tidak seperti yang dia kira. Dan kesalahan fatal itu membuat mata Najwa lebih terbuka dalam memandang kehidupan. Sepanjang aku membaca, tema yang diambil terkesan monoton--dan terasa seperti sinetron--membuat "feel"ku dalam membaca semakin ke belakang semakin mengendor. Tapi sekali lagi, yang membuat buku ini memiliki kekuatan adalah kesederhanaan bahasa. Tidak perlu memeras otak, kita bisa mencerna apa yang ingin disampaikan sang penulis.

BEDAH BUKU
Judul buku: "Sukses Wirausaha Laundry Di Rumah"
Pengarang : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Jumlah halaman : 150 halaman
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Oktober 2009
Situs : http://wirausaha-laundry.blogspot.com

Bisnis laundry sekarang sedang marak ditemui dan tumbuh subur di berbagai pelosok kota hingga ke desa-desa. Mengapa dan bagaimana, hingga semakin banyak masyarakat yang tertarik dan terjun di bisnis ini? Temukan jawabannya dalam buku panduan lengkap tentang seluk beluk bisnis laundry skala rumah tangga ini. Siapa bilang bahwa bisnis laundry cuma bisa dijalankan oleh waralaba asing dalam skala besar? Pandangan seperti ini sama sekali salah kaprah! Siapa pun, termasuk Anda, bisa mengusahakannya di rumah. Keuntungan dalam bisnis ini cukup menggiurkan dan peluang pasarnya terbuka lebar! Berbagai tips, panduan dan wawasan seputar bisnis laundry, mulai dari aspek persiapan, teknis operasional, manajemen pengelolaan, trik pemasaran hingga perhitungan detil analisis usaha bisnis laundry skala rumah tangga, dibahas tuntas dalam buku ini. Tak lupa, Anda pun akan memetik pengetahuan baru tentang aneka tip dan trik jitu untuk menghilangkan berbagai jenis noda membandel maupun berbagai panduan operasional tentang cara penanganan pakaian berdasarkan jenis dan tipe serat kain, cara mencuci mengeringkan hingga cara menyetrika pakaian yang baik. Bahkan disertakan pula aneka tips seputar cara penanganan dan perawatan tas, sepatu, dan karpet. Jadi aspek laundry tidak hanya seputar pakaian saja, tapi juga telah meluas ke jasa pencucian/perawatan tas, sepatu dan karpet. Tak lupa Anda pun akan dibekali dengan pengetahuan akan cara memilih sabun cuci dan penghilang noda yang baik, arti dan makna simbol-simbol laundry, tips memilih mesin cuci dan mesin pengering pakaian, hingga tips untuk memaksimalkan keuntungan dalam berbisnis laundry. Buku ini pun dilengkapi dengan direktori alamat penyedia aneka kebutuhan laundry untuk usaha laundry skala rumah tangga, hingga direktori alamat situs/website penyedia aneka bahan pencuci dan penghilang noda, bila Anda ingin terjun di bisnis dry cleaning yang ramah lingkungan.
Pendek kata, buku ini cukup lengkap mengupas berbagai hal seputar dunia laundry, mulai aspek manajemen bisnis laundry, hingga aneka tips dan trik seputar teknis operasional bisnis laundry. Informasi lengkap seperti ini tentunya akan sangat berguna bagi para praktisi bisnis dan wirausahawan yang ingin terjun di bisnis laundry, maupun masyarakat umum yang ingin tahu lebih banyak seputar kegiatan dan peluang di bisnis ini.

BEDAH BUKU
Judul Buku: Hapus Gelisah dengan Sedekah
Penerbit : Qultum Media
Pengarang: Wahyu Indah Retnowati (anggota FPKM)
Tahun Terbit : 2007

Sedekah merupakah salah satu hukum yang disyariatkan sejak umat yang terdahulu. Jika dipandang berdasarkan teori Islam, sedekah berasal dari kata bahasa Arab shadaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seorang muslim kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata. Sedekah dalam pengertian di atas oleh para fuqaha (ahli fikih) disebuh sadaqah at-tatawwu' (sedekah secara spontan dan sukarela). Sedekah berbeda dengan hadiah, begitu juga dengan zakat.
Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Menafkahkan sebagian yang kita punya dengan mengharapkan keridhoan Allah jauh lebih baik daripada hanya sekedar memberi tanpa arti atau mengharapkan imbalan dari orang lain. Yang demikian itu tidak ikhlas. Dan tidak ada nilainya di mata Allah. Meskipun kita menyedekahkan sebagian yang kita punya kepada orang lain tapi jika mengharapkan imbalan yang muluk-muluk, maka sedekah itu tidak akan ada nilainya di mata Allah. Seperti firman Allah dalam surat di atas yang menyatakan bahwa sebenarnya sedekah itu untuk diri sendiri. Jadi jika sedekah dibarengi dengan keikhlasan karena Allah, maka Allah akan melipatgandakan balasan yang akan diberikannya karena nilai ikhlas itu sendiri sudah dikuadratkan oleh Allah. Tak sedikit yang langsung menerima balasan dari sedekahnya dalam waktu yang sangat singkat. Sebaliknya, jika sedekah karena ada maksud-maksud terntentu atau tidak disertai dengan hati yang ikhlas, berarti ia sudah mengurangi balasan sedekah yang akan diterimanya sehingga akan dikembalikan kepada si pemberi sedekah dengan jumlah yang berkurang dari seharusnya. Bukankah siapa yang menanam, maka dia pula yang akan menuai.
Sedekah yang kedua bukan berupa harta duniawi yang bisa dilihat mata melainkan bisa dilihat dengan hati. Maksud disini adalah berupa kebaikan, memberikan pertolongan, bahkan seulas senyum pun dapat dikategorikan sebagai sedekah.
Kebersamaan yang dirasakan oleh orang yang gemar memberikan sedekah akan membawanya pada suatu kesimpulan bahwa sedekah itu sesuatu yang ajaib dan saat ini ia merasakan sendiri keajaiban itu. Ketenangan hati dan tercukupi kebutuhan pribadinya. Bukan hanya itu, manfaat sedekah juga bisa dirasakan oleh orang lain yang ada di sekitanya. Mereka yang tidak tau apa artinya berbagi atau sekedar tau secara teori akan lebih memahami pentingnya bersedekah. Juga dapat membuka pikiran orang lain bahwa dimanapun manusia berada pastilah membutuhkan bantuan orang lain sehingga termotivasi untuk ikut juga memberi sedekah. Baik langsung saat itu atau di lain waktu dan tempat yang berbeda.
Buku yang mengulas tuntas segala aspek di balik sedekah ini cukup menarik untuk dibaca. Banyak bersedekah akan memberikan ketenangan batin dan jiwa selain bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan. Bagi Anda yang tertarik untuk membaca kisah lengkap dan manfaat dari tindakan bersedekah ini akan lebih baik bila Anda membeli bukunya di toko-toko buku terdekat di kota Anda.

BEDAH BUKU
Judul buku : Manajemen Perpustakaan Digital
Pengarang : Sismanto (anggota FPKM)
Halaman : 140 hlm; 205 mm
Penerbit : Afifa Pustaka
Terbit : Mei 2007
ISBN : 98-99-3242-9-2-0
Peresensi : Lutfi Fadila

Sebuah tantangan yang membuat penulis untuk membuat inovasi strategis secara manajerial maupun operasional guna pemberdayaan dan keberpihakan perpustakaan, dan pada gilirannya berdampak pada peningkatan minat dan kegemaran membaca peserta didik, civitas akademika, masyarakat menuju learning society dan learning community yang merupakan ciri masyarakat maju dan beradab.
Beberapa pengalaman mendasar yang membuat Sismanto terinspirasi menulis buku ini. Pertama, buku ini merupakan pengobat luka atas tidak diterimanya “kajian tentang perpustakaan” sebagai tugas akhir dalam penyelesaian tesisnya. Adapun asbĆ¢b an-nuzĆ»l dari buku ini tidak lepas dari keinginan penulis untuk mengubah paradigma masyarakat, pemerintah, maupun warga sekolah yang menganggap sebelah mata tentang perpustakaan. Kedua, studi banding yang dilakukannya di salah satu SD ternama di Jawa timur merupakan momen penting bagi penulis untuk menemukan ide dan gagasan besar menjadikan perpustakaan digital Madrasah Ibtidaiyah Jenderal Sudirman (MIJS) berbasis teknologi informasi dengan menggunakan program Apache, MySQL, dan PHP dengan bantuan salah seorang programer yang tak lain adalah temannya SMA dan S1. Dan ketiga, langkanya buku-buku yang membahas tentang perpustakaan sekolah yang berasal dari pengalaman pribadi yang kemudian ditulis dan diberdayakan sehingga memberikan sumbagsih dalam perkembangan perpustakaan.
Hampir semua sekolah mengidamkan menerapkan perpustakaan digital dalam pengelolaan perpustakaannya. Namun demikian tidak semua sekolah mampu meakukannya. Dana yang terbatas dan SDM yang rendah ditengarai sebagai faktor dominan ketidakberdayaan sekolah mengelola perpustakaannya secara proporsional apalagi menggunakan perpustakaan digital. Perpustakaan Digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tesebut melalui perangkat digital. Layanan ini diharapkan sinformasi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan cepat, tepat, dan akurat.
Dalam buku ini, Sismanto menyebutkan beberapa istilah yang digunakan untuk mengungkapkan konsep perpustakaan digital seperti perpustakan elektronik, perpustakaan maya, perpustakaan hyper, dan perpustakaan tanpa dinding. Pada dasarnya, perpustakaan digital itu sama saja dengan perpustakaan biasa, hanya saja memakai prosedur kerja berbasis komputer dan sumber informasinya digital. Jaringan informasi semacam internet memberikan kesempatan luas untuk mengakses lembaga yang menyediakan informasi. Jaringan ini berfungsi sebagai perpustakaan yang dinamakan perpustakaan tanpa dinding.
Perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidaklah terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, ruang lingkup koleksinya malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak. Koleksi menekankan pada isi informasi, jenisnya dari dokumen tradisional sampai hasil penelusuran. Perpustakaan ini melayani mesin, manajer informasi, dan pemakai informasi. Semuanya ini demi mendukung manajemen koleksi, menyimpan, pelayanan bantuan penelusuran informasi.
Gagasan perpustakaan digital ini diikuti Kantor Kementerian Riset dan Teknologi dengan program Perpustakaan Digital yang diarahkan memberi kemudahan akses dokumentasi data ilmiah dan teknologi dalam bentuk digital secara terpadu dan lebih dinamis. Upaya ini dilaksanakan untuk mendokumentasikan berbagai produk intelektual seperti tesis, disertasi, laporan penelitian, dan juga publikasi kebijakan. Kelompok sasaran program ini adalah unit dokumentasi dan informasi skala kecil yang ada di kalangan institusi pemerintah, dan juga difokuskan pada lembaga pemerintah dan swasta yang mempunyai informasi spesifik seperti kebun raya, kebun binatang, dan museum.
Sayangnya, pertumbuhan perpustakaan digital masih dilakukan dengan trial and error, sehingga timbul kesan pemborosan dan kesia-siaan. Keadaan seperti ini sebenarnya bisa dikurangi sehingga menekan biaya dan waktu yang tidak perlu, antara lain dengan survei dan studi banding yang kuat. Kajian yang jeli pada ketersambungan dan aksesibilitas yang erat kaitannya dengan infrastruktur informasi akan menghindarkan kita dari kerugian karena investasi besar sia-sia.
Lahirnya perpustakaan digital di Indonesia ini disambut baik para pengelola informasi atau pustakawan. Kebanyakan pustakawan terbuka terhadap perubahan teknologi, tetapi juga masih mengingat fungsi tradisional mereka, yaitu membantu orang untuk mencari informasi, baik dalam bentuk digital atau tercetak. Sosialisasi program perpustakaan digital terhadap para anggota jaringan dan para pengguna itu penting. Dalam hal ini, perlu peningkatan kesadaran akan fungsi utama mereka, yaitu memberikan kemudahan akses pengguna terhadap informasi. Untuk mempermudah akses, pustakawan perlu mendorong pengguna perpustakaan digital untuk melek informasi (information literate). Pengguna perpustakaan yang seperti ini adalah mereka yang sadar kapan memerlukan informasi dan mampu menemukan informasi, mengevaluasinya, dan menggunakan informasi yang dibutuhkannya itu secara efektif dan beretika.
Inilah menariknya buku yang ditulis oleh Sismanto. Buku ini ditulis untuk dibaca oleh kalangan umum, dosen, pustakawan, developer perpustakaan digital, dan masyarakat yang membutuhkan gambaran lebih jelas mengenai langkah-langkah manajemen perpustakaan konservatif, dan manajemen perpustakaan digital. Selain mengungkap bagaimana penerapan manajemen perpustakaan digital yang saat ini sedang marak-maraknya, buku ini juga seolah mengajak soliditas perpustakaan dalam membangun jaringan virtual untuk terus memperjuangkan bahwa masyarakat gemar membaca (reading society) merupakan persyaratan dalam mewujudkan masyarakat gemar belajar (learning society) yang merupakan salah satu ciri masyarakat maju dan beradab.

BEDAH BUKU
Judul Buku : The Other Side of Me
Pengarang : Sidney Sheldon
Penerjemah : Wawan Eko Yulianto (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juni 2007
Tebal : 480 hlm
Peresensi : Lutfi Fadila

“Ada yang bilang bahwa yang diperlukan untuk menjadi penulis sukses adalah kertas, pena, dan keluarga yang tidak harmonis. Aku dibesarkan oleh keluarga semacam itu.” —Sidney Sheldon - Sisi Lain Diriku (hal. 17)

Bagi seorang Sidney Sheldon menghamparkan kertas dan menaburkan goresan pena di atasnya bukanlah persoalan sulit. Meskipun bukan berasal dari benih keluarga penulis, namun minat Sidney akan dunia buku dia dapatkan sejak kecil. Mengenai perkenalannya dengan kertas dan pena ia ingat sebagai kepanjangan dari kebiasaan yang telah diajarkan oleh ibunya untuk mencintai buku. Terbukti, ketika masih berusia sepuluh tahun dia menulis sebuah puisi yang diikutkannya pada lomba puisi di majalah anak-anak. Namun Otto—ayahnya—yang takut melihat anaknya kecewa jika puisi tersebut kalah, mengirimkan puisi tersebut atas nama paman Sidney. Jadilah tulisan pertama Sidney dipublikasikan atas nama Al Marcus.
Di kelas tujuh SD, Sidney memiliki mimpi yang yakin akan dia raih, menyutradarai sebuah pementasan. Kala itu di usia dua belas tahun, Sidney membuat sebuah drama detektif untuk tugas Bahasa Inggris. Seperti layaknya mimpi ketika gurunya meminta dia mementaskan drama tersebut di sekolah. Dengan keyakinannya yang mantap dia menyanggupi tawaran tersebut dan yakin bahwa skenarionya cukup sempurna untuk dinikmati semua orang. Meski karir Sidney tidak langsung terbuka lebar sejak SD, namun dua kunci sukses telah dipegangnya: kertas dan pena.
Justru yang menjadi penekanan utama atas kesuksesan menuai hasil dari taburan tulisannya adalah poin ketiga, keluarga yang tidak harmonis. Maksud dari pernyataannya di atas secara implisit sebagai arti luas dari kerasnya tempaan hidup yang dia jalani hingga turut membentuk berbagai macam karakter dan tulisan yang ia hasilkan.
Keluarga yang tidak harmonis dari pernyataannya diatas bisa dimaksud sebagai pengalaman hidup yang penuh perjuangan. Membicarakan tentang keluarganya, Sidney tidak pernah menganggap keluarganya layaknya keluarga bahagia. Dia besar pada era depresi besar-besaran di Amerika dalam keluarga yang miskin. Ayah ibunya yang sejak awal memiliki pandangan hidup bertolak belakang tak henti-hentinya bertengkar.
Kemiskinan membuat Sidney harus mencicipi kerasnya dunia sejak dini, hidup berpindah dari satu apartemen kecil ke rumah kumuh berikutnya. Dia memutuskan berhenti kuliah dan menyanggupi semua kerja yang bisa ia lakukan untuk menutup uang sewa keluarganya yang sering kali nunggak. Mulai dari juru gantung di tempat penitipan barang di hotel, sales, penyiar, pemegang mesin di pabrik, sampai bekerja di bioskop dia lakukan. Merangkak-rangkak di kota sebesar New York untuk menjadi pencipta lagu, pernah dia alami. Meski akhirnya terjerembab di Hollywood mengawali karir sebagai pembaca naskah dan penulis sinopsis.
Tampak dalam buku ini bahwa pengalaman-pengalamannya berpindah-pindah tempat, menangani berbagai macam pekerjaan, serta menemui berbagai macam orang, menjadi semacam ilmu berharga dalam menciptakan novel, drama, serta film. Menyadari betapa pentingnya sebuah pengalaman, Sidney tidak akan memulai sebuah novel tanpa melakukan riset mendalam tentang obyek yang sedang dia tulis. Ketika ke Athena, demi novel The Other Side of Midnight, dia dan istrinya terpaksa ditahan karena menanyakan bagaimana cara meledakkan mobil kepada seorang polisi.
Dalam kesempatan ini, Sidney Sheldon menuangkan kisah hidupnya yang penuh liku serta perjuangan dalam sebuah memoar yang ditulis dalam bentuk novel apik. Layaknya sebuah novel, Sidney mengajak serta pembaca ikut larut dalam ketegangan-ketegangan perjalanan hidupnya dengan alur-alur yang tidak terduga. Humor-humor satir yang menjadi ciri khasnya dalam menyampaikan protes menanamkan kegetiran pada pembaca sekaligus menandai adanya tekad dalam diri penulis.
Buku ini meski menceritakan keberhasilan seorang penulis namun di dalamnya tidak ada kiat-kiat langsung bagi seorang penulis pemula tentang bagaimana caranya menggali ide atau menjebol kebuntuan menulis. Yang tersaji di situ adalah sebuah kisah beratnya perjuangan seorang penulis dari dasar tangga Hollywood hingga tangga teratas Amerika dalam roman detektif. Meskipun begitu, Sidney Sheldon berusaha mengajari kita apa arti mimpi dan bagaimana impian harus selalu diperjuangkan.
Manik depresi atau yang lebih dikenal dengan sindrom bipolar adalah suatu penyimpangan otak yang menyebabkan suasana hati seseorang berubah-ubah dari euforia menjadi perasaan putus asa. Dua juta warga Amerika—satu dari sepuluh keluarga—mengidap bipolar. Untuk sebab yang tak bisa dimengerti, gangguan psikologi ini lebih banyak menyerang para seniman. Vincent Van Gogh, Herman Melville, Edgar Allan Poe, Virginia Woolf, adalah beberapa penderita yang cukup tertekan menghadapi peristiwa-peristiwa mania dalam hidup mereka hingga memutuskan mengakhiri semuanya dengan bunuh diri.
Sidney Sheldon yang juga terjerembab dalam dunia sastra, oleh psikolognya diagnosis sebagai penderita bipolar. Yang membedakannya dengan para seniman yang menderita penyakit sama, Sidney masih bertahan hingga ultahnya ke-88 dan menuturkan kisah hidupnya. Dalam memoarnya —Sisi Lain Diriku—penulis naskah, sutradara, dan novelis ini mengungkap semua penderitaan yang dihadapinya semasa kecil dan selalu membayangi langkah-langkahnya menuju puncak tertinggi dunia.
Sidney terlahir sebagai Sidney Schechtel di Chicago menjelang era depresi berat di Amerika, sekitar tahun 1930an. Besar dalam keluarga miskin di era krisis ekonomi tampaknya membuat sisi lain dirinya tidak bahagia. Mendengar pertengkaran-pertengkaran orang tuanya, berpindah-pindah tempat tinggal dan sekolah serta hidup serba kekurangan membuatnya harus menghapus mimpi-mimpinya semasa kecil, menjadi penulis dan sutradara. Bahkan, dia harus rela meninggalkan kuliah sastra yang selalu diidamkannya untuk menjadi pekerja rendahan di tiga perusahaan demi menopang hidup keluarganya.
Dua puluh tahun pertama hidup Sidney adalah masa-masa yang cukup berat dan menimbulkan gelombang depresi dalam dirinya memuncak. Ada saat-saat ketika segala sesuatu sangat menekan dan membuatnya putus asa. “Dunia suram. Aku telah sampai pada puncak keputus-asaanku. Aku merasa tersingkir dan tersesat. Aku merana dan setengah mati merindukan sesuatu yang tak kuketahui dan tak bisa kusebut.” (hal. 11)
Di waktu lain saat dia seharusnya merasa bahagia, riak pesimisme menggelayuti hati dan membuatnya terpuruk kembali. Sebagai seorang yang juga dikaruniai setitik bakat sebagai penggubah lagu, Sidney pernah hampir dikontrak Max Rich, seorang manajer musik. Namun kekalutan hati yang tidak berdasar, membuatnya ragu akan keberuntungannya dan membuyarkan angan-angannya sebagai pencipta lagu. “Pada pukul sepuluh pagi, ketika Max Rich sedang menunggu untuk berkolaborasi denganku di kantornya di Gedung Brill, aku sudah berada di bus Greyhound, kembali menuju Chicago.” (hal. 92)
Di usia tujuh belas tahun, Sidney menemukan kesempatan emas untuk menutup kisah kesengsaraan yang mendera batinnya. Dia sedang bekerja sebagai kurir di sebuah Apotek, tempat yang cukup bagus untuk mencuri obat tidur tanpa ketahuan. Dan dia mendapati hari Sabtu yang tenang tanpa ada siapapun di rumah yang akan melarangnya menegak segenggam pil tidur bersama wiski, konsumsi yang sangat mematikan. Hari itu menjadi titik balik bagi hidupnya ketika sang ayah memergoki dan menyadarkan Sidney bahwa halaman novel hidupnya masih terlalu tipis untuk ditutup sesegera itu.
Memasuki dunia penulis skenario drama Broadway dan penulis naskah film sekaligus sutradara Hollywood, Sidney masih merasakan naik turun mood yang tak jelas sebabnya. Suatu saat dia merasakan gembira berlebih tanpa alasan dan merasa tertekan pada saat segalanya baik-baik saja. Suatu keberuntungan bahwa dia adalah seorang penulis jenius yang sering mendapati kegagalan pada titik tidak berarti dan memiliki keluarga sekaligus teman-teman yang solid untuk mengangkatnya sewaktu jatuh. Sehingga hal tersebut mengurangi suasana depresi berlebih yang menghantuinya dan meredam keinginan untuk bunuh diri pada level terendah.
Sisi Lain Diriku merupakan sebuah penjelmaan kisah Chicken Soup for Writer’s Soul dalam versi novel. Di dalamnya, Sidney Sheldon berusaha mengajarkan pada kita apa arti mimpi dan bagaimana impian harus selalu diperjuangkan. Sebagai seorang pencerita yang telah sukses dengan 18 novel dan 25 lebih skenario film, dia mengungkapkan beratnya perjuangan seorang penulis dari dasar tangga Hollywood hingga puncak teratas, bukanlah apa-apa dibanding hasil yang dicapainya.
Sebagai memoar, buku ini terlalu datar penceritaannya, sangat berbeda jika dibandingkan dengan novel-novel garapannya yang penuh peristiwa mendebarkan dan sulit ditebak. Selepas halaman 237, pembaca mungkin akan merasa sedikit bosan dengan sepak terjangnya dalam industri Hollywood yang menjadi latar keberhasilan Sidney. Namun di sisi lain, secara implisit pembaca dapat mempelajari bagaimana pekerjaan demi pekerjaan yang dia terima di Hollywood dapat menghindarkannya dari perasaan depresi berlebih, terutama karena patah hati dengan aktris-aktris cantik yang pernah dia kencani.
Bagi siapa saja yang merasa sebagai pekerja seni, sebelum terlambat, tidak ada ruginya mempelajari kisah hidup Sidney Sheldon dalam memerangi sindrom bipolar yang membayangi hidupnya.

BEDAH BUKU
Judul buku: “Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima”
Pengarang: Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama (http://www.gramedia.com)
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Jumlah halaman: 126 halaman
Profil buku: http://pachypodium-indonesia.blogspot.com

Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis
Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an. Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini. Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18. Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi. Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan. Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.
Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.
Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem. Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar. Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium. Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.
Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan. Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru. Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium. Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika. Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika. Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos. Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.
Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun. Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut. Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium = kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya. Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif. Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite). Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu). Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik. Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan. Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India). Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah. Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah. Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang. Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar. Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang. Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia. Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana. Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi. Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu. Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia. Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.
Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia. Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika. Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp). Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar. Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii. Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii. Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika. Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen. Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus. Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah. Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi.
Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi. Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air. Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias. Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga. Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain. Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan. Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia.

BEDAH BUKU
Judul buku : "Peta 50 Tempat Jajanan & Oleh-Oleh Khas di Malang"
Pengarang : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 116 halaman
Tahun terbit : Cetakan pertama, Februari 2009
Profil buku : http://wisatakulinermalang.blogspot.com

Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang. Namun sayangnya, dari sekian banyak liputan yang ada, belum pernah ada yang mengupas secara detil aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang sedemikian lengkap seperti halnya yang bisa Anda baca dalam buku ini.
Ulasan yang Anda jumpai dalam buku ini cukup menarik, lugas, dan detil, mulai dari sejarah berdirinya kota Malang, riwayat asal mula aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang, denah lokasi usaha yang berjualan jajanan dan oleh-oleh khas Malang, harga retail jajanan dan oleh-oleh, dan bahkan sampai dengan ulasan singkat tentang bahan dan cara pembuatan beberapa jajanan dan oleh-oleh khas Malang. Agar tampil cantik dan menarik, sebuah buku wisata kuliner tentunya harus pula disertai dengan ilustrasi foto apik yang dapat memberikan gambaran bagi para pembacanya, demikian pula dengan buku ini. Anda akan bisa menjumpai begitu banyak foto ilustrasi aneka jajanan dan oleh-oleh khas Malang yang mengundang selera. Aneka tempat jajanan dan oleh-oleh di Malang bisa Anda baca ulasannya dalam buku ini, mulai dari yang bercitarasa tempo dulu/legendaris, yang tradisional, kontemporer hingga yang bercitarasa modern dan kaya inovasi. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka jajanan, kue-kue, serta camilan nan lezat lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?

BEDAH BUKU
Judul buku : "Peta 50 Tempat Makan Makanan Favorit di Malang"
Pengarang : Haryo Bagus Handoko (anggota FPKM)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 136 halaman
Tahun terbit : Cetakan pertama, Maret 2009
Profil buku : http://wisatakulinermalang.blogspot.com

Kota Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang memiliki banyak potensi, antara lain adalah potensi pariwisata. Kota yang berpenduduk hampir satu juta jiwa ini dikenal sangat kaya akan cita rasa pendidikan, kebudayaan, seni, dan juga pesona kulinernya. Tak heran kota yang satu ini menjadi tujuan wisata baik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Kota yang berhawa sejuk ini bahkan namanya cukup dikenal di benua Eropa, khususnya di negeri Belanda. Maklum saja, di jaman penjajahan Belanda dulu, tata kota Malang didesain oleh arsitek Belanda, dan dibangun dengan tujuan sebagai kota peristirahatan, kota hiburan dan pariwisata bagi para petinggi Belanda. Penduduk kota ini sejak dahulu dikenal sangat plural dan datang dari beragam latar belakang sosial, suku bangsa dan berbagai etnis. Keberagaman itu justru memperkaya khasanah budaya dalam segala bidang. Akulturasi budaya dan peleburan berbagai budaya yang ada justru menjadi aset unggulan tersendiri bagi daya tarik pariwisata kota Malang, khususnya dalam bidang kuliner. Perbendaharaan kuliner di kota ini sangat kaya dan beragam. Aneka masakan favorit khas Malang yang merupakan perpaduan seni kuliner Jawa, Sumatra, Madura, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Eropa bisa ditemukan dengan mudah di kota ini. Dengan berbagai penyesuaian dengan lidah lokal serta beragam inovasi, aneka mahakarya kuliner nan lezat bisa dijumpai di Malang, dengan harga yang murah dan terjangkau. Tak heran, pesona wisata kuliner di Malang telah menjadi perhatian tidak hanya di lingkup nasional, namun juga menjadi perhatian masyarakat dunia. Beberapa majalah pariwisata asing tercatat pernah meliput pesona pariwisata Malang.
Dalam buku ini akan dibahas secara tuntas beragam jenis masakan dan minuman khas kota Malang, tempat-tempat makan makanan favorit di Malang, lengkap dengan alamat dan denah lokasi, harga makanan dan minuman, hingga ulasan singkat tentang bahan dan cara memasak serta penyajian masakan. Diperkaya dengan ilustrasi foto-foto yang cantik dan membangkitkan selera makan, siapa yang tidak ingin mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang terkenal berporsi besar, berharga murah lagi terjangkau. Makan kenyang dengan porsi besar tidak harus merogoh kocek dalam-dalam, karena di Malang ada puluhan tempat makan yang menawarkan beragam jenis masakan bercitarasa lezat nan unik, cara penyajian yang menarik serta tempat makan yang nyaman, mulai dari yang legendaris, tradisional, kontemporer, hingga yang modern dan berkelas. Semuanya menawarkan beragam inovasi kuliner yang mengundang selera serta harga makanan yang cukup kompetitif lagi terjangkau. Pendek kata, buku ini akan membuat Anda tergoda untuk datang ke kota Malang dan mencicipi aneka masakan dan makanan favorit khas Malang yang lezat, lengkap dengan beragam minuman unik yang tersebar di seluruh pelosok Malang raya. Bahkan walikota Malang sendiri, Bpk. Drs. Peni Suparto, M.AP, juga berkenan memberikan kata sambutan dan pengantar di halaman awal buku wisata kuliner ini. Penasaran? Mengapa tidak langsung saja membeli buku ini di toko-toko buku terdekat di kota Anda dan bergegas berkunjung serta berwisata di kota Malang?

BEDAH BUKU
Judul Buku : Soulmate to Find
Pengarang : Etty Afiyanti Hentihu (anggota FPKM)
Penerbit : Puspa Swara
Cetakan ke I : 2006
Tebal : 136 hlm

“Do you want to marry me?”
Wanita mana yang tidak akan tergetar hatinya mendengar sebuah lamaran tulus yang terucap dari mulut seorang pria? Fatima Az-Zahrah binti Muhammad tersipu malu-malu dengan pipi semerbak memerah ketika datang pinangan dari pemuda Ali bin Abi Thalib. Meski tanpa mengatakan “ya”, sang ayahandapun mengerti isyarat perilaku putrinya tercinta.
Setiap wanita normalpun akan selalu mendamba pasangan jiwanya, seseorang yang datang melamar dan akan menjadi pendamping hidup setianya hingga ajal tiba. Namun pertanyaan yang mengiringinya adalah, seseorang yang bagaimanakah pasangan jiwa sejatiku itu? Pertanyaan tentang sosok pasangan jiwa sejati menjadi masalah serius bagi Farah, seorang lulusan teknik elektro yang bekerja keroyokan bersama teman-teman prianya mendirikan sebuah toko komputer. Romy, kekasihnya yang telah dua tahun menjalin hubungan dengannya, tiba-tiba mengajukan kata-kata romantis, yang mungkin mampu membuat wanita manapun seakan terbang ke awang-awang. Namun, efek lamaran Romy tidak berpengaruh sedahsyat itu terhadap Farah. Dia hanya terdiam dan berharap dalam hati Romy tidak pernah mengutarakan kalimat itu.
Sebenarnya di mata Farah, Romy adalah sosok pemuda yang cukup keren. Selain memiliki postur pilot yang gagah, wajah Romy juga tidak mengecewakan. Hanya sedikit masalah yang mengganjal hati Farah, pemuda itu kurang bisa berinisiatif sendiri. Kekurangan Romy tersebut membuat Farah sering kali jengkel, apalagi ketika datang saat segala sesuatu harus dia yang memutuskan. Bagi Farah, Romy terlalu kalem dan penurut, berbeda dengan dirinya yang ceriwis dan selalu blak-blakan.
Buku dengan kaver bernuansa coklat ini merupakan novel perdana penulis asal kota sejuk Malang, Etty Afiyati Hentihu atau populer dengan nama pena Fiya. Meskipun masih melahirkan satu novel, namun aktivitas Fiya dalam bidang tulis menulis tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebelum melepaskan sebuah novel ke toko buku, beberapa cerita pendeknya telah hadir di majalah. Salah satu cerpennya pernah dibukukan bersama beberapa penulis berbakat lainnya dalam “Opera Zaman”, antologi cerpen Komunitas Merapi.
Dengan memakai gaya bahasa populer, Fiya sangat lancar menuturkan kisah pergulatan hidup Farah dalam perjuangannya menemukan arti kata “cinta sejati”. Cinta sejati bagi sebagian dari kita, mungkin sangat sulit ditemukan. Bukan karena tidak pandai dalam menggapainya, namun karena kita sendiri belum menyadari bahwa cinta sejati yang sedang dicari sebenarnya telah hadir di sisi kita masing-masing. Sebagai manusia yang tidak luput dari alpa, sering kali kita dilanda bingung dan gelisah akan masa depan; karir dan cinta. Padahal sejak jaman azzali, Dia Yang Maha Pemberi Hidup telah menuliskan perjalanan hidup masing-masing manusia. Lantas, dikala keresahan hati merajam, kemanakah patutnya kita kembali? Dan jika pertanyaan tentang cinta sejati terus membayangi, masihkah pantas kita tetap berputus asa mencari jawabannya?
Dalam sebuah novela yang cukup ringan dalam hal bentuk dan isinya, pengarang mencoba mengingatkan kita kembali agar selalu mengingat akan hakekat cinta sejati. Dengan sindiran halus melalui tokoh protagonis, Farah, Fiya menunjukkan betapa manusia sangat lemah jika hanya berpatokan pada duniawiah semata. Kebimbangan Farah atas lamaran Romy tidak berhenti hanya pada penilaian perbedaan kepribadian, namun mulai menjalar pada penilaian fisik. Setelah Farah berkenalan dengan seorang pemuda dari Pakistan, Raizmed, melalui dunia maya internet, Farah mulai membandingkan ketampanan kedua pemuda itu. Itulah sebuah gambaran kenaifan yang dimiliki setiap manusia dalam memilih pasangan hidupnya. Padahal Rasul SAW berpesan, “Pilihlah seorang laki-laki atau perempuan berdasarkan wajahnya, kedudukannya, dan hartanya. Namun yang paling baik bagimu, pilihlah dia berdasarkan agamanya.”
Untuk sebuah novel, yang istilahnya baru “lahir”, tentu saja ada beberapa hal yang masih perlu diperbaiki. Terutama pada soal pendeskripsian. Penulis sangat minim dalam memberikan pemaparan setting, sehingga unsur estetika sebuah novel terasa kurang lengkap. Penulis terkesan tergesa-gesa untuk menyelesaikan novel. Pembaca langsung disuguhi dengan segala macam masalah yang dihadapi para tokoh, tanpa digiring sejenak untuk mengambil jeda dalam meresapi satu persatu masalah yang timbul dari perbuatan sang tokoh utama. Terlepas dari penilaian subyektif atas kurangnya nilai estetika sebuah novel, cerita yang disuguhkan disini sarat dengan pesan moral dan relijius. Pembaca juga dapat memetik pelajaran tentang nilai sebuah persahabatan yang terangkai dalam kisah hidup Farah dan Astri. Jadi, jangan lewatkan novel Soulmate to Find sebagai teman pencarian pasangan jiwa Anda dengan sudut pandang yang berbeda.

BEDAH BUKU
Judul Buku : I’m Somebody Else
Penulis : Ade Kumalasari (anggota FPKM)
Halaman : 162 halaman
Penerbit : Katakita
Terbit : Mei 2005
Peresensi : Wahyu Indah Retnowati

Mendengar judulnya saja sepertinya terdengar begitu asyik karena pasti mengenai perdebatan tokoh cerita dengan dirinya sendiri. Semacam be your self gitu. Namun, novel perdana garapan cewek cakep berkulit putih asal Magelang ini menghadirkan nuansa yang berbeda dalam pergulatan sikap tokoh-tokohnya. Novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang superstar muda yang mempertahankan privasi banget dan berusaha mati-matian agar dirinya dianggap sebagai orang biasa dan tidak terlalu diagung-agungkan oleh fansnya ini mengajarkan kita untuk selalu low profile sama segala sesuatu yang kita dapat. Penulis mencoba menyampaikan kepada pembaca bahwa seorang public figure atau artis juga manusia biasa yang punya hak untuk suka dan tidak suka dengan apa yang dihadapinya. Kehidupan si tokoh utama, Alena yang tumbuh tanpa bimbingan seorang mama membuatnya manja dengan segala keinginan yang harus dituruti. Tapi tipe cewek manja yang gak nyebelin melainkan disayang sama semua orang ini teguh pendirian. Lihat saja bagimana seorang Alena akhirnya mampu mengatasi dunia luar keartisannya dengan segala keberaniannya pergi berpetualang. Alena sanggup mengatasi diri sendiri tanpa harus membuka privasinya ke orang lain bahkan kepada sahabat dekatnya sendiri dan juga tanpa melibatkan banyak orang. Ini patut dijadikan contoh buat kita-kita.
Novel setebal 162 halaman terbitan katakita ini patut untuk dibaca karena mengandung banyak hal yang bisa dipetik. Gaya bahasa yang digunakan simple dan trendy, mengikuti trend gaulnya remaja masa kini. So, buat kaum remaja yang baca novel ini dijamin gak bakalan boring dech. Alur ceritanya mengalun lambat tapi pasti. Meskipun jika disimak lebih seksama konflik yang disajikan kurang greget, tapi jalan ceritanya masih bisa terasa. Ini dapat dilihat dari sikap Aska yang fine-fine aja setelah tau maksud Alena menciumnya di apartemen pemberian papa Alena. Tak ada konflik memuncak, setidaknya yang membuat pembaca lebih waaah. Tapi penulis hanya menuturkan kepergian Aska begitu saja. Juga tentang Broedin yang mengetahui identitas Alena sejak awal ketika kuliah di Jogja. Tak ada pertarungan hebat yang bisa membuat pembaca bertanya-tanya apa yang akan terjadi nantinya. Pembaca yang menduga bakalan terjadi perang seru antara Alena dan Broedin ternyata berakhir dengan kata “oooo, begitu ya.”
But, this is no problem. Banyak kok yang bisa dijadikan pelajaran dari kisah ini. Apalagi romance cinta yang dihadirkan mengharu biru banget. Ada unsur kesetiaan, rasa sayang seolah sang penulis ingin berkata “marah itu bukan berarti benci, tapi sayang.” Gitu kali ya. Ada sikap optimis si tokoh utama dalam meraih apa yang diinginkannya. Setiap orang pasti mempunyai sesuatu hal yang sangat privasi yang cuman diri kita sendiri yang berhak tau. Novel ini sarat komitmen banget buat kita yang pengen memandang privasi sebagai bagian maha penting dari diri sendiri. Tapi tidak meninggalkan kesan kuper dan jayus abis. Bahkan penulis berhasil membuat kesan supel dan berwawasan luas. Tentunya dengan privasi sebagai pedoman dari sikap tokoh-tokohnya. Novel ini juga memberikan kita pembelajaran bahwa ketenaran dan kesuksesan seseorang tidak selalu harus disembunyikan hanya karena ketakutan yang terlalu hiperbola seperti yang dirasakan Alena. Sikap Broedin dalam kisah ini juga seakan memberitahu pembaca bahwa setiap orang itu berhak untuk diperlakukan sama. Tak ada jurang pemisah antara si kaya, si miskin, terkenal, gak terkenal, familiar, kuper. Semuanya sama kalau kita memandang sesuatu dari persamaan, bukan perbedaan.
Pokoknya novel ini seru abis dech. Ending ceritanya juga dibuat romance dengan bertemunya kembali Aska dan Alena yang gak pernah diduga sebelumnya bahkan oleh pembaca sekalipun. Rugi banget kalau gak baca novel ini, dan kayaknya harus masuk dalam daftar buku kamu dech. Salut banget buat mbak Mala yang bisa membuat tokoh dalam novel ini benar-benar……HIDUP.

BEDAH BUKU
Judul Novel : Di Antara Orang-Orang Yang Berthawaf
Pengarang : Haji Ahmad Muhaimin (anggota FPKM dan Forum Pelangi)
Penerbit : Pustaka Kayu Tangan, Malang
Tahun Terbit : 2007
Tebal Buku : 225 halaman
Peresensi : Haryo Bagus Handoko

Novel Islami yang satu ini cukup menarik untuk dibaca. Dengan mengambil setting kota Mataram dan obyek-obyek wisata di pulau Lombok yang belum banyak disorot, novel ini mencoba mengetengahkan suasana lain, sebuah romansa cinta bernuansa Islami. Manusia bisa berkehendak, namun Tuhan jugalah yang menentukan perjodohan manusia. Kesucian cinta dua insan manusia dipertemukan kembali oleh Tuhan di sebuah kota suci, Mekah, ribuan mil jauhnya dari tanah air di mana mereka sempat dipisahkan oleh nasib. Walau beberapa tahun telah berlalu, namun akhirnya cinta suci mereka dipersatukan oleh Tuhan saat mereka melaksanakan perjalanan suci ke kota Mekah. Novel indah ini merupakan buku fiksi pertama buah karya Haji Ahmad Muhaimin yang merupakan seorang penulis sekaligus dosen. Novelis ini sebelumnya juga telah menuliskan berbagai buku bertema ilmu teknik kelistrikan sesuai dengan bidang keilmuwan beliau. Haji Ahmad Muhaimin juga merupakan salah satu penulis yang tergabung dalam komunitas penulis Forum Pelangi di kota Malang, di bawah bimbingan novelis kawakan Ratna Indraswari Ibrahim. Dengan mengusung nama penerbit Pustaka Kayutangan yang juga merupakan toko buku milik Ratna Indraswari Ibrahim, buku novel ini jelas telah melewati seleksi kualitas oleh Mbak Ratna Indraswari Ibrahim sendiri yang berperan sebagai penasehat sekaligus penyunting buku novel ini.

BEDAH BUKU
Judul novel: Always in my heart
Pengarang : Ike Puspitasari (anggota FPKM)
Penerbit : Penerbit Cupid

Saat usianya dua belas tahun, Lulu jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan seorang cowok. Tak sengaja cowok itu menjatuhkan kalungnya dan ditemukan oleh Lulu. Kalung perak berliontin R. Saat akan dikembalikan, ternyata cowok itu sudah pindah.
Lulu sangat sedih karena “pangeran cinta”-nya telah pergi tak tahu kemana, bahkan namanya saja Lulu tidak tahu. Entah apakah mereka bisa bertemu lagi.
Enam tahun kemudian, Lulu pergi dari Surabaya ke Jakarta untuk berkuliah. Dia bertemu dengan Nova (sobat lamanya), si kembar yang tampan : Rasya dan Mario, juga Dafa yang tidak pernah akur dengannya.
Lulu mengira Rasya adalah pemilik kalung perak berliontin R itu. Lulu ingin mengutarakan isi hatinya, tapi ternyata Rasya sudah memiliki teman dekat bernama Yola.
Apakah benar Rasya pemilik kalung itu? Jika benar Rasya pemiliknya, apakah Lulu berhasil mengutarakan isi hatinya? Dan apakah Rasya menerima cinta Lulu?. Penasaran? Temukan sendiri jawabannya...

BEDAH BUKU
Judul novel: Preman Kecoak vs Ninja Cantik
Pengarang : Ike Puspitasari (anggota FPKM)
Penerbit : Penerbit GagasMedia

Dika, siswa kelas XI SMU ini sering disebut preman sekolah. Dia tuh sok banget, suka malakin orang, suka ngancem dan pengen jadi yang terhebat dalam segala hal, kecuali dalam hal pelajaran, hihihi…
Hyori, siswi pertukaran pelajar dari Jepang ini ternyata keturunan dari keluarga ninja dari era Tokugawa. Dia sering bantuin siswa-siswi yang ditindas ama Dika.
Tentu aja Dika jadi sebel banget ama Hyori. Saking sebelnya sampe-sampe Dika pengen cium tuh cewek. Dimana ada Dika ama Hyori, disitu pasti ada keributan.
Suatu ketika, Dika tahu kelemahan Hyori. Ternyata tuh cewek takut banget ama yang namanya kecoa!! Jadi Dika selalu nyiapin kecoa di sakunya buat ngancem Hyori. Ngancem buat apa? Tentu aja biar Hyori mau bantuin Dika dapetin nilai bagus, soalnya Dika pengen naek kelas tahun ini.

BEDAH BUKU
Judul: Warrior, Sepatu untuk Sahabat
Penulis: Arie Saptaji Wahyu Widodo (anggota FPKM)
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 186 halaman
Peresensi: Sidik Nugroho

Bila Anda menyukai Children of Heaven, film Iran besutan sutradara Majid Majidi, kemungkinan besar Anda akan menyukai Warrior. Bila Children of Heaven berkisah tentang lomba lari, maka Warrior berkisah tentang lomba gerak jalan. Dua-duanya tertutur bersahaja. Dua-duanya tentang sepatu usang layak buang. Dua-duanya beralur cerita sederhana. Keluarga yang terkisah di dalam keduanya adalah keluarga yang tampak biasa menderita, seperti yang tertampil pula dalam sinetron Keluarga Cemara karya Arswendo Atmowiloto.
Sri Suryani, anak seorang janda yang bekerja sebagai pembuat lopis dan pekerja serabutan, suatu ketika gembira sekaligus sedih ketika namanya tersebut sebagai salah satu peserta lomba gerak jalan di SMP Negeri Ngadirejo. Gembira karena terpilih, sedih karena sepatunya yang bermerek Bibos kini sudah berlubang: menampakkan ujung jari kelingkingnya. Kesedihan ini membuatnya memikirkan beberapa alternatif untuk mencari sepatu baru merek Warrior yang ngetren waktu itu: menabung, meminta ibu (yang dipanggilnya "simbok"), atau meminjam teman. Ketiganya tidak mungkin. Alternatif pertama dan kedua jelas karena alasan ekonomi. Yang ketiga? Suatu ketika simboknya pernah meminjam kain milik tetangga, yang kemudian terbakar seterika. Kepada tetangga itu simbok berjanji mau mengganti, namun si tetangga menyatakan itu kain dari Jakarta. Menggantinya sampai harus membeli di Jakarta? Mana mampu simbok. Malu dia bila meminjam.
Di luar tiga alternatif itu, tak terduga, Sri justru mendapat pekerjaan! Ibu Lisa, sahabat Sri, terkesan dengan kemampuan Sri membuat kue. Ya, bakat turunan! Celengan ayam Sri pun makin banyak terisi recehan. Namun, tabungan dari hasil keringatnya itu, suatu ketika harus ia lepaskan. Seorang sahabatnya yang lain, bernama Jono, harus dioperasi dan membutuhkan biaya yang besar.
Warrior adalah sebuah kisah yang sarat pelajaran moral. Tanpa menggurui, penulisnya hendak menunjukkan apa arti persahabatan, pengorbanan dan ketabahan dalam menjalani derita hidup yang dialami seorang remaja putri. Penulis tampak amat lihai menampilkan isi dan pergulatan benak Sri lewat diksi yang dipilihnya dalam kalimat demi kalimat. Sebuah contoh, ketika Sri bimbang memikir-mikir alternatif apa yang harus dia utamakan, dia mengeluarkan celengan dari lemari pakaiannya. Dinyatakan di sana bahwa "… ia tak punya ide bagaimana bisa mendapatkan uang ekstra untuk mengisi perut ayam rakus itu agar bisa sarat." Kalimat yang amat bernas, bukan?
Selain diksi yang berbobot, penulis menunjukkan bahwa dirinya amat dekat dengan berbagai khasanah literatur dan bahkan sejarah. Namun sayang, literatur, fakta sejarah (atau hasil riset) dan wacana yang tertampil di dalam buku ini rasanya terlalu melelahkan untuk disimak. Mereka terkesan dipaksakan untuk ada dan dikait-kaitkan dengan jalan cerita. Sebutlah literatur, wacana, atau fakta-fakta tentang Adam Malik, Judith Resnik dan Discovery-nya, Karl May lewat Old Shatterhand-nya, serial Little House on the Praire, artikel reflektif tentang wayang mbeling berjudul Bima Melacak Tirtapawitra, mendaratnya VOC di Indonesia, Reformasi Protestan, semuanya tercampur aduk dalam kisah Sri ini. Memang, sisi baiknya adalah pembaca mendapat aneka pengetahuan yang mungkin saja bagi mereka merupakan hal baru. Tapi,
perlu diingat, ini kan cerita fiksi.
Bolehlah cerita-cerita legenda seperti Buto Ijo dan Timun Emas, Pangeran Singonegoro dan Ki Lurah, Ande-Ande Lumut, Kleting Kuning dan Cindelaras ikut nebeng, sebagai upaya mulia penulis untuk mengingatkan kembali keberadaan mereka dalam literatur kuno Indonesia; sekaligus menarik relevansi dan implikasi kisah-kisah tersebut dalam diri dan kehidupan Sri. Namun, fakta-literatur-wacana tadi? Rasanya kok kurang signifikan dalam perannya menunjang keutuhan cerita. Pembaca dapat bosan dengan semua penjejalan itu.
Bagian yang mungkin bisa menggantikan jejeran fakta-literatur-wacana tadi adalah eksplorasi atas hubungan antar-tokoh dalam cerita. Dalam bagian awal cerita ini, disebut bahwa ini semua merupakan "sekelumit kenangan tentang Ngadirejo, Temanggung dan tahun 1980-an". Walaupun di halaman hak cipta disebutkan bahwa kisah ini fiktif, tapi "sekelumit kenangan" itu rasanya akan lebih pas bila lebih banyak terawarnai dengan dinamika hubungan antar-tokoh. Bukankah yang biasanya menjadi penghias utama sebuah kenangan adalah jatuh-bangun-pasang-surut hubungan kita dengan orang lain, dan bukan deretan fakta-literatur-wacana yang berbaris tadi?
Terlepas dari kekurangperluan yang terjabar di atas, sisi lain yang bisa dijadikan catatan bagi penulisan fiksi, khususnya teenlit adalah keseriusan penulis dalam menyampaikan cerita. Penulis tampak sangat rapi menjalin kisah. Seorang penulis teenlit di halaman sampul menyatakan bahwa Warrior seperti classic teenlit. Lebih jauh, bila kita memperhatikan teenlit yang ada pada saat ini, rasanya Warrior seperti bukan teenlit karena teenlit Indonesia pada umumnya berisi kisah cinta monyet, dialog lu-gue, dengan latar gaya hidup serba hedonis nan metropolis. Warrior beda. Warrior, tanpa bermaksud mencela: lebih ndeso. Sangat ndeso malah. Sangat ndeso, namun tergarap sangat liris. Itulah yang terpenting untuk diperhatikan. Arie Saptaji adalah penulis yang melihat dengan jeli dan menggerapai dalam-dalam:
sebuah kehidupan yang hendak ditampilkannya. Ia juga memaknai geliat jiwa tokohnya, utamanya Sri, dengan lebih peka. Novel ini amat jauh dari kesan terburu-buru dalam penggarapannya.
Tak selamanya hanya kehidupan perkotaan yang diangkat dalam teenlit atau sinetron menjadi inspirasi bagi para remaja. Buktinya, orang kini juga menyukai Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata (yang konon, di blog Warrior, juga dipakai sebagai salah satu acuan dalam merekonstruksi cerita) yang diangkat dari pedalaman Bangka Belitong puluhan tahun silam. Dengan demikian, langkah Gramedia sangat baik dan patut dipuji dalam menghadirkan teenlit yang berbeda ini dalam kategori teenlit. Semoga, target pembacanya, yaitu kaum muda, lewat teenlit ndeso ini dapat menangkap pesan penting yang berharga dan berguna.

BEDAH BUKU
Judul Buku : Ulysses
Pengarang : James Joyce
Penerjemah : Wawan Eko Yulianto (anggota FPKM)

Berkat Kang Sigit Susanto (yang beberapa saat lalu sempat hadir di Malang dan bertemu FPKM, datang jauh-jauh dari Swiss pada acara launching bukunya "Menyusuri Lorong-Lorong Dunia 2"), kita di Indonesia sudah tidak asing lagi sama ini novel. Setidaknya sudah beberapa kali di media cetak kita muncul tulisan tentang Ulysses, meskipun konon sulit mencari bukunya di sini.
Sekadar informasi: Ulysses terbit pada tahun 1922 setelah digarap selama delapan tahun, tebalnya berkisar antara 700 sampai 1000 halaman tergantung cetakannya, pernah mengalami pelarangan (biasalah, James Joyce, kurang afdol rasanya kalau novelnya tidak menuai pencekalan, :D) di Amerika selama lima belas tahun, disebut-sebut sebagai novel terbesar abad ke-20 (bahkan ada sumber-sumber yang secara sepihak mengklaim novel ini sebagai capaian terbesar dalam sastra berbahasa Inggris sejauh ini!).
Ulysses Vs. Odyssey?
Ulysses mengambil struktur cerita dari Odyssey karya penyair purba Homer. Secara petualangan, memang Odyssy dan Ulysses sama sekali berbeda. Odyssey yang penuh warna-warni petualangan (darat, laut) tidak bisa dibandingkan dengan Ulysses yang nir-petualangan. Ulysses hanya meminjam motif-motif dalam Odyssey untuk kemudian dibuatkan padanannya dalam konteks kehidupan Dublin jaman modern. Jika dalam bagian Telemachus, dikisahkan bagaimana Telemachus memulai perjalanan mencari ayahnya, maka dalam Ulysses bab pertama (yang pernah diberi judul Telemachus, sebelum akhirnya dijadikan angka) dikisahkan bagaimana Stephen mulai dikupas isi otaknya dan tampaklah bahwa dia ada pemuda yang sedang terombang-ambing dan tinggal di menara. Pada bagian Scylla dan Charybdis, dalam Odyssey dikisahkan ada pusaran pemakan kapal (Charybdis) dan monster pemangsa pelaut yang lolos dari pusaran Charybdis (Scylla), namun dalam Ulysses yang ada adalah sebuah perdebatan di mana Stephen Dedalus terpaksa harus berada di dua pendapat yang lazim diterima. Kira-kira seperti itulah hubungan antara keduanya.
Oh ya, dalam buku James Joyce's Ulysses, Stuart Gilbert menyebutkan sejumlah paralel antara Ulysses dan Odyssey. Antara lain adalah: 1. Ulysses berisi hampir semua dialek yang ada dalam bahasa Inggris dan Odyssey ternyata menunjukkan sejumlah dialek bahasa Yunani, 2. Ulysses diketahui sebagai karya yang isinya sangat akurat dan nyata, dan Odyssey juga, dsb.
Ulysses sendiri?
Kisah Ulysses berlangsung dalam satu hari satu malam yang biasa, yakni tanggal 16 Juni 1906. Semua orang menghubung-hubungkan hari ini dengan hari kencan pertama Joyce dengan Nora. Memang tidak salah. Dan akan berdoa rasanya jika saya tidak menuliskan itu, :D. Mungkin novel ini adalah persembahan Joyce kepada dunia sekaligus kepada sang istri tercinta. Kembali lagi, Ulysses adalah kisah sehari-semalam biasa dalam kehidupan tiga orang biasa di kota metropolitan Dublin. Cerita dimulai ketika Stephen Dedalus (yang sebelumnya menjadi tokoh utama dalam A Portrait of the Artist as a Young Man) baru bangun pagi di Menara Martello bersama seorang kawan dan seorang lagi teman dari kawannya itu. Kemudian dilanjutkan dengan Stephen mengajar pelajaran sejarah di sebuah sekolah dasar. Kemudian Stephen jalan-jalan ke pantai sambil menulis puisi. Selanjutnya cerita beralih ke Leopold Bloom yang juga baru bangun pagi dan kemudian jalan-jalan mencari sarapan. Selanjutnya diceritakan pula si Leopold Bloom berangkat ke kantor pos, perpustakaan, surat kabar, pemakaman. Dan pada sore harinya Stephen Dedalus pergi ke rumah sakit di mana dia melihat orang melahirkan, pergi ke lokalisasi dan kemudian bertemu Leopold Bloom. Selanjutnya Stephen dan Leopold Bloom pergi ke rumah Bloom untuk sekedar minum-minum. Stephen menolak menginap dan kemudian keluar untuk pipis bareng Leopold Bloom (btw, saya dilarang melewatkan bagian pipis ini lho!). Pada akhirnya Stephen pulang dan Bloom merebahkan tubuh di ranjangnya, di mana Ny. Bloom sudah hampir bangun. Cerita ditutup dengan Molly yang setengah bangun setengah tidur itu meracau dalam pikirannya tentang berjuta hal.
Begitulah yang terjadi dalam buku setelah 700-1000 halaman itu. Terbukti bukan, ini benar-benar hari yang biasa bagi seorang manusia. Tapi, apakah sebuah hari yang biasa adalah hari yang tidak berarti bagi seorang manusia? Apakah Anda yakin tidak ada pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah hari yang wajar? Setiap hari adalah unik bagi seorang manusia? Dan itulah yang Joyce lakukan: dia mengabadikan sebuah hari dalam kehidupan manusia (dengan diwakili tiga orang saja), dia abadikan segala pikiran yang bersilang-sengkarut dalam otak ketiga tokohnya, dia tunjukkan apa saja yang ada dilihat dan dirasa tokoh-tokohnya itu, apa saja yang terasa biasa-biasa namun tampak luar biasa jika direnungkan. Dengan Ulysses yang setebal bantal untuk menggambarkan kejadian 24 jam, Joyce menunjukkan bahwa dalam sehari kita melihat, memikirkan, merasakan berjuta obyek, subyek, dan sensasi yang tak lama lagi pasti akan kita lupakan (atau kalau memang ada yang diingat, pastilah hanya sedikit). Saking banyaknya pengalaman kita dalam sehari, kita tak sadar bahwa sebenarnya diri kita adalah sebuah ensiklopedia jika setiap yang kita indera dan pikirkan itu kita catat. Maka, ketika para kritikus menyebut Ulysses sebagai novel yang ensiklopedis (meski tanpa memberi definisi), kita pun akan sadar bahwa sebenarnya kitalah yang ensiklopedis. Dan Joyce kebetulan orang pertama yang menyadarinya.
"Tuhan menciptakan benda-benda, dan Joyce menceritakan pengalaman kita dengan benda-benda itu," demikian saya kutip dari Donny Gahral Adian yang mengutip dari siapa tidak dia sebutkan.
Ada lagi yang lain di Ulysses?
Ya, sekarang giliran kita mengurai The Art of Ulysses (cukup berwibawa kan untuk judul sebuah buku, kan? :D) Ulysses yang terdiri dari delapanbelas bab itu memiliki delapanbelas gaya penceritaan. Sebagian dari kedelapanbelas gaya narasi itu terkesan tidak jauh berbeda dengan gaya prosa pada umumnya (disusun dalam paragraf-paragraf, disertai banyak dialog, tanpa dialog) tapi ada sebagian yang unik dan merupakan pendobrakan terhadap jamannya (narasi berbentuk artikel-artikel pendek, terdiri dari banyak episode yang terjadi bersamaan di tempat yang berlainan dan kemudian saling bersilangan, berbentuk tanya jawab, interior monolog superpanjang tanpa tanda baca sedikitpun kecuali sebutir titik di penghujung buku). Setiap bab diberi sentuhan suasana khusus dengan penggunaan diksi-diksi tertentu yang mendukung suasana cerita.
Di samping itu, kegemaran Joyce dengan bahasa dan kesan yang ditimbulkan bunyi kata-kata mulai digeber dalam novel ini setelah sebelumnya pada A Portrait hanya ditampakkan sedikit. Maka, akan kita temukan banyak main-main serius dengan bahasa dalam Ulysses.
Dalam menulis Ulysses yang ensiklopedis itu, Joyce menggelar cakrawala pengetahuannya dan dia tumpahkan semua yang pernah dia baca dan dengar ke dalam setiap lembarnya. Hasilnya: di setiap lembar Ulysses kita akan temukan jejak-jejak dari tulisan/penulis terdahulu yang pernah Joyce baca sebelum tahun 1922 itu. Namun, berbeda dengan kebanyakan karya yang (dengan tujuan menghormati penulis yang dikutip) memberikan keterangan berupa catatan kaki atau lainnya, James Joyce membiarkan bukunya bersih dari catatan kaki, James Joyce membiarkan kutipan-kutipan itu tenggelam dalam karyanya dan menyatuĆ¢€”jika memang memungkinkan. Kelak Don Gifford menyusun sebuah buku tak kalah tebal berjudul Ulysses Annotated yang dimaksudkan untuk mengurai anyaman intertekstualitas, mengorek-korek jejak penulis, tulisan, gagasan, tradisi, dan mitos yang bersemayam di balik Ulysses. Maka, petulangan membaca Ulysses pun bisa diperluas. Dan Joyce sendiri menjadi "panjang umur" karena masih terus dibahas sekalangan Joycean yang ingin tetap menyelami Ulysses.
Bagaimana dengan pembaca?
Dengan sejumlah kehebatannya itu Ulysses dinobatkan sebagai novel paling bergizi dalam abad ke-20. Komposisi serta kepadatannya memenuhi selera para kritikus. Namun, seperti dikatakan Martin Amis kritikus-peresensi sekaligus novelis Inggris, Ulysses bukanlah buku yang ramah-baca, Ulysses adalah buku yang ramah-Joyce, memenuhi selera Joyce (dan tentu saja para Joycean) sahaja. Di resensi yang Amis buat atas edisi terbaru Ulysses, dia menyebutkan kenal seorang penyair yang ke mana-mana selalu menenteng Ulysses, novelis yang tiap malam mengaji Ulysses, atau esais yang di toiletnya ada Ulysses. Tapi tak satu pun dari mereka menikmati Ulysses sebagai sebuah bacaan wajar, dalam artian membaca novel itu mulai awal hingga akhir untuk menikmati jalan ceritanya dan apa-apa saja yang ditulis di dalamnya. Kebanyakan menikmatinya pada bagian-bagian tertentu saja untuk menikmati bahasanya. Dan dari banyak tulisan yang orang buat tentang Ulysses, tentang apa-apa yang tersembunyi di balik Ulysses, novel ini tampak semakin agung, semakin sulit, semakin tak terjangkau.
Dan itulah kiranya yang membuat Stephen Joyce, cucu James Joyce, satu-satunya yang tertinggal dari garis James Joyce sekaligus yang terakhir, selalu mempersulit upaya kritikus yang meminta hak cipta darinya untuk mengutip lebih dari 40 kata.
Menurut Stephen Joyce, Ulysses adalah novel yang bisa dibaca secara wajar ('in readerly fashion') jika saja kita mau membacanya seperti biasa kita membaca novel. Seseorang yang berusia tak jauh-jauh amat dari Stephen Dedalus dalam Ulysses, yakni 20-an tahun, pasti akan menemukan adanya kesamaan antara pengalaman mereka dan pengalaman batin Stephen Dedalus. Maka, dia pun selalu ogah bekerjasama dengan upaya-upaya tafsir terhadap Ulysses yang malah membuat Ulysses tampak menakutkan.
Akhirul kalam, untuk detil mengenai jalannya Ulysses, saya serahkan kepada Kang Sigit untuk mengurai Ulysses dari hasil mengajinya ke Kanjeng Guru Joycean Fritz Senn dari Zurich.

* Semua kata Odyssey dalam tulisan ini mengacu pada Odyssey karya Homer.


BINCANG SASTRA
MENYOROTI TEMA CINTA DALAM NOVEL TEENLIT JADUL KLASIK KARYA HENRY JAMES
Oleh: Wawan Eko Yulianto

Akhirnya, setelah lama nggak baca karya-karya sastra Inggris klasik, saya ketemu lagi sama Daisy Miller, yang ditulis sama Henry James. Yah, agendanya masih tetap, dalam rangka sedikit menceburi sastra Amerika.
Oke, kita awali dengan sinopsis saja deh: Alkisah, seorang pemuda bernama Winterbourne sedang jalan-jalan menemani budenya Mrs. Costello rekreasi ke Switzerland. Oh ya, si pemuda ini asal Amerika yang "belajar" (masih meragukan sih kata "belajar" ini, soalnya dari novelnya sendiri ditulis dengan tanda petik) di Jenewa. Di tempat rekreasi itu dia bertemu seorang gadis Amerika yang menawan hatinya, bernama Daisy Miller. Si gadis ini sangat ya... gaul lah sama orang-orang, sangat sociable, plus audacious (seneng ngomong), plus nyantai, suka gaul sama cowok. Budenya curiga dia ini jenis gadis 'flirt' (mungkin semacam cewek penggoda, atau .. hmm.. mungkin cewek yang suka main-main sama [hatinya] cowok). Sekali mereka menyempatkan jalan-jalan berdua, sebelum akhirnya mereka berpisah karena Daisy Miller bersama ibu, adik, dan 'courir'nya berangkat ke Roma sementara si Winterbourne pulang dulu ke Jenewa. Tapi kemudian Winterbourne ke Roma (sesuai janjinya kepada Daisy). Di Roma, Daisy agak ngambek sama dia karena nggak datang-datang. Sementara itu, Daisy sudah akrab sama seorang pria Italia (hmmm... menurut cerita pria ini ganteng, persis seperti kata Andrea Hirata, nggak ada orang nggak tampan di Italia itu :D) bernama Giovanelli. Mereka berdua suka jalan-jalan. Di sini, sikap Winterbourne jadi agak kaku, serba salah karena di satu sisi dia tidak suka Daisy nongkrong sama si Giovanelli, tapi dia juga nggak pingin memihak orang-orang tua yang nggak suka sama Daisy yang demen runtang-runtung sama cowok Italia itu. Kalau sama Daisy, tanpa sadar si Winterbourne ini suka melarang-larang ini-itu, dan Daisy yang model cewek carefree ini tidak mau dilarang-larang, karena dia menganggap dirinya 'bukan anak lima tahun lagi', yang mana sudah bisa menentukan sikapnya sendiri. Sementara itu, si Winterbourne juga panas kupingnya saat mendengar banyak orang menggunjingkan Daisy dan mensyu'udoninya. Kata orang Daisy itu cewek inilah, cewek itulah. Tapi, sikap dia yang nglarang-nglarang Daisy itu malah bikin Daisy menganggapnya terlalu kaku, dan nggak enak diajak gaul. Ujung-ujungnya, Daisy tambah getol nongkrong sama Giovanelli. Si Winterbourne yang terus-terusan disengaki Daisy malah menjauh sementara waktu, apalagi waktu Daisy bilang dia sudah tunangan sama si cowok Itali. Suatu malam, si Winterbourne jalan-jalan sendiri ke Colosseum. Di situ dia ketemu Daisy sama Giovanelli ngobrol berdua, malam-malam, jam 12-an. Sekali lagi, Winterbourne menyuruh Daisy pulang karena sudah malam, dan tempat itu adalah sarang malaria. Dia sebel juga sama si Giovanelli yang sebenarnya tahu kalau itu sarang malaria tapi tetap saja ngajak Daisy. Akhirnya, mereka pun semua pulang. Beberapa hari kemudian, Daisy demam berat, dan ... bisa ditebak ... Daisy wafat sambil meninggalkan pesan buat Winterbourne lewat ibunya. Pesan itu menyatakan bahwa sebenarnya dia tidak bertunangan, dan dia sungguh-sungguh ingin ibunya menyampaikan pesan itu kepada Winterbourne. Demikianlah, Winterbourne pun menanggung lagi kesepiannya, kembali lagi ke Jenewa, di mana dia "belajar".
Begitulah. Sekilas plotnya sangat terasa pop. Atau bahkan agak-agak teenlit karena kisahnya berkutat tentang cinta, dua orang yang di luar negeri, cinta mendalam, dan berakhir kematian. Tapi, saya tekankan kepada kita semua :D: sebenarnya tema seperti apapun layak jadi sastra, YANG PENTING PENGGARAPANNYA. Ya, namanya hidup, paling-paling kisahnya berkutat antara cinta, kematian, politik, intrik, kekejaman, dll. Dan tema seperti itu memang diulang-ulang dalam sejarah manusia (kayaknya saya pernah ngomong seperti ini dalam resensi saya atas novelnya mas Titon Rahmawan Turquoise :D). Ya, sekali lagi penggarapannya. Lihat saja novelnya Goethe Penderitaan Pemuda Werther (yang mengisahkan pemuda yang jatuh cinta sekonyong kother), atau lihat saja novel besar Indonesia semacam Edensor (yang petualangannya digarismerahi oleh pencarian akan seorang cinta masa kecil), atau tilik deh Siti Nurbaya (yang kisah utamanya tentang kisah cinta yang dilarang orang tua dan diputus dengan kawin paksa tak bahagia), atau novel India Devdas (yang juga cinta terlarang dan kawin paksa yang membahagiakan si perempuan tapi menyengsarakan si cowok yang ditinggalkan), atau novel Romeo and Juliet (kisah cinta antar anak musuh bebuyutan). Yah, kisah cinta!!! Dan kisah cinta bukan sesuatu yang tabu!!!
Tapi ...SEKALI LAGI PERLU SAYA SAMPAIKAN BAGAIMANA KISAH CINTA ITU DIGARAP, BAGAIMANA TEMA-TEMA YAGN SUDAH BANYAK DIDENGAR ORANG ITU DIGARAP.
Dalam kasusnya Henry James kali ini, kita akan dengan mudahnya melihat bagaimana tema cinta itu digunakan James untuk menghantarkan keinginannya untuk menggambarkan:
1) bagaimana Amerika pada masa itu merupakan sebuah tempat yang bergerak sangat cepat dan berubah pesat. Sebagai seorang pemuda yang meninggalkan negaranya untuk hidup di negeri orang, Winterbourne benar-benar sudah tidak tahu seperti apa anak-anak Amerika pada masa itu. Dia masih mengharapkan bertemu seorang gadis baik-baik seperti yang sering dia temui di Eropa. Dia terkaget-kaget, tapi tak kuasa menahan keterpesonaannya, melihat sikap Daisy Miller yang begitu carefree, begitu nyante, dan terasa seolah memain-mainkan perasaannya. Dia tak sadar kebudayaan Amerika sudah berkembang sejauh itu.
2) bagaimana pergolakan jiwa seorang pemuda yang sudah menjauhi Amerika dan mendapat didikan Eropa ketika bertemu dengan seorang gadis Amerika yang bebas (dalam ukuran jaman itu... bukan kayak sekarang lah :D). Di sini, sikap Winterbourne terombang-ambing, di satu sisi dia dipaksa terus menerus mendengar omongan budenya atau siapa saja dari golongan tua (yang mungkin bisa dihubungkan dengan Eropa, yang merupakan kebudayaan tua, yang lebih kolot), tapi di lain pihak dia mulai menganggap sikap Daisy yang seperti itu biasa saja. Seolah-olah, bisa dibilang, dia memiliki jiwa Amerika yang benar-benar ingin mencari standar moralnya sendiri, tapi didikan Eropa memaksanya untuk menganggap sikap Daisy yang seperti itu tidak pantes.
3) atau lebih tepatnya melambangkan sikap Amerika yang lebih memilih kebebasan untuk melakukan apa saja yang dirasanya menyenangkan (hal ini terlambangkan oleh sikap Daisy yang lebih seneng sama Giovanelli karena dia tidak suka melarangnya dan membuatnya bisa mengeksplorasi segala hal), meskipun hal-hal itu ada fatalnya juga (terlambangkan oleh kematian Daisy).
Ya, kira-kira begitulah menurut saya. Sementara begitu. Resensi ini akan berkembang seiring baca pengantarnya novel ini nanti. Well, saya nggak pingin lah belum apa-apa diracuni gagasan abstrak penulisnya, hehehe...

OPINI
PANDANGAN DALAM MENULIS
Oleh: Wawan Eko Yulianto

Seorang penulis bilang konon bilang "pandangan seorang penulis boleh saja berbeda dengan kesehariannya". Kalau benar dia ngomong seperti itu, sepertinya saya kurang sejalan dengan dia. Well, mungkin saya pernah bilang kalo saya ini orangnya konvensionalis. Tapi, sejujurnya saya merasa bahwa karya yang mengungkapkan sebuah pandangan berbeda dengan praktek hidup keseharian seorang penulis adalah sebuah karya yang tidak jujur. Kalau karya itu sifatnya bertujuan untuk mengajarkan, ya berarti itu adalah ajaran yang tidak jujur. Boleh saja ajaran dari karya itu baik (ingat, kan, "kebenaran adalah kebenaran meskipun itu keluar dari mulut anjing"?), tapi tetap saja itu karya yang tidak jujur (jika dikait-kaitkan dengan penulisnya). Atau begini, kalau saja karya itu dibiarkan tanpa embel-embel penulisnya, saya akan mengakui ke"baik"an karya-karya semacam itu, tapi kalo karya itu masih dijejerkan dengan nama penulisnya yang tidak baik itu (semisal disebutkan dalam sebuah tulisan "novel bla-bla-bla karya penulis yada yada yada") maka karya itu akan tercemari penulisnya. Atau, bisa juga dibilang karya tentang kebaikan yang ditulis oleh penulis yang tidak baik itu adalah karya baik yang gagal membujuk penulisnya untuk menjadi baik (lah, kalo ini saya agak kesulitan menjelaskannya). Pada akhirnya, kalo seorang penulis masih ingin diakui sebagai pengkarya tulisannya, maka dia semestinya jujur dalam mencetak karyanya. Dengan kejujuran (atau kecocokan antara apa yang ingin kita tulisan dengan apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari), saya yakin sebuah karya akan lebih berarti dan lebih bisa menyentuh hati pembaca, karena sumbernya kan memang asli, karena moral di dalamnya pernah diuji dalam kehidupan si penulis.

OPINI
MERAJUT POTENSI WISATA KOTA BUNGA
Oleh: Sismanto

Malang kota bunga adalah gelar yang tepat bagi Kota Malang yang dinobatkan menjadi juara pertama lomba Gerakan Sejuta Pohon (GSP) dan lomba pembuatan Laporan Hari Lingkungan Hidup, berbagai cara maupun kegiatan dilakukan dalam penghijauan di Kota Malang yaitu dengan gerakan sejuta pohon menjadikan Malang semakin hijau. Malang Ijo Royo-Royo (MIR) dan ”Malang Berkicau” adalah bagian kegiatannya, dan ditambah lagi dengan 26 taman kota dan 5 hutan kota menjadikan Malang tidak kesulitan untuk mewujudkan impian sebagai ”Kota Hijau”.
Program penghijauan Kota Malang sebenarnya di rencanakan tahun 2010 atau 2013 untuk mewujudkan Malang Kota Bunga, tetapi karena Gubernur Jawa Timur merasa bahwa bunga-bunga akan tumbuh lebat dan bermekaran dalam waktu tiga bulan, untuk mewujudkan Malang Kota Bunga dan Malang Berkicau tidak perlu menunggu terlalu lama, kegiatan tersebut harus segera direalisasikan.
Dalam waktu setahun (2007), Gubernur Jawa Timur berharap Wali Kota bisa menggerakkan warga Malang untuk menanam bunga dan memancing burung-burung hinggap di pohon-pohon hasil penghijauan, dan dalam pelaksanaannya, wali kota juga harus bisa menggerakkan masyarakat membantu dalam mewujudkan Kota Malang hijau, langkah awal yang diambil adalah dengan menggerakkan para finalis Putri Lingkungan Hijau 2006 dalam penanaman seribu pohon dan untuk merespon masyarakat perduli lingkungan. Dengan kesadaran masyarakat dengan lingkungannya, maka kelestarian pohon-pohon atau bunga-bunga yang ada di sekitarnya dapat terjaga kelestariannya. Dengan demikian kota Malang diharapkan bisa menjadi contoh bagi kota atau kabupaten-kabupaten yang lain di Jawa Timur.
Kegiatan penghijauan lingkungan layak dilaksanakn secepatnya, karena Malang sebagai penyangga sungai Brantas, kegiatan itu dilakukan mulai dari daerah sekitar hutan maupun lahan-lahan kosong perkotaan, dengan adanya reboisasi tersebut kota Malang tetap asri, sejuk, dan indah. Penghijauan sangat bermanfaat bagi Kota Malang disamping tujuan utama untuk menarik wisatawan untuk berkunjung di Kota Malang juga dapat mengurangi polusi udara dari asap-asap kendaraan yang semakin bertambah dan dapat mencegah adanya tanah longsor akibat arus yg deras dari aliran sungai Brantas.
Disamping dengan Penghijauan dan pelepasan burung-burung agar hinggap di pohon-pohon dan berkembang biak, pemerintah Kota Malang perlu melakukan berbagai cara menarik wisatawan yaitu dengan melengkapi dengan fasilitas penunjang yang cukup memadai seperti tempat pemondokan, toko buku, super market, plaza, pusat pelayananan kesehatan masyarakat serta fasilitas penunjang lainnya yang tak kalah penting adalah adanya angkutan umum (transpotasi) yang tersedia ke penjuru kota (memiliki 25 jalur), yang menghubungkan 3 (tiga) terminal yang ada di Kota Malang, yaitu terminal Arjosari (arah Surabaya), terminal Gadang (arah Blitar), terminal Landungsari (arah Jombang/Kediri). Upaya ini diharapkan agar para penumpang, wisatawan atau pengunjung terkesan dan senang sewaktu datang pertama kali atau tidak bosan datang lagi ke kota Malang, citra Malang sebagai kota yang bersih, indah, dan rapi perlu tetap terjaga.
Upaya lain, yaitu dengan pembangunan jalan tol yang menghubungkan Malang dengan Pandaan, pembangunan ini diharapkan agar jalur transportasi tetap lancar dan tidak ada kemacetan, apalagi diwaktu hari-hari besar atau tahun baru, kemacetan di jalur Malang-Pandaan selalu terjadi, dengan alternatif jalan tol tersebut diharapkan dapat memperkecil kemacetan arus lalu lintas sehingga wisatawan atau pengunjung tidak enggan datang ke Kota Malang.
Alasan klise pembangunan jalan tol Malang-Pandaan tidak sepanjang rencananya, dalam realisasinya terdapat banyak hambatan, hal itu disebabkan akibat birokrasi yang berbelit-belit di pusat pemerintahan sendiri, penerbitan SK yang akan jadi acuan tim pembebasan tanah Provinsi dan Pemda butuh waktu berbulan-bulan. Transportasi lancar keluar masuk Kota Malang dalam tahun-tahun mendatang adalah dambaan semua komponen masyarakat, harapan itu hingga kini masih tergantung dalam sebuah proyek besar pembangunan jalan tol Malang-Pandaan, masyarakat sudah berharap banyak akan dibanjirinya Malang oleh wisatawan atau pengunjung dari luar daerah.
Malang-Pandaan selalu sering terjadi kemacetan, di tahun baru maupun hari libur Malang terlihat sepi oleh wisatawan atau pengunjung luar daerah, hal itu disebabkan wisatawan malas ke Malang karena akses terhambat. Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, kemacetan Malang-Pandaan tidak bisa dielakkan. Jika jalan tol bisa dibangun secepatnya dan menyesuaikan perubahan di Porong, transportasi ke Malang tidak lagi menjadi kendala.

Potensi Wisata Kota Bunga
Di era otonomi daerah dan era globalisasi saat ini upaya pembangunan di segala bidang yang telah dilaksanakan merupakan sebuah langkah awal peningkatan citra, posisi dan peran Kota Malang dalam percaturan hubungan antar Kota, antar Propinsi, maupun antar Bangsa. Sekaligus merupakan sebuah peluang dan harapan yang bisa memberi manfaat bagi masyarakat Kota Malang sendiri. Dalam salah satu Sidang Paripurna Gotong Royong Kotapraja Malang pada tahun 1962 ditetapkan Kota Malang sebagai: (1) Kota Pelajar/Kota Pendidikan, (2) Kota Industri, dan (3) Kota Pariwisata.
Pertama, Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, mendapat predikat sebagai kota pendidikan karena banyaknya fasilitas pendidikan yang tersedia. Mulai dari jenjang pendidikan Pra Sekolah sampai Pendidikan Tinggi, ditambah jenis non formal baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat (Diklusemas). Potensi ini memiliki nilai jual dan daya saing baik di tingkat regional maupun nasional.
Kedua, Kota Malang disebut juga sebagai kota industri. Berarti titik berat pembangunan ekonomi adalah di bidang perindustrian, sehingga sektor industri tentunya mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagai kota industri mestinya lapangan usaha terbesar tenaga kerjanya juga di sektor industri. Diversifikasi produk industri kecil dan menengah yang mulai bangkit sejak berlangsungnya krisis ekonomi, masih memerlukan bimbingan dalam hal peningkatan mutu, teknis dan penanam modal untuk mempercepat pemulihan pembangunan ekonomi yang berbasis pada ekonomi kerakyatan, serta untuk perkembangannya di masa mendatang. Sedangkan industri besar yang ada di Kota Malang masih perlu adanya wahana untuk diperkenalkan secara luas, sehingga semakin mendukung produktivitas Kota Malang sebagai Kota Industri.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan membawa dampak ekonomi yang sangat berat bagi warga Kota Malang. Hal ini ditandai dengan meningkatnya angka pengangguran dan menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi. Namun lambat laun krisis yang berkepanjangan ini sedikit-demi sedikit dapat teratasi. Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi krisis tersebut adalah dengan menciptakan lapangan kerja dan usaha yang seluas-luasnya serta menciptakan tenaga kerja yang berkualitas dan memiliki daya saing di pasar kerja.
Ketiga, dengan didukung potensi alam yang dimiliki oleh Kota Malang, yaitu pemandangan alam yang elok serta hawa yang sejuk, teduh dan asri serta bangunan-bangunan kuno peninggalan Belanda, Kota Malang layak menjadi tujuan wisata bagi wisatawan dalam maupun luar negeri. Berbagai pilihan tempat perbelanjaan, baik yang bersifat tradisional maupun modern yang tersebar di berbagai penjuru kota sangat menunjang Kota Malang sebagai Kota Pariwisata. Perkembangan pusat-pusat perbelanjaan modern ini seiring dengan perkembangan kawasan perumahan yang melaju dengan pesat seakan tidak ada lagi lahan yang tersisa di Kota Malang.
Jika merujuk pada tiga kondisi di atas, kemungkinan besar di tahun-tahun selanjutnya kota Malang akan dipenuhi oleh wisatawan atau pengunjung luar daerah, pendapatan masyarakat yang hidup di sekitar lingkungan pariwisata akan bertambah, input pemerintah dari pariwisata juga bertambah sehingga PAD (Pendapatan Asli Daerah) juga ikut bertambah. Pembangunan dan pemeratan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat, hal itu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kota Malang, sehingga dapat memperkecil jumlah pengangguran, bertambahnya lapangan pekerjaan yaitu dengan bertambahnya pedagang-pedagang di daerah pariwisata maupun daerah-daerah perbelanjaan.

INFO
PADEPOKAN SASTRA TAN TULAR, MENGUTAMAKAN KUALITAS DARIPADA KUANTITAS
Oleh: Vita Priyambada

Pernah dimuat di Majalah Matabaca, vol.6/no.8/April 2008.

Di atas pintu masuk terpampang tulisan timbul pada bilah kayu : Padepokan sastra Tan Tular. Begitu masuk koleksi topeng dari berbagai daerah di Indonesia, beberapa wayang golek dan bilah keris tampak mencolok tersusun rapi di dinding ruang tamu. Beberapa senjata tradisional seperti tombak dan busur juga dipasang di dinding yang lain. Di sebelah kanan pintu masuk berjejer hiasan yang terbuat dari buah kelapa yang dikeringkan membentuk karakter hewan.
Masuk lebih dalam lagi, ada ruang yang tidak begitu luas. Di sinilah letak pusat padepokan sastra ini. Ruangan ini dipenuhi dengan rak dan lemari buku.Di tempat inilah tersimpan kurang lebih 6000 buku koleksi Dr. Henri Supriyanto, M.Hum. Koleksi bukunya terdiri dari buku umum, kajian budaya, dramaturgi, sosiologi sastra, dan masih ribuan judul buku lain. Buku-buku yang cukup menyita perhatian, seperti Kumpulan Sastra Lisan Jawa Timur dan buku Riset Budaya Using. Di sudut lain kumulan kaset ludruk disusun rapi. Judul-judul yang ada, misalnya Pak Sakerah, Sawunggaling, Joko Sambung, Sudamala, dan Geger Pabrik Kedawung.
Ketika penulis menemuinya siang itu, dosen di Fakultas Bahasa dan Seni jurusan Bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini sedang menerima mahasiswanya. Banyak kisah di balik berdirinya Padepokan Sastra Tan Tular. Henri, demikian sapaan akrab sehari-hari, mulai mengoleksi buku sejak 1970-an. Buku-buku koleksinya dibeli dari honor menulis artikel di surat kabar nasional dan lokal, serta dari hasil memberi ceramah dan seminar di berbagai tempat.
Pada awalnya, buku-buku itu dibeli hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Melihat kenyataan koleksi bukunya semakin menumpuk dan tema yang dihimpun semakin beragam, almarhum Dr.Hasyim Amir, dosen IKIP Malang jurusan Bahasa Inggris (sekarang menjadi Universitas Negeri Malang / UM), menyarankan untuk membuat perpustakaan swasta. Perimbangannya kala itu, di Malang sudah ada perpustakaan daerah, perpustakaan perguruan tinggi negeri dan swasta, dan perpustakaan sekolah. Sedangkan perpustakaan yang dikelola swasta dengan bobot koleksi yang setara dengan koleski perpustakaan daerah atau perpustakaan perguruan tinggi masih jarang dijumpai.
Akhirnya, Bapak dengan dua putri yang sudah dewasa ini memenuhi harapan dan saran Hasyim dengan mendirikan padepokan sastra Tan Tular. Mengapa dinamakan Tan Tular? Ada kisah sendiri di balik penamaan unik ini. Tantular adalah seorang pujangga yang hidup di zaman Majapahit. Nama tan Tular sendiri merupakan sebutan yang diberikan mayarakat pada masanya, karena tak ada seorang pun yang mengetahui nama kecilnya. Dalam berkarya Tan tular tidak tertular oleh gaya penulisan pujangga-pujangga sebelumnya.
Dengan latar belakang di atas, padepokan sastra ini dinamakan Tan Tular. Lebih lanjut Henri menjelaskan panjang lebar, perpustakaan yang didirikan lain dari perpustakaan pada umumnya. Jika perpustakaan melayani pembaca dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak sampai dewasa, tidak demikian halnya dengan perpustakaan ini. Perpustakaan yang mulai dibuka 2001 ini lebih diutamakan sebagai perpustakaan untuk penelitian, lebih khusus lagi pada disiplin ilmu-ilmu sosial.
Karena satu cabang ilmu menyangkut cabang disiplin ilmu lain, maka arahnya sudah tidak monodisiplin ilmu, tetapi multidisiplin ilmu. Perpustakaan ini ditujukan untuk para peneliti S1, S2, dan S3, sehingga tidak semua orang bisa mengunjungi padepokan sastra tersebut. "Bukan tidak boleh, tetapi bahan pustaka yang tersedia di sini menyangkut disiplin ilmu sosial," demikian ditegaskan olehHenri, dosen sederhana yang ke mana-mama mengendarai motor.
Mahasiswa-mahasiswa dari Malang, Surabaya, Yogyakarta, Universitas Indonesia, dan Institut kesenian Jakarta pernah memanfaatkan padepokan sastra. Yang pasti peneliti dari mana saja dapat memanfaatkannya. Lebih lanjut Henri menegaskan, " Bukan berapa jumlah pengunjung atau peneliti yang pernah memanfaatkan tempat ini, dalam hal ini yang menjadi tolok ukur jelas kuantitas, tetapi dalam satu semester berapa calon sarjana yang akan memanfaatkan padepokan sastra ini."
Sasaran utamanya, seberapa jauh hasil yang dicapai setelah memanfaatkan padepokan astra, calon sarjana bisa lulus dengan cepat dan dengan mutu yang baik pula. Sasaran terakhir, karena multidisiplin ilmu, calon sarjana itu mampu atau tidak menerapkan ilmu yang sudah didapat dan ilmu itu berguna bagi masyarakat dalam arti pragmatik atau teoritik. Selanjutnya, sampai seberapa jauh ilmu itu mampu mengubah cara berpikir, minimal untuk diri sendiri dalam menghadapi kenyataan hidup yang sekarang an yang akan datang. Jadi di sini, yang lebih diutamakan adalah kualitas daripada kuantitas.
Pengunjung hanya boleh membaca di tempat, karena terbatasnya persediaan bahan pustaka yang ada. Calon-calon sarjana yang memanfaatkan buku-buku di sini diharapkan dapat menyumbangkan hasil skripsi, tesis, dan disertasi ke padepokan sastra setelah lulus untuk menambah koleksi. Sampai sejauh ini, padepokan Tan Tular masih non profit. Sudah sejak beberapa waktu lalu, beberapa pustakawan membantu Henri menyusun katalog dan mengolah bahan pustaka pada hari libur.
Dalam waktu dekat, Henri akan melengkapi padepokannya dengan kliping bertema humaniora dan tidak menutup kemungkinan dengan tema yang lebih luas. Guntingan-guntingan koran diambil dari surat kabar harian Kompas, Jawa Pos, Surya, dan beberapa surat kabar harian lain.

MINAT PADA BUDAYA
Di tengah perbincangan, Henri kembali meneima tamu, Tri Wahyuni, seorang dosen tari dari UM. Henri memang punya minat besar pada budaya.Di lantai bawah ada satu ruang setengah terbuka yang memiliki banyak fungsi. Ruang ini bisa menjadi tempat pertemuan dengan para budayawan, paguyuban ludruk se-Malang, dan pertemuan penting lain. Jika rencana mendirikan sanggar tari terwujud, tempat ini berfungsi sebagai ruang latihan menari.
Henri yang pernah aktif sebagai wartawan di Sinar Harapan 1976-1986 dan menjadi redaksi di surat kabar harian Suara Indonesia 1984-1989 yang terbit di Malang sudah menulis 11 buku. Beberapa buku yang ditulis antara lain, Pengantar studi teater (untuk SMA), penerbit Universitas Brawijaya, Malang dan Kidungan Ludruk yang diterbitkan tahun 2004 oleh Pemmerintah Propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Wacana Nusantara (Wicara).
Letak padepokan sastra Tan Tular persis bersebelahan dengan Sumber air PDAM kota malang di Wendit, kabupaten Malang. Dari jendela belakang padepokan yang berada di dapur, pengunjung dapat menyaksikan kolam pemandian Wendit. Saat ini tempat wisata itu masih dalam tahap pemugaran.
Di sela-sela percakapan, Henri menjelaskan asal kata Mendit. Asal musaal kata itu dari bahasa Jawa kuna, Walandhita, yang artinya sumber air yang dihuni oleh para petani penganut agama Hindu dan Budha. Dalam bahasa Jawa baru menjadi Wendit. Mawendit, Ma artinya ke. Jadi, artinya ke Mendit. Sampai akhirnya menjadi Mendit. Sampai sekarang ada yang menyebut dengan Wendit atau Mendit.
Semoga padepokan ini bisa menjadi sumber inspirasi (seperti Wendit) bagi masyarakat.

INFO
CERMIN SASTRA DAN PERBUKUAN DUNIA
- NEW YORK REVIEW OF BOOKS DAN THE PARIS REVIEW
Oleh: Wawan Eko Yulianto

Akhirnya, datang juga kesempatan menjamah langsung New York Reviews of Book dan The Paris Review. Well, well, well, yang NTRB ternyata bentuknya tabloid, sedikit mengingatkan saya pada tabloid Citra, Monitor :D, Nova dll. Bedanya yang ini dipenuhi dengan iklan buku-buku baru atau cetak ulang dan isinya lumayan serius (meskipun ada renungan-renungan ringan tentang hal-hal sederhana, tapi asyik). Kalau The Paris Review bentuk dan layoutnya sangat mengingatkan saya pada Jurnal Kalam dan Prosa :D hihihi...
Belum kelar sih sebenarnya penelusuran saya atas berkala yang pernah sangat saya idam-idamkan itu, tapi saya sudah bisa mengambil dua pelajaran (atau petikan lah) dari sana.
Petikan yang pertama saya dapatkan dari review atas buku kumpulan siaran radionya E.M. Forster (si penulis A Passage to India itu loch). Di tulisan itu, disebutkan berulang-ulang betapa E.M. Forster memiliki sifat yang unik dalam menyajikan acaranya di BBC (oh ya, acaranya adalah semacam resensi on air): dia tidak bersikap mengkritik pedas, tidak juga mengkritik menggurui, tapi hanya berpretensi merekomendasikan buku-buku yang dia anggap layak baca. Dari resensi tersebut, saya lihat betapa Forster memiliki sifat yang sangat positif terhadap buku yang dia baca. Dia selalu bisa mengambil cara bijak untuk menunjukan elemen-elemen buku yang dia anggap membuatnya layak dibaca banyak orang. Ah, ya, ada satu kutipan yang perlu saya sampaikan di sini, "Here's the funny thing about literary criticism: it hates its own times, only realizing their worth twenty years later". Ya, begitulah E.M. Forster melihat para kritikus di jamannya yang suka bersikap kurang positif terhadap karya-karya yang terbit pada masa itu. Kalau dilihat dari sikap E.M. Forster sih, dia lumayan mendukung karya-karya yang diterbitkan di jamannya (oh ya, ada satu hal penting yang layak diketahui oleh para sastrawan senior: meskipun waktu itu sudah kewut, E.M. Forster masih membaca karya-karya anak muda yang bermunculan, dan di antara karya-karya itu ada yang dia rekomendasikan kepada pembaca, dan terbukti juga, orang-orang yang karyanya dia rekomendasikan ternyata juga jadi orang terkenal. Asyik lan pinter si Forster ini. Bagaimana sodara? Layak dijadikan panutan? Begitulah Forster, meskipun pada paragraf-paragraf awal si penulis resensi bilang bahwa Forster termasuk sastrawan "kelas dua" dibanding dengan Eliot, Woolf, atau Joyce.
Itu dari New York Review of Books. Btw, kalau pingin baca versi online dari tulisan itu (nggak rugi sama sekali kok, artikelnya tetap sama panjangnya, dan karikaturnya juga ada. Ini dia: http://www.nybooks.com/articles/21692
Selanjutnya, dari The Paris Review (yang ternyata adalah berkala terbitan New York :D, hehehe...) saya membaca sebuah hasil wawancara dengan Umberto Eco. Pada awal-awal bagian, terasa sekali bahwa sebenarnya materi yang ditawarkan adalah hal-hal yang sudah pernah kita baca atau dengar dari sumber-sumber lain. Tapi tetap saja, wawancara dengan Umberto Eco selalu menyenangkan tak terkira, dia pinteeeeer sekali guyon, padahal sudah sepuh lho (apa mungkin karena sudah sepuh itu ya jadi pinter guyon? hehehe). Judul artikel dan wawancara itu mungkin cukup menarik buat panjenengan sekalian: The Art of Fiction No. 199. Nah, isinya gimana? Ah, sepertinya saya ceritakan secara terpisah saja lah untuk urusan ini. Sementara saya hanya akan berbagi tentang satu hal:
Bahwa ternyata sinyaliran saya tentang hubungan para sastrawan dan karya-karyanya itu ternyata selaras dengan apa yang disampaikan Eco. Menurut saya, bagaimana pun jadinya seorang penulis pasti menyuntikkan diri atau kehidupannya dalam tokoh-tokohnya. Waktu itu saya lihat bagaimana sejumlah tokoh James Joyce dan sebagian besar pengalaman Stephen Dedalus sebenarnya bersumberkan dari pengalaman pribadi Joyce maupun saudara-saudaranya. Saya melihat bagaimana pengalaman tokoh-tokoh Umberto Eco (pengalaman si Baudolino yang kelahiran Alessandria seperti kelahiran si penulis, pengalaman Adso of Melk dan William of Baskerville dalam The Name of the Rose dalam menyeriusi buku-buku, atau pengalaman Signora Bodoni dalam The Mysterious Flame of Quenne Loanna dalam mengoleksi buku bekas dan mengingat dengan jernih hal-hal yang pernah dibacanya) benar-benar merupakan pengalaman Eco sendiri. Dan ternyata apa, dalam wawancaranya dengan The Paris Review itu dia bilang bahwa dia nggak nulis autobiografi, tapi setiap tulisannya menjadi autobiografi yang mencatat momen-momen hidupnya (meskipun tentu saja tidak secara kronologis sebagaimana halnya buku-buku biografi atau autobiografi yang ditulis secara sadar). Mau nggak mau, saya jadi ingat sama Saut Situmorang yang nerbitkan buku kumpulan puisi yang jemudul Otobiografi...
Oh ya, ketemu dengan kedua berkala itu jadi bikin muncul pikiran iseng: kalo saja saya serius methenthengi keduanya, bisa-bisa saya lancar nulis catatan pinggir nih, hehehe... tapi tentunya dengan bahasa yang tidak terlalu methentheng, hmmm....

CERITA PENDEK
KAWIN
Oleh: Theresia Eva Hapsari

Empat bulan dan dua puluh enam hari lagi umurku tepat dua puluh dua. Dua puluh dua, ya, benar dua puluh dua. Umur yang sebenarnya belum terlalu pas untuk kawin. Menikah, bahasa resminya. Sebab tentu muncul anekdot di pikiran orang-orang bahwa kalau kawin itu hanya berurat, sedangkan menikah itu pakai surat. Surat-surat resmi tentunya, yang sah diakui negeri ini dan membedakannya dari perilaku nikah bawahtangan.
Jadilah ide-ide tentang hal kawin-mengawin ini kembali terbit setelah uwakku pulang dari pesta kawin seorang sepupu. Dibawakannya satu kopi undangan yang memperlihatkan kedua mempelai tengah berfoto sebelum resepsi mereka. Pose dan pakaian yan gmereka kenakan memang sederhana, tetapi dari situ muncul keirianku melihatnya: aku juga ingin dipestakan kawin! Aku ingin menikah juga! Intinya, tentulah anku ingin kedua-duanya. Kawin dan menikah. Bukan kawin tanpa menikah apalagi menikah tanpa kawin. Kedua-duanya saat ini ingin kuraih, karena yang kedua, menikah, belum kulaksanakan.
Empat tahun lalu di bawah temaram lampu lima belas watt pukul sebelas malam lebih aku menikah. Tanpa saksi dari keluarga, tanpa selembarpun foto yang menguatkan pernikahanku. Dan suamiku yang hingga kini tak kunjung mampu membayar biaya surat pernikahan karena terus-terusan digerogoti keluarganya:para penjual anak itu!. Dua kepala sudah kukeluarkan dari rahimku, yang pertama kini sudah tiga tahun tanpa pernah bertemu bapaknya lagi kecuali saat berumur tiga bulan, kini diasuh uwakku yang tadi, dan yang bungsu kembali ke PenciptaNya dalam usia yang sama di kandungan: tepat sembilan bulan dan sepuluh hari umur hidupnya yang pendek. Setelah itu hampir sembilan bulan ini kami terpisah lagi, secara agama pun aku tentu sudah bercerai dengannya. Namun hati kami tetap masih bersatu walaupun ia tak pernah menafakhiku lagi...
Mungkin hanyalah kematian orangtuanya yang kedua-duanya bajingan itu yang akan mempersatukan kami kembali. Sebab tidaklah sudi lagi aku bersama dengannya diatas kaki orangtuanya yang sungguh amit-amit jabang bayi kusembah. Untuk apa menghormati seorang penjual anak; seseorang yang hidup hanya dari uluran tangan anaknya seorang, dan yang tak mau menerima anaknya kembali selama ia tidak menghasilkan lembaran rupiah apapun juga....
“Ma. kelak kalau aku kawin, tolong dibuat ya undangannya seperti ini...”, tunjukku pada undangan itu yang berdiri tegak diatas meja. Mamaku tidak memberi tanggapan apa-apa karena ia sudah kuberi tahu barang jauh-jauh hari: aku takkan sudi menikah hanya demi KTP. Maksudku, aku takkan mau menikah hanya karena terpaksa calonku itu adalah orang terakhir dalam klan kami yang memiliki kesamaan dalam kolom isian agama di KTP-nya. Sebuah wacana yang tak terpikirkan sebelumnya oleh Ibu atau Bapakku sekaligus.
Jelasnya, percumalah aku menikah hanya demi sebuah kepura-puraan. Di KTPnya tertera ia beragama A, tatapi dalam keseharian dan hatinya sangat jauh bertolakbelakang dengan apa yang ia katakan. Berhubung dalam kepercayaan kami perkawinan hanya boleh cukup sekali, dan perceraian sangat diharamkan (walaupun akhirnya toh terpaksa ada yang melakukannya juga, bahkan di luar negeri sangat marak) kalaupun perkawinanku pun terjadilah dengan yang se_KTP itu sendiri, apa boleh buat, aku pun telah mewasiatkan keluarga untuk menyertakan sebilah golok dalam maskawinku. Tujuannya? Supaya apabila di tengah jalan terjadi pertentangan yang tak kuharapkan, dan berhubung perceraian tadi sudah difatwa haram, dan hanya kematianlah yang mengakhiri sebuah pernikahan, jadi kuputuskan untuk benar-benar mengakhirinya, dan setelah itu dengan sepenuhnya sadar aku akan serahkan diri kepada yang berwajib.
Memanglah kelewat ekstrim pandangan yang kubuat kini tentang sebuah perkawinan dalam kepercayaan KTP-ku. Tak lain karena sebenarnya secara tidak resmi selama empat tahun belakangan aku sudah tidak berjalur lagi. Keluar dari agamaku; tidak pernah lagi ke gereja ataupun berdoa;tidak pernah menyebuat siapa nama tuhanku dengan lugas. Masuk agama lain pun tidak, atau lebih tepat nya belum. Setelah suamiku dahulu menjadikanku muallaf, ia tak pernah barang sekalipun meluangkan waktu untuk mengajariku sholat atau mengaji. Jadilah aku ini : areligi. Entahlah apa bahasa resminya untuk orang yang tak beragama sepertiku, hanya tentunya bedalah dengan arti orang tak ber-Tuhan. Aku ini masih mengakui adanya sesuatu kekuatan diluar batas manusia dengan naman Tuhan, namun sayangnya aku belum menemukan jalan yang terbaik untuk memujaNya...
Malam itu aku belum bisa memejamkan mata. Aku tengah berpikir-pikir macam apa model perkawin...eh pernikahanku kelak. Apakah akan dirayakan meriah besar-besaran dengan menanggap wayang dengan dalang sepupuku sendiri yang tinggal di belakang rumah, dirayakan tujuh hari tujuh malam bagaikan putri raja, atau hanya sebuah resepsi sederhana dengan mengundang para tetangga dan kerabat dekat saja? Kerabat... Di mana aku akan menemukan kerabat itu? Empat tahun sudah aku tak berkawan semenjak lepas seragam putih abu-abu itu, selama itulah aku tak lagi mengenal yang namanya hidup yang sebenarnya. Hidup yang seharusnya penuh dengan persahabatan dan perjuangan. Tetapi aku telah kehilangan semuanya semenjak itu. Tidak ada lagi sahabat atau siapa yang hendak kusebut kawan semenjak aku sudah tidak mengenal sekolah lagi. Jadi pengangguran tanpa status jelas: masih kawinkah aku, belum atau telah bercerai dalam kartu pengenalku...?
Aku menghela napas sejenak. Permintaanku yang tadi mungkin entah akan diluluskan atau tidak, berhubung selama kandidat calon kuat suamiku masih hanyalah ayah anak-anakku, selama itulah permintaanku takkan mereka kabulkan. Berhubung sudah cukup banyak sakit hati yang mereka terima oleh karena ulahnya yang telah sebagian menghabiskan uang Papa dengan cara yang tidak benar, bahkan hingga kini pun sebuah surat nikah tak pernah kukantongi.
Tetapi bagiku tidaklah mungin mencari pengganti dirinya yang sebenarnya juga telah menyakitiku amat-sangat. Bagiku mencari suami baru sama saja dengan merugi. Belum tentu apa yang akan kudapatkan lebih baik dalam segala hal daripada suamiku saat ini. Terutama dalam soal ranjang. Meskipun bukanlah yang utama, sebagai perempuan merdeka tentunya berhaklah aku menuntut lebih dlam soal ini berhubung dulu pernah iseng kumasukkan ramalan mengenai hidupku. Dan jawabannya : urusan ranjang bagiku adalah nomor satu. Sebuah hasil mengejutkan yang hampir saja membawaku ke lembah hitam jika tidak kuimbangi dengan akal sehatku yang berjalan. Buat apa lagi melacurkan diri terang-terangan? Tak ada kenikmatan yang kauperoleh selain perihnya kelamin akibat bergonta-ganti ukuran dan beberapa lembar rupiah yang tak sebanding dengan harga dirimu yang sesungguhnya...
Aku masih belum bisa memejamkan mata. Kulirik jam dalam ponselku yang menunjukkan masih pukul delapan. Di tempat tinggalku jam delapan hampir terasa seperti jam sembilan malam oleh karena letaknya yang hampir mendekati WITA. Aku menguap perlahan. Kuraih gulingku yang bersarung warna hijau kesayangan dan memeluknya erat-erat. Seperti inilah nantinya kalau aku nanti kawin lagi dengannya. Memelukanya erat seperti guling bisu ini, hanya ia bisa melenguh dan bisa menerkamku tanpa balas, bisikku pada diri sendirri. Untunglah ada gunanya juga bangsa Belanda menjajah kita selama tiga setengah abad dengan peninggalanannya berupa guling ini, lumayan untuk bisa memperagakan apa yang kelak akan kuberikan padanya saat melam pertama kami kembali....
Tetapi bukankah itu berarti kami harus menikah lagi di depan yang berwajib, maksudku penghulu yang asli, atau pastor atau.... di mana sajalah kami akan menikah, yang penting kali ini aku ingin mempuyai surat segel perkawinaku dengannya. Artinya, ia kini resmi jadi suamiku dan akulah istrinya. Takkan ada yang memisahkan kami kecuali ia tengah kambuh penyakit lamanya untuk bersimpuh di bawah kaki ibunya yang bermuka dua terhadap anaknya itu, dan juga kematian.
“Lis, minum dulu obatnya ini, kan sudah jelas dua kali sehari, yang satu kan sebelum tidur. Kok lupa terus sih...”.
Terdengar suara Mama membangunkanku yang sudah setengah terkantuk dalam lamunan, hendak memberiku obat untuk sakitku. Sakit apa, entahlah hanya dia dan ahli sarafku yang tahu.
Aku tetap tidak beranjak dari posisiku semula yang tengah memeluk guling. Perlahan dia mendekatiku dengan dua butir obat di tangan kanan menggenggam dan tangan kiri memengang cangkir berisi air. Aku masih menatap kosong ke arah lemari.
“Diminum obatnya dulu ya...”
“Malas,”
“Lho kok malas? Nanti jadi lama sembuhnya...,”
“Percuma minum obat terus kalau hidup tetap begini terus...”
“Tidak boleh begitu...,”
“Boleh,” sahutku kasar.
“Selama aku tidak sekolah lagi dan tidak juga dikawinkan, percuma Mama mengobatiku. Walau sampai habis seluruh isi rumah dan kiamat datang pun sudah percuma...”lanjutku dingin tanpa ekspresi padanya.
“Ayo diminum dulu,”
Aku menggeleng lemah.
“Kapan aku dikawinkan, Ma? Umurku sudah terlanjur tua, anakku sudah dua. Tinggal satu yang hidup. Lantas sampai kapan hidupku hanya begini terus? Yang hidup pun kini tak boleh kuasuh...,”.
Tanpa terasa airmata menetes di pipiku. Mama tidak bayak menjawab sambil terus menyorongkan obat kepadaku. Aku terpaksa membangukan kepala dan meminumnya.
“Obat-obatan ini hanya membuatku terlelap tidur tanpa pengaruh apa-apa...,” sahutku lagi.
“Percuma hidup hanya tergantung dari obat-obatan terus...,”
Mama tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya terdiam lantas keluar dan menutup pintu. Sementara aku masih di dalam dan kembali merenungi nasibku. Lama-lama kemudian aku terkantuk. Memang benar obat-obatan itu hanya membuatku tambah lelap tertidur saja, namanya juga obat penenang.
Aku tak tahu lagi apakah obat-obatan semacam ini berpengaruh baik dalam jangka waktu panjang atau tidak. Yang pasti kini aku sudah mulai mengantuk lagi karena efeknya yang cepat. Dalam hatiku aku ingin bermimpi bertemu dengan kawan-kawan semasa kecilku dulu di rumah kami yang lama di pinggiran Jakarta nan sempit manusia. Kalau-kalau bisa bertemu dengan cinta monyetku lagi juga yang sudah keseringan datang sebelumnya dalam mimpi, berharap aku menikah dengannya walau hanya dalam mimpi. Namun otakku melarangnya. Bukankah mimpi jadi pengantin bagi orang Jawa berarti mimpi mendekati kematian yang sesungguhnya? Buktinya, eyangku konon wafat sepaginya sesudah ia bermimpi jadi pengantin malam hari sebelumnya.
Bagiku, mimpi jadi pengantin atau tidak, aku tak peduli. Apakah hidupku akan berakhir malam ini atau malam-malam selanjutnya, aku juga tak peduli. Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana menghilangkan efek obat-obatan setan ini dari otakku. Lantas berfantasi dengan suamiku. Tetapi aku mulai mengantuk..... semoga benar-benar malam ini aku tak jadi bermimpi pengantin lagi, sebab jika ini adalah yang ketiga kalinya, mungkin aku akan benar-benar mati, menyusul anak bungsuku yang selama di perutnya sudah pernah ku bermimpi pengantin sampai kali kedua... Lantas, hendak ke mana ku menghadap Tuhanku...? Kali ini aku sudah benar-benar mengantuk.

CERITA PENDEK
MIMPI SEMALAM
Oleh: Jamsari Zamakhsari Ahmad (Zam Zam)

Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari masyarakat dan dari pusaran sejarah. (Pramoedya Ananta Tour)

Malam yang merengkuh bulan dan bintang kian shahdu dan membisikkan kata ketenangan dalam kalimat batinku. Langit yang biasanya mendung bercampur gumpalan awan hitam pertanda hujan akan turun, pun tak terlihat batang hidungnya sama sekali. Malam itu benar-benar terang benderang dan padang jingglang. Dari situ aku mulai mengeja mula malam untuk membisikan kata hatiku dalam diari.
“Aku tahu kamu terlahirkan pada 17 Februari 1987.”
“Tepat pada tanggal 17 Januari, sebulan sebelum ulang tahunmu, aku menulis catatan harianku sebelum tidur, setelah mengambil air wudlu untuk mensucikan tubuh dan hatiku. Lalu aku merebahkan sepotong tubuhku di atas tempat tidur. Aku mencoba menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Aku berbaring dalam lantunan doa menjelang tidurku. Setelah itu aku terlelap tanpa sadar. Ruh yang bersemayam ditubuhku terlepas dan melayang berkeliaran entah kemana. Hingga kepulasan tidur menyatu pada tubuhku.”
“Aku memimpikan sesuatu hingga aku terbangunkan dari mimpi. Mimpi semalam yang membuatku harus jatuh “cinta lagi.” Aku menulis sebuah mimpi karena mimpiku bertemu bidadari cantik rupawan dan “cantiknya selangit.” Sebab baru kali ini aku melihat wanita secantik peri emas yang berpakaian sutera putih bertereteskan mutiara dari surga. Dengan bersinar terang mereduksi mataku. Ia menundukkan kepala melirikkan mata ke arahku dengan wajah putih anggun terbalut sinar terang. Aku tertarik gravitasi matanya untuk mendekat. Semakin aku mendekat, bidadari itu semakin menjauh. Semakin jauh dari pandanganku, bidadari itu semakin menghilang sampai pandangan mataku tidak menemukan bayangan putih dan lirikan mata bidadari itu lagi.”
Aku memikirkan bidadari itu dalam sekejap pandangan.
“Aku pernah melihatnya agak remang-remang dalam angan mimpiku. Apakah dia adalah Zara. Gadis yang pernah mencuri hatiku berawal dari kekerasan hati bersama dalam berpendapat, kekesalan berkata, keresahan berpikir egois dan supel, kegelisahan dalam dramatisi dialektik, dan sikap yang semaunya sendiri.”
“Entahlah… mungkin itu hanya ilusiku saja. Tapi hatiku dalam mimpi benar-benar masih mengingat kalau tatapan matanya, bola matanya, dan lentik bulu matanya persis seperti mata Zara.”
Mimpiku belum usai. Aku masih mengejar bidadari itu mencari jejaknya sampai ke hutan belantara. Aku tetap melangkah, menembus hutan itu. Dari semak-semak belukar aku melihat selendang putih di atas pohon semanggi yang terurai pada tumbuhan berumpun yang mempunyai batang kecil tapi tinggi. Aku melacak selendang putih dengan harapan bisa ketemu dengan bidadari itu lagi.
Aku manjau bidadari itu dalam hutan hijau nan rindang. Aku melihatnya lagi. Dengan langkah kaki yang cepat dan tergesa-gesa aku menghampirinya. Aku sapa dia dengan senyuman. Dia menatapku kali ini lebih jelas dengan senyuman manis seperti bola mata tertiup angin senja.
Tiba-tiba aku terhempas angin senja itu dan terpental tepat di depannya. Wajahku menatap tepat di wajahnya. Tatapan mataku ketemu tatapan matanya. Mancung hidungku ketemu mancung hidungnya. Tebal bibirku ketemu bibir tipisnya. Sendi-sendiku, urat nadiku mati suri seketika. Seakan jatuh cinta dan harus meleburkan asa cinta pada bidadari itu. Apalagi di saat dia membuka bibirnya yang tipis dan menempelkanya di bibirku, aku tak merasakan apa-apa, hanya rasa kenikmatan yang tak dapat di beli atau ditukar dengan apapun yang aku rasakan. Alam sadarku mulai merasakan kalau dia menarikku untuk bercumbu mesra dalam nirmala mimpi yang tak terbeli.
Akh… aku tak bisa menceritakan semuanya setelah bibirku terbuka dan menyatu dengan bibir tipis kemelamut bidadari itu. Sebab aku terbawa terbang bidadari itu hingga ranjang pelaminan yang aku sendiri belum pernah melihat tempat itu sebelumnya. Apakah ini ranjang pelaminan surga ataukah garba nirmala yang aku impikan selama hidupku.
Dalam angan sadarku setelah itu aku sempat menepiskan kata hatiku.
“Apakah aku masih bujang atau sudah tidak bujang lagi?
Sebab bidadari itu mengajakku untuk tidur bersama di bawah otak kesadaranku. Aku jadi meragukan kebujangan diriku sendiri. Peristiwa itu membuat diriku makin resah dan hampir menjadi beban hidupku dalam menata kembali aktifitas keseharianku. Mengapa bidadari itu tiba-tiba datang dalam mimpi? Padahal sebelum aku tidur, aku sudah mensucikan diri untuk mengembalikan ruhku selama aku tertidur. Dan aku juga berharap dalam mimpi yang keadaan suci ini bisa bertemu dengan orang-orang suci, seperti para nabi, atau mungkin seorang ulama’ pintar dan kemudian mereka mentransformasikan ilmunya padaku. Sehingga alam bawah sadarku tetap belajar meskipun tubuhku dalam keadaan terlelap di rengkuhnya malam.
Kringg…!!!!
Kringg…!!!!
Kringg…!!!!
Suara keras menghentak di sebelah kiri tempat tidurku. Aku tersentak kaget dan terbangunkan dari pelukan bidadari itu. Aku pegang handphoneku yang berbunyi alarm itu dan mematikanya. Aku mencari bidadari itu. Dia tidak ada di sampingku. Dia menghilang entah kemana. Dia meninggalkan aku sendiri. Aku mencari di balik selimut tidurku pun tak ku temukan,. Bayangan bidadari itu pun sudah tidak ada lagi.
Aku termenung, memikirkan bidadari yang meminangku semalam meskipun aku masih merindukan dirinya untuk bertemu kembali di mimpi selanjutrnya. Dalam lamunanku, aku bercakap-cakap diri “Aku menunggumu bidadari cantikku” dalam alam nyata.
Alam nyata yang aku temukan ternyata berbeda dengan alam mimpi. Tapi firasatku selalu berkata, kalau mimpi adalah bukan hanya sebatas bunga tidur saja. Namun mimpi adalah bakal kehidupan baru dalam diri manusia seutuhnya. Sebab manusia utuh memilki mimpi yang berbeda dan memimpikan sesuatu yang ingin di raihnya. Aku memiliki mimpi dan memiliki impian untuk mewujudkan mimpiku dalam sandingan bidadari yang mendekapku hingga menuju ladzat ukhrowi di taman firdausiyah.
Akhirnya, aku menuju kamar mandi kemudian mensucikan diri yang kedua kali dalam semalam. Pada pukul tiga pagi aku menggelar sajadahku lalu bertabayun, bersujud dilantunan hajat dan doa, meminta retorika hidayah dari Tuhan. Semoga hal ini menjadi buah pemikiran yang positif dan memberikan hikmah tersendiri bagiku dan dapat bermanfaat untuk orang lain.
“Aneh tapi nyata dan dan jelas terasa. Terang wajah siapa bidadari itu tak dapat aku pungkiri kalau dia adalah Zara.”
Jika mimpiku adalah pertanda baligh sangat tidak mungkin. Karena aku sudah mengalami proses baligh sepuluh tahun yang lalu. Jikalau ini adalah peretanda yang lain, semisal dia adalah calon bidadariku di alam nyata atau di alam ukhrowi aku juga sempat melompatkan pemikiran kearah situ.
Gholabah Annaum adalah bahasa yang memilki arti tertidur tanpa sadar akibat kantuk dan tanpa kesucian tubuh. Tetapi mimpiku berangkat dari hal yang benar-benar suci tanpa ada muatan najis. Enggan rasanya memikirkan hal itu, namun aku menjadi penasaran, ada apa dengan mimpiku? Akan terjadi persoalan atau sejenis problem apalagi dalam kehidupanku?
Aku hampir stress memecahkan misteri yang ada dalam mimpiku sendiri. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan kata “Cinta” pada Zara. Apakah ini akan nyata atau tidak aku tidak tahu. Sebab gundah hatiku selalu mengingat Zara semenjak liburan kuliah dan hatiku semakin tertusuk rindu pada Zara. Aku bingung harus bagaimana lagi, sebab aku sudah bertanya pada diriku sendiri namun tak ada jawaban. Semoga saja hatiku tidak terluka dan tetap bersemangat dalam menggali pengetahuan Tuhan dan selalu istikomah dalam maunah dan hidayah dari Tuhan.
Ya latif….
Ultuf bina fi ma Jarod bihil Makodir,
Allahumma…
La Nasaluka Roddal Qodo’ Walakin Nasaluka Lutfa fih.
Al ayat…

CERITA PENDEK
PESAN TERAKHIR
Oleh: Etty Hentihu (Fiya)

“Dimohon kepada seluruh peserta test yang sudah selesai mengerjakan soal, bisa meninggalkan tempat asal tidak menggangu peserta yang lain.” Panitia ujian PSB mengingatkan.
Waktu tinggal lebih kurang setengah jam lagi, masih ada beberapa soal yang belum aku kerjakan. Ya Allah semoga aku bisa menyelesaikannya dengan baik, batin Mira.
Dari jauh terlihat Imran sudah memberi isyarat untuk segera keluar. Aduh, jangan bikin aku panik dong. Kamu sih pintar, kalau aku…. wah, satu soal aja bisa lama ngerjakannya. Tapi, aku tetap berusaha untuk segera menyelesaikannya dengan baik. ‘Semangat!!!’ pekik Mira dalam hati.
“Waktu tinggal lima menit lagi,” teriak panitia test. Alhamdulilah, selesai sudah semua soal kukerjakan. Segera aku keluar dari ruang ujian dan menghampiri Imran yang sudah menunggu sejak tadi.
“Bagaimana ujiannya? Bisa nggak?” tanya Imran.
“Wah… dibilang bisa banget juga nggak, tapi dibilang nggak bisa juga nyatanya semua soal udah aku kerjakan, sekarang tinggal menunggu hasilnya aja. Semoga kita berdua bisa diterima di Universitas yang sama.” Do’a Mira sambil berjalan pulang.
---
Pengumuman hasil ujian tinggal satu hari lagi. Imran dan Mira telah berjanji untuk meneruskan kuliah di universitas yang sama di kota gudeg Jogja yang merupakan impian mereka berdua meskipun beda jurusan. Keesokan harinya mereka berdua bergegas membeli koran untuk mencari tahu hasil ujian. Rupanya Allah berkehendak lain yang ternyata Imran tidak diterima, justru Mira yang diterima di fakultas Psikologi UGM.
“Mir…,” kata Imran siang itu. “Sebenarnya ada satu hal yang ingin aku sampaikan sama kamu dan semoga Mira tidak mengecewakan Imran.” Mira yang tadinya menangis sedih karena kegagalan Imran untuk masuk Universitas favoritnya tiba-tiba saja segera menghentikan tangisnya lalu memandangi wajah Imran dengan penuh keheranan.
“Aku telah lama menyimpan perasaan ini, tapi demi untuk bisa konsentrasi menamatkan dulu di SMU, maka kusimpan hingga sekarang. Mir… sebelum engkau pergi jauh ke Jogja, aku hanya ingin mengatakan satu hal kalau aku sangat mencintai kamu dan aku ingin kamu menjadi teman hidupku,” kata Imran penuh harapan
Mata Mira terbelalak sambil menatap Imran dalam-dalam. Dia ingin bertanya dulu pada dirinya sendiri, apakah memang aku mencintai pria ini? Apakah kedekatan selama ini karena memang dia memendam rasa terhadapku? Ya, Allah…. Apa yang harus aku ucapkan kalau sebenarnya akupun juga sangat menyayanginya.
“Apakah kamu serius? Apa kata-kata itu keluar dari hati Imran?” Tanya Mira ingin mendapatkan kepastian.
“Apa kamu tidak melihat keseriusan aku? Kalau perlu aku dua rius deh!” goda Imran.
Mira hanya terdiam membisu. Dia bingung, bercampur aduk dengan malu untuk mengutarakan isi hatinya kalau sebenarnya diapun juga sangat menyayangi Imran.
“Aku hanya berharap semoga Mira tidak mengecewakan aku dan aku tidak bertepuk sebelah tangan.” Sambung Imran lagi.
Mira hanya tertunduk malu tanda setuju dan tidak berani menatap Imran lagi karena dalam hatinya dia mengatakan dengan lantang bahwa ‘Aku juga menyayangi kamu Imran.’
“Kata orang kalau diamnya seseorang itu berarti iya?” tanya Imran menegaskan
Mira kembali tertunduk malu sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Tak berselang lama, mereka berduapun mengikat tali pertunangan setelah mendapat persetujuan dari kedua orang tua mereka, dan insya Allah akan diadakan pernikahan setelah Mira lulus kuliah.
Hari-hari mereka berdua selama berpacaran pada tahun pertama hanya diwarnai dengan saling bertelepon dan berkirim surat, serta bertemu pada saat liburan. Memasuki tahun kedua Imran merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Mira. Kalau dulu isi suratnya berisi ketidaksabaran menemui Imran, saling sayang-sayangan kalau ditelepon, tapi kini…. isinya cuma nasehat supaya Imran tidak melupakan sholat lima waktu, rajin puasa sunnat, jadi hamba Allah yang taat dan lain-lain.
Memasuki tahun ketiga Mira di Universitas, Imran merasakan dirinya dengan Mira semakin jauh. Dulu mereka berdua begitu mesra sekali, tapi sekarang… semua sepi, beku dan kaku! Setiap kali Imran menelpon Mira, jarang Imran dapat berbicara sendiri dengan Mira. Kalaupun dapat berbicara langsung tidak ada lagi canda tawa seperti dulu, malah semuanya serba serius.
Imran mencoba menelpon Mira suatu ketika dengan harapan semoga Mira mau keluar bersamanya karena dia begitu kangen pada Mira.
“Assalamu’alaikum,” bunyi suara yang menyambut telepon. Imran merasa pasti ini suara Mira yang dirindukannya,
“Mira ya?” tanya Imran tanpa menjawab salam.
“Ya, Mira disini, ini siapa ya?” tanya Mira.
“Eh-eh…. Masa sama tunangan sendiri aja nggak kenal?” kata Imran dengan nada merajuk.
“Oh!... Imran,” jawab Mira agak kaget.
“Mir… Aku ingin mengajak kamu makan di restoran padang kesukaanmu, tempat dulu kita biasa makan, kamu masih ingat kan? Setengah jam lagi aku sampai dirumahmu. Ok?” kata Imran penuh harap.
“Maaf Im, Mira agak sibuk.sekarang,” balas Mira.
“Hoii! Masa sama tunangan sendiri aja nggak boleh ketemu? Apa kamu nggak ingin seperti orang lain atau seperti waktu kita diawal pertunangan dulu? Ada apa denganmu Mira? Kamu selalu menolak ajakanku dengan berbagai alasan. Apa kamu udah nggak mencintai aku lagi atau kamu sudah ada pria lain di jogja?” Keluh Imran dengan suara agak keras.
“Begini Im, sebenarnya antara kita masih belum ada ikatan apa-apa, kita cuma bertunangan dan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk kita bisa berdua-duaan tanpa mahram dan hukumnya adalah haram,” kata Mira menjelaskan kenapa dia tidak mau memenuhi ajakan Imran.
“Eh-eh… Sejak kapan engkau jadi ustadzah begini? Setahu Imran, Mira kuliah di jurusan psikologi, bukan syariah,” kata Imran sekali lagi dengan nada jengkel.
“Bukan sok menjadi ustadzah Im… Mira hanya takut dosa. Allah SWT sudah bilang dalam Al-Qur’an, jangan kamu mendekati zina, itu saja. Kalau memang ada hal yang sangat mendesak yang ingin kamu katakan, Mira rasa lebih baik Imran bertemu dengan keluarga Mira saja,” jelas Mira yang berharap supaya Imran memahaminya.
“Ah, sudahlah, aku sudah bosan mendengar segala dalil-dalilmu itu. Yang ini salah… yang itu salah… yang ini haram…. yang itu haram. Sepertinya semua yang aku lakukan tidak ada artinya bagimu. Untuk ketemu sama kamu aja sekarang susah sekali. Aku sudah muak dengan semua ini. Mulai hari ini kita putus saja dan sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi diantara kita. Titik.” Imran marah.
Tut… tut… tut… terdengar bunyi telefon terputus.
Im… Seandainya engkau mengerti, semoga suatu hari nanti Allah membukakan pintu hatimu untuk menjadi hamba Allah yang taat dan sama-sama dalam perjuangan yang suci ini, gumam Mira dalam hati.
-----
Fikiran Imran terganggu akibat perpisahannya dengan Mira, satu-satunya gadis yang sangat dicintainya. Tapi lama-kelamaan dengan menyibukkan diri pada pekerjaannya, Imran dapat melupakan Mira hingga tiga tahun kemudian tiba-tiba seorang lelaki yang tidak dikenalnya memberi salam dan muncul dipintu rumahnya.
“Waalaikum salam, silahkan masuk,” jawab Imran sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Sepertinya saya belum mengenal bapak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Imran.
“Sebelum saya menjelaskan semuanya, perkenalkan dulu nama saya Aji Setyawan, saya baru pulang dari Aceh dua minggu yang lalu, dan saya mendapat amanah untuk memberikan bingkisan ini kepada saudara Imran,” jelasnya.
“Iya, saya Imran. Bingkisan ini dari siapa ya?” tanya Imran heran.
“Bingkisan ini dari Mira, anda pasti mengenalnya,” kata lelaki itu sambil menyerahkan bingkisan yang dibungkus rapi dengan kertas koran.
“Mira…!” tersebut lagi nama itu dari mulut Imran setelah tiga tahun dia tidak pernah menyebutnya bahkan berusaha untuk melupakannya.
“Mira telah pergi untuk selama-lamanya karena kecelakaan pesawat ketika dia pulang duluan dari Aceh setelah menjadi relawan membantu korban gempa tsunami. Kebetulan istri saya berteman dekat dengan dia ketika sama-sama membantu di Aceh. Beberapa hari sebelum kejadian, Mira meminta kami untuk menyampaikan barang ini kepada saudara, seolah-olah dia tahu kalau dia sudah tidak akan bersama-sama kita lagi.” papar Aji Setyawan.
Bagaikan disambar petir mendengar berita yang tak pernah terlintas dibenaknya. Tak terasa airmatanya menetes sambil membuka bingkisan tersebut yang ternyata isinya adalah sajadah dan sebuah Alqur’an. Pikirannya kalut, bingung mau bicara apa. Dia hanya bertanya-tanya dalam hati, kenapa Mira bisa sampai ke Aceh. Apa yang dilakukan disana?
Tanpa Imran bertanya, Aji langsung menjelaskan.
“Kami dikirim oleh LSM Daarul Ishlah untuk membantu menangani psikologi anak-anak di Aceh pasca gempa tsunami, dan Mira termasuk salah satu anggotanya.” Jelas Aji.
“Sudahlah dek Imran, mungkin karena Allah sangat menyayangi Mira sehingga begitu cepatnya dia dipanggil kembali oleh Allah. Tabah ya… Saya tidak tahu kenapa dia menitipkan ini pada saya, dan ketika Mira memberikan ini dia hanya menitipkan pesan supaya dek Imran selalu memakai dan membawa barang ini kemanapun pergi. Hanya itu saja pesannya. Kalau dek Imran ingin mendengar semuanya tentang Mira, bisa datang ke rumah saya untuk bicara dengan istri saya,” kata Aji sambil menyodorkan kartu nama.
Imran tidak bisa berbicara sepatah katapun. Dia hanya menangis sedih sambil memeluk erat Sajadah dan Al-Quran pemberian Mira.
‘Aku janji Mir… aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi, aku tidak akan pernah melupakan nasehatmu, aku akan selalu membawa pemberianmu kemanapun aku pergi.’ Batin Imran dalam hati.
“Saya bersedia membantu dek Imran kalau memang dek Imran membutuhkan bantuan saya untuk belajar, untuk berusaha ke arah yang lebih baik, untuk menjadi hamba Allah yang taat seperti yang diharapkan oleh Mira.” Kata Aji berusaha menghibur Imran
Oh Mira… kenapa begitu cepatnya engkau pergi meninggalkan aku, jujur saja aku masih sangat mencintai kamu dan aku belum sempat meminta maaf kepadamu atas kesalahanku. Pembicaraan kita terakhir di telepon itu hanya karena aku emosi. Maafkan aku Mira. Maafkan salahku.

CERITA PENDEK
MENCARI LANGIT
Oleh: Trias Pratiwi

Kamar itu begitu gelap. Hanya ditemani redupnya cahaya lilin. Cahaya itu mencoba menembus padatnya partikel tubuh manusia dan membentuk bayangan kelam di sudut dinding yang pucat. Hanya bayangan itulah yang menjadi semacam ilusi bagi Lani akan seseorang yang dapat diajak bicara. Seseorang yang tidak akan meninggalkannya walaupun kegelapan menjelang.
Pada bayangan tersebut Lani bertutur dan ia tidak pernah mendapat sebuah jawaban dari pertanyaan mengapa ia hidup di dunia ini, karena hanya kebisuan yang dapat dihadirkan oleh bayangan. Namun ilusi sebuah senyum getir dari bayangan tersebut telah cukup membuat ia mendapatkan kekuatan untuk tersenyum, tersenyum picik pada apa yang menimpanya.
Di luar hujan menyapu keramaian. Menghadirkan ketenangan, namun tidak bagi Lani. Saat hujan semakin deras, ia keluar dari ruangan tersebut dan berlari. Berlari semakin menjauh dan menjauh menembus perkampungan melewati beberapa orang yang berteduh atau orang-orang yang bersembunyi dalam hangatnya sebuah rumah dan kembali orang-orang tersebut mengecap Lani sebagai seorang yang sangat hina, gila dan pendosa. Seorang anak durhaka.
Dan sampailah Lani di sebuah tempat yang sangat sepi. Sebuah pemakaman umum di desa tersebut. Ia memandang dua buah nisan yang berdiri saling berdampingan. Dan air mata Lani mengalir membasahi kulitnya, bercampur dengan air hujan. Penyesalan, kerinduan, rasa bersalah, menyerebak dalam hati Lani. Ketika ia tidak kuat terhadap kesedihan yang mencekiknya ia kembali berlari.
Dan sampailah dia pada sebuah kebun kopi. Ia terus berlari namun kakinya terantuk batu dan dengan keras ia terjatuh. Ia ingin berdiri kembali. Namun sakit menyerebak pada kakinya. Hujan pun membasahi seluruh tubuhnya. Dan ia menengadah ke langit. Matanya perih saat ia mencari langit dengan ditaburi air hujan. Dengan keras ia memanggil sebuah nama yang teramat agung, sangat jauh dan sangat suci. Dia memanggil...
"Tuhan..."
Lani menangis dan memanggil nama itu berkali-kali, yang ia tahu air mata untukNya tidak akan pernah kering sampai kapan pun.
Dua hari yang lalu, Lani baru saja sampai di desa tersebut. Telah lama ia meninggalkan desa tersebut, hampir 6 tahun ia merantau di Jakarta. Semenjak itu tiada pernah ia menginjakkan kakinya di tempat kelahirannya. Setiap lebaran tiba yang ada hanya kerinduan untuk bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Namun pilihan hidupnya telah membuat dia tidak pernah berani untuk pulang.
Pulang, bagi Lani menjadi sebuah impian. Lani yang 6 tahun lalu adalah Sulistyo yang sangat sayang terhadap kedua orang tuanya, dan tidak pernah ingin menyakiti hati keduanya telah memendam kerinduan yang luar biasa. Namun ketakutan akan penolakan dan kekecewaan dari kedua orang tuanya telah membuat dia memasang jarak yang sangat jauh. Dan terlebih lagi ia sangat takut orang tuanya, keluarganya dan orang terdekat di desanya menjadi bahan pergunjingan warga desa.
Namun tahun ini, lebaran kali ini, Lani alias Sulistyo memberanikan diri untuk pulang. Perjalanan jauh ditempuhnya. Dan dalam perjalanan tersebut hatinya tidak pernah tenang, ia memikirkan berbagai kemungkinan yang bakal terjadi.
Sesampainya di kampung halaman, ia ingin segera menghadap kedua orang tuanya dan mendengar suara mereka. Suara yang dulu telah menenangkan Sulistyo dalam gelapnya malam. Namun yang dapat ia temui hanya dua buah nisan dan tidak ada lagi suara yang sempat hilang selama 6 tahun tersebut.
Hujan semakin deras dan dinginnya udara menembus tulang Lani. Ia masih menengadahkan wajahnya ke langit. Berharap Tuhan akan memeluk dirinya dalam keheningan. Menerimanya sebagai manusia dan membuat hatinya memiliki sebuah rumah untuk pulang.

CERITA PENDEK
TUKANG BECAK TERGENDUT DI KAMPUNGKU
Oleh: Sidik Nugroho

Aku mengenal seseorang yang hebat lima belas tahun lalu. Ia adalah seorang tukang becak bernama Pak Wrekso. Waktu itu aku masih tinggal di sebuah kampung bernama Randusari di Semarang. Usiaku seperti sebagian dari kalian, kelas 3 SD. Pak Wrekso adalah tukang becak yang mempunyai dua anak, Marto dan Wikromo. Sebelum menjadi tukang becak, dia adalah seorang kuli bangunan. Ia beralih profesi karena merasa pekerjaan itu terlalu berat. Ia membeli sebuah becak bekas dan seringkali mangkal di depan SD-ku.
Suatu hari, aku tak dijemput ibuku karena ia mengantarkan nenekku mengambil uang pensiun. Ibu berpesan, “Rie, nanti kalau pulang sekolah, kamu naik becak saja, ya. Kamu ‘kan hapal jalan pulang.”
Sepulang sekolah, aku menumpang becak Pak Wrekso. Itulah kali pertama aku mengenalnya. Sepanjang perjalanan pulang, kami bercakap-cakap.
“Nama kamu siapa, Dik?”
“Arie Sapto, Pak. Kalau Bapak?”
“Saya Pak Wrekso. Tapi, biasa dipanggil Mas Wrekso. Kadangkala juga dipanggil Mbah Gundul. Entahlah, orang-orang menjuluki saya aneh-aneh.”
“Hehehe.... Bapak sih, potongan rambutnya pendek.”
“Iya, Bapak suka potongan pendek. Rasanya isis.*)”
Pak Wrekso mengayuh becak sangat lambat. Aku melirik ke belakang, melihat keringat yang bertetesan di tangannya. Tentulah baginya terasa gerah dan lelah mengayuh becak di kota Semarang yang panas.
“Rumah kamu di mana, Dik?”
“Di Randusari Gang I, Pak.”
“Lho, saya juga tinggal di situ, tapi di Gang III.”
“Wah, dekat sama Bergota**) ya, Pak?”
“He-eh,” sahutnya agak tersengal.
Jarak dari sekolah ke rumahku lumayan jauh. Mungkin dua setengah kilometer. Sampai di depan rumah, aku memberikan ongkos. Badannya terlihat penuh keringat, napasnya ngos-ngosan.
“Terima kasih, Mas Arie. Kapan-kapan mainlah ke rumah. Saya punya dua anak. Yang satu seusia kamu, yang satu belum sekolah,” katanya terengah-engah.
“Gang III nomor berapa, Pak?”
“Twenty-one,” katanya sambil tersenyum dan mengacungkan jari menunjuk angka dua, lalu satu.
“Dua satu, ya?” tanyaku agak bingung karena waktu itu belum bisa bahasa Inggris.
“Yes, of course!” katanya lagi.
“Oke,” kataku sambil tertawa.
Aku masuk ke dalam rumah. Lewat jendela kuintip Pak Wrekso yang kelelahan.
Aku bercerita tentang Pak Wrekso ke ibuku setelah ia pulang bersama nenek. Ibuku ternyata sudah kenal dengan Pak Wrekso lewat sebuah pertemuan warga setempat. “Dia itu terkenal sebagai tukang becak tergendut di Randusari, Rie. Kau tahu berat badannya berapa, 97 kg, lho!” Ibu juga bercerita kalau ibu-ibu di kampung kami suka bila menumpang becak Pak Wrekso. Dia sangat pelan mengayuh becaknya sehingga rasanya aman. Ia sangat rajin menarik becak. Waktu hari masih gelap ia sudah menarik becaknya. Ia pulang untuk makan dan istirahat sejenak setelah tengah hari. Menjelang sore hari, ia menarik becaknya lagi hingga maghrib. Ia sangat menyayangi keluarganya. Ia ramah dan baik hati. Dan, kata orang, Pak Wrekso itu berpikiran maju, walaupun ia hanyalah seorang tukang becak.
Pada suatu pagi di hari Minggu, tak sengaja aku bertemu dengan Pak Wrekso di sebuah warung ketika hendak membeli pasta gigi. Ia tampak gegabah.
“Pak, ada apa?”
“Eh, Mas Arie. Anak saya sakit, Mas!”
“Sakit apa, Pak?”
“Demam terus mencret-mencret, Mas!”
“Sudah dibawa ke dokter?”
“Belum, Mas....”
“Kenapa?”
Ia terdiam sesaat sebelum menjawab, “Tak punya uang, Mas.”
Aku menceritakan kejadian ini pada ibuku. Ibuku dan nenekku berniat menolongnya. Sore itu kami ke rumahnya, lalu bersama istri Pak Wrekso, membawa Marto, anak Pak Wrekso yang sakit, ke dokter. Mereka sangat berterima kasih karena kami telah mau membawa Marto ke dokter.
Pulang dari dokter, Pak Wrekso dan Wikromo sudah menunggu di depan rumahnya.
“Are you all right, Son?” tanya Pak Wrekso
“I’m okay,” jawab Marto singkat.
Aku heran melihat Pak Wrekso suka berbahasa Inggris. Ibu dan nenekku juga heran. Kami mampir sebentar di rumahnya sebelum pulang. Saat itulah Pak Wrekso bercerita kalau ia suka nonton film barat dan menirukan kata-kata yang diucapkan para aktornya. Olala....
Hari demi hari keadaan Marto membaik. Aku, Marto dan Wikromo kemudian berteman baik. Kami sering bermain bersama. Mereka juga menularkan kemampuan bahasa Inggrisnya kepadaku. Asyik juga ternyata.
Tahun demi tahun berlalu. Kami bertiga kemudian berpisah ketika aku naik kelas 3 SLTP karena pindah ke Malang, Jawa Timur. Aku dan Marto sering berkirim surat. Di surat-suratnya Marto bercerita kalau ia sering menjadi juara kelas. Adiknya, Wikromo, juga pintar. Mereka berdua mendapatkan beasiswa semasa SMU. Pak Wrekso? Ia tetap jadi tukang becak tergendut di kampungku dulu. Seminggu yang lalu, kami bertemu lagi di Semarang. Kami reuni. Marto baru selesai menempuh pendidikannya di Amerika. Ia mendapatkan beasiswa untuk studi di sana. Ia menjadi dokter spesialis mata. Wikromo telah mengajar sebagai guru Bahasa Indonesia. Aku menjadi penulis cerita dan guru Sejarah pada sebuah SMU swasta di Malang. Pak Wrekso? Ia berprofesi sama denganku, sebagai penulis. Ia suka menulis cerita anak-anak. Sesekali ia juga melukis. Ia tetap tinggal di Randusari. Warga Randusari sampai sekarang masih menghormatinya karena pengabdian dan pengorbanannya untuk keluarganya. Rambut Pak Wrekso yang selalu pendek sudah memutih semuanya. Badannya tak segemuk dulu. Ia suka jalan-jalan di pagi hari sambil membawa tongkat pembantu jalan. Bila bertemu dengannya, orang-orang di kampung kami selalu menyapa Pak Wrekso dengan pertanyaan, “How are you, Mr. Wrekso?”
“Of course, I’m fine!” jawabnya penuh semangat.
Keterangan:
*) isis = sejuk bila diterpa angin
**) Bergota = pemakaman umum yang ada di tengah kota Semarang.

PUISI
HILANG
Oleh: Wahyu Indah Retnowati

Kusadari kakiku tegak berdiri
Di antara kerikil kecil dan dedaunan kering
Di antara gerimis yang tak kunjung henti
Di bawah awan mendung tanpa mentari
Hatiku bergejolak, menjerit perih
Goresan luka itu masih menganga
Dan kini bertambah lebar
Aku sakit…..
Kupatahkan rasa itu
Kuhancurkan kokohnya dinding kalbu
Kuremuk redamkan raga, jiwa sekaligus nyawa
Ku tak berdaya, sungguh
Iblis menyetirku dari jauh
Atau nuraniku yang buta, tuli, bisu
Kakiku gemetaran, tegaknya tak lagi lurus
Kakiku gemetaran, terus menjalar hingga ke seluruh tubuhku
Tak mampu ku lenyapkan asa
Tak mampu jua kugantungkan mimpi
Rasa bersalah ini akankah sampai mati
Raga kini sudah berbaur dengan tanah
Jiwanya hilang kembali ke sang pencipta
Namun asa, akankah menyapa
Mampukah kaki ini menggapainya
Melangkah ke jalanan yang penuh sampah
Dengan noda hitam yang tak tau akankah sirna
Getaran jiwanya melayang terpaut dengan sukmaku
Cintanya tersangkut asaku
Tapi ku tak mampu, sungguh
Perih yang kurasa di depan jasadmu
Bapak…..
Kubersujud mengharapkan restumu
Tak kan hilang seluruh penghayatanku padamu

PUISI
RESAH
Oleh: Indah Ayu Wardhani

Tak tahu siapapun
Yang tahu apa mauku

Tak mau siapapun
Yang tahu apa mauku

Tak mengerti siapapun
Yang tahu apa mauku

Tak peduli siapapun
Yang tahu apa mauku

Tetaplah diam
Jangan merekah senyum

Tetap di situ
Di tempatmu sendiri
Jangan ganggu aku
Jangan usik ketentramanku

Diamlah di tempatmu
Aku tak menanti jawabanmu
Ataupun apapun yang kau punya

Aku mau kamu tetap di situ
Dan diam

Atau...
Pergi jauh
Enyah dari tempatmu!


STOP PRESS
Kunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet.
http://www.fpkm.co.cc
http://forumpenuliskotamalang.blogspot.com
http://klipingfpkm.multiply.com
http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/
Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs kami. Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas kami. Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.
http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/join
Forum Penulis Kota Malang juga dengan senang hati menerima bantuan dan sumbangan materi, sponsorship, pendanaan, sumbangan berupa, buku-buku terbitan terbaru (untuk keperluan bedah buku), majalah kesusasteraan, majalah fiksi, buku-buku bekas terbitan Indonesia maupun manca Negara, sumbangan berupa CD kosong, sumbangan berupa pulsa telepon isi ulang, kertas HVS kosong, maupun peralatan tulis lainnya untuk kelangsungan organisasi kami. Segala bantuan dan dukungan dari Anda akan sangat kami hargai.
Forum Penulis Kota Malang juga mengundang para pengusaha untuk mensponsori berbagai event kegiatan kami dan tentunya dengan adanya event-event yang kami selenggarakan, pihak sponsor bisa mempunyai kesempatan untuk mengiklankan dan memperkenalkan produk-produknya kepada masyarakat luas dalam berbagai event kegiatan yang kami selenggarakan.

FPKM (FORUM PENULIS KOTA MALANG) - KOMUNITAS PENULIS KREATIF DARI KOTA MALANG
Oleh : Haryo Bagus Handoko*)
*) Penulis adalah pengurus komunitas FPKM selaku bagian informasi dan dokumentasi, selain profesinya sebagai penulis kreatif dan penulis fiksi.

Di saat begitu banyak bermunculannya komunitas penulis di negeri ini, kota Malang yang terkenal pula sebagai kota pelajar tidak mau kalah. Pada beberapa bulan yang lalu, tepatnya di bulan Oktober 2006, telah berdiri sebuah komunitas penulis di kota Malang, Jawa Timur, yang bernama FPKM (Forum Penulis Kota Malang). Forum Penulis Kota Malang (FPKM) adalah sebuah komunitas dan wadah aspirasi serta kreativitas para penulis di Kota Malang. Berdiri pada tanggal 8 Oktober 2006, dengan anggota awal sekitar 77 orang, forum penulis ini bertekad untuk terus maju dan berkembang di masa-masa mendatang. Dengan pertemuan rutin yang diselenggarakan dua minggu sekali pada hari Minggu yang bertempat di base camp resmi yaitu di Gedung Perpustakaan Kota Malang - Jl. Raya Ijen 30A - Malang, forum ini aktif dengan berbagai kegiatan dan program kerja yang telah terjadwal dengan baik. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggotanya. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini.
Forum ini juga menerima sumbangan buku karya para penulis yang ingin bukunya dibedah dalam diskusi forum ini. Dengan anggota yang beragam yang umumnya berprofesi sebagai penulis, maupun profesi lain (dosen, wartawan, seniman, pelajar SMP hingga mahasiswa), komunitas ini tampil dengan ciri khas tersendiri yang kaya akan ide tanpa batas. Hal ini karena dengan beragamnya latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun profesi para anggotanya menjadikan beragam pula daya kreativitas, ide, maupun hasil tulisan yang menghiasi berbagai media cetak dan majalah tanah air. Beberapa karya anggota komunitas ini bahkan sudah berkali-kali terbit dalam bentuk novel fiksi, hingga buku bertema religi. Para anggota komunitas ini secara aktif selalu mengikuti berbagai lomba kepenulisan yang diselenggarakan baik oleh komunitas lain maupun lembaga penerbitan dan lembaga pendidikan di negeri ini.
Forum Penulis Kota Malang juga hadir di dunia maya dengan adanya situs dan blog maupun mailing list. Situs dan blog Forum Penulis Kota Malang bukan hanya melulu diperuntukkan untuk sesama anggota intern FPKM, namun juga diharapkan sebagai sarana tukar menukar informasi antar berbagai komunitas penulis di berbagai daerah di tanah air. Suatu acara atau even kegiatan yang diselenggarakan oleh suatu komunitas penulis di suatu daerah diharapkan bisa diketahui pula oleh komunitas penulis di daerah yang lain. Untuk itulah maka Forum Penulis Kota Malang juga melengkapi dirinya dengan fasilitas mailing list yang diharapkan bisa menampung berbagai informasi dan juga sebagai sarana diskusi interaktif di dunia maya antar berbagai komunitas penulis dan juga sarana pembelajaran dan tukar menukar pikiran di antara sesama penulis.
Interaksi secara korespondensi maupun mengakses berbagai informasi terbaru bisa dilakukan melalui berbagai situs weblog pribadi para anggota dan pengurus komunitas ini. Berbagai link yang akan mengantarkan kita ke berbagai situs (situs stasiun televisi seluruh dunia, situs surat kabar seluruh dunia, situs penerbit seluruh Indonesia, situs tutorial menulis dan dunia perbukuan, hingga situs perpustakaan digital di seluruh dunia dan masih banyak lagi link-link menarik lainnya) bisa kita jumpai dalam halaman situs maupun blog Forum Penulis Kota Malang ini. Dengan adanya situs dan blog resmi Forum Penulis Kota Malang, kita sebagai penulis bisa lebih terbuka wawasan dan juga peluangnya untuk bisa lebih mengembangkan diri dan juga berkreativitas secara produktif demi khasanah bacaan dan tulisan yang turut mewarnai negeri ini.
Forum Penulis Kota Malang (FPKM) juga meluncurkan publikasi digital dalam bentuk majalah digital (e-magazine) yang bisa didownload dari situs resminya di internet. Majalah digital Forum Penulis Kota Malang memakai format PDF, sebuah format yang cukup umum untuk sebuah majalah digital. Berbagai kegiatan seperti seminar, diskusi, bedah buku, dan banyak lagi kegiatan yang aktif dilakukan setiap bulannya yang bertujuan untuk terus mengembangkan wawasan, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan menulis para anggota forum ini juga diusahakan untuk senantiasa diliput dan ditulis dalam majalah digital ini. Forum ini mengundang para penulis dari komunitas lain untuk juga saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan serta hasil karya tulisnya melalui forum ini. Artikel-artikel yang dinilai cukup pantas akan dimuat dalam majalah digital ini.
Karena forum ini merupakan organisasi non profit kami tidak menyediakan imbalan dalam bentuk apapun untuk setiap artikel yang dimuat. Majalah digital Forum ini sifatnya hanya berfungsi untuk menjembatani segala bentuk pertukaran ilmu, pengalaman, pengetahuan, informasi terbaru dan juga ide serta saran dari para penulis yang ingin menekuni dunia tulis menulis sebagai karir profesi atau pun sekedar hobi. Majalah digital ini juga menerima sumbangan naskah karya para penulis yang ingin naskahnya dibedah dalam diskusi forum ini.
Anda bisa mengunjungi situs resmi dan blog Forum Penulis Kota Malang (FPKM) serta forum diskusi komunitas ini di internet yaitu di alamat berikut :
http://www.fpkm.co.cc
http://forumpenuliskotamalang.blogspot.com
http://klipingfpkm.multiply.com dan http://resensibukufpkm.multiply.com
http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/
Berbagai informasi terkini dunia kepenulisan dapat Anda akses dengan mudah di situs ini. Kesempatan untuk berbagi ilmu dan berdiskusi mengenai berbagai aspek dunia kepenulisan terbuka seluas-luasnya di forum diskusi komunitas penulis ini. Anda bisa bergabung dengan cara mendaftarkan alamat e-mail Anda di Yahoo Group untuk memperoleh fasilitas kemudahan berdiskusi secara online. Cukup ketik link url ini di browser komputer Anda saat Anda terhubung ke internet, dan nikmati kemudahan akses informasi dan tanya jawab dengan sesama anggota komunitas ini.
http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang/join